Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 90. Lamaran


TRV 90. Lamaran


“Tidak perlu gugup, Lady. Semuanya akan baik-baik saja.”


Kepala koki yang baru saja menghidangkan teh hangat serta beberapa camilan itu tampak tersenyum ketika melihat raut wajah lady di hadapannya. Gadis muda pemilik rambut merah keemasan dengan netra biru yang jernih itu tampak sekali tengah dilanda gugup.


“My Lord tidak akan menyakiti Anda,” lanjutnya. Ia kemudian mengambil botol kecil berwarna gelap, mengeluarkan isinya, lalu mengoleskan pada lengan sang lady. “My Lord pasti akan berhati-hati.”


Anggukan kepala diberikan oleh gadis cantik yang malam ini menggunakan vintage dress putih dengan aksen lace berbahan lembut yang nyaman digunakan untuk tidur. Pada setiap ujung lengan baju, ada motif ruffle yang cantik. Walaupun begitu, ia masih agak terganggu dengan bagian kerah model V yang memiliki potongan dada lumayan rendah. Mencetak jelas celah di antara buah dada. Pakaian itu memang masih tergolong sopan, jika dibandingkan dengan beberapa gaun malam yang sempat La’ti tawarkan. Namun, tetap saja ia merasa belum terbiasa.


“Sebentar lagi my Lord akan datang. Lady bisa menunggu sembari menikmati secangkir teh.”


Lucciane, gadis cantik itu mengangguk. “Terima kasih banyak karena sudah membantuku, Marry. Jika tidak ada kamu dan La’ti, aku pasti akan sangat kebingungan.”


Marry tersenyum seraya menggenggam tangan sang lady. “Anda tidak perlu berterima kasih, Lady. Karena kehadiran Anda di Luccane The Palace sudah lebih dari cukup bagi kami.”


La’ti yang sejak tadi berdiri seraya memegang sebuah hanger yang digunakan untuk menggantung jubah tidur Lucciane juga ikut merespon. Anggukan kecil seraya senyuman ia tebarkan. Agar gadis cantik itu tidak perlu khawatir guna menghadapi sang Lord. Toh, sang Lord tidak pernah menunjukkan kebengisan atau pun aura mencekam pada mate-nya.


“My Lord telah lama menunggu kehadiran Lady. Jadi, jangan pernah ragu untuk menyambut setiap pemberiannya,” kata Marry lagi, memberi wejangan. “Pekan depan my Lord sudah meminta salah seorang Pendeta untuk datang dan melakukan pemberkatan. Sekaligus melakukan misa.”


“Pemberkatan? Misa?” bingung Lucciane.


Marry mengelus punggung tangan Lucciane sebelum kembali berkata. “Lady memerlukan status yang jelas, karena Lady berasal dari ras manusia. Jadi, my Lord memutuskan untuk segera mempercepat pemberkatan dan pernikahan.”


Kerutan di kening Lucciane semakin bertambah ketika Marry menjelaskan. Pemberkatan? Misa? Pernikahan? Siapa yang akan melakukan semua itu? Jika dirinya, kenapa Luccane tidak pernah bicara apapun soal semua itu?


“Apa Lady belum mengetahui semua itu?” tebak Marry, was-was. “Apa saya baru saja membocorkan rencana my Lord?”


Lucciane tertawa kecil seraya menggelengkan kepala. “Justru aku berterima kasih kepada kamu, karena telah memberitahu aku soal itu. Nanti, aku akan bertanya langsung pada Luccane.” Suaranya terdengar berbisik di akhir. Jelas sekali jika gadis cantik itu tengah setengah mati menahan rona di pipi.


“Baiklah jika begitu.” Marry beranjak. Ia telah selesai mengerjakan tugas; membantu sang Lady bersiap. Sekarang gadis cantik itu sudah tampil sempurna. Siap menyambut sang lord yang akan segera berkunjung. “Tugas saya sudah selesai,” katanya. “Saya dan La’ti akan datang lagi besok pagi.”


La’ti ikut meng-iyakan ucapan Marry lewat anggukan. Ia pun melepaskan jubah tidur Lucciane dari hanger, kemudian memberikannya pada si empunya. Udara cukup dingin, sekalipun ruangan sempat dihangatkan dengan bantuan dari perapian. Takutnya sang lady terserang flu jika menunggu hanya menggunakan gaun malam.


