
Cahaya matahari yang masuk dari celah kamar berhasil mengusik tidur gadis cantik yang sedang tertidur lelap. Gadis itu mencoba membuka matanya dan memijit kepalanya yang terasa berat. Dia menatap seluruh ruangan yang terlihat begitu asing di matanya.
"Di mana aku?" gumam Sania menatap seluruh ruangan itu.
Dia mencoba bangkit dari tidurnya dan menatap pria yang sedang tertidur di sofa. Dengan seketika ingatannya langsung tertuju pada pria yang dia lihat sebelum dia tidak sadarkan diri.
"Kak Bisma!" ucap Sania tersenyum bahagia lalu berlari kecil menuju pria yang tertidur di sofa dengan posisi membelakanginya.
"Aku bukan pria pengecut itu!" ucap Gibran sehingga memudarkan senyuman yang menghiasi wajah cantik adiknya itu.
"Kak Gibran! kenapa kakak ada di sini?" tanya Sania memelas karena dugaannya salah besar.
Padahal baru saja dia merasa sangat bahagia karena dia akan bertemu kembali dengan pria pujaan hatinya. Namun, kebahagiaannya langsung sirna, ketika mengetahui siapa sebenarnya pria yang membawanya keluar dari club itu.
"Jangan banyak tanya. Bersihkan dirimu, kakak akan mengantarmu pulang," ucap Gibran bangkit dari tidurnya, sambil menatap nanar gadis di depannya.
Dengan wajah memelas Sania berjalan menuju kamar mandi. Dia berjalan sambil berusaha mengingat siapa pria yang mengendongnya semalam. Namun, ingatannya terus tertuju kepada sosok Bisma. Akan tetapi, kenapa sekarang yang ada di depannya Gibran bukan Bisma. Berbagai tanda tanya terus mengelilingi pikiran Sania, sehingga membuat gadis itu menjadi pusing sendiri.
"Kau tidak perlu memikirkan pria yang belum tentu memikirkanmu. Ingat martabatmu sebagai wanita. Jangan pernah rendahkan dirimu hanya karena cinta buta. Bukannya mendapatkan kebahagiaan, kau hanya akan mendapatkan penderitaan," ucap Gibran ketus lalu melangkahkan kakinya keluar meningalkan Sania seorang diri.
Mendengar ucapan pemuda itu, Sania langsung menatapnya dengan tatapan penuh kebingungan. Dia merasa heran kenapa tiba-tiba Gibran seperti tidak menyukai perasaannya kepada Bisma. Padahal selama ini pemuda itu sangat mendukungnya. Bahkan dia selalu memberi support agar Sania terus berjuang mendapatkan cintanya.
"Kakak kenapa ya? apa baru kesambet?" gumam Sania menatap bingung Gibran.
Tidak mau banyak berpikir, Sania memilih untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Kepalanya masih terasa begitu berat, dia lupa berapa banyak alkohol yang dia minum semalam. Memang setelah sadar dari maboknya, Sania langsung mentesali perbuatannya itu. Namun, dia tidak tau harus melakukan apalagi untuk memenangkan pikirannya. Hanya minum-minum yang membuat pikirannya tenang dan dapan melupakan semua masalahnya. Walaupun hanya sementara, tetapi itu sangat berguna untuknya.
Setelah selesai, Gibran langsung mengantar Sania untuk pulang. Selama di perjalanan mereka terus berdiam diri, sehingga suasana mobil itu terasa begitu sunyi. Sania yang melihat sikap Gibran yang terus diam sambil fokus menyetir terus menatap pemuda itu dengan tatapan kebingungan.
"Kakak marah?" tanya Sania memecahkan keheningan itu.
"Untuk apa?" tanya Gibran kembali.
"Bukannya menjawab, malah balik bertanya," celetuk Sania dengan mode kesal.
