
Bu Wijaya duduk santai di sofa ruang tamu sambil menonton televisi. Setelah kedatangan acara arisan keluarga itu, dia nampak lebih sering menemui Yuki ke kantor Aldan. Baik hanya mengajaknya bercerita, makan siang bersama, bahkan dia juga pernah mengajak Yuki untuk menemaninya berbelanja.
Setelah mengenal Yuki dengan dekat, dia langsung kagum melihat keperibadian gadis itu. Memang benar kata Aldan, Yuki adalah gadis yang ramah dan juga berhati lembut. Walaupun sedikit bobrok dan asal ceplos kalau bicara, tetapi dia terlihat jangat lucu dan mengemaskan. Bahkan dia sedikitpun tidak sombong, walaupun dia terlahir dengan bergelimang harta.
"Mama!" ucap seorang gadis yang berpenampilan gelamor dan juga perhiasan yang memenuhi tubuhnya, berjalan mendekati Bu Wijaya.
"Gresya! kau sudah pulang liburan?" tanya Bu Wijaya tersenyum hangat lalu memeluk calon menantunya itu.
"Sudah dong, Ma! mama tau tidak? selama aku di luar negeri aku sangat merindukan mama. Lihat, aku sudah membeli begitu banyak oleh-oleh untuk mama," ucap Gresya memberikan barang belanjaan yang memenuhi tangannya kepada Bu Wijaya.
"Wah! Terima kasih, Sayang," ucap Bu Wijaya tersenyum sambil meneriksa oleh-oleh pemberian Gresya.
"Lihat, Ma! ini parfum keluaran terbaru dan mahal. Aku sengaja membelinya untuk mama. Agar mama selalu wangi," ucap Gresya menunjukkan parfum yang dia beli untuk calon mertuanya itu.
"Ini adalah parfum kesukaan mama. Kau memang paling tau apa yang mama inginkan," ucap Bu Wijaya tersenyum.
"Huff! padahal aku harus menghabiskan uang sakuku selama sebulan untuk membeli ini semua. Tapi tidak apa-apa. Karena sebentar lagi aku akan menjadi nyonya muda di rumah ini," batin Gresya tersenyum sinis membayangkan sebentar lagi dia akan menjadi istri Aldan.
Jika dia menjadi istri Aldan, pasti dia akan menguasai seluruh harta keluarga Wijaya. Dia akan bisa bersenang-senang kemanapun yang dia mau tanpa memikirkan uang. Karena calon suaminya itu memiliki banyak harta, bahkan tidak akan habis sampai tujuh turunan.
Namun, tiba-tiba dia mengingat jika Tina kakak sepupu calon mertuanya itu mengatakan, jika ada seorang gadis yang datang ke acara arisan keluarga mereka. Karena penasaran siapa sosok gadis itu, Gresya memilih untuk menayakannya secara langsung. Tentu saja dia tidak terima jika posisinya akan di gantikan oleh gadis lain.
"Ma! aku dengar waktu arisan keluarga kemarin. Mama mengundang seorang gadis ya?" tanya Gresya pelan.
"Oh itu! mama sengaja mengundang Yuki untuk membantu mama," jelas Bu Wijaya tersenyum.
"Yuki! sekretaris Aldan yang gila itu," batin Gresya langsung merasakan firasat buruk.
Perasaan Gresya langsung menjadi tidak enak. Dia takut jika Yuki akan merebut hati calon mertuanya itu. Jika sampai itu terjadi, tentu saja posisinya akan terancam. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia langsung mikirkan cara agar calon mertuanya itu membenci Yuki. Karena dia sudah tau jelas niat Yuki yang ingin merebut Aldan darinya.
"Yuki! mahasiswa yang sedang magang di kantor papa?" tanya Yuki dengan ekspresi terkejutnya.
"Ia! kenapa? kenapa kau seperti terkejut seperti itu?" tanya Bu Wijaya mengerutkan keningnya bingung.
