Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 55


"Yuki! bagaimana? Aldan sudah menunggu jawabanmu," ucap Wildan menatap Yuki yang terus diam menunduk.


"Maaf, Pa! Yuki tidak bisa menerima lamaran Kak Aldan," ucap Yuki menunduk, sehingga membuat semua orang langsung saling lempar pandangan.


Aldan hany bisa diam menunduk mendengar jawaban Yuki. Dia tidak menyangka lamarannya di tolak mentah-mentah oleh gadis itu. Padahal dia sangat yakin jika Yuki akan menerimanya. Sedangkan semua orang yang ada di sana, hanya diam sambil meantap binggung ke arah Yuki. Karena mereka tau betul jika Yuki sangat mencintai Aldan. Namun, kenapa tiba-tiba Yuki menolah lamaran Aldan.


"Aku menolak lamaran Kak Aldan. Tapi aku menerimanya sebagai imamku," ucap Yuki tersenyum kecil.


"Astaga Yuki! kau hampir membuat jantung paman copot," ucap Kinan menatap gemas kejahilan Yuki.


"Aku menerima kakak sebagai imamku! imam yang mampu menjaga pandangannya dari wanita lain, dan tidak pernah meninggikan suaranya walaupun sedang marah. Jika suatu saat Yuki melakukan kesalahan, tolong tegur Yuki dengan kelembutan. Karena Yuki juga hanya manusia biasa yang tidak akan lepas dari yang namanya sebuah kesalahan," ucap Yuki menatap lekat Aldan.


"Ia, Sayang! kakak akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu. Kakak akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu," ucapAldan tersenyum sambil mengengam tangan Yuki.


"Ehem! belum sah. Jadi di larang sentuh-sentuh," dehem Wildan menepis tangan Aldan.


"He.. he... maaf, Pa!" ucap Aldan terkekeh kecil.


"Sudah tidak sabar ya?" tanya Rayyan mengoda Aldan.


"Sayang! apaan, Sih? malu ada calon besan," ucap Zhia mencubit gemas lengan suaminya yang mesum tidak tau tempat.


"Maaf, Sayang. Tapi calon besan kita juga harus terbiasa dengan kehebohan kita. Ia 'kan?" tanya Rayyan menatap kedua orang tua Aldan.


"Tentu saja! lagi pula kita sudah kenal sejak lama. Jadi aku sudah tau bagaimana kehebohan kalian. Jadi aku tidak akan heran lagi," ucap Wijaya yang sama-sama somplak seperti para papa yang lainnya.


"Aduh! ternyata calon besanku sama saja," batin Sinta memukul keningnya pelan.


"Ehem! lebih baik kita bicarakan masalah pernikahanku dengan Yuki terlebih dulu. Untuk masalah lainnya, belakangan saja," ucap Aldan memperingati sebelum pembicaraan mereka melenceng kemana-mana.


"Oh! maaf. Papa siapai lupa," ucap Wijaya hampir lupa dengan tujuan mereka.


"Baiklah! karena Yuki sudah menerima lamaran kami. Maka kami ingin langsung mengadakan pernikahan, tanpa ada pertunangan. Bagaimana menurut kalian?" tanya Wijaya.


"Bagaimana, Nak?" tanya Wildan, karena ini adalah tentang kehidupan Yuki, jadi hanya Yuki yang berhak menentukan semuanya.


"Tidak masalah! lagipula lebih baik langsung menikah saja. Dari pada bertunangan, nanti keburu dipepet orang lain," ucap Yuki tersenyum kecil.


Mendengar ucapan Yuki, semua orang langsung terkekeh. Mereka membicarakan tentang persiapan pernikahan Yuki dan Aldan, yang akan di gelar tiga minggu lagi. Mereka segaja mempercepat pernikahan Yuki dan Aldan untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.


