Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 46


"Sania, putriku!" batin Kinan menatap Sania yang dia lihat seperti bukan Sania yang dia kenal selama ini.


Biasanya Sania akan selalu tersenyum dan juga penuh kelembutan. Namun, kali ini dia melihat Sania yang begitu tegas dan juga arrogant. Dia tidak melihat tatapan kelembutan yang selalu terpancar di mata putrinyaputrinya itu, yang ada hanya tatapan yang begitu tajam dan juga datar. Tidak ada lagi senyuman yang selalu menghiasi wajah cantiknya, yang ada hanya wajah datar yang begitu tegas.


"Sayang!" ucap Kinan mencoba mendekati Sania.


Mendengar ucapan Kinan, Sania hanya menatapnya sekilas lalu kembali melangkahkan kakinya. Jangankan menjawab ucapan papanya itu, Sania bahkan merasa enggan untuk menatap wajah sang papa. Memang Sania tau jika yang dia lakukan adalah salah. Namun, dia juga tidak mau terus di kekang oleh keputusan Kinan yang membuatnya terluka. Karena juga mempunyai kehidupannya sendiri, dia berhak untuk menentukan siapa yang pantas ataupun yang tidak pantas untuk mendampinginya.


Melihat Sania yang tidak memperdulikannya, Jantung Kinan seperti ingin berhenti berdetak. Dia menatap punggung putrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Rissa yang melihat itu, langsung menghampiri Kinan dan mencoba untuk memenangkannya.


"Kamu jangan tersinggung dengan sikap putri kita. Aku yakin, dia masih merasa berat menerima keputusan yang kamu buat," ucap Rissa mengelus punggung Kinan.


"Ia! aku mengerti," ucap Kinan tersenyum kecil lalu kembali duduk di kursinya.


"Zhi! apa yang kau katakan kepada Sania? kenapa dia bisa berubah seperti itu?" tanya Sinta dan juga Nur menatap Zhia dengan penuh selidik.


"Tidak ada! aku hanya mengatakan jika dia tidak boleh menyerah akan keadaan. Dia harus bangkit, dan tidak boleh terus terpuruk," ucap Zhia yang juga merasa aneh dengan sikap Sania.


Memang dia menyuruh Sania untuk mendiamkan Kinan agar Kinan sadar jika keputusannya salah. Namun, dia tidak menyuruh Sania untuk menjadi Sania yang lain. Akan tetapi, setidaknya mereka bersyukur, karena Sania tidak lagi terpuruk dan terus mengurung diri di kamar.


"Sayang! kau datang juga. Tante sangat merindukanmu," ucap Clara menghampiri Sania.


"Tentu saja Sania datang, Tan! karena Sania akan mempertanggung jawabkan kepercayaan yang telah tante berikan untuk Sania. Maaf! karena Sania datang terlambat. Apakah ada masalah dalam acara pestanya?" tanya Sania menatap datar Clara.


"Tidak! semuanya berjalan dengan lancar," ucap Clara menatap aneh Sania.


"Baiklah, Tan! kalau begitu Sania ke belakang dulu," ucap Sania tersenyum lalu berjalan meningalkan Clara.


Dia berjalan menuju ruang belakang untuk memperhatikan keadaan pesta dari ruang CCTV. Sebagai penanggung jawab acara pesta ini, Sania tidak mau ada masalah sedikitpun. Dia ingin membuktikan jika dia bisa bekerja dengan baik. Jika semuanya berjalan dengan lancar, pasti Bisma akan merasa bangga kepadanya.


"Sania kepada?" tanya Rania mentap binggung perubahan sikap Sania.


"Aku tidak tau! mungkin dia masih masih belum terima dengan keputusan Kinan. Dia sangat mencintai Bisma, pasti dia sangat terluka saat ini," ucap Clara menatap Sania dengan tatapan penuh iba.


Melihat Sania yang telah tiba, Yuki, Aulya dan juga Fiona langsung menghampirinya. Mereka menatap Sania yang sedang sibuk memperhatikan pesta dari rekaman CCTV. Tentu saja mereka ingin menikmati acara pesta bersama sahabatnya itu.


"Kak! ayo kita berkumpul dengan tamu yang lainnya. Apa kakak tidak mau menikmati pesta bersama kami?" tanya Fiona mendekati Sania.