"Tidak ada," ucap Gresya menunduk sambil menunjukkan wajah sedihnya.
"Kenapa kau bersedih seperti itu? mama hanya memintanya untuk membantu mama," ucap Bu Wijaya menegang dagu Gresya.
"Mama memang hanya memintanya untuk membantunya. Tapi bagaimana dengan tangapannya. Aku sangat kenal dengannya, Ma! bahkan dia juga pernah mengancamku secara terang-terangan," ucap Gresya dengan mata berkaca-kaca sambil menahan tangisnya.
"Mengancammu?"
"Ia, Ma! dia pernah bilang jika Kak Aldan hanya miliknya. Sedangkan aku hanyalah kekasih pajangan Aldan. Dia mengatakan jika dia tidak akan membiarkan pernikahan kami berjalan dengan lancar," ucap Gresya sambil meneteskan air matanya.
"Masa ia Yuki sampai bicara seperti itu?"
"Mama tidak percaya kepadaku? bahkan dia selalu mengoda Aldan di depan mata kepalaku sendiri," ucap Gresya dengan tegas.
Mendengar ucapan Gresya, Bu Wijaya nampak diam sejenak. Dia memang merasa nyaman saat berdekatan dengan Yuki, bahkan dia sudah menyukai gadis itu. Namun, saat mendengar ucapan calon menantunya itu. Dia langsung berpikir, apakah yang di katakan calon menantunya itu benar apa adanya.
"Jika mama tidak percaya, mama tanya saja kepada orang kantor. Yuki selalu menempel dengan Aldan, bahkan dia terus mengoda Aldan. Di tambah lagi sekarang mama dekat dengannya. Aku yakin dia langsung merasa jalannya terbuka lebar. Jika sampai Aldan tergoda dengannya, bagaimana dengan diriku, Ma? bukan hanya aku, tapi keluargaku juga akan sangat malu," ucap Gresya menunjukkan wajah sedihnya agar Bu Wijaya merasa kasihan kepadanya.
"Maafkan mama, Sayang. Mama akan bicara dengan Aldan. Mama yakin dia tidak akan berbuat macam-macam di belakangmu. Karena mama tau bagaimana putra mama," ucap Bu Wijaya mencoba menghibur Gresya.
"Maaf, Sayang! kalau itu mama tidak bisa," ucap Bu Wijaya membuang napasnya kasar.
"Kenapa?" tanya Gresya menatap binggung Bu Wijaya.
"Kau tau sendiri siapa Yuki. Aldan tidak akan bisa memecatnya begitu saja. Lagi pula mama sangat kenal dengan keluarga Yuki, mama yakin Yuki tidak seperti yang kau pikirkan. Dia memang menyukai Aldan sejak dia kecil. Tapi dia tidak mungkin mau menghancurkan nama baik keluarganya. Jadi kau jangan berpikir yang tidak-tidak dulu ya. Tenangkan pikiranmu," ucap Bu Wijaya tersenyum.
"Tapi, Ma!"
"Mama tau bagaimana perasaanmu saat ini. Memang kalau menjelang hari pernikahan itu banyak cobaannya. Bahkan cobaan kepercayaan seperti yang kau alami saat ini," ucap Bu Wijaya tersenyum.
Mendengar ucapan calon mertuanya itu, Gresya hanya bisa diam. Dia membuang napasnya kasar sambil mencoba memikirkan cara lain. Dia tau, untuk saat ini calon mertuanya itu pasti tidak akan mendengarkannya. Jadi, dia harus menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan kehidupan Yuki. Agar Yuki terlihat buruk di mata keluarga Wijaya, sehingga mereka akan membenci Yuki dan menjauhkannya dari Aldan.
...----------------...