"Kau sudah dewasa, jadi kau sudah bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi kakak tidak ada hak untuk mengatur hidupmu. Tapi jika kau tanya kakak kecewa atau tidak. Maka kakak akan menjawab jika kakak sangat kecewa kepadamu," ucap Gibran sambil terus menatap ke depan.
Mendengar ucapan kakaknya itu, Sania hanya membuang napasnya kasar. Dia kembali menatap kearah jendela mobil, dia menatap suasana kota di pagi hari dengan tatapan kosong.
"Sa! kau sudah pulang. Mama sangat menghawatirkanmu," ucap Rissa langsung memeluk putrinya itu.
"Sania tidak apa-apa, Ma! hanya lelah saja. Sania mau istirahat," ucap Sania tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya memasuki pintu utama.
Saat ingin masuk ke dalam rumah, dia tidak sengaja berpas-pasan dengan papanya. Namun, Sania memilih untuk terus diam tanpa mengangap kehadiran sang papa. Kinan yang melihat sikap putrinya hanya bisa terdiam. Dia menatap nanar punggung putrinya itu dengan perasaan yang sangat hancur.
"Papa! papa aku sangat merindukanmu," suara teriakan Sania yang dulu langsung tergiang di pikirannya.
Namun, sangat di sayangkan, itu hanya suara manja dari putrinya yang kini menjadi kenangan. Karena putrinya yang sekarang bahkan tidak sudi lagi untuk bertegur sapa dengannya. Jangankan bermanja-manja bahkan Sania sama sekali tidak mau melirik wajahnya lagi.
Melihat wajah sedih pamannya itu, Gibran langsung mengepalkan tangannya geram. Dia tidak bisa membiarkan Sania terus membenci papanya sendiri seperti itu. Karena dia tau dengan jelas jika Kinan hanya ingin yang terbaik untuk Sania.
"Gibran! sudahlah. Adikmu masih butuh waktu untuk menerima kenyataan ini," ucap Kinan mengerti bagaimana perasaan Gibran saat ini.
"Tapi Sania sudah melewati batasnya, Paman. Tidak sepantasnya dia bertingkah seperti itu kepada paman," ucap Gibran sedikit kesal.
"Biar tante yang bicara dengannya. Kau tenang ya," ucap Rissa menenangkan keponakannya itu.
Mendengar ucapan Rissa, Gibran hanya terdiam. Dia berusaha menarik napasnya pelan dan memenangkan pikirannya. Dia tau di usia Sania saat ini pikirannya masih sangat labil. Jadi, untuk menghadapinya harus memiliki kesabaran yang ekstra. Karena jika dia di nasehati dengan kekerasan, maka yang ada dia akan semakin memberontak dan membuatnya semakin nakal lagi.
"Baiklah, Tan! Aku pulang dulu ya. Karena aku juga harus berangkat ke kantor," ucap Gibran tersenyum lalu mencium tangan Rissa dan Kinan secara bergantian.
"Baiklah! kau hati-hati ya," ucap Kinan tersenyum.
Gibran hanya mengangguk kecil lalu masuk kedalam mobilnya. Sebelum meninggalkan perkarangan rumah itu, dia menatap kearah kamar Sania terlebih dulu. Dia dapat melihat adiknya itu sedang menatap mereka dari balik jendela. Melihat itu, Gibran hanya tersenyum kecil.
Walaupun sedang marah, tetapi Sania tetap tidak bisa menyembunyikan jika dia sangat menyayangi papanya. Bahkan setelah membuat hati papanya terluka, dia langsung mentesali perbuatannya itu. Namun, tidak bisa di pungkiri, dia tetap masih kecewa dengan keputusan papanya yang tidak memberikan penjelasan yang pasti kepadanya. Dia hanya ingin tau kenapa papanya itu menentang hubungannya dengan Bisma.
"Kakak yakin, kau akan segera mendapatkan kebahagiaanmu. Baik itu dengan Kak Bisma ataupun dengan pria lain. Kakak akan pastikan itu,"
Bersambung.....
Bersambung.....