Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 91


"Sayang! kamu makan ya," ucap Aldan melihat Yuki terus diam termenung di dalam ruang rawatnya.


"Tidak! aku tidak lapar," ucap Yuki sambil terus menitikkan air matanya.


Melihat sang istri yang terus menerus menangis, Aldan hanya bisa membuang napasnya pelan. Dia duduk di samping bangsal istrinya itu sambil menatapnya dengan lekat.


"Katakan! apa yang membuatmu terus bersedih seperti ini?" tanya Aldan mengenggam tangan istrinya.


"Aku ingin berpisah,"


Mendengar ucapan istrinya, Aldan hanya bisa membuang napasnya pelan. Dia perlahan melepaskan genggaman tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tau apa yang di rasakan Yuki saat ini, jadi dia harus bersabar untuk menghadapi tingah wanita itu.


 Menerima kenyataan ini memanglah tidak mudah, dimana dia harus kehilangan penglihatannya untuk selama-lamannya. Padahal mereka sudah mencari pendonor mata sampai ke penjuru dunia. Namun, sampai sekarang mereka belum menemukannya.


"Berpisah!" ucap Aldan terkekeh kecil.


"Setelah semua yang kita lewati, kamu dengan mudah meminta pisah denganku. Maaf! sampai matipun aku tidak akan pernah mengabulkannya," ucap Aldan dengan tegas.


"Apa yang kakak harapkan lagi dariku? lihatlah keadaanku sekarang. Aku tidak bisa melihat lagi, bahkan aku tidak bisa mengurus diriku sendiri. Jika kakak tetap ingin hidup bersamaku, itu sama saja kakak menyiksa diri untuk mengurus wanita yang tidak berguna seperti diriku," ucap Yuki dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.


"Siapa yang bilang kamu tidak berguna? kamu adalah wanitaku. Kamu adalah kebahagiaanku. Berpisah denganmu, itu sama saja aku menyiksa diriku sendiri. Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu,"


"Tapi, Kak!"


"Tidak aku bilang, tidak!" ucap Aldan meningikan suaranya karena tidak sanggup lagi mendengar ucapan istrinya itu.


Mendengar Aldan yang meninggikan suaranya, Yuki hanya bisa terdiam dengan air mata yang terus mengalir. Sadar jika dia telah membentak istrinya sendiri, Aldan hanya bisa terdiam sambil berusaha mengontrol emosinya. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi sambil menatap Yuki dengan lekat.


"Sayang! aku mohon jangan pernah ucapkan kata-kata itu lagi ya," ucap Aldan lirih sambil menghapus air mata Yuki.


"Tapi, Kak!"


Belum selesai Yuki mengucapkan kata-katanya, Aldan langsung menghentikannya dengan mencium lembut bibir wanita itu. Dia membelai lembut wajah istrinya itu, sambil tersenyum kecil.


"Sudah aku katakan, aku mencintaimu. Jadi kekuranganmu tidak akan pernah mengurangi rasa cintaku kepadamu. Aku akan selalu berada di sisimu, seperti janji kita saat menikah dulu. Apa kamu sudah lupa dengan janji itu?" tanya Aldan tersenyum kecil.


"Kita akan bersama untuk selamanya, hingga ajal yang akan memisahkan kita berdua. Tidak akan ada kata perpisahan, sampai maut sendiri yang akan menjemput salah satu dari kita. Selalu bersama dalam suka maupun duka, saling mengasihi dan juga menyayangi. Jika ada masalah, maka kita harus menyelesaikannya sebelum tidur," ucap keduanya dengan serentak.


"Ternyata kamu masih mengingatnya, jadi kenapa kamu menyebutkan kata-kata itu?" tanya Aldan menangkup kedua tangannya di wajah Yuki.


Yuki hanya bisa pasrah sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Dia memeluk erat tubuh kekar sang suami, sambil menitikkan air matanya penuh kebahagiaan. Tidak lupa dia mengucapkan syukur kepada Allah, karena telah mengirimkan pria sebaik Aldan untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Jangan pernah ucapkan kata-kata itu lagi ya, karena aku sangat membenci kata-kata itu," ucap Aldan mencium lembut puncak kepala istrinya.


