Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 71


"Ha... ha... malam ini aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa mengungkapkan cintaku kepada gadis yang selama ini aku cintai sejak lama. Tapi! hiks... hiks... wanita itu telah menghancurkan semuanya. Dia membuat wanitaku terluka, bahkan aku tidak tau apakah wanitaku akan menerima masa laluku." Bisma mulai bicara tidak jelas.


Bahkan dia tertawa ketika mengingat Sania yang telah menerima lamarannya, tetapi dia tiba-tiba menangis kesegukan ketika mengingat kelakuan Mala yang telah membuat hati Sania terluka. Gibran yang melihat tingkah Bisma saat mabuk hanya bisa terkekeh kecil. Bahkan dia merekam kelakuan sang kakak saat mabuk untuk menjadi senjata emas untuknya. Jika para papa kece tau bagaimana keadaan Bisma saat ini, pasti Bisma akan menjadi bulan-bulanan mereka semua.


"Apakah Rizki benar-benar putramu? atau kakak hanya di jebak oleh wanita itu?" tanya Gibran penasaran.


"Kalau itu aku juga tidak tau. Tapi saat melihat Rizki pertama kali, aku merasakan adanya getaran yang berbeda. Apalagi melihat wajahnya, aku! aku seperti melihat diriku waktu kecil dulu. Apapun itu, aku langsung jatuh hati kepadanya. Hatiku tergerak untuk mengambilnya dari ibunya. Tapi,"


"Tapi apa, Kak?"


"Tapi aku takut pada Sania. Aku takut jika aku di habisi olehnya saat itu juga. Aku sekarang bagaikan berada di dalam dilema besar. Apakah kau mau menjadi diriku untuk saat ini? jika kau mau, aku pasti akan merasa sangat senang. Aku sangat menderita, bahkan sangat menderita. Derita terus datang menghampiriku tanpa lelah. Bahkan aku sampai heran, apa yang lebih dariku? sehingga derita itu sangat mencintaiku. Bahkan dia tidak mau pergi dari hidupku walaupun hanya sedetik saja," ucap Bisma terkekeh kecil sambil terus meminum alkohol yang ada di tangannya.


"Aku tau! mungkin aku terlalu tampan kali ya? sehingga derita itu tidak mau pergi dariku. Apa aku tampan? pasti aku sangat tampan," ucap Bisma kembali sambil mengeleng kecil.


"Ia, kakak memang tampan. Tapi lebih tampan jika kita pulang sekarang. Aku tidak mau jika harus mengendong kakak," tegas Gibran mencoba kenapah Bisma.


"Kau benar! aku juga ingin bertemu dengan Sania. Aku ingin memeluknya dan ingin bercerita panjang kepadanya. Aku ingin memastikan jika dia tidak akan meninggalkanku. Aku sangat mencintainya, aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Tapi! tapi aku juga menyayangi putraku. Aku bingung. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Gibran, bisakah kau membantuku?"


"Ia! aku akan membantu kakak. Tapi kita pulang dulu ya. Aku akan mengantarkan kakak kepada Sania."


"Kau memang adikku yang paling bisa di andalkan. Walaupun kau sedikit jahil seperti papamu," ucap Bisma terkekeh kecil.


Dia terus mengoceh tiada henti di sepanjang jalan. Gibran yang mendengar ocehan Bisma hanya bisa menatap haru sang kakak. Memang benar penderitaan selalu saja datang menghampiri pria itu tiada henti. Dulu waktu kecil dia harus kehilangan kedua orang tuanya. Bahkan dia belum merasakan kasih sayang kedua orangtuanya sepenuhnya.


Kini saat di dewasa, dia malah di uji dengan masalah percintaannya. Lima tahun lalu, dia harus pergi meninggalkan Sania walaupun hatinya sangat berat untuk melakukannya. Kini, setelah dia mengungkapkan cintanya, malah datang masalah yang lebih berat. Wanita yang selama ini mengancamnya, kini telah menampakkan dirinya. Bahkan wanita itu juga membawa seorang bocah yang sangat mirip dengannya.


