Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 75


Bisma duduk terdiam menatap satu persatu para sahabat yang duduk di depannya. Hingga akhirnya tatapannya berhenti kepada seorang gadis yang duduk dengan santainya. Siapa lagi jika bukan Sania. Gadis itu terlihat duduk santai di samping Zhia dengan menyilangkan kakinya, tidak lupa dengan jarinya yang sibuk mengotak-atik ponselnya. Semuanya nampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, sehingga membuat suasana di ruangan itu sangat hening.


Bugh....


Tiba-tiba botol minuman melayang bebas di kepala Bisma, membuat semua orang yang ada di sana langsung menatap ke asal botol minum itu. Mereka melihat Wildan berjalan mendekati mereka penuh amarah, di ikuti anak dan juga istrinya di belakang.


"Dasar bangsad! kau kira kami ini siapa, ha? beraninya kau menyembunyikan hal sebesar ini dari kami," ucap Wildan penuh amarah, tidak lupa tatapan penuh kekecewaan yang terpancar dari mata pria itu.


"Maaf! aku terpaksa melakukan itu," ucap Bisma menunduk tidak berani menatap sahabatnya itu.


"Terpaksa! katakan siapa yang memaksamu? pria itu?" tanya Wildan menunjuk Rafi.


"Eh, salah! apa pria ini?" tanya Wildan kembali setelah sadar jika dia salah menunjuk orang.


Melihat kelakuan Wildan, semua yang ada di sana hanya bisa menahan tawanya. Termasuk Sania dan juga Gibran. Ingin sekali mereka menertawakan paman mereka itu, tetapi mereka takut akan menjadi sasaran kekesalan pria itu.


"Kau yang sabar. Duduklah dulu, ingat umur. Nanti darah tinggimu naik," ucap Rayyan mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Enak saja! aku tidak setua itu. Lihat, tubuhku masih kekar, wajahku juga masih tampan. Jadi tidak mungkin darah tinggi bisa menterangku begitu saja," ucap Wildan penuh percaya diri.


"Aku minta maaf! aku minta maaf karena telah menyembunyikan ini semua dari kalian. Aku terpaksa melakukan itu semua, karena aku juga tidak mengetahui tentang wanita itu. Bahkan aku tidak mengingat wajahnya dengan jelas," ucap Bisma penuh penyesalan.


"Baiklah! aku mengerti. Pikiranmu juga sedang kacau saat itu," ucap Wildan mengerti.


"Lalu bagaimana denganmu? bukankah kau sudah mengetahui ini semua sejak awal? lalu kenapa kau menyembunyikan semua ini dari kami? apa kau lupa jika kita ini bukan lagi sahabat, tapi saudara. Tapi kenapa kau membiarkan Bisma menghadapi semua masalahnya seorang diri? Dimana perasaanmu? Apa kau lupa jika Bismalah yang paling muda di antara kita semua? seharusnya kau mengajarinya dan memberikan dukunganmu kepadanya. Tapi apa? kau malah membiarkannya menyembunyikan masalahnya kepada kami,"


"Sstt! bisakah kau melayangkan pertanyaanmu satu persatu? jika pertanyaanmu sepanjang itu, pasti Kinan binggung harus menjawab yang mana terlebih dulu," ucap Rayyan menghentikan pertanyaan Wildan yang sudah seperti rel kereta api yang tidak tau di mana ujungnya.


"Kau benar! seharusnya aku bertanya satu persatu kepadanya," ucap Wildan membuang napasnya pelan.


"Baiklah! katakan apa alasan kalian menyembunyikan anak itu dari kami semua?" tanya Wildan menatap tajam Kinan dan juga Bisma secara bergantian.


"Maaf! seharusnya kami tidak melakukan itu. Tapi kami terpaksa, karena wanita itu jauh lebih licik dari yang kami bayangkan. Kami sudah berusaha mencari tau siapa dirinya, tapi usaha kami gagal. Sejak lima tahun ini kami terus mencari siapa dirinya, tapi kami tidak mendapatkan sedikitpun informasi tentangnya," jelas Kinan apa adanya.


"Tapi sekarang kalian sudah mengetahui siapa wanita itu 'kan?" tanya Sania membuka suara.


"Apa yang kau ketahui, Sa?" tanya Rayyan menatap tajam keponakannya itu.


"Aku mengetahui apa yang seharusnya aku ketahui," ucap Sania singkat.


"Sa!" ucap Gibran menatap adiknya itu agar bersikap biasa saja.


Bagaimanapun mereka semua adalah orang tua, jadi tidak sepantasnya Sania berbicara ketus seperti itu. Walaupun dia tau jika Sania masih sangat kecewa dengan sikap Kinan dan juga Bisma yang telah merahasiakan hal sebesar ini kepadanya.


"Maaf! apakah aku bisa bicara dengan Sania sebentar?" tanya Bisma menatap Kinan.


"Maaf! apakah aku bisa bicara dengan Sania sebentar? kenapa pertanyaanmu sangat kamu seperti itu? apa kau tidak bisa menyebutkan kata papa, jadi calon menantu tidak ada sopan-sopannya," ucap Wildan ketus.


Mendengar ocehan suaminya itu, Sinta hanya bisa memukul keningnya pelan. Suaminya itu memang seperti ayam bertelur yang tidak tau tempat, asal ceplos saja.


"Silahkan! lebih baik kalian bicarakan masalah ini berdua," ucap Kinan membuang napasnya pelan.


Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karena ucapan sahabatnya itu. Jujur Kinan belum bisa membayangkan bagaimana jika Bisma akan menjadi menantunya. Pasti mereka tidak akan bisa seperti dulu lagi, dimana mereka bisa saling bercanda dan membagi suka duka mereka bersama-sama. Dia yakin hubungan mereka pasti akan sangat canggung, apalagi dengan masalah yang datang menghampiri Bisma saat ini.


"Sa! ikut kakak sebentar ya," ucap Bisma menatap Sania dengan tatapan penuh permohonan.


Tidak ada jawaban, gadis itu hanya mengangguk kecil lalu bangkit dari duduknya. Melihat itu, Bisma langsung melangkahkan kakinya menuju taman belakang. Namun, Sania malah menaiki tatangga, sehingga Bisma menghentikan langkahnya dan menatap binggung gadis itu.


"Aku rasa lebih baik kita bicara di kamar saja," ucap Sania terus melangkahkan kakinya.


"Tapi, Sa."


"Maaf! aku tidak meminta pendapat," ucap Sania menatap Bisma sekilas lalu kembali melangkahkan kakinya.


Mendengar ucapan Sania, Bisma hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia menatap punggung gadis itu lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Maaf! karena kakak sekarang kau menjadi orang lain. Jika kakak bisa memutar waktu, kakak tidak akan melakukan kesalahan yang membuatmu kecewa. Maafkan kakak, Sa! kembalilah seperti Sania kecilku yang dulu," batin Bisma sambil terus menatap punggung Sanja yang berada di depannya.


Bersambung.....