
Bisma fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arah Sania yang duduk terdiam di sampingnya sambil menatap kearah kaca jendela. Sepertinya gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Karena sejak tadi dia terlihat murung dan tidak ada semangatnya sedikitpun. Padahal Bisma segaja mengambil cuti hari ini agar dia bisa menghabiskan waktunya dengan wanita yang dia cintai itu.
"Kamu kenapa? sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu? coba katakan kepada kakak. Mungkin kakak bisa membantumu," ucap Bisma tersenyum sambil mengenggam tangan mungil gadis itu.
"Aku juga tidak tau aku sedang memikirkan apa, Kak! tapi yang pasti aku sedang mencemaskan sesuatu," ucap Sania membuang napasnya pelan.
Mendengar ucapan gadis itu. Bisma hanya bisa mengerutkan keningnya binggung. Dia mencoba menepikan mobilnya agar mereka bisa berbicara dengan nyaman. Dia mengengam erat tangan Sania lalu mencium punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Katakan! apa yang membuat bidadari kecil kakak ini merasa cemas?" tanya Bisma menatap lekat wajah cantik Sania.
"Kakak! aku ini sudah besar. Jadi berhenti menyebutkan sebagai bidadari kecil," ucap Sania memanyunkan bibirnya kesal.
"Jadi kakak harus mwmanggil apa? bidadari gede gitu?" ucap Bisma terkekeh kecil.
"Kamu memang sudah besar, Sayang. Bahkan sekarang kau sudah dewasa. Tapi bagi kakak kamu tetap peri kecil kakak yang mungil dan mengemaskan," ucap Bisma tersenyum sambil mencubit gemas wajah Sania.
"Kak! aku menghawatirkan keadaan Rizki. Bolehkah aku menemuinya sekarang?" tanya Sania penuh permohonan.
Mendengar ucapan Sania, Bisma langsung terdiam. Dia menatap lekat wajah gadis itu. Dia tidak menyangka jika gadis di depannya itu adalah gadis yang memiliki hati yang luas. Bahkan dia tidak tau terbuat apa hati gadis itu, sehingga dia bisa menerima masa lalunya dengan lapang dada. Bahkan dia juga melihat kasih sayang yang begitu besar terpancar di mata Sania untuk Rizki. Padahal bocah itu adalah putranya dengan wanita lain.
"Apa boleh kakak bertanya kepadamu?" tanya Bisma menatap netra mata Sania dengan tatapan kosong.
"Em!" dehem Sania mengangguk kecil.
"Kenapa kamu bisa menerima Rizki dengan baik? padahal kehadirannya, karena penghianatanku. Aku telah menghianati cintamu," ucap Bisma menangkup kedua tangannya di wajah gadis itu.
"Siapa bilang kakak telah menghianatiku? kita belum menikah, jadi hubungan kita belum sah. Jadi sebelum kakak mengucapkan ijab kabul di depan papa, maka kakak belum menjadi milikku," ucap Sania tersenyum.
"Dan untuk Rizki, aku menyayanginya karna mama dan papa selalu mengajariku untuk selalu menyayangi umat manusia. Lalu untuk masa lalu kakak, itu tidak ada hubungannya dengan Rizki. Aku yakin, jika dia bisa memilih, pasti dia juga tidak mau terlahir dari hubungan yang tidak sah. Tapi Allah mempercayakan takdir itu untuknya. Jadi jika aku membenci Rizki, maka itu sama saja aku membenci takdir yang diberikan Allah kepadanya. Dia tidak bersalah dalam masa lalu kakak. Yang bersalah itu adalah kakak dan Mala. Jadi yang seharusnya aku benci itu adalah kakak dan juga Mala," ucap Sania menatap Bisma.
Mendengar ucapan Sania, Bisma hanya bisa terdiam membisu. Dia menatap lekat wajah gadis itu dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
"Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa membenci orang yang paling aku cintai. Tapi asal kakak tau, walaupun aku tidak bisa membenci kakak, tapi cintaku bisa berkurang secara perlahan. Jika cinta itu sudah habis, maka rasa benci itu juga akan bisa muncul secara perlahan. Jika aku sudah membenci seseorang, maka kakak tau sendiri 'kan apa akibatnya?" tanya Sania menatap tajam pria itu.
