Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 82


Sania duduk terdiam di dalam kamarnya. Ntah mengapa dia merasa cemas sejak tadi malam. Dia merasa khawatir, tetapi dia tidak tau apa yang dia khawatirkan. Dia menatap kosong layar ponselnya, dia seperti sedang ingin menghubungi seseorang. Namun, dia tidak punya keberanian akan itu.


"Sayang! ayo kita sarapan. Nak Bisma sudah ada di bawah. Dia ingin bertemu denganmu," ucap Risa tiba-tiba masuk, sehingga memecahkan lamunan putrinya itu.


"Kak Bisma ada di bawah, Ma?" tanya Sania berusaha terlihat baik-baik saja.


"Ia, Sayang! Katanya dia ingin bertemu denganmu. Ayo cepat mandi, tubuhmu bau. Apa kau tidak malu bertemu calon menantu mama dalam keadaan bau seperti itu?" tanya Risa mengoda putrinya itu sambil membuka tirai jendela kamar Sania.


"Mama!" ucap Sania menunduk malu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Walaupun sedang libur. Kau harus tetap belajar untuk bangun pagi, lalu membatu mama di dapur. Mama tidak mau di anggap tidak bisa mendidik putri mama, karena kemalasanmu itu. Ingat kau akan menikah," ucap Rissa merapikan kamar putrinya sambil mengoceh.


Mendengar omelan sang mama, Sania hanya terdiam. Dia langsung merendam dirinya di bathtub, sambil memikirkan sesuatu yang membuatnya cemas sejak semalam. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Sania sampai tidak sadar jika dia akhirnya tidur kembali di dalam bathtub itu.


"Ma! Sania mana? kenapa dia belum turun juga? apa putri kita itu masih tidur?" tanya Kinan menatap jam tangannya yang telah menunjuk ke pukul sembilan pagi.


"Tidak, Pa! tadi mama tinggalkan dia sudah mandi. Tapi sudah hampir satu jam kenapa dia belum turun juga ya?" tanya Risa berpikir.


"Papa yakin, dia tidak mandi. Tapi melanjutkan tidurnya di dalam bathtub," ucap Kinan membuang napasnya pelan mengingat kelakuan putrinya itu.


"Bis! jika kelak kau menikah dengan Sania. Aku harap kau menyetok kesabaranmu mulai sekarang. Karena kau akan selalu di buat pusing oleh kelakuannya yang bisa tidur dimana saja," ucap Kinan menasehati calon menantunya itu.


"Kau tenang saja! stok sabarku sudah untuknya sejak dia kecil," ucap Bisma terkekeh kecil ketika mengingat semua kenalan Sania.


"Ehem! kenapa kau masih menyebutnya dengan sebutan, kau? Ingat! dia bukan hanya sahabatmu lagi. Tapi dia sekarang juga calon mertuamu. Jadi pangil papa," ucap Rissa memotong percakapan kedua pria itu.


"Papa!" ucap Bisma merasa canggung dengan sebutan itu.


"Bagus! kalau aku pangil dengan sebutan macan," ucap Risa dengan pedenya.


"Macan?" tanya Bisma dan Kinan mengerutkan keningnya binggung.


"Mama cantik bin kece!" ucap Rissa tersenyum.


Melihat tingkat kepedean istrinya itu, Kinan hanya bisa menahan tawanya. Ingat hanya menahan, bukan tertawa. Karena, jika dia tertawa, sudah di pastikan dia akan tidur di luar malam nanti. Sedangkan Bisma hanya bisa tersenyum kecil, dia memang sudah terbiasa dengan sikap para sahabatnya itu. Jadi dia hanya mengagguk patuh saja, agar macan alias mama cantik bin kece itu tidak mengeluarkan taringnya yang begitu menyeramkan.


"Kalau Bisma memanggilmu dengan sebutan Macan. Maka, Rizki akan menyebutmu dengan sebutan Necan," ucap Kinan terkekeh kecil.


"Necan?" tanya Rissa menyatukan alisnya, sambil menatap binggung suaminya itu.


"Nenek cantik bin kece," ucap Kinan tertawa lepas.


"Berarti kamu kasum, dong!" ucap Rissa tidak mau kalah.


"Kakek mesum!" ucap Rissa tertawa lepas sambil memegangi perutnya.