“Kami undur diri terlebih dahulu, Lady,” pamit La’ti. “Jangan cemas. Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan.”


Lucciane mengangguk seraya tersenyum hangat. Suasana hatinya sudah jauh lebih baik, berkat kehadiran Marry dan La’ti. Semenjak Luccane mengungkit soal penyempurnaan proses terakhir blood feeding, Lucciane memang menjadi resah. Bagaimana pun juga proses blood feeding itu mencangkup beberapa tahapan. Ia dan Luccane sudah melalui beberapa tahapan, tinggal proses terakhir guna menyempurnakan.


Justru alasan itu lah yang membuat Lucciane belakangan ini berpikir keras. Di tambah lagi ia baru saja mendapatkan kekuatan murni yang selama ini tersembunyi. Kemunculan kekuatan murni itu sempat membuat Lucciane jatuh sakit, karena tubuhnya harus melawan efek dari kekuatan murni yang muncul secara berkala.


Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik, setelah diberi ramuan khusus yang diracik langsung oleh Sebastian. Sejauh ini Lucciane sendiri belum tahu apa yang dapat dilakukan oleh kekuatan murni yang ia miliki. Toh, ia belum pernah menggunakannya secara langsung. Namun, Luccane telah mengkonfirmasi jika kekuatan murni yang ia miliki adalah kekuatan luar biasa yang pernah dititipkan seorang Goddess pada ras manusia.


“Luccane.”


Lucciane hampir saja menjatuhkan cangkir teh miliknya, ketika tiba-tiba da sepasang lengan kokoh yang melingkari pinggangnya. “Dari mana kamu masuk? Kenapa aku tidak mendengar suara pintu yang terbuka.”


“Itu tidak penting,” jawab si empunya nama. Posisinya saat ini berdiri di belakang Lucciane, dengan kepala merunduk. Jatuh di bahu kanan sang mate. “Harum sekali,” katanya dengan suara dalam. “Apa saja yang telah mereka lakukan pada mate ku?”


Lucciane menggeleng kecil dengan tangan menyentuh jalinan tangan Luccane di bagian depan perutnya. “Marry dan La’ti tidak menyuruhku memakai sesuatu yang aneh. Hanya lotion dan parfum biasa,” jawabnya, polos. “Ah, mungkin harum yang kamu cium berasal dari aroma sabun mandi yang aku buat bersama La’ti. Semua bahannya organik dan otentik. Kamu suka aromanya?”


“Hm.” Luccane menggeram lirih seraya mengeratkan pelukan. “Apapun aroma yang menempel di tubuh mu, aku suka, Little mate.”


Lucciane tersipu mendengarnya. Jantungnya menjadi berdetak tak karuan. Entah bagaimana nasibnya, jika organ vital tersebut terus bekerja demikian. Akan kah meledak ketika ia tak kuasa menahan pesona sang belahan jiwa?


“Aku dengar hari ini kamu banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Apa ada pekerjaan yang membebani pikiran mu?” Luccane melonggarkan pelukan, agar mereka bisa saling berhadapan. Dengan lembut, ia kemudian memutar badan sang belahan jiwa agar menghadap kepadanya.


“Tidak ada,” jawab Lucciane dengan wajah tertunduk. Kedua kelopak matanya terkatup. “Aku hanya …”


“Don’t close your eyes,” ucap Luccane ketika jemari panjangnya berhasil membuat wajah Lucciane mendongkrak. Berhadapan langsung dengan rupa rupawan nya. “You have beautiful blue eyes.”


Dipuji demikian, blush on alami di pipi Lucciane kembali muncul ke permukaan. Di mata Luccane, warna kemarahan itu berhasil menambah kadar kecantikan alami sang calon istri. “Aku punya sesuatu untuk kamu.”


“Apa itu?”


“Something,” sahut Luccane. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celana menggunakan tangannya yang bebas dari apapun. “Sesuatu yang manusia di luar sana biasa katakan sebagai simbol dari sebuah ikatan.”


