
"Yeah! akhirnya kita bisa berkumpul lagi. aku sangat merindukan kalian," ucap Aulya menghampaskan tubuhnya di atas ranjang empuk Sania.
"Kau benar! akhirnya kita berkumpul lagi. Tinggal Fiona yang masih bertelur di asrama. Aku sudah tidak sabar menunggu dia lulus," ucap Yuki ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kau tenang saja! tahun ajaran ini dia telah lulus. Aku dengar dia tidak mau tinggal di asrama lagi. Mungkin dia akan sekolah di SMA kita dulu," ucap Sania duduk memelas di tepi ranjang.
"Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Tapi Fiona akan datang di acara pesta ini 'kan?" tanya Aulya.
"Tentu saja! paman sudah meminta izin untuknya selama tiga hari. Jadi selama tiga hari ini kita akan bersenang-senang," ucap Yuki penuh semangat.
"Maaf! kalian di sini sebentar ya. Aku lupa jika harus memeriksa dekorasi gedung. Yuki, kau temani Aulya ya," ucap Sania bangkit dari duduknya.
"Kami ikut saja! kami juga mau melihat bagaiamana kemewahan pesta nanti malam," ucap Aulya dan Yuki ikut bangkit.
"Apa kau tidak lelah. Kau istirahat saha dulu. Nanti malam kita tidak boleh terlihat lelah," ucap Sania mengingat Aulya yang telah melewati perjalanan yang cukup panjang.
"Tidak! aku tidak lelah. Kakak tenang saja. Aku akan tetap terlihat cantik nanti malam," ucap Aulya penuh percaya diri.
"Dasar bocil. Kau memang tidak pernah berubah," ucap Sania dan Yuki menggeleng kecil melihat kelakuan Aulya yang tidak pernah berubah.
Kelakuan Aulya memamg masih sama seperti dulu centil dan juga penuh percaya diri. Bahkan sifat Rayyan yang mata keranjang turun drastis ke Aulya. Namun, sebagai seorang wanita Zhia selalu memperingatkan agar Aulya selalu menjaga kehormatannya. Sehingga membuat gadis itu selalu ingat dengan pesan sang mama.
"Aku tidak bocil lagi. Apa kalian lupa jika yang paling kecil di antara kita adalah Chelsea," ucap Aulya tidak Terima di bilang bocil.
"Ha.. ha.. tapi bagi kami kau tetap bocil kami," ucap Yuki dan Sania serentak sambil mengacak-acak rambut Aulya.
Melihat kelakuan kedua kakaknya itu, Aulya hanya bisa memanyunkan bibirnya kesal. Mereka bertiga keluar dari kamar secara bersamaan. Mereka berjalan beriringan sambil tertawa ria bersama. Sesampainya di ruang tamu, mereka melihat para orang tua mereka yang sedang bergosip bersama.
Memang menjadi kebiasaan mereka akan mengosip dan mencari bahan bercandaan jika sedang berkumpul bersama. Apalagi mengingat jika Zhia dan Rayyan baru kembali. Sehingga membuat mereka semakin heboh untuk melepaskan kerinduan mereka selama ini.
"Sudah tua dilarang menggosip," ucap Sania menghampiri para orang tua itu yang sedang sibuk bergosip bersama.
"Enak saja kami di bilang tua. Lihat paman dan papamu saja masih sangat tampan," ucap Rayyan tidak terima di bilang tua.
"Benar! umur kami boleh tua. Tapi lihat, aura ketampanan kami masih terpancar dengan jelas. Ia 'kan sayang?" ucap Wildan merangkul mesra Shinta.
"Kalian memang sangat tampan. Bahkan ketampanan kalian bisa membuat para wanita hilang akal," ucap Shinta memuji ketampanan suaminya itu.
"Benar! paman dan juga papamu sangat tampan. Jadi tidak boleh di bilang tua. Tapi..." ucap Zhia tersenyum kecil.
"Tapi apa, Bi?" tanya Sania binggung.
"Tapi kalian boleh menyebutnya sebagai calon kakek-kakek!" ucap Zhia terkekeh kecil.
"Apa! tidak. Kami memang sudah memiliki anak gadis. Tapi kami tidak mau di panggil kakek," ucap Rayyan dengan lantang.
"Kami mau di panggil oppa! oppa-oppa Korea gitu," ucap Rayyan menunjukkan pesonanya.
