Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 52


Gibran menatap tajam Sania yang duduk di depannya. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada adik sepupu sekaligus sahabatnya itu. Namun, yang pasti dia sangat kecewa atas perubahan Sania. Memang dia tau jika Sania sedang ada masalah dengan Kinan. Akan tetapi,, tidak selayaknya gadis itu menghancurkan kehidupannya dengan masuk ke dalam dunia malam dan menyiksa dirinya sendiri.


"Katakan kepada kakak! apa kau sangat mencintai Kak Bisma?" tanya Gibran membuka suara.


Sania hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menitikkan air matanya. Sebagai jawaban atas pertayaan sang kakak. Melihat angukan Sania, Gibran hanya membuang napasnya kasar. Dia menatap gadis di depannya dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Siapa yang telah mengajarimu untuk terlalu mengharapkan orang yang belum tentu menjadi milikmu?" tanya Gibran tersenyum sinis.


"Sa! apa kau lupa dengan ucapan mama? berharap kepada sesama manusia itu sama saja berharap kepada hal yang belum tentu. Kau boleh mencintai siapapun, aku tidak pernah melarangmu untuk jatuh cinta. Tapi jangan berlebihan seperti ini, Sa! karena apa yang kau anggap baik belum tentu baik untukmu," ucap Gibran menatap Sania dengan tatapan penuh kekecewaan.


Mendengar ucapan Gibran, Sania hanya bisa terus menunduk sambil meneteskan air matanya. Dia tau apa yang di katakan kakaknya itu benar apa adanya. Dia telah mencintai Bisma secara berlebihan. Bahkan dia rela mengotori dirinya sendiri dan masuk ke dunia malam hanya karena Bisma. Pria yang sangat dia cintai.


Namun, dia juga hanya seorang gadis biasa. Seorang manusia yang di ciptakan dengan sejuta kekurangan. Sehingga membuatnya larut dalam nafsu dunia dan terlalu mengutamakan cintanya. Tanpa memikirkan hal yang lain selain mendapatkan cintanya.


"Aku tau aku salah! tapi aku juga ingin bahagia, Kak. Aku mencintai Kak Bisma, aku yakin jika Kak Bisma adalah pria yang terbaik untukku," ucap Sania terus menunduk.


"Sa! lihat kakak," ucap Gibran menarik dagu Sania, sehingga gadis itu kini menegakkan kepalanya.


Gibran menatap lekat mata adiknya itu, dia melihat begitu banyak kesedihan yang terpancar di mata Sania. Sebagai sesama anak remaja, dia tau bagaimana perasaan gadis itu saat ini. Di jauhkan dengan seseorang yang kita cintai memanglah sangat menyakitkan. Cinta yang terhalang restu adalah cobaan yang begitu besar kepada setiap pasangan.


Namun, tidak mendapatkan restu bukan berarti kita harus menyerah begitu saja. Kita harus berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua kita. Karena kebahagiaan setiap pasangan terletak pada restu dari orang tua mereka sendiri. Jadi, buktikan jika pasangan kita adalah orang yang pantas untuk mendampingi kita.


"Apa kau ingin hidup bahagia bersama Kak Bisma?" tanya Gibran menatap lekat netra mata Sania.


Sania hanya mengangguk sambil menatap Gibran.


"Kakak akan membantumu. Kakak akan bicara baik-baik dengan Kak Bisma dan juga paman. Tapi," ucap Gibran menghentikan kata-katanya.


"Tapi apa, Kak?" tanya Sania mengerutkan keningnya binggung.


"Tapi kau harus kembali seperti Saniaku yang dulu. Adik kecilku yang yang begitu manja. Kakak tidak mau kau terus merusak dirimu sendiri," ucap Gibran menatap Sania dengan tatapan penuh permohonan.


"Maaf, Kak! mungkin itu sangat sulit. Tapi aku akan mencobanya," ucap Sania tersenyum kecil.


Senyuman yang begitu tipis, bahkan tidak akan terlihat jika kita tidak memperhatikannya dengan seksama. Namun, senyuman kecil itu bisa meneduhkan hati Gibran. Karena setelah kepergian Bisma, baru kali ini dia melihat senyuman itu kembalikan melingkar di wajah Sania.


