Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 65


"Selamat ya, Ki!" ucap Sania memeluk sahabatnya itu.


"Terima kasih, Sa! Semoga kau juga bisa cepat nyusul ya," ucap Yuki membalas pelukan sahabatnya itu.


"Aamiin!" ucap Gibran dan Erlan langsung mengaminkan.


"Enak saja main asal mengaminkan. Kakak dulu ya menyusul, baru aku," ucap Sania kesal.


"Jodoh kakak masih nyasar di planet Saturnus. Jadi belum ada gojek untuk mengantarkannya pulang," ucap Gibran asal.


"Sudahlah! jangan bertengkar di sini. Lihat, para tamu yang lain juga ingin mengucapkan selamat," ucap Erlan melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


Mendengar ucapan Erlan, Sania langsung menatap ke belakang. Benar saja, para tamu sudah berdatangan dan telah bersiap untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin itu. Tidak mau membuat keributan, Sania langsung berjalan mendekati Aldan.


"Kak! aku titip sahabatku ya. Tolong jaga dia, jangan sesekali kakak mencoba untuk menyakitinya. Karena sekali saja kakak membuatnya bersedih, maka kakak akan berhadapan denganku," ucap Sania melemparkan tatapan tajamnya.


"Kau tidak perlu menatapku seperti itu. Aku akan selalu menjaga sahabatmu dan menjadikannya ratu dalam kehidupanku. Semoga kau juga bisa mendapatkan kebahagiaanmu secepatnya ya. Jika kau ada masalah jangan pendam seorang diri. Ingat kita ini semua saudara," ucap Aldan mengusap lembut rambut Sania.


Sania hanya tersenyum kecil mendengar ucapan pria itu. Memang dia sangat beruntung karena di kelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya. Namun, dia saja yang memilih untuk memendam masalahnya seorang diri.


Setelah mengucapkan selamat kepada Yuki dan Aldan, mereka semua langsung bergabung dengan tamu yang lainnya. Aulya dan Fiona sibuk bermain dengan Chelsea dan juga Cheesy. Sedangkan Gibran, Erlan dan Fillio bergabung dengan para papa narsis dan juga tamu yang lainya.


Sedangkan Sania memilih duduk di sudut ruangan seorang diri. Setelah kepergian Bisma, dia memang lebih suka menyendiri. Gibran yang melihat itu hanya bisa mengepalkan tanganya geram. Dia terus melirik ke arah Sania dan menatap ke pintu utama. Sepertinya dia sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Jika hari ini kau belum mengambil keputusan. Maka, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya," batin Gibran geram.


Sebagai kakak tertua dari semua adik-adiknya, dia berhak untuk menentukan kebahagiaan para adiknya. Bahkan jika dia sudah berbicara, tidak akan ada satupun yang berani membantahnya. Termasuk para orang tua mereka masing-masing. Itulah kenapa Erlan dan seluruh sahabatnya yang lain takut kepada Gibran. Karena para orang tua mereka sangat menghormatinya, sebagai kakak tertua dari anak-anak mereka.


"Kakak sedang menunggu siapa?" tanya Erlan dan Fillio yang melihat Gibran terus menatap ke arah pintu utama.


"Tidak ada! lebih baik kalian bantu Paman Wildan menyambut tamu. Kakak ada urusan sebentar," ucap Gibran lalu berlahan menjauhi kedua adiknya itu.


Pria itu berlahan menjauh dari keramaian. Dia merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih kesayangan sejuta umat dari sana. Dia berlahan mengotak-atik ponselnya dan mencoba menghubungi sesorang. Namun, tiba-tiba pandangannya teralihkan dengan sosok pria yang sangat dia kenal muncul dari pintu utama. Melihat itu, berlahan senyuman langsung mengembang di wajahnya, tidak lupa dengan mata berkaca-kaca yang mewakili kebahagiaannya saat ini.


