
Ketika membuka mata, Yuki melihat pemandangan indah yang selama ini dia rindukan. Dimana dia melihat sang suami sedang menganti popok putranya dengan begitu baik. Terlihat sesekali pria itu berbicara kepada bayi mungil itu, sehingga senyuman yang indah terukir indah di wajah mungil itu. Setelah pulang dari rumah sakit, Aldan selalu membantu pekerjaan sang istri untuk merawat bayi mereka. Bahkan dia tidak pernah membiarkan istrinya itu kelelahan. Sadar dirinya sedang di perhatikan, Aldan langsung menatap sang istri yang sedang menatap ke arahnya.
"Kenapa kamu memperhatikanku seperti itu? apa aku semakin tampan?" tanya Aldan dengan pedenya.
"Ge-er! aku sedang memperhatikan putraku," ucap Yuki memanyunkan bibir.
"Sayang! kamu jangan menggodaku seperti itu. Ingat keadaanmu belum pulih, jadi aku harus puasa," ucap Aldan kesal.
"Oh, Maaf! aku lupa jika ada yang sedang puasa," ucap Yuki menyingkirkan selimut dan memperlihatkan paha mulus yang bersembunyi di dalamnya. Yuki saat ini hanya mengunakan baju kaos oblong dan juga celana yang hanya sepanjang satu jengkal, sehingga paha mulusnya langsung terlihat jelas saat dia membuka selimut.
"Sayang! kamu lihat saja ya. Setelah masa nifasmu selesai, aku tidak akan memberikan ampunan kepadamu," ucap Aldan menarik napas, sambil berusaha mengatur gairahnya.
"Baiklah! aku tunggu tantangannya," ucap Yuki tersenyum.
"Kamu menantangku?" tanya Aldan tersenyum lalu menerkam istrinya itu.
Walaupun belum bisa melakukan itu, tetapi setidaknya dia bisa menikmati tubuh istrinya itu. Melihat Aldan yang menciuminya secara liat, Yuki hanya bisa terkekeh. Sedangkan Arya kecil tidak di perdulikan sama sekali.
"Sayang! putra kita melihatnya," ucap Yuki menangkap kedua tangannya di wajah Aldan.
"Kamu yang mulai? kenapa kamu sekarang menyalahkanku?" tanya Aldan menepis tangan Yuki.
"Sayang! ingat, hari ini aku mau ikut mengantarkan Mala dan Rifki ke bandara. Kamu tidak lupa 'kan?"
Setelah mendengar kehamilan Sania, Rifki menetapkan hatinya untuk pindah keluar kota bersama Mala. Selain untuk mencoba melupakan cintanya kepada wanita itu, dia juga ingin melanjutkan kuliahnya di sana. Mala yang tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan Sania dan Bisma, memilih untuk ikut bersama sang adik dan meneruskan perusahaan keluarganya yang ada di sana.
"Aku sampai lupa. Bisma tadi menghubungiku jika mereka sudah berangkat ke bandara. Tapi kamu tenang saja, Arya dan aku sudah selesai, jadi tinggal kamu yang harus siap-siap. Aku tunggu sepuluh menit," ucap Aldan tersenyum kecil.
"Apa! kenapa kakak tidak membangunkanku?"
"He... he... aku ingin mengatakannya tadi. Tapi kami lebih dulu menggodaku. Tapi sekali lagi ya," ucap Aldan ******* bibir Yuki, lalu membawa Arya keluar dari kamar dan membiarkan istrinya itu untuk bersiap-siap. Namun, sang suami hanya memberikan waktu sepuluh menit, jadi Yuki harus mengunakan kecepatan kilat jika tidak mau ketingalan mengantarkan sahabatnya itu.
...----------------...
Sedangkan di bandara, Mala dan Rifki duduk di kursi tunggu untuk menunggu penerbangan mereka. Mereka tidak tau jika Sania ingin memberikan kejutan kepada mereka dengan datang ke bandara untuk menemui mereka. Tentu saja hal itu membuat Rifki sangat sedih, karena dia mengira jika dia tidak akan bisa melihat wajah Sania saat meningalkan kota itu.
"Kakak!" teriak seorang gadis cantik berlari ke arah mereka lalu memeluk Rifki dengan begitu erat.
"Aulya! kenapa kamu ada di sini?" tanya Rifki terkejut melihat kehadiran gadis centil itu.
"Tentu saja aku ingin mengantarkan kakak. Aku tau pasti kakak ingin melihat kecantikanku yang paripurna saat meningalkan kota ini," ucap Aulia dengan pedenya.
"Aw! sakit!" teriak gadis itu ketika sebuah tangan kekar menarik telinganya.
"Apa kamu lupa janjimu?" tanya Gibran menatap kesal adiknya itu.