"Kakak mengerti!" ucap Gibran tersenyum sambil mengacak-acak rambut Sania.


"Kakak ini," ucap Sania tersenyum lalu menyantap makanan yang ada di depannya.


...----------------...


Kinan duduk terdiam sambil memainkan pulpen yang ada di tangannya. Tatapannya lurus ke depan, tetapi dia tidak tau apa yang sedang dia perhatiankan. Ntah apa yang sedang di pikirkan hot deddy itu. Namun, yang pasti pikirannya saat ini sangatlah kacau, sama seperti hatinya yang hancur melihat perubahan putri semata wayangnya.


"Papa melakukan ini semua demi kebaikanmu. Tapi kenapa kau sangat membenci papa, Nak? maaf! papa minta maaf, karena papa belum bisa memberikan alasan papa untuk memisahkanmu dari Bisma. Tapi yang pasti ini semua demi masa depanmu dengan Bisma. Papa tidak mau kau mengalami masalah," batin Kinan sambil menitikkan air matanya.


Dia tau jika keputusannya salah. Namun, ini semua juga demi kebaikan putrinya. Dia juga tidak mau membawa orang lain dalam masalahnya yang menimpanya. Sehingga dia memilih untuk memendam semuanya seorang diri. Dia tidak perduli dengan apa yang ada di pikiran para sahabat dan juga putrinya. Karena ini semua demi kebaikan mereka semua.


Tokk... tokk...


"Paman! apa bisa aku masuk?" tanya seorang pemuda dari balik pintu.


"Masuk!" ucap Kinan menyeka air matanya.


Mendengar ucapan Kinan, pemuda itu langsung masuk dan menatap Kinan yang duduk diam menatapnya. Melihat siapa yang datang, Kinan langsung menarik napasnya pelan. Apa yang dia takutkan selama ini benar terjadi. Di mana Gibran akan turun tangan atas masalah percintaan Sania dengan Bisma. Tanpa banyak bicara, Gibran langsung duduk di depan Kinan lalu menatap tajam pamannya itu.


"Jika kau ingin membicarakan masalah Sania dan Bisma, maaf! paman sedang sibuk," ucap Kinan mengalihkan perhatiannya kepada tumpukan dokumen yang ada atas meja.


"Tidak! Aku tidak ingin membicarakan masalah Sania. Tapi aku ingin membicarakan masa depan adikku," ucap Gibran tegas dan penuh penekanan.


Mendengar ucapan pemuda itu, Kinan langsung membuang napasnya kasar. Sama seperti Zhia, Gibran juga memiliki watak yang keras kepala, dan tidak mau mendengar alasan yang tidak jelas. Dia akan melakukan apapun agar tujuannya bisa tercapai. Jika dia ingin mengetahui sesuatu, maka dia harus mengetahuinya saat itu juga.


"Maaf! paman punya alasan untuk melakukan semua ini. Tapi maaf! paman belum bisa menceritakannya," ucap Kinan dengan tegas.


"Baiklah! jika paman tidak mau mengatakannya, maka aku akan mencaritaunya sendiri,"


"Gibran! tolong kali ini mengerti dengan paman. Jangan sampai karena keingintahuanmu semua rencana paman hancur berantakan. Percayalah dengan paman. Paman juga tidak mau melihat putri paman menjadi seperti sekarang ini. Sama sepertimu, hati paman juga hancur. Tapi ini semua demi kebaikannya. Demi masa depannya," ucap Kinan menitikkan air matanya.


"Jika dia tau alasan paman yang sebenarnya. Paman yakin, perasaannya akan jauh lebih hancur dari yang sekarang. Paman mohon, bersabarlah," ucap Kinan kembali.


Mendengar ucapan Kinan, Gibran langsung menatap mata pamannya itu. Dia melihat ada rahasia yang sangat besar yang tersimpan di mata pria itu. Namun, dia tidak tau rahasia apa yang membuat Kinan menjadi secemas itu. Namun yang pasti, rahasia itu sangat berdampak buruk dengan hubungan Sania dan Bisma.


Bersambung......