"Papa terlalu percaya diri. Lebih baik kami mencari oppa-oppa beneran," ucap Aulya menghipaskan rambutnya lalu berjalan keluar meninggalkan para papa narsis itu.
"Bye! oppa-oppa Korea. Kami mau mencari pujaan hati kami dulu," ucap Yuki dan Sania melambaikan tangannya sambil berjalan keluar mengikuti langkah Aulya.
"Sayang! aku sama seperti oppa-oppa Korea 'kan? lihat aku mempunyai wajah yang tampan. Kulitku juga putih mulus. Bahkan aku juga mempunyai mata yang indah," ucap Rayyan meminta pendapat Zhia.
"Kau memang tampan, Ray!" ucap Kinan tersenyum.
"Tapi jika di lihat dari lobang pipet dan juga dalam jarak 10km," ucap Kinan tanpa dosa.
Mendengar ucapan Kinan, Rayyan nampak berpikir sejenak. Sedangkan Wildan langsung tertawa terbahak-bahak. Memang saudara ipar itu jika sudah bertemu memang selalu bertengkar. Kinan juga, padahal dia yang paling tua, tetapi dia sangat suka membodohi Rayyan adik iparnya itu.
"Sudahlah! ekspresimu itu bikin perutku kram," ucap Zhia berusaha menahan tawanya melihat ekspresi wajah Rayyan yang sedang melongo.
Sadar dirinya sedang jadi bahan tertawaan, Rayyan langsung memasang wajah ceberutnya. Dia memeluk Zhia dengan erat sambi menyembunyikan wajahnya di punggung Zhia. Para papa dan mama narsis itu tertawa bersama. Meskipun mereka belum mengumpul semua, tetapi ruangan itu terlihat sangat heboh. Bahkan suara tawa mereka terdengar di seluruh sudut ruangan. Bagaimana jika mereka sudah berkumpul semua, pasti sudah tidak bisa di bayangkan lagi kehebohan mereka semua.
Di saat para papa dan juga mama mereka yang sedang sibuk bergosip, para mantan bocil pergi ke gedung pesta aniversary pernikahan Rafi dan Clara akan akan di lakukan nanti malam. Sania mengemuikan mobil dengan kecepatan sedang. Mereka bercanda ria bersama sambil menghidupkan musik kesayangan mereka.
Namun, di saat Aulya dan Yuki sedang asik bercanda ria bersama, Sania malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ntah apa yang ada di pikiran gadis itu, tetapi yang pasti perasaannya seperti sedang tidak enak. Dia mengingat perubahan sikap Bisma setelah mengantarkannya pulang malam itu. Dia berpikir apakah papanya telah mengatakan sesuatu kepada Bisma, sehingga pria itu menjadi menjaga jarak darinya.
Sesampainya di gedung, mereka bertiga langsung turun dan masukin aula gedung secara bersama-sama. Sania langsung mencari keberadaan Bisma, tetapi dia tidak menemukannya di sana. Padahal saat masuk, dia melihat mobil Bisma yang terparkir di parkiran gedung.
"Maaf! apa kalian melihat Kak Bisma?" tanya Sania bertanya kepada staf gedung itu.
"Tuan Bisma ada di ruangan itu, Nona," ucap Staff itu dengan ramah.
"Baiklah! Terima kasih ya," ucap Sania tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan yang di tunjukkan staff itu.
"Sebucin itu kah kakak dengan Kak Bisma? Padahal baru beberapa jam yang lalu kalian bersama," ucap Aulya menatap aneh Sania.
"Kau diamlah! aku merasakan suatu firasat yang buruk. Aku ingin menemui Kak Bisma untuk memastikan jika dugaanku salah," ucap Sania terus melangkahkan kakinya.
"Maksudmu apa, San?" tanya Yuki menatap Sania binggung.
"Aku juga tidak tau. Tapi yang pasti aku harus bicara dengan Kak Bisma saat ini juga," ucap Sania tetap fokus ke ruangan yang di tempati Bisma.
Sesampainya di ruangan itu, Sania melihat Bisma sedang berbicara dengan Rafi. Sania melihat tiket pesawat yang ada di tangan Bisma dan juga koper yang ada di samping pria itu. Jantung Sania seakan berhenti berdetak mendengar pembicaraan Bisma dan Rafi.
"Apa! kakak mau pergi meninggalkanku lagi? kakak jahat, Sania kecewa kepada kakak,"
Bersambung.......