Bukan hanya Gibran, tetapi semua orang juga terkejut dengan kehadiran pria itu. Bahkan para papa dan mama narsis menatap kedatangan pria itu dengan penuh kebingungan. Sudah lama pria itu hilang tanpa kabar, tetapi kini tiba-tiba pria itu muncul di hadapan mereka semua. Sehingga membuat berbagai tanda tanya muncul di pikiran mereka semua, termasuk para papa narsis.


"Bisma!" gumam Rayyan menatap tajam kedatangan pria itu.


"Biarkan saja! mereka sudah dewasa. Biarkan mereka menghadapi masalah mereka sendiri. Aku yakin, Bisma sudah memikirkannya secara matang-matang," ucap Kinan dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Rayyan menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh selidik.


Rayyan memang tidak mengetahui apapun tentang masalah Bisma dan Sania. Namun, dia merasa jika sahabatnya itu mengetahui sesuatu. Akan tetapi, kenapa dia bisa menyembunyikan masalah yang sedang menimpa Bisma kepadanya dan juga yang lainnya.


"Nanti kita bicarakan! yang penting saat ini kita harus menerima konsekuensinya. Kita harus bersiap untuk menerima kenyataan yang lebih menyakitkan lagi. Kau yang paling bisa membujuk putriku, jika terjadi sesuatu kepadanya. Aku harap kau bisa menyakinkannya untuk menerima semua kenyataan ini," ucap Kinan dengan mata berkaca-kaca.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sania, jika mengetahui pria yang sangat dia cintai ternyata telah memiliki anak dari wanita lain. Pasti sangat hancur, hanya itu yang ada di pikiran Kinan saat ini. Namun, dia juga terpaksa melakukan ini semua. Karena bagaimanapun putrinya itu berhak tau atas kenyataan ini.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Zhia dan para mama narsis menatap Kinan dengan tatapan penuh kebingungan.


"Zhia!" bukannya menjawab, Kinan malah langsung memeluk Zhia sambil menangis kesegukan.


Sebagai seorang papa tentu saja Kinan tidak bisa melihat perasaan putrinya hancur. Namun, dia tidak punya pilihan lain, sebelum putrinya itu jatuh kedalam lembah kegelapan yang lebih dalam lagi. Dia hanya bisa berdoa agar putrinya itu diberikan kekuatan untuk menerima kenyataan yang sangat menyakitkan ini.


Bisma berlahan berjalan mendekati Sania yang duduk di sudut ruangan sambil melamun seorang diri. Walaupun keadaan telah ricuh melihat kedatangan Bisma, tetapi dia tetap sibuk dengan pikirannya. Sehingga dia tidak menyadari jika pria yang selama ini dia rindukan telah berada di dekatnya.


Bisma hanya bisa menelan ludahnya kasar sambil menatap punggung wanita yang sangat istimewa di dalam hatinya. Ingin sekali dia berlari dan memeluk gadis itu, tetapi dia sadar siapa dirinya. Dia hanya bisa berdoa agar Sania bisa menerima semua kenyataan ini dengan lapang dada.


"Sa!" ucap Bisma memberanikan diri memegang bahu Sania.


Mendengar suara briton yang sangat dia kenal itu, darah Sania langsung berdecis begitu kencang. Dia mencoba membalikkan tubuhnya dan menatap pemilik suara itu denga tatapan penuh rasa tidak percaya.


"Kak Bisma!" ucap Sania dengan bibir bergetar sambil mencoba menyentuh pria itu.


Air bening itu akhirnya lolos membasahi wajah cantiknya. Bibir dan tubuhnya bergetar begitu kuat, dia langsung menghamburkan pelukannya ketubuh pria itu. Dia memeluk pria itu dengan begitu kuat, seakan dia tidak mau membiarkan pria itu pergi meninggalkannya lagi.


"Kak! jangan tinggalkan Sania. Jangan tinggalkan Sania lagi, Kak!" ucap Sania menangkup kan wajahnya di dada bidang pria itu sambil menangis kesegukan.


"Maafkan kakak!" hanya kata-kata itu yang bisa Bisma ucapkan saat ini.


Bersambung.......