Tentu saja semua orang bahagia, termasuk Yuki. Terlihat senyuman indah terus menghiasi wajah cantik gadis itu. Namun, di tengah-tengah kebahagiaan itu, Kinan malah terlihat muram. Bahkan terlihat senyumannya adalah senyuman terpaksa. Memang dia bahagia melihat kebahagiaan putri sahabatnya itu, akan tetapi melihat kebahagiaan Yuki, dia langsung mengingat putrinya.


Dia yakin jika Sania yang berada di posisi Yuki saat ini, pasti putrinya itu juga akan sangat bahagia. Di lamar oleh pria yang kita cintai adalah impian setiap wanita. Namun, dia tidak tau apakah putrinya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Yuki saat ini. Karena banteng masa lalu yang menghalangi hubungan mereka cukup besar.


...----------------...


Mendengar acara lamaran Yuki yang di adakan hari ini, Sania merasa sangat bahagia. Dia ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh sahabatnya itu. Namun, dia tidak bisa menyaksikan kebahagiaan sahabatnya itu. Karena dia harus menyelesaikan tugas yang sangat penting. Setelah Bisma pergi Sania lah yang menggantikan posisi Bisma. Dia mengerjakan semua tugas Bisma.


Melihat Rafi yang tidak mencari penganti Bisma, Sania langsung mencurigai sesuatu. Dia yakin jika Rafi dan papanya sedang merahasiakan suatu hal yang besar darinya. Sania melihat jika Rafi masih mengharapkan Bisma kembali. Bahkan semua barang-barang Bisma masih berada di ruangannya. Sania merasakan jika Bisma tidak pergi jauh, sepertinya Bisma masih berada di kota ini.


"Kenapa aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari paman dan papa? aku yakin mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa?" gumam Yuki berbicara seorang diri.


Dia sedang mengawasi pembangunan proyek yang di lakukan oleh perusahaan Rafi. Dia melihat jika ketua dari pembangunan proyek itu masih tertera nama Bisma. Padahal Bisma sudah pergi dan tidak tau kemana. Jika memang Bisma sudah memundurkan diri, sudah pasti posisi itu telah di ganti oleh orang kepercayaan Rafi yang lainnya. Sania langsung menduga jika Bisma masih bekerja dengan Rafi, dan segaja bersembunyi darinya.


Di saat Yuki sedang berjalan seorang diri, tiba-tia dia merasakan jika ada seseorang yang sedang mengikutinya. Dia meantap ke belakang, tetapi dia tidak melihat apapun. Hanya para buruh yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Namun, Sania sangat yakin jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Bahkan hal itu selalu dia rasakan di saat dia sedang minum di club malam.


"Hai!"


Bughh....


"Aw... Kau gila ya," pekik Erlan ketika satu bugemam langsung mendarat di wajahnya.


"Maaf! aku tidak segaja. Aku kira tadi kau orang jahat yang sedang mengikutiku," ucap Sania panik sambil mengusap wajah Erlan yang membiru karena ulahnya.


"Orang jahat?" tanya Erlan mengerutkan keningnya binggung.


"Em!" dehem Sania mengangguk.


"Mana ada orang jahat yang mau mengikuti cewek gila sepertimu. Jagankan orang jahat! setan saja ogah mengikuti gadis gila sepertimu," ucap Erlan terkekeh kecil.


"Dasar! apa kau mau tato di wajahmu itu bertambah?" tanya Yuki mengepalkan tangannya.


"Upss... gadis gila jadi sinting. Kabur...,"


"Apa kau bilang? awas kau ya," teriak Sania mengejar Yuki.


Walaupun sikapnya berubah menjadi dingin dan cuek, tetapi Sania tetap bertingkah seperti Sania yang dulu di depan para sahabatnya. Walaupun tidak seceria dulu lagi, tetapi Erlan dan Yuki masih bisa membuatnya tersenyum.


Tanpa mereka sadari seorang pria sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Pria itu memperhatikan gerak gerik Sania dari kejauhan. Hingga Akhirnya Erlan tidak segaja melihat pria itu. Namun, dia tidak bisa melihat wajah pria itu karena di tutupi masker dan juga topi.


"Siapa itu?"


Bersambung......