Mendengar ucapan Fiona, Sania langsung mengalihkan tatapannya kepada adik sepupunya itu. Dia melihat senyuman yang melingkar di wajah Fiona dengan tatapan kosong. Dia tau jika dirinya masih sangat kecewa atas keputusan sang papa, tetapi dia juga tidak boleh mematahkan kebahagiaan para sahabatnya. Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini, jadi dia tidak boleh egois. Dia juga harus memikirkan perasaan para sahabatnya.


Yuki dan Aulya langsung tersenyum bahagia. Mereka langsung menghampiri Sania lalu meneluknya dengan penuh kebahagiaan. Mereka merasa kagum kepada Sania, karena dalam kesedihannya dia masih memikirkan perasaan mereka.


"Kakak yang kuat ya! Aulya yakin, suatu saat nanti kakak akan di satukan dengan cinta sejati kakak. Kami akan selalu mendukung setiap keputusan kakak. Kami akan membantu kakak sekuat tenaga kami," ucap Aulya tersenyum.


"Ia, San! kau adalah wanita yang kuat. Waktu aku terpuruk saat pertunangan Aldan, kau yang memberikan semangat untukku. Jadi kau juga harus kuat, aku yakin kau akan segera menemukan kebahagiaanmu. Karena apa yang ditakdirkan untuk kita, tidak akan bisa di pisahkan oleh manusia," ucap Yuki menatap Sania dengan lekat.


"Aku tau! kalian tenang saja. Aku yakin akan kuat menghadapi semua ini. Kalian tau sendiri bagaimana aku 'kan? aku adalah wanita kuat," ucap Sania tersenyum.


"Tapi maaf! aku tidak akan bisa kembali seperti Sania yang kalian kenal dulu," batin Sania menatap ketiga sahabatnya itu.


"Kakak benar! kakak adalah wanita kuat. Bukan hanya kakak, tapi kita semua. Jadi kita semua harus terus bersatu, agar kita semakin kuat," ucap Aulya tersenyum.


"Benar! kita akan terus bersama, karena kita adalah saudara," ucap Yuki memeluk ketiga sahabatnya itu.


"Ehem! apa kalian hanya berempat? kalian tidak mengagap kami begitu?" tanya Gibran mentap keempat sahabat itu, bersama Erlan, Cheesy dan Chelsea yang berdiri di belakangnya.


"Hehe... maaf! kami melupakan kalian," ucap keempatnya serentak.


Setelah selesai berbincang bersama, mereka semua langsung bergabung dengan para tamu yang lainnya. Gibran, Erlan dan Fillio berkumpul bersama dengan para tamu pria. Jika Fiona lebih memilih bersama Chelsea dan Cheesy, karena mereka masih suka bermain di usia mereka yang masih terbilang menginjak remaja. Sedangkan Yuki, Aulya dan Sania bergabung dengan para tamu yang lainnya.


"Hai, Yuki! ternyata kau hadir juga," ucap Gresia menghampiri ketiga gadis itu.


"Tentu saja! Kau datang dengan siapa?" tanya Yuki menatap penampilan Gresia yang terlihat glamor.


"Tentu saja dengan calon suamiku," ucap Gresia tersenyum sinis sambil melayangkan senyumannya kepada Aldan yang sedang berbincang dengan tamu lainnya.


"Calon istri, belum tentu menjadi istri. Jadi jangan terlalu bangga, nanti posisimu di ganti oleh orang lain. Mau di taruh di mana itu muka," ucap Sania tanpa mentap Gresia.


Mendengar ucapan Sania, Gresia langsung menatap tajam gadis itu. Ingin sekali dia melemparkan minuman yang ada di tangannya ke wajah Sania saat itu juga.


"Aku yakin itu tidak akan terjadi, jika wanita itu tidak kegatalan mengoda calon suami orang. Apa kalian tidak tau jika pelakor itu jauh lebih rendah dari seorang p*l*c*r?" ucap Gresia penuh dengan penekanan di kata-kata terakhirnya.


"Apa kau lupa jika kata-kata yang pantas di ucapkan oleh orang yang sudah menikah? sedangkan kau!" ucap Sania tersenyum Sinis.


"Hanya seorang tunangan! itupun karena sebuah keterpaksaan. Bukan karena cinta," ucap Sania kembali lalu mengajak Yuki dan Aulya pergi meninggalkan Gresia.


Bersambung.....