Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 77


"Kita mau ke mana, Ma?" tanya Rizki menatap sang mama yang sedang fokus menyetir.


"Kau diam saja! jangan terlalu banyak bertanya," ucap Mala sambil terus mengemudikan mobilnya.


Ntah apa yang sedang berada di dalam pikiran wanita itu. Namun, sudah di pastikan itu tidak baik untuk hubungan Sania dan Bisma. Tidak ada kata menyerah untuk dirinya, sebelum dia berhasil membalaskan dendamnya. Akan tetapi, kita belum tau apakah dendamnya hanya kesalah pahaman, atau memang mereka secara tidak sengaja mengusik kehidupan wanita itu. Sehingga membuat wanita itu sangat membenci Bisma dan juga para sahabatnya.


"Kalian telah menyiksa kakakku! bahkan kalian membuatnya mengakhiri hidupnya sendiri. Jadi kalian harus membayar semua perbuatan kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang," batin Mala terus melajukan mobilnya.


Dendam dan bayangan masa lalu terus menghantui dirinya. Dia tidak perduli jika dia harus memanfaat bocah yang lahir dari rahimnya sendiri. Memang Rizki adalah putra kandungnya, tetapi bocah itu terlahir dari sebuah rencana buruk. Jadi dia tidak perduli dengan kehidupan dan juga kebahagiaan putranya itu. Karena yang ada di pikirannya hanyalah membalas dendam.


Hingga akhirnya mobilnya berhenti di sebuah cafe, dengan cepat wanita itu turun dari mobilnya. Melihat sang mama telah turun, tanpa banyak tanya Rizki juga turun dan mengikuti langkah mamanya itu. Mereka berjalan memasuki cafe itu secara bersama-sama. Mala berjalan di depan dengan begitu anggunnya, sedangkan Rizki mengikutinya dari belakang.


Hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika melihat Bisma dan Rafi yang sedang rapat dengan beberapa rekan bisnis mereka. Melihat itu, Mala langsung menghentikan langkahnya dan tersenyum sinis. Dia telah mengirim seseorang untuk mengikuti Bisma, sehingga dia bisa mengetahui dimanapun pria itu berada.


"Kau ingin bertemu dengan papamu 'kan?" tanya Mala menatap putranya itu.


Dengan cepat Rizki menganggukkan kepalanya pelan. Walaupun baru sekali bertemu dengan sang papa, tetapi Rizki langsung merasa nyaman dengan papanya itu. Sehingga membuatnya ingin selalu berada di samping sang papa, dan mendapatkan kasih sayang yang selama ini tidak dia dapatkan.


"Itu Papa Bisma! kau datangilah dia. Jika dia bertanya kau sedang apa di sini, katakan kita ingin makan siang," ucap Mala menatap tajam putranya itu.


"Ia, Ma!" ucap Rizki mengangguk lalu berlari kecil menuju ke arah Bisma.


"Aits! tunggu dulu." Mala menarik lengan baju Rizki, sehingga bocah itu menghentikan langkahnya dan menatap mamanya itu dengan bingung.


"Ingat! kau tidak boleh mengadu apapun kepada mereka. Jika sampai itu terjadi, aku akan mengirimkan jauh dari sini. Sehingga kau tidak memiliki siapapun lagi. Ingat, aku yang melahirkan dan juga membesarkanmu sampai seperti ini," ancam Mala sambil menatap tajam putranya itu.


Mendengar ancaman sang mama, Rizki hanya bisa mengangguk kecil. Dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya lalu kembali melangkahkan kakinya mendekati sang papa, sosok yang dia rindukan selama ini.


"Papa!" ucap Rizki mendekati Bisma, sehingga membuat semua orang menatap kearahnya.


Melihat kedatangan putranya, Bisma langsung menatap Rafi. Dia merasa binggung harus melakukan apa, apalagi melihat tatapan para rekan bisnisnya. Membuat Bisma semakin kebingungan sendiri. Tentu saja dia tidak ingin nama baiknya dan juga para sahabatnya terlihat buruk di depan para rekan bisnisnya itu. Apalagi berita tentang hubungannya dengan Sania telah di ketahui banyak orang.


"Hai, Sayang! kau ada di sini juga?" tanya Rafi langsung menghampiri bocah itu.


