
"Sayang! kamu sudah selesai?" tanya Aldan melihat istrinya sedang di rias oleh beberapa pelayan.
"Sudah!" ucap Yuki tersenyum.
Setelah selesai dengan tugas mereka, para pelayan itu langsung keluar meninggalkan pasangan suami istri itu. Melihat para pelayan telah keluar, Aldan langsung melangkahkan kakinya mendekati istrinya itu. Dia menatap sang istri yang begitu cantik dengan make up tipis dan juga gaun polos berwarna silver.
"Kamu cantik sekali, Sayang," ucap Aldan memeluk istrinya yang masih duduk di kursi rias.
"Kakak juga pasti sangat tampan. Tapi sayang!" ucap Yuki menunduk sedih.
Melihat wajah istrinya yang murung, Aldan hanya tersenyum kecil. Dia melepaskan pelukannya lalu berjongkok di depan istrinya, dan mengenggam kedua tangan wanita itu dengan begitu lembut.
"Kamu memang tidak bisa melihatku dengan kedua matamu. Tapi bukannya aku sudah tersimpan di hatimu? jadi dengan menyentuh wajahku saja kamu pasti sudah bisa membayangkan bagaimana wajahku saat ini," ucap Aldan tersenyum sambil menuntun kedua tangan wanita itu untuk memegang wajahnya.
"Kakak sangat tampan!" ucap Yuki tersenyum sambil membelai lembut wajah suaminya itu.
"Melihatmu seperti ini! aku sangat ingin mengurung diri denganmu didalam kamar ini. Tapi sayangnya, jika aku melakukan itu pasti aku akan dihajar habis-habisan oleh sahabatmu," ucap Aldan tersenyum kecil.
"Bukan hanya dia yang akan menghajar kakak. Tapi aku juga," ucap Yuki memanyunkan bibirnya.
"Aku sudah tau itu. Ayo cepat, sebelum aku tidak bisa mengontrol diriku," ucap Aldan tersenyum lalu menuntun Yuki keluar dari kamar itu.
Aldan segaja memakai kamar di lantai bawah, agar Yuki tidak perlu melewati anak tangga jika ingin keliling rumah. Istrinya itu memang tidak bisa diam di kamar, sehingga membuat pria itu selalu cemas jika sedang berada di rumah. Walaupun di rumah ada sang mama dan juga beberapa pelayan yang mengurus istrinya. Tetapi dia tetap tidak bisa berhenti memikirkan keadaan istrinya itu.
Sesampainya di mobil, Aldan langsung membukakan pintu dan mendudukkan istrinya di bangku depan. Setelah memastikan jika istrinya itu telah duduk dengan nyaman, baru dia duduk di bangku pengemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka menuju ke gedung tempat Bisma dan Sania melaksanakan pernikahan dengan penuh kebahagiaan.
"Kak! pasti Sania sangat cantik mengenakan gaun pengantinnya," ucap Yuki membayangkan bagaimana cantiknya Sania saat di baluti gaun pengantin.
"Ia, Sayang! dia mengunakan gaun yang sama persis dengan gaun yang kamu kenakan di hari pernikahan kita."
"Benarkah?" tanya Yuki tidak percaya.
"Benar! bukan hanya itu. Dia juga ingin riasan wajah dan juga rambutnya sama sepertimu dulu. Agar kamu bisa melihat bagaimana wajahnya saat mengenakan gaun pengantin itu," ucap Aldan tersenyum.
"Pasti sangat cantik," ucap Yuki tersenyum.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya mereka sampai di gedung pernikahan Sania dan Bisma. Dengan penuh kesabaran Aldan mencaritakan bagaimana situasi gedung itu kepada Yuki, agar istrinya itu bisa membayangkannya. Bukan hanya itu, Aldan juga menceritakan pakaian apa yang di gunakan para sahabat dan juga paman dan para tante mereka.
"Lihatlah! Tante Rissa juga sangat cantik. Dia mengunakan dres panjang berwarna hitam, senada dengan jas yang di gunakan paman Kinan. Begitu juga dengan tante yang lainnya. Mereka semua seragam, sedangkan para sahabat kita mengenakan gaun yang sama sepertimu, dan yang pria mengunakan jas yang sama sepertiku," ucap Aldan tersenyum.
"Yuki! kamu sudah datang," ucap Gibran menghampiri mereka.
"Ia, Kak! dimana Sania?" tanya Yuki tersenyum.
"Dia masih berada di ruang rias! kamu ingin menemuinya?"
"Ia, Kak!"
"Baiklah, ayo kakak antar. Aulia dan yang lainnya juga ada di sana," ucap Gibran mengenggam tangan Yuki dan merangkulnya.
"Kakak titip istri kakak ya. Kakak mau bergabung dengan tamu yang lainnya," ucap Aldan memberikan ruang agar istrinya itu bisa leluasa mengobrol dengan para sahabat.
"Kakak tenang saja! istri kakak akan aman bersamaku," ucap Gibran tersenyum lalu menuntun Yuki menuju ruang rias pengantin.
"Kamu hati-hati ya. Ingat suamimu itu sangat posesif. Jika tubuhmu tergores sedikit saja, pasti dia akan mengomeli kakak," ucap Gibran mengingat bagaimana Aldan sangat menghawatirkan kedaan istrinya itu.
"Kakak bisa saja. Yuki yakin, jika kakak sudah menikah, kakak juga seperti itu," ucap Yuki tersenyum sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti arahan Gibran.
"Kak Yuki!" ucap Aulia langsung berlari ketika melihat Yuki dan Gibran masuk ke ruang rias itu.
"Eh, bocah! hati-hati, ingat Yuki sedang hamil," ucap Gibran ketus sambil menahan wajah Aulia mengunakan tangannya.
"Kakak! lihat riasanku jadi rusak. Kakak harus tanggung jawab," ucap Aulia kesal sambil melepaskan tangan sang kakak yang menutupi wajahnya.
"Biar saja! agar kau tidak bisa kementelan menggoda pria," ucap Gibran ketus.
"Yuki! bagaimana kabarmu?" tanya Sania memeluk Yuki tanpa memperdulikan pertengkaran antara kakak dan adik itu.
"Aku baik, Sa. Selamat ya atas pernikahanmu. Akhirnya perjuanganmu selama ini tidak sia-sia," ucap Yuki membalas pelukan sahabatnya itu.
"Terima kasih. Selamat juga atas kehamilanmu ya, semoga aku cepat menyusul," ucap Sania tersenyum sambil mengelus perut Yuki yang masih datar.
"Aamiin!" ucap semuanya serentak.
Bersambung.....