"Aku tau! dan aku juga tidak akan membiarkan cintamu itu habis. Sehingga rasa benci itu tidak akan bisa muncul di hatimu. Kakak berjanji akan menebus semua kesalahan kakak. Terima kasih, terima kasih karena kamu mau menerima masa lalu kakak dengan baik. Kakak berjanji akan selalu menjadikanmu ratu di hati kakak," ucap Bisma tersenyum lalu mencium punggung tangan Sania dengan lembut.
"Lalu apakah bisa aku menemui Rizki sekarang?" tanya Sania tetap saja ingin bertemu dengan Rizki.
"Tapi kakak tidak tau dia tinggal di mana."
"Aku akan mencaritaunya," ucap Sania tersenyum lalu mengambil ponselnya yang dia simpan di tasnya.
"Bagaimana caranya?" tanya Bisma binggung.
"Aku akan bertanya kepada pamannya,"
"Pamannya?" tanya Bisma mengerutkan keningnya binggung. Karena dia tidak tau jika Mala memiliki saudara.
"Ia! kakak kenal Rifki? pria yang juga magang di kantor Paman waktu itu,"
Mendengar ucapan Sania, Bisma berusaha mengingat pria yang di maksud Sania. Hingga akhirnya dia mengingat seorang pria yang selalu mendekati wanitanya itu. Pria yang selalu membuatnya terbakar api cemburu.
"Aha! kakak cemburu," ucap Sania tersenyum menggoda pria itu.
"Tidak! kakak tidak cemburu."
"Benar tidak cemburu? aku mau menghubunginya lho," ucap Sania terkekeh kecil.
"Hidupkan pengeras suaranya. Kakak mau mendengar percakapan kalian," ucap Bisma membuang napasnya kasar.
"Em! katanya ngak cemburu. Tapi nyuruh hidupin pengeras suaranya. Kakak takut 'kan jika dia mengodaku," ucap Sania memanyunkan bibirnya kesal.
Melihat bibir Sania yang maju kedepan, Bisma langsung menyambar bibir itu dengan rakusnya. Dia hanya menempelkan bibirnya, tetapi lama kelamaan berubah menjadi lumayan kecil. Melihat aksi pria itu, Sania langsung memejamkan matanya, lalu melingkarkan tangannya di leher pria itu.
Setelah beberapa menit, Bisma melepaskan bibirnya sambil menatap Sania sambil tersenyum kecil. Melihat itu, Sania hanya terdiam sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Sepertinya kakak harus melamarmu secepatnya," ucap Bisma membuang napasnya kasar lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Aku harus menghubungi Rifki," ucap Sania sadar dengan tujuan awalnya.
Tidak mau berpikir panjang, Sania langsung mengotak-atik ponselnya dan berusaha mencari nama Rifki di sana. Dengan cepat dia menghubungi pria itu. Namun, tidak ada jawaban sama sekali, sehingga membuat kecemasan gadis itu semakin meningkat.
"Kenapa Rifki tidak mengangkat telponku? apa terjadi sesuatu kepadanya?" gumam Sania panik.
"Kenapa?" tanya Bisma melihat wajah panik gadis itu.
"Rifki tidak mengangkat telponku," ucap Sania menunduk sedih.
"Mungkin dia sedang sibuk. Coba kamu hubungi sekali lagi. Jika tidak di angkat juga, tidak akan coba lagi nanti," ucap Bisma juga mulai mencemaskan keadaan putranya itu.
"Baiklah!" ucap Sania kembali menghubungi Rifki.
"Hallo!" ucap Rifki dari sebrang sana.
"Akhirnya kau mengangkat telponku juga. Aku sejak tadi menghubungimu," ucap Sania sedikit kesal.
"Maaf! aku tadi tidak mendengarnya," ucap Rifki dengan suara yang seperti sedang menahan sedih.
"Ada apa? kenapa suaramu seperti sedang sedih?" tanya Sania merasa tidak enak.
"Rizki sedang sakit," ucap Rifki lirih, sambil berusaha menahan tangisnya.
"Apa! bagaimana keadaannya? dia ada di rumah sakit mana?" tanya Sania dengan mata berkaca-kaca.
"Dia ada di ruang ICU. Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu,, jika bisa tolong bawa Bisma,"
"Baiklah! kami akan segera ke sana," ucap Sania langsung mematikan sambungan teleponnya.
Bersambung......