Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 37


Mendengar ucapan Wijaya, Tina langsung terdiam. Dia tidak menyangka jika Yuki adalah putri dari keluarga yang sangat terpengaruh di kota mereka. Melihat penampilan Yuki yang terlihat sederhana, dia kira Yuki adalah karyawan biasa yang sedang mencuri perhatian Aldan untuk menaikkan derajatnya.


Melihat Tina yang terdiam, Yuki hanya bisa membuang napasnya lega. Akhirnya nenek peyot itu bisa diam, tanpa harus mengotori mulutnya untuk membungkam mulut Tina yang sangat berbisa itu. Untuk mengalihkan perhatian, Bu Wijaya langsung menganti acara, dia mulai mengocok nomor undian untuk menentukan siapa yang akan menjadi tuan rumah setelah ini.


Melihat Yuki yang hanya diam, Aldan mencoba untuk menghiburnya. Dia sadar jika ucapan Tina tadi telah melukai hati Yuki. Hanya saja gadis itu bisa mengontrol dirinya dan bisa melihat di mana dia berada saat ini. Jika tidak! pasti Tina akan langsung bungkam setelah mendapatkan perkataan pedas dari mulutnya. Dia tidak mau namanya terlihat buruk di depan calon mertua hayalannya itu.


"Kau mau minum?" tanya Aldan memberikan segelas jus untuk Yuki.


"Boleh juga," ucap Yuki tersenyum lalu menerima jus pemberian Aldan.


"Kak!" ucap Yuki sedikit gugup.


"Hem!" degem Aldan menatap Yuki binggung.


"Lihat! mie buatan kita di jadikan sebagai menu utama. Aku takut rasanya tidak enak. Apa kakak tadi sudah mencicipinya?" tanya Yuki menatap mie goreng buatannya yang terhidang di meja makan.


Ini adalah pertama kalinya Yuki menginjakkan kakinya di dapur. Jadi dia tidak yakin jika masakannya layak untuk di makan. Walaupun tadi Aldan mengatakan jika rasanya enak, tetapi Yuki tetap saja belum yakin. Dia takut jika masakannya tidak enak, dan membuat dirinya kembali mendapat sindiran pedas dari kelurga Aldan yang tidak menyukainya.


"Nak! ayo kita makan bersama. Ajak Yuki juga" ucap Wijaya menghampiri Aldan dan Yuki.


"Baik, Pa!" ucap Aldan tersenyum lalu bangkit dari duduknya.


"Ayo! kita makan bersama," ucap Aldan menatap Yuki.


Yuki hanya tersenyum mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Dia meremas tangannya yang terasa dingin. Dia berjalan mengikuti Aldan lalu duduk bergabung dengan keluarga besar itu. Setelah semuanya berkumpul, mereka langsung mengisi piring mereka masing-masing. Mereka menyantap berbagai jenis makanan di depan mereka satu persatu.


"Kau yang memasak mie ini?" tanya Tina menatap Bu Wijaya ketikan mencicipi mie goreng seafood buatan Yuki.


Degk....


Jantung Yuki langsung berdetak kencang. Dia tidak bisa membayangkan hinaan apa lagi yang akan dia dapat jika masakannya tidak sesuai dengan lidah Tina.


"Memangnya kenapa? tidak enak?" tanya Bu Wijaya mencoba mencicipi mie goreng itu.


"Bukan! rasanya sangat enak. Bahkan jauh lebih enak dari buatanmu biasanya. Kau menambah apa pada mie ini?" tanya Tini sambil terus menyantap mie itu dengan lahapnya.


"Bukan aku yang membuatnya. Tapi Yuki," ucap Bu Wijaya tersenyum sambil menatap Yuki.


"Apa!" ucap Tina membulatkan matanya terkejut.


Dia menatap gadis yang tadi dia jelek-jelekkan dengan tatapan tidak percaya. Satu hari ini, sudah dia kali dia di buat shock oleh Yuki. Jangan sampai yang ketika kalinya. Sedangkan Yuki hanya tersenyum sambil membuang napasnya lega. Dia merasa lega karena yang dia takutkan sedai tadi tidak terjadi. Dia kira rasa masakannya tidak enak, tetapi ternyata rasanya jauh dari yang dia bayangkan sejak tadi.


