
"Kamu adalah anak yang pintar dan juga mengemaskan. Tapi kenapa ibumu bisa sangat membencimu? Padahal setiap orang yang melihatmu, mereka langsung jatuh hati kepadamu. Tapi kenapa ibumu bisa menyia-nyiakanmu? Paman minta maaf ya, paman minta maaf karena belum bisa membawamu tinggal bersama paman. Karena ibumu tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Tapi kau tenang saja, paman akan selalu berjuang untukmu. Paman akan membantumu keluar dari siksaan ibumu," gumam Rifki menatap wajah teduh Rifki dengan penuh kesedihan.
uhukk... uhukk....
Tiba-tiba, Rizki terbangun dari tidurnya dan terbatuk. Dengan cepat, Rifki mengambil air hangat dan memberikannya kepada keponakannya itu. Dia menghapus keringat yang membasahi kening bocah itu, dan merasakan jika panas Rizki semakin meninggi. Bahkan bocah itu nampak mengigil karena menahan suhu tubuhnya yang sedang panas tinggi.
"Demammu tidak kunjung turun, Sayang. Lebih baik kita ke dokter ya," ucap Rifki menyingkirkan selimut Rizki dan membawa keponakannya itu kedalam gendongannya.
"Tidak, Paman! nanti mama memerlukan sesuatu. Aku harus menunggu mama pulang," ucap Rizki masih saja memikirkan ibunya.
"Mamamu sudah pulang. Lebih baik kau memikirkan kedaanmu saja. Kau tidak perlu memikirkan kedaan ibumu," ucap Rifki membawa Rizki kedalam gendongannya.
Dengan panik, Rifki mengendong tubuh mungil keponakannya itu keluar dari kamar. Tubuhnya sangat panas, sehingga membuat pemuda itu sangat menghawatirkan keadaannya. Dia terus berdoa agar keponakannya itu baik-baik saja. Penyesalan demi penyesalan muncul begitu saja di hati kecil Rifki. Dia menyesal kenapa dia tidak bisa mengambil bocah itu tinggal bersamanya. Padahal bocah itu sangat membutuhkan perlindungannya.
"Mau kau bawa kemana dia?" tanya Mala ketika melihat Rifki membawa putranya.
"Dia demam! aku ingin membawanya ke dokter," ucap Rifki terus melangkahkan kakinya.
"Hentikan! biarkan saja dia tidur dan minum obat. Pasti nanti demamnya turun sendiri," ucap Mala tanpa ada hati nurani sedikitpun.
Mendengar ucapan kakaknya itu, Rifki langsung mengeraskan rahangnya. Dia meletakkan tubuh Rizki ke sofa lalu berjalan mendekati Sang kakak yang sedang berdiri di pintu kamarnya. Dia menatap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Walaupun wanita yang berada di depannya itu adalah kakak kandungnya, tetapi dia jauh lebih menyayangi Rizki keponakannya. Karena, sebagai seorang manusia, dia tidak bisa melihat bocah sekecil Rizki di perlakukan sekeji itu.
"Aku heran! kenapa kau bisa menyebut dirimu sebagai ibu dari bocah itu," ucap Rifki menatap tajam Mala.
"Karena aku yang melahirkannya. Jadi aku adalah ibunya, dan aku berhak melakukan apapun untuknya. Bahkan aku berhak menentukan dia harus tinggal dengan siapa. Jadi jika kau tetap ingin mengambilnya dariku, maka aku tidak akan pernah membiarkannya."
Mendengar ucapan Mala, Rifki hanya tersenyum kecil. Dia menatap penampilan kakaknya itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
"Asal kau tau, seekor anjing juga melahirkan anaknya. Bahkan dia lebih mulia darimu, karena dia dengan tulus melahirkan dan juga menyusui anaknya. Sedangkan kau," ucap Rifki tersenyum sinis.
"Kau dengan tega menyiksa putra kandungmu sendiri. Jadi kau tidak pantas di sebut seorang ibu, bahkan kau tidak pantas di sejajarkan dengan anjing betina sekalipun," ucap Rifki meludah ke sembarang tempat lalu melangkahkan kakinya meningalkan wanita itu.
Dia kembali mengendong Rizki dan membawanya keluar dari apartemen itu. Sedangkan Mala hanya diam mematung menatap punggung adiknya itu. Dia tidak menyangka jika adiknya itu bisa berkata sekasar itu kepadanya.
...----------------...