Gibran membawa Bisma kembali ke hotel, karena dia tau jika Sania sedang menginap di sana. Dia memang sengaja mengajak Bisma untuk minum, agar pria itu bisa meluaskan semua kesedihannya. Dia tau, jika kakaknya itu sangatlah tertutup. Walaupun sedang memiliki masalah besar, Bisma pasti akan memilih untuk memendam masalahnya seorang diri. Tetapi jika sedang mabuk, Bisma akan terus mengoceh dan meluapkan semua yang ada di dalam hatinya.


Tok... tokk...


Gibran mengetuk pintu kamar Sania dengan kencang, sehingga membuat gadis yang ada di dalamnya langsung terbangun dari tidurnya. Gadis itu mencoba mengucek matanya dan berjalan menuju pintu.


"Siapa?" tanya Sania mengintip dari lobang kecil yang ada di pintu itu.


"Ini aku! cepat buka," ucap Gibran sedikit keras karena harus menahan bobot tubuh Bisma yang sangat berat.


"Kakak sangat berat! apa ini tubuh kakak yang berat, atau dosa kakak, sih?" gumam Gibran kesal.


"Cepat bantu kakak. Calon suamimu ini sangat berat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia di atasmu nantinya," ucap Gibran mencoba membawa Bisma menuju ranjang.


"Biar aku bantu," ucap Sania menunduk malu mendengar ucapan Gibran.


"Sania, Sayang! apakah ini dirimu? kau tidak marah kepadaku 'kan? kau tidak akan meninggalkanku? aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mohon jangan tinggalkan aku. Maaf! aku minta maaf karena aku menyembunyikan semua ini darimu. Aku tidak bisa mengatakannya, karena aku juga tidak mengenal wanita itu. Malam itu aku tidak sadarkan diri, sehingga aku tidak bisaelihat wajahnya dengan jelas. Bahkan aku tidak bisa mengingat kejadian pada malam itu. Aku mohon maafkan aku," ucap Bisma menangkupkan kedua tangannya di wajah Sania.


"Sudah! kita bicarakan ini besok saja. Kakak pasti sangat lelah, lebih baik sekarang kakak istirahat saja," ucap Sania mencoba menahan bobot tubuh Bisma yang kini memeluknya dengan erat.


"Tidak! Aku tidak bisa menunggu sampai besok. Aku ingin mendengarnya malam ini. Kau tidak marah 'kan? kau tidak akan meninggalkanku karena masalah ini?" ucap Bisma menenggelamkan wajahnya di leher Sania.


"Tidak! aku tidak akan meninggalkan kakak karena masalah ini. Aku akan tetap berada di samping kakak. Aku akan membantu kakak untuk menyelesaikan semuanya," ucap Sania sambil membelai lembut rambut Bisma.


"Benarkah! aku tidak mimpikan? aku sedang sadar? aku tidak mabuk saat ini?" tanya Bisma menatap lekat wajah Sania.


"Tidak!"


Mendengar ucapan Sania, Bisma langsung tersenyum kecil. Dia menatap bibir mungil Sania, dan mengingat c*u*m*n pertama mereka. Dia mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir Sania. Melihat itu, Gibran langsung bergerak cepat. Dia menghalangi bibir Sania bertemu dengan bibir Bisma mengunakan telapak tangannya. Sehingga yang dicium Biska adalah telapak tangan Gibran, bukan bibir Sania.


"Kenapa bibirmu sangat asin? tidak seperti waktu itu. Bibirmu sangat manis, tapi kenapa sekarang berubah?"


"Apa! jadi kakak sudah mencium adikku?" tanya Gibran penuh kekesalan.


"Sayang! aku mau sekali lagi ya," ucap Bisma tidak mengubris pertanyaan Gibran.


Melihat Bisma yang ingin kembali mencium adiknya, Gibran langsung melepaskan pelukan mereka. Sehingga dirinya dan Bisma terjatuh ke atas ranjang, dengan posisi Bisma di bawah sedangkan dia di atas.


"Sayang! ternyata tubuhmu sangat berat. Tapi tidak apa-apa, aku menyukainya," ucap Bisma tersenyum lalu mencoba mencium bibir Gibran.


Tentu saja Gibran langsung mengelak, dia menutup bibir Bisma mengunakan tangannya.


"Sania! calon suamimu ini sudah gila!"


Bersambung....


Bersambung...