"Ia! Aulia tidak lupa. Tapi plisss, kasi Aulia kesempatan untuk mengoda Kak Rifki untuk yang terakhir kalinya. Kakak tau sendiri 'kan? jika Kak Rifki ingin pergi, jadi Aulia tidak mungkin menunggu kepulangannya. Karena Aulia tidak mau mengecewakan para pria tampan yang lainnya, hanya untuk menunggu Kak Rifki," ucap Aulia tersenyum penuh permohonan.
"Lya! otak kamu itu harus di cuci dulu kakak rasa. Apakah tidak ada yang lain di pikiranmu selain pria tampan?" tanya Sania menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan adiknya itu.
"Memang, sih! tapi kakak hanya mencintai Kak Bisma. Sedangkan kamu, kamu masih SMA, tapi coba kamu hitung sudah berapa mantanmu?"
Mendengar ocehan Sania, Aulia mencoba mengingat berapa pria yang sudah dia permainkan mengunakan jarinya. Namun, kesepuluh jarinya tidak cukup untuk menghitung berapa korbannya, sehingga dia mengunakan tangan Gibran, Rifki dan juga Mala.
"Yang Aulia ingat empat puluh lima orang. Tapi yang di ingat ya," ucap Aulia terkekeh kecil.
"Apa!" ucap semuanya terkejut mendengar ucapan Aulia.
"Kenapa? masih sedikit ya?" tanya Aulia dengan polosnya.
"Itumah bukan sedikit. Tapi sudah overdosis," ucap Fiona membulatkan matanya.
"Rifki!" teriak Yuki mengalihkan pembicaraan mereka.
"Maaf! aku terlambat. Ini untukmu, simpan baik-baik ya," ucap Yuki memberikan album foto kebersamaan mereka sebagai kenang-kenangan.
"Terima kasih ya. Dua tahun lagi aku akan kembali lagi. Aku mau saat aku datang, kalian semua tidak melupakanku," ucap Rifki tersenyum.
"Tentu saja! kami akan selalu mengingatmu. Aku harap saat kamu datang nanti, kamu sudah membawa pujaan hatimu," ucap Sania tersenyum.
"Apakah itu mungkin, Sa?" batin Rifki menatap Sania dengan lekat.
"Kakak tenang saja! aku akan menunggu kepulangan kakak. Tapi aku tidak janji jika aku bisa setia," ucap Aulia langsung merangkul Rifki.
Semua orang hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Aulia. Sedangkan Gibran, langsung menepuk keningnya. Adiknya itu memang selalu membuatnya pusing tujuh turunan. Andai saja Aulia sudah tamat sekolah, sudah pasti dia akan mencarikan jodoh untuknya dan langsung menikahkan mereka. Agar dia bisa tenang untuk menjalani hari-harinya.
Jadwal keberangkatan Rifki tinggal sepuluh menit lagi. Mereka semua mengunakan waktu itu dengan begitu baik, mereka berfoto bersama dan saling bercanda ria. Sedangkan Mala berbincang-bincang lembut dengan Rizki sambil terus memeluk putranya itu. Melihat kebahagiaan yang terpancar di mata buah hatinya, Mala juga ikut bahagia, walaupun kebahagiaan itu Rizki dapatkan dari Sania, bukan darinya. Namun, Mala tetap bersyukur karena Sania dapat memberikan kasih sayang yang tidak pernah dia berikan kepada anak itu.
Hingga akhirnya jadwal penerbangan mereka telah tiba, Mala dan Rifki langsung pergi meninggalkan para sahabat mereka dengan air mata kesedihan. Sania dan Yuki saling berpelukan sambil menatap kepergian Rifki dan Mala, mereka semua melambaikan tangannya dan menatap kepergian sahabat mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Wah! ada mangsa, tampan sekali," ucap Aulia bersorak ketika melihat pria tampan, sehingga membuat kesedihan mereka langsung terpecahkan oleh rasa dongkol melihat kelakuan Aulia.
"Aulia! pulang," teriak Gibran langsung menarik telinga gadis itu dan membawanya keluar dari bandara.
"Ya Tuhan! sebenarnya apa dosa kedua orang tua kita? Sehingga kita memiliki saudari perempuan seperti mereka. Sudah insyaf dua orang, sekarang tinggal empat orang. Tapi menjaga keempatnya lebih sulit dari menjaga sepuluh ribu ekor kambing," ucap Erlan mengusap dadanya pelan melihat kelakuan para saudarinya yang mata keranjang.
******
Hai semuanya 👋👋👋.
Terima kasih banyak karena kalian dengan setia mengikuti kisah Sania dan Yuki sampai saat ini. Jika ada tulisan Author yang salah, Author mohon maaf ya🙏🙏🙏.
Untuk kisah Aulia akan kita buat awal bulan ya. Author kasih bocoran nie, judulnya "Kakak Jutek, I Love You," cocok tidak? jika kalian punya saran judul lain, tulis di kolom komentar ya😅
Sekali lagi Terima kasih atas dukungan kalian semua😘😘😘😘