Mendengar ucapan istrinya itu, Kinan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masa ia, pria seromantis Kinan dibilang mesum. Sedangkan Bisma hanya tersenyum kecil melihat kedua sahabat sekaligus calon mertuanya itu. Dia merasa bahagia karena kedua calon mertuanya itu bisa menerima kehadiran Rizki dengan begitu baik. Bahkan dia dapat melihat kasih sayang yang begitu besar terpancar dari mata kedua sahabatnya itu saat mereka membicarakan soal Rizki.


"Sudahlah! lebih baik kau bangunkan putri kita saja," ucap Kinan sudah kehabisan kata-kata.


Padahal dia sendiri yang memulai percandaan itu, tetapi dia juga yang akhirnya kena mental sendiri karena ucapan istrinya itu.


"Baik, Pasum!" ucap Rissa bangkit dari duduknya.


"Pasum?" tanya Kinan binggung.


"Papa mesum!" ucap Rissa tertawa sambil berlari kecil meninggalkan suami dan juga calon menatunya itu.


"Kamu lihat nanti ya. Aku akan mengebormu sampai malam. Hingga kau kesulitan berjalan," ucap Kinan menatap kesal istrinya itu.


"Ngebor sampai malam? memangnya hubby sanggup. Ingat umur! ntar encok," ucal Rissa terus mengoda suaminya itu.


"Aku memang sudah tua. Tapi dalam urusan mbor-ngebor aku ahlinya," ucap Kinan tidak terima.


Mendengar perdebatan kedua calon mertuanya itu, Bisma hanya bisa mengelengkan kepalanya pelan. Memang jika calon mertua adalah sahabat sendiri, maka akan lebih asik. Bisa saling bercanda gurau bersama, tanpa ada rasa kaku di antara mereka.


"Terima kasih ya! Terima kasih karena akhirnya kau menerima masa laluku. Aku akui jika aku bukan menantu idamanmu, tapi aku akan berusaha menjadi menantu terbaik untukmu," ucap Bisma menatap lekat wajah sahabatnya itu.


"Kau bukan menantu idamanku. Tapi asal kau tau, kau adalah menantu impianku. Karena aku tau, kau sangat menyayangi putriku seperti putrimu sendiri. Aku yakin, kau tidak akan pernah menyakiti putriku. Kau akan menggantikan tugasku dengan baik," ucap Kinan tersenyum sambil menatap Bisma dengan penuh kasih sayang.


"Tapi kenapa selama ini kau menentang hubungan kami?" tanya Bisma binggung.


Mendengar pertanyaan Bisma, Kinan hanya tersenyum kecil. Dia menatap lekat sahabatnya itu sambil membuang napasnya pelan.


"Karena aku ingin melihat, sebesar apa perjuanganmu untuk mendapatkan putriku. Karena aku tau, hubungan yang di awali oleh perjuangan akan lebih kekal. Karena kau akan selalu mengingat perjuanganmu untuk mendapatkan wanitamu. Dan sekarang telah memperlihatkan perjuanganmu. Jadi apa salahnya aku menerimamu dan Rizki dengan baik," ucap Kinan tersenyum.


"Tapi ingat! sekali saja kau menyakiti putriku, itu sama saja kau menyakitiku. Aku sudah menganggapmu seperti adikku. Jadi aku harap kau bisa menjaga kepercayaanku dengan baik. Kau kenal seperti apa aku 'kan? jadi aku harap kau tidak membuat kesalahan," ucap Kinan menatap tajam sahabatnya itu.


"Aku mengerti! aku akan memegang kepercayaanmu dengan baik. Seperti yang kau lihat, aku selalu mengabdiakan diriku untuk kalian. Maka, aku tidak akan pernah mengecewakan kalian. Tapi aku mohon," ucap Bisma menatap lekat sahabatnya itu.


"Aku mohon tegurlah aku jika aku melakukan kesalahan. Jangan pernah anggap aku seperti menantumu yang harus selalu kau jaga perasaannya. Tapi tetaplah kau anggap aku seperti adikmu, adik yang selalu membutuhkan arahan darimu. Karena aku juga akan selalu menggapmu seperti kakakku. Kakak yang menjadi panutanku," ucap Bisma kembali.


Bersambung.....