Yuki duduk terdiam di taman belakang. Dia menatap suasana pagi di kediaman suaminya yang begitu sejuk. Burung-burung berkicauan, dan juga kupu-kupu yang beterbangan membuat senyuman indah di wajah cantik gadis itu melingkar dengan sempurna. Namun, tiba-tiba dia merasa sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Tentu saja wanita itu langsung dapat menebak siapa pemilik tangan kekar itu.
"Kakak sudah bangun?" tanya Yuki mengengam tangan kekar itu.
Mendengar ucapan suaminya itu, Yuki hanya tersenyum kecil. Dia mengusap lembut puncak kepada suaminya itu. Aldan terus menatap wajah cantik istrinya itu dengan penuh keteduhan.
"Apa kamu masih memikirkan tentang Sania?" tanya Aldan sambil membawa tangan Yuki ke bibirnya.
"Seperti yang kakak tau, hubunganku dan Sania bukan hanya sekedar sahabat. Tapi kami sudah seperti saudara. Bukan hanya itu, kami memiliki ikatan yang sangat kuat. Jika salah satu di antara kami yang bersedih, maka yang satunya lagi juga ikut merasa kesedihan itu. Begitu juga sebaliknya," ucap Yuki menatap langit yang begitu cerah.
"Jadi hanya aku yang bisa merasakan bagaimana perasaan Sania saat ini. Walaupun dia terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya saat ini dia sedang terluka. Dia memang bisa membohongi semua orang dengan senyumannya, tapi tidak denganku," ucap Yuki tidak sengaja menitikkan air matanya mengingat bagaimana perjuangan sahabatnya itu saat ini.
Melihat hubungan Yuki dan Sania yang sangat erat, Aldan hanya bisa tersenyum kecil. Dari sana dia bisa tau bagaimana persahabatan yang sebenarnya. Persahabatan yang begitu erat, bahkan lebih erat dari hubungan darah sekalipun. Dia perlahan membuang napasnya pelan lalu duduk di samping istrinya itu. Dia meletakkan kepala istrinya ke bahu kekarnya sambil mengusap rambut panjang istrinya itu dengan lembut.
"Sejak mengenal keluargamu, aku jadi tau apa makna pertemanan yang sebenarnya. Tapi, setelah melihat persahabatanmu dengan Sania, aku menjadi sadar. Aku jadi sadar jika persahabatan sejati itu memang ada. Sahabat yang selalu ada di samping sahabatnya, baik itu dalam keadaan suka maupun duka. Bahkan kalian memiliki ikatan batin yang sangat kuat, ikatan batin yang mengalahkan ikatan batin antara ibu dan anaknya," ucap Aldan tersenyum.
"Sekarang kamu adalah istriku. Maka semua yanga da padamu adalah milikku juga. Baik itu keluarga maupun sahabat," ucap Aldan kembali.
"Maksudmu?" tanya Yuki mengerutkan keningnya sambil menatap suaminya itu.
"Jadi Sania sekarang adalah sahabatku juga. Mulai sekarang kita adalah tim makcomblang untuk menyatukan Sania dan juga Bisma. Kita akan memberantas siapa saja yang berani menghalangi jalan kita. Termasuk ibunya Rizki," ucap Aldan tersenyum.
"Apa! jadi kakak mau membantuku?" tanya Yuki tersenyum penuh kebahagiaan.
"Tentu saja! tapi tidak ada yang gratis di dunia ini," ucap Aldan tersenyum nakal.
"Maksud kakak apa? aku harus membayar kakak gitu? tapi kakak 'kan suamiku, bahkan aku juga meminta uang dari kakak. Masa ia uang pemberian kakak aku berikan lagi untuk membayar kakak," ucap Yuki dengan polosnya.
Mendengar ucapan polos istrinya itu, Aldan hanya tersenyum kecil. Dia tidak menyangka jika istrinya itu sangatlah polos.
"Aku tidak butuh uang sayang. Tapi ******* nikmat dari bibirmu," bisik Aldan sehingga membuat wajah Yuki langsung memerah.
"Kakak!" pekik Yuki mencubit perut suaminya itu.
"Karena kita sudah deal! jadi sekarang kau harus membayar panjarnya terlebih dulu," ucap Aldan tersenyum puas lalu membawa istrinya itu kedalam gendongannya.
Mungkin mereka akan senam pagi lagi sampai siang hari nanti. Tapi beda dengan senam yang lainnya, senam mereka adalah senam pinggul yang membawa kenikmatan dan juga bibit unggul.
Bersambung......