Sania dan Bisma sibuk mengurus persiapan untuk acara pesta Aniversary Rafi dan Clara. Walaupun sibuk pertengkar, tetapi mereka bekerja dengan sangat profesional. Jujur saja Sania masih kesal mengingat kelakuan Bisma beberapa hari lalu. Walaupun sudah beberapa waktu lalu, tetapi Sania masih mengingatnya dengan jelas. Apa benar dia marah, atau hanya sedang mengerjai Bisma saja? hanya dia yang tau apa yang ada di pikiran jahilnya itu. Namun, yang pasti dia telah membuat Bisma menjadi kalang kabur beberapa hari ini.
"Sania! kau masih marah? maaf, kakak haritu hanya bercanda," ucap Bisma menatap Sania yang sudah beberapa hari mendiamkannya.
"Tidak! untuk apa aku marah kepada kakak," ucap Sania tersenyum kecil sambil memilih bunga yang ada di toko bunga itu.
"Jika kau tidak marah. Kenapa kau mendiamkanku?"
"Siapa yang mendiamkan kakak?" tanya Sania menatap Bisma sekilas, lalu kembali menatap bunga di depannya.
Saat ini, mereka sedang berada di toko hingga untuk memilih bungga yang akan di gunakan di acara pesta Rafi dan Clara. Sejak tadi Sania hanya sibuk memilih bungga, tanpa memperdulikan Bisma yang terus memperhatikannya. Beberapa hari ini, Bisma mencoba untuk menahan dirinya untuk tetap tenang dengan sikap Sania. Namun, sekarang dia tidak tahan lagi. Jujur dia tidak bisa di abaikan oleh Sania seperti ini.
"Kau!" ucap Bisma tegas sambil mencengkram lengan Sania.
Bisma menatap lekat mata Sania. Namun, Sania mencoba untuk menghindari tatapan Bisma. Akan tetapi Bisma malah semakin mencengkram lenggan Sania, sehingga gadis itu meringis karena kesakitan.
"Maaf! maafkan kakak. Apa lenganmu sakit?" tanya Bisma langsung refleks melepaskan cengkramannya setelah mendengar Sania yang meringis kesakitan.
Sikap Sania yang mendiamkannya membuat Bisma memjadi hilang akal. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan agar Sania bisa kembali seperti biasa lagi. Jujur walaupun di sangat kesal dengan sikap Sania yang selalu mencari perhatiannya. Namun, dia selalu merindukan sikap manja Sania saat Sania lagi cuek seperti ini.
"Aduh! tanganku sangat sakit. Mungkin akan membutuhkan waktu yang panjang untuk mengobatinya. Jadi kakak harus melayaniku selama tanganku lagi sakit," ucap Sania memegang tangannya sambil meringis kesakitan.
Melihat tingkah Sania, Bisma hanya bisa terkekeh kecil. Dia tau jika gadis itu sedang berakting. Dia mencengkram tangan Sania dengan sangat pelan, jadi tidak mungkin lengannya bisa cidera. Jangankan cidera, memerah saja tidak.
"Bilang saja kau ingin selalu dekat dengan kakak. Tentu saja, kakak 'kan sangat tampan. Pasti kau tidak mau melewatkan waktu untuk menatap ketampanan kakak. Dasar kau modus," ucap Bisma mencubit gemas hidung mancung Sania.
"Tidak jadi! lenganku tidak jadi cidera. Jadi aku bisa mengerjakan semuanya sendir. Sekarang lebih baik kakak pergi saja. Di sini juga tidak ada gunanya," ucap Sania menatap kesal Bisma lalu melangkahkan kakinya kembali memilih bunga tanpa memperdulikan Bisma.
"Maaf! kakakk tarik ucapan kakak. Kau memang cidera, jadi kakak harus melayanimu dan membantu semua kegiatanmu," ucap Bisma panik ketika melihat wajah cemberut Sania.
"Tidak perlu! kakak pulang saja,"
"Tidak! tanganmu cidera karena kakak. Jadi kakak harus membantumu,"
Bersambung......