Melihat Bisma hanya diam, Rizki terus menatap papanya itu dengan tatapan penuh kesedihan. Jujur, dia merasa sedih karena papanya itu seperti tidak menginginkan kehadirannya. Apalagi melihat tatapan para rekan bisnis Rafi, membuat bocah itu semakin ketakutan.


"Hai, Sayang! kau ada di sini? kebetulan sekali," ucap Sania tiba-tiba muncul, sehingga membuat Mala yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung terkejut.


"Kenapa tiba-tiba gadis itu ada di sini?" batin Mala mengepalkan tangannya geram.


"Kakak!" ucap Rizki langsung berlari kepelukan Sania.


"Kau ingin menjatuhkan nama baik Kak Bisma di depan rekan kerjanya, tidak semudah itu sayang. Yang ada namamu yang akan hancur secara berlahan, sampai akhirnya kau tidak memiliki keberanian lagi untuk memperlihatkan wajahmu itu," batin Sania tersenyum sinis.


"Siapa bocah ini?" tanya salah satu rekan bisnis Rafi memecahkan kebingungannya.


"Dia Rizki. Putra Kak Bisma, sayang salim omnya dulu," ucap Sania menurunkan Rizki dan menyuruhnya menyalami para rekan bisnis Rafi.


"Bukannya kau belum menikah? tapi kenapa tiba-tiba kau memiliki seorang putra?" tanya rekan bisnis yang lainnya.


"Jadi berita tentang kemunculan putramu di pesta di pernikahan putra Wijaya itu benar?" tanya rekan bisnis menatap binggung Sania dan Bisma.


"Benar! dia adalah bocah yang datang di pernikahan Yuki dan Kak Aldan," ucap Sania tersenyum.


"Dia adalah putra Kak Bisma dengan wanita lain. Kami sudah sejak lama mencari wanita itu, tapi kami tidak bisa menemukannya. Hingga akhirnya dia muncul bersama bocah ini. Kami merasa bahagia karena akhirnya kami bisa bertemu dengannya," jelas Sania, sehingga membuat Bisma langsung menatapnya dengan penuh kebingungan.


Ntah apa yang sedang berada di dalam pikiran gadis itu. Sehingga dia menceritakan masalah itu, padahal dia tau apa dampaknya pada hubungannya dengan Bisma nantinya. Namun yang pasti, di dalam pikiran gadis itu hanya satu. Sepandai-pandai apapun kita menyembunyikan sebuah kesalahan, pasti suatu saat akan ketahuan juga. Baik itu dalam waktu singkat ataupun dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.


Apalagi ini masalah seorang anak yang membutuhkan identitasnya yang sesungguhnya. Dia yakin suatu saat nanti semua orang juga akan tau tentang kehidupan Rizki. Jadi lebih baik dia mengungkapkannya sekarang, daripada menimbulkan masalah di masa depan.


"Hai! kalian di sini juga," ucap Mala tiba-tiba muncul dan mulai memasang topengnya.


"Ia! Paman sedang melakukan pertemuan penting di sini," ucap Sania tersenyum kecil.


"Oh! ini paman. Tante menyuruhku memberikan ini kepada paman," ucap Sania memberikan sebuah dokumen kepada Rafi.


"Oh! Paman sampai lupa. Di mana kau bertemu dengan tantemu?" tanya Rafi mengingat jika dokumen penting itu tertinggal di rumah.


Karena terlalu sibuk mengurusi masalah Bisma, dia sampai melupakan dokumen itu. Padahal dokumen itu yang harus mereka bahas hari ini.


"Itu!" ucap Sania menujuk ke arah dua wanita yang berjalan mendekati mereka.


Melihat kedua wanita itu, ekspresi Mala langsung berubah. Apalagi kelihat wanita yang datang bersama Clara.


"Kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian. Kami akan menunggu di meja lain," ucap Sania tersenyum lalu membawa Rizki dan Mala menjauh dari sana.


"Kenapa? kau terkejut karena aku mengetahui siapa dirimu? ingat, sepintar-pintarnya tupai melompat. Pasti suatu saat akan terjatuh juga," ucap Sania pelan sambil menatap Mala yang berjalan di sampingnya.


Bersambung.....