"Benarkah? kalau begitu papa mau cobain juga ah," ucap Wijaya mengambil mie itu dan memindahkannya ke piringnya.


Dia menyantap mie goreng itu dengan lahapnya. Kata pujian terus keluar dari mulutnya terhadap masakan Yuki itu. Mendengar fujian dari semua orang tentang masakannya, Yuki hanya tersenyum sambil menatap Aldan.


"Padahal aku yang membantumu. Tapi semua orang hanya memujimu. Jika kau tinggal di rumah ini, aku yakin lama-kelamaan aku akan dilupakan," bisik Aldan merasa cemburu kepada Yuki.


"Kau ini! kau mau menjadi sainganku? ingat selama ini aku tidak punya saingan untuk mendapat kasih sayang mereka," ucap Aldan mencubit kecil hidung mancung Yuki.


"Ehem! ingat kau itu tunangan orang. Jadi jaga jarakmu dengan wanita lain," dehem Tina menatap tidak suka dengan kedekatan Yuki dan Aldan.


"Maaf, Tante!" ucap Aldan menunduk, tetapi kakinya malah mendendang kecil kaki Yuki.


Yuki yang merasakan kakinya di tendang oleh Aldan, hanya bisa tersenyum kecil sambil membalasnya kembali. Mereka terus bercanda secara sembunyi-sembuyi. Saat Tina memandang ke arah mereka, mereka langsung pura-pura melanjutkan makan mereka seperti tidak terjadi apapun.


...----------------...


Sanja terus bergumam kedal di meja kerjanya. Semua benda di sana menjadi sasaran pelampiasan kekesalannya. Kelakuan Bisma yang memamerkan roti selai stroberi membuatnya menjadi sangat kesal. Pria itu memang sangat jahil dan selalu membuat darahnya mendidih, tetapi pria itu yang malah mengisi seluruh ruang yang ada di hatinya. Bahkan pria itu tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk pria lain di hari Sania.


"Dasar, Kak Bisma! bisa-bisanya dia bicara seperti tadi. Baru saja aku bagaikan terbang ke atas awan karena perhatiannya. Tapi sekarang dia malah menjatuhkanku dengan ucapannya yang menjengkelkan itu," gumam Sania kesal sambil membolak balik dokumen yang ada di tangannya.


"Roti selai stroberi!" ucap Sania kembali sambil memukul keningnya pelan.


"Roti selai stroberi?" tanya Rafi tiba-tiba muncul dan mengagetkannya.


"Eh, Paman!" ucap Sania kaget sambil mengusap dadanya pelan.


"Mana roti selai stroberinya? kebetulan paman lagi lapar," ucap Rafi menatap meja Sania yang hanya di penuhi tumpukan dokumen.


"Eh! itu," ucap Sania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu mana?" tanya Rafi menatap Sania binggung.


"Di toko!" ucap Sania nyengir tanpa dosa.


Mendengar ucapan Sania, Rafi membuka mulutnya lebar-lebar. Dia baru sadar ternyata dia sedang di bodoh-bodohi oleh Sania. Meliat ekspresi Rafi, Sania malah terkekeh kecil tanpa dosa sedikitpun. Anak itu memang suka membuat Rafi pusing sendiri tingkahnya itu.


"Mulutnya tolong di tutup, Paman. Nanti bukannya makan roti, malah jadi makan lalat," ucap Sania terkekeh kecil.


"Kau ini," ucap Rafi mengacak-acak rambut Sania dengan gemas.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Rafi menatap tumpukan dokumen yang ada di depan Sania.


"Paman itu buta apa ya? sudah tau jika di depanku masih banyak dokumen," ucap Sania memanyunkan bibirnya kesal.


"Masih banyak ya? padahal paman mau menyuruhmu pergi persama Bisma untuk mengecek undangan anniversaryku. Tapi nampaknya kau sibuk, kalau begitu aku akan menyuruh Bisma untuk pergi bersama karya lainnya saja," ucap Rafi membuang napasnya kesal lalu melangkahkan kakinya menjauhi Sania.


"Tidak jadi! pekerjaanku sudah selesai. Jadi, aku saja yang pergi bersama Kak Bisma," ucap Sania langsung berlari keluar mencari keberadaan Bisam.


Bersambung......