
Saat pertama kali membuka mata, Sania melihat suatu pemandangan yang sangat memanjakan tatapannya. Dimana dia melihat sosok pria tampan yang dia kagum-kagumi selama ini menatapnya dengan penuh keteduhan.
"Pagi, Sayang!" ucap Bisma melihat istrinya telah membuka mata.
"Pagi!" ucap Sania malu sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Melihat suaminya itu, bayangan malam panas yang mereka lewati semalam penuh kembali terukir indah di ingatan Sania, sehingga membuatnya merasa sangat malu. Melihat sang istri yang malu-malu kucing, Bisma hanya bisa tersenyum kecil. Bukan berhenti mengoda istrinya itu, dia malah ikut masuk kedalam selimut lalu memeluk mesra tubuh polos istrinya.
"Kenapa sekarang malu-malu sayang? Bukankah semalam kamu sangat ganas," bisik Bisma mengingat keganasan istrinya tadi malam.
"Kakak! jangan di ingat lagi," ucap Sania menunduk malu menyembunyikan wajah memerahnya.
"Maaf, Sayang! Keinginanmu yang satu ini tidak akan bisa aku kabulkan. Aku tidak akan pernah melupakan setiap kenangan yang kita lewati bersama. Apalagi kenangan di malam pertama kita," ucap Bisma tersenyum kecil.
"Tapi aku perhatikan semua bintang yang ada di langit telah pindah ke gunung kembarmu," bisik Bisma melihat dada Sania yang dipenuhi bintang merah ciptaannya.
"Kakak!" pekik Sania mencubit perut Bisma. Namun, tanpa di sengaja dia menyenggol barang pusaka Bisma yang sedang tertidur, sehingga membuat tidur nyenyaknya terusik.
"Sayang! Kamu membangunkannya lagi," ucap Bisma melihat miliknya yang mulai bangun dari tidurnya.
"Tidak! aku tidak membangunkannya. Kakak yang salah kenapa tidak pakai celana," ucap Sania memanyunkan bibirnya.
"Tapi kamu menyentuhnya sayang. Jadi kamu harus bertanggung jawab," ucap Bisma kembali melancarkan aksinya.
Walaupun mereka telah melewati malam panas sepanjang malam, akan tetapi pria itu tidak mengenal lelah sama sekali. Gairah yang selama ini dia pendam akhirnya bisa dia salurkan, sehingga membuat gairah itu semakin memuncak bersama cinta mereka. Sinar matahari mulai menyinari kamar itu, di ikuti dengan deru napas yang memburu di antara kedua insan yang saling memadu kasih itu.
Akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia, kini cinta mereka telah disatukan oleh ikatan suci sebuah pernikahan. Dimana kini mereka akan menciptakan kisah baru, dan melupakan semua kisah yang telah mereka lewati selama ini. Seperti beras dan juga air, walaupun mereka tercipta di tempat yang berbeda, akan tetapi mereka akan di persatukan di sebuah penanak nasi. Dimana mereka saling membutuhkan satu sama lain, dan menciptakan hal baru saat mereka telah di satukan.
Begitu juga dengan Sania dan Bisma, walaupun mereka selalu di pisahkan, tetapi cinta mereka akan mempersatukan mereka kembali. Bahkan mereka tidak perduli akan setiap rintangan yang datang menghampiri, mereka akan melewatinya dengan penuh keberanian dan percaya akan cinta mereka. Karena yang ada di pikiran mereka hanya satu, dimana yang ditakdirkan untuk kita akan tetap kembali kepada kita.
Setelah selesai dengan tugasnya, Bisma perlahan turun dari tubuh istrinya dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Dia kembali menciumi seluruh wajah Sania dengan penuh cinta.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Bisma mengusap kening Sania yang dipenuhi keringat.
"Aku sangat lelah! mungkin aku akan kembali tidur sampai siang," ucap Sania manja sambil menangkupka wajahnya di dada bidang Bisma.
"Kamu istirahatlah! aku akan memesan makanan untuk kita," ucap Bisma bangkit dari tidurnya.
"Mau mandi! kamu mau ikut?"
"Tidak! aku mau tidur saja. Tapi... "
"Tapi apa, Sayang?"
"Pinggangku sakit," ucap Sania dengan manja.
"Aku mengerti," ucap Bisma terkekeh kecil lalu memijit pinggang istrinya itu.
Jika kita menikah dengan orang yang tepat, maka kita akan diperlakukan seperti seorang ratu. Karena orang yang mencintai kita akan selalu tau apa yang kita inginkan, tanpa harus kita beritahu. Begitu juga dengan Bisma, dia sangat mencintai Sania. Maka, tidak ada yang lebih penting baginya selain kebahagiaan istrinya itu.
"Apa kakak tau? aku merasa jika aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini," ucap Sania tersenyum.
"Kenapa?" tanya Bisma mengerutkan keningnya binggung.
"Karena aku memiliki suami yang sangat mencintaiku," ucap Sania tersenyum lalu bangkit dari tidurnya.
"Apa kakak tau? kakak adalah suami yang sangat sempurna bagiku, karena kakak selalu tau apa yang aku inginkan. Bahkan selain menjadi suami, kakak juga bisa menjadi sosok ayah, kakak laki-laki dan juga sahabat untukku. Aku berharap semoga kita bisa selamanya bersama, hingga maut memisahkan," ucap Sania mengenggam tangan suaminya itu.
"Jika suatu saat nanti aku meninggalkanmu terlebih dulu untuk menemui sang Pencipta. Apakah kamu mau berjanji kepadaku?"
"Janji apa?"
"Aku mau kami berjanji untuk tetap menyimpan cinta kita di hatimu. Agar suatu saat nanti kita disatukan kembali di surganya Allah. Aku, kamu dan juga anak cucu kita nantinya," ucap Bisma membelai lembut wajah istrinya itu.
"Tanpa kakak meminta, aku akan melakukannya untuk kakak. Hatiku hanya untuk kakak, jadi tidak akan ada lagi tempat untuk orang lain di sana. Walaupun suatu saat nanti kita berpisah, baik itu berpisah karena maut, ataupun hal yang lainnya. Cintaku akan tetap abadi untuk kakak," ucap Sania tersenyum.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Di setiap sujudku aku akan meminta agar kita terus bersama untuk selamanya," ucap Bisma tersenyum lalu memeluk erat tubuh polos istrinya.
"Aku percaya kepada kakak. Cinta kita akan abadi untuk selamanya,"
Bersambung........