
"Bagaimana dengan Kak Aldan, Ki? apa kau sudah mulai dekat dengannya?" tanya Sania sambil menatap layar game di depannya.
"Seperti yang aku katakan! Aku sudah menjadi sekertaris Kak Aldan, jadi aku bisa dekat terus dengannya. Tapi...," ucap Yuki menanyakan bibirnya kesal.
Sania dan Erlan sedang bermain game bersama, Sedangkan Yuki memilih untuk berbaring di atas ranjang Sania sambil memakan pop crone. Yuki terus berpikir apa sebenarnya tujuan Gresya bertunangan dengan Aldan, karena dia dapat melihat jika tidak ada cinta yang terpancar dari mata Gresya kepada Aldan.
"Tapi apa?" tanya Sania menatap Yuki dengan serius sehingga melupakan permainannya dengan Erlan.
"Yeach! aku menang," ucap Erlan tertawa lepas ketika berhasil mengalahkan Sania.
"Eh! curang. Aku tadi berhenti sebentar," ucap Sania tidak terima.
"Enak aja! sudah jelas-jelas kau kalah. Kau juga tidak menjeda game ya, jadi kau kalah. Sekarang terima hukumanmu," ucap Erlan mengambil spidol dan bersiap melukis wajah Sania.
"Sudah! Terima saja kekalahanmu. Sudah jelas-jelas kau kalah," ucap Yuki sambil terus melahap pop crone yang ada di tangannya.
Ntah berapa bungkus pop crone yang sudah di habiskan oleh Yuki. Namun, dia tetap saja menyantap pop crone itu sambil meminum minuman botol yang sengaja mereka bawa ke kamar untuk menemani mereka. Sania dan Erlan yang melihat bungkus pop crone dan beberapa jenis makanan lainnya yang berserakan di lantai dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
"Yi! kau belum kenyang?" tanya Sania menatap Yuki dengan penuh kebingungan.
"Belum! kau tidak punya makanan lagi?" tanya Yuki membuang bungkus pop crone yang sudah kosong ke sembarangan arah lalu merampas minuman yanga da di tanga Erlan dan meminumnya sampai habis.
"Wah! gila ni cewek. Minumanku main di rampas begitu saja," ucap Erlan menatap kesal Yuki.
"Baru minuman aja! pelit amat sih, ini aku balikin," ucap Yuki memberikan botol minuman yang sudah kosong kepada Erlan.
"Udah habis baru kau kasih. Apa gunanya," ucap Erlan kesal lalu bangkit dari duduknya.
"Kau mau ke mana?" tanya Yuki menatap Erlan.
"Mau beli makanan ke toko depan," ucap Erlan ketus.
"Kalau kau ke depan aku titip makanan ya. Sekalian sama minumannya," ucap Yuki tersenyum kecil.
"Ia!" ucap Erlan mengelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan sahabatnya yang satu itu.
"Lan! ingat permainan kuy belum selesai. Jadi kau tidak boleh hapuy," ucap Sania menunjukkan lukisan yang ada di wajahnya.
"Ia, aman. Lagi pula aku hanya ke depan saja. Mana mungkin ada bidadari tersasar di depan," ucap Erlan tersenyum kecil.
"Kalau bidadari menurut tipemu sih tidak akan ada di depan. Bahkan tidak mungkin ada di dunia ini," ucap Yuki ketus mengingat Erlan yang sangat pemilih dalam urusan wanita.
"Pasti ada. Kau saja yang tidak mau mengakuinya," ucap Erlan santai lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sania.
"Aku lagi berada dalam dilema besar," ucap Yuki memelas sambil memeluk bantal guling.
"Dilema? dilema apa?" tanya Yuki mengerutkan keningnya bingung.
"Aku tidak tau harus terus melangkah atau memilih untuk menyerah. Kau tau sendiri 'kan jika Kak Aldan sudah bertunangan," ucap Yuki mengubah posisinya dari berbaring kini menjadi duduk.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Sania langsung mengerti. Sania mengerti bagaimana perasaan Yuki saat ini. Merebut milik wanita lain ini memang sangat jahat, akan tetapi dia juga tidak bisa melihat sahabatnya itu bersedih. Terlebih lagi dia mengetahui jika Yuki sangat mencintai Aldan sejak mereka masih kecil. Bahkan Yuki dengan setia menunggu Aldan hingga sepuluh tahun. Jadi mana mungkin dia bisa membiarkan penantian sahabatnya itu terbuang sia-sia.
"Memangnya apa yang membuatmu ragu? bukannya kau sudah berniat ingi terus melangkah. Bahkan kau rela mengemis kepada Paman agar kau bisa magang di kantor Kak Aldan," ucap Sania bingung.
"Aku baru tau, ternyata Kak Aldan bertunangan dengan si Gresier itu karena terpaksa. Bahkan dia sama sekali tidak mencintai wanita setengah kunti itu," Jelas Yuki.
"Lalu?" tanya Sania semakin tidak mengerti dengan ucapan Yuki.
"Yang membuat aku semakin khawatir itu, alasan Kak Aldan menerima perjodohan itu. Dia terpaksa menerima perjodohannya dengan Gresier karena mamanya terkena serangan jantung. Bahkan mama Kak Aldan sempat koma di rumah sakit karena Kak Aldan menolak perjodohan itu," ucap Yuki kembali menghampaskan tubuhnya.
"Alasan mama Kak Aldan menjodohkan Kak Aldan dengan si wanita kunti itu memangnya apa?" tanya Sania.
"Karena dia ingin Kak Aldan menikah dan memiliki keluarga yang bahagia sebelum dia and," jelas Yuki.
"Kalau begitu mama Kak Aldan hanya ingin Kak Aldan cepat menikah. Walaupun bukan dengan wanita kunti itu, yang penting Kak Aldan bisa menikah secepatnya. Itu mah gampang," ucap Sania terkekeh kecil.
"Gampang apanya?" tanya Yuki bingung.
"Kau gantikan saja posisi si wanita kunti itu. Kau menikalahu dengan Kak Aldan dan sia-sia kan masa mudamu," ucap Sania santai.
"Caranya gimana?" tanya Yuki.
"Gampang! kau kan selalu berduaan tuh sama Kak Aldan. Lo rayu saja dia dengan tubuh indahmu. Jika kalian sudah melakukan penyatuan pasti Kak Aldan akan bertanggung jawab," ucap Sania asal.
"Ide gila! kau kira aku cewek apaan. Cinta sih cinta, tapi kalau menyerahkan harga diri, aku mah ogah," ucap Yuki memukul Sania dengan bantal penuh kekesalan.
"Ha.. ha... ternyata kau masih waras akan cinta. Aku kira kau mau ngelakuin apapun karena cinta gilamu itu," ucap Sania terkekeh geli.
"Bicara samamu tidak ada artinya. Bisa-bisa aku akan ketularan kegilaanmu itu," ucap Yuki kesal.
"Yah! gitu aja gambek. Sini biar aku bisikin. Aku jamin rencana kita kali ini akan berhasil," ucap Sania tersenyum.
Dia langsung menceritakan ide cemerlangnya kepada Yuki. Karena bukan hanya Yuki, Sania juga merasa jika Gresya hanya ingin memanfaatkan perjodohan ini. Mereka yakin jika Gresya tidak mencintai Aldan dengan tulus, dia hanya ingin menguasai harta Aldan dan juga keluarganya. Karena dari tatapan Gresya, mereka tau jika Gresya adalah wanita yang serakah dan gila harta.
Bersambung.....