"Ingat, Sayang. Kamu memang telah kehilangan penglihatanmu, tapi kamu masih memiliki orang-orang yang dengan tulus menyayangimu. Asal kamu tau, diluar sana ada begitu banyak orang yang mendapatkan cobaan yang lebih berat darimu. Jadi, kamu jangan pernah melihat keatas, tapi lihatlah kebawah. Lihatlah orang-orang yang lebih menderita darimu, agar kamu bisa bersyukur atas apa yang telah kamu miliki. Aku yakin, Allah mengambil sesuatu darimu bukan tanpa alasan, pasti dia sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuk menjadi pengantinya. Jadi, kamu tidak boleh menyerah begitu saja, ya. Kamu harus bangkit, kamu harus tunjukkan jika kamu bisa melewati semua ini. Karena kamu adalah wanita hebat, kamu adalah istriku," ucap Aldan sambil mengusap lembut rambut panjang istrinya itu.


Wildan dan Sinta yang melihat pemandangan yang sangat indah itu hanya bisa terdiam sambil menitikkan air mata mereka. Wildan memeluk istrinya dengan hangat sambil menatap putri dan juga menantunya itu dengan penuh haru. Mereka sangat bersyukur memiliki menantu seperti Aldan, pria yang bisa menerima keadaan putri mereka dengan lapang dada.


"Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang bisa menerima kekurangan pasangan kita. Cinta yang menjadi penerang saat kedua insan sedang mengalami cobaan dalam rumah tangga maupun hidup mereka. Itulah cinta, selalu membawa kebahagiaan, walaupun kita sedang mengalami musibah yang besar. Kita bisa kehilangan sesuatu dalam hidup kita, tapi jangan sampai kita kehilangan cinta kita," ucap Wildan tersenyum.


Mendengar ucapan mertuanya itu, Aldan langsung terkejut. Dia tidak menyangka jika ternyata kedua mertuanya itu sudah menyaksikan mereka sejak tadi. Dengan cepat dia melepaskan pelukannya, lalu berdiri untuk menyambut kedatangan kedua mertuanya itu.


"Eh! papa, mama,'" ucap Aldan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ups! maaf. Papa bicaranya kekencengan ya," ucap Wildan menyadari jika kelakuannya itu telah mengganggu moment romantis putrinya.


"Papa sih! buat puisi di waktu yang tidak tepat," ucap Sinta mencubit perut suaminya itu gemas.


"Sayang! lihat mama sudah masak sup ayam untukmu. Kamu makan ya, kamu sudah lama lho nggak makan masakan mama," ucap Sinta meletakkan rantang yang dia bawa di atas meja.


"Kamu juga makan ya. Mama masak banyak kok, jadi cukup untuk kalian berdua," ucap Sinta mengisi piring Yuki dan juga Aldan.


"Terima kasih, Ma! biar aku suapin Yuki dulu ya," ucap Aldan mengambil satu piring yang telah di siapkan Sinta lalu bersiap untuk menyuapi istrinya.


"Sudah! kamu makan saja. Biar mama yang menyuapi istrimu. Mama sudah lama tidak menyuapinya," ucap Sinta mengambil alih pekerjaan Aldan.


"Kakak makan saja. Kakak juga belum ada makan 'kan? jadi lebih baik kakak makan. Aku tidak mau kakak sampai sakit," ucap Yuki tersenyum.


"Baik, Sayang! kamu makan sama mama ya. Ingat kamu harus makan banyak, biar cepat sembuh," ucap Aldan mengacak-acak rambut Yuki.


"Ingat di dalam perutmu ada beribu-ribu kecebongku yang sedang berjuang," bisik Aldan tepat di telinga Yuki, sehingga membuat wanita itu langsung menunduk malu.


Melihat itu, Sinta dan Wildan hanya bisa terkekeh kecil melihat tingkat menantunya itu. Yuki dengan begitu lahap menerima setiap suapan yang di berikan sang mama. Semangat yang di berikan Aldan kini mampu menumbuhkan semangatnya kembali. Dia sadar, jika dia tidak boleh terus terpuruk seperti ini, karena di luar sana masih banyak orang yang memiliki masalah melebihi dirinya saat ini.


Bersambung......