Lucciane masih menunggu. Ia memberi Luccane waktu. Oleh karena itu, ia tak mau angkat suara terlebih dahulu.


“Benda yang dapat membuat manusia, atau bahkan mahluk lain di luar sana tahu, jika kamu adalah milikku.”


Tak berselang lama, sebuah benda tampak di depan mata Lucciane. Bentuknya kotak, dihiasi ornamen ukir yang otentik. Khas sekali. Ia bisa melihat jika benda kotak berukuran kecil itu pasti berasal dari zaman dahulu, dikarenakan motif ukiran serta material yang digunakan untuk membuatnya.


“Milik ibu mu?” Lucciane tidak dapat menutupi keterkejutannya.


“Hm,” jawab Luccane, singkat. “Sekarang menjadi milik mu.” Setelah berkata demikian, Luccane membuka benda tersebut. Di dalamnya tersimpan sepasang cincin model lama yang dibuat dengan motif sederhana. Namun, yang mencuri perhatian dari cincin tersebut adalah berlian yang bertahta di atasnya.


Salah satu cincin—lebih tepatnya cincin milik titisan The Goddess sebelumnya—dihiasi oleh berlian berwarna biru berukuran sedang. Warna birunya tampak cantik sekali, mengingatkan siapapun yang melihat akan teringat pada birunya perairan pantai di kepulauan Hawai.


“Kita akan segera menikah,” ungkap Luccane. “Jadi, sudah semestinya kamu memiliki benda ini.”


“Menikah?” gumam Lucciane, tanpa sadar.


Tanpa lamaran romantis seperti yang diceritakan teman-temannya pada masa Secondary, Luccane langsung saja mengutarakan rencana pernikahan. Maka jangan heran jika Lucciane sempat terbengong-bengong.


“Aku memang tidak bisa berkata-kata manis,” tutur Luccane tiba-tiba. Seolah-olah bisa membaca pikiran sang belahan jiwa. “Namun, aku tidak mau membiarkan kamu hidup tanpa ikatan yang resmi. Mengingat kedepannya kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”


“Luccane …”


“Aku ingin mengikat kamu dari berbagai sisi,” lanjut Luccane. “Kita mungkin telah diciptakan untuk bersama. Oleh karena itu, aku ingin menikahi kamu. Pernikahan ini akan diketahui oleh setiap ras.”


“…”


“Ada apa hm? Apa kamu merasa keberatan?” Luccane yang telah berhasil menyematkan cincin di jari manis Lucciane tampak menautkan kening, ketika melihat reaksi Lucciane. “Kamu tidak banyak bicara seperti biasanya.”


Lucciane berdecak sebal seraya mengambil cincin satunya lagi, untuk kemudian disematkan pada jari Luccane. “Itu karena kamu sudah menyembunyikan semua ini dari aku.”


Luccane tersenyum tipis. “Tidak ada yang aku sembunyikan. Hanya saja … aku butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya.”


“Dasar,” gumam Lucciane. Ia masih tidak menyangka jika Luccane baru saja melamarnya, tanpa embel-embel “will you marry me?”. Pria itu percaya diri sekali, karena yakin jika Lucciane tidak akan menolak lamarannya yang super singkat, padat, dan kaku. Namun, Lucciane tetap menghargai semua usaha pria itu.


Terkadang Luccane memang lebih mengerti apa yang Lucciane butuhkan, tanpa gadis cantik itu harus bersusah payah menjelaskan. Ya, mengingat Luccane sendiri sudah mengamati Lucciane sejak lama. Kelahirannya pun telah dinantikan semenjak sekian ratus purnama.


“Are you ready?”


Luccane bertanya dengan suara beratnya. Posisinya saat ini tengah duduk bersandar pada kepala ranjang, terlihat sangat menggoda di mata Lucciane. Di satu sisi ia memang merasa terbebani, karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Namun, di sisi lain, ia merasa tidak perlu mundur lagi. Toh, benang merah telah mengikat mereka sejak lama. Luccane bilang, tanpa melakukan pemberkatan sekalipun, jika telah melakukan proses blood feeding (pertukaran darah atau meminum darah masing-masing) sudah dianggap sebagai bentuk dari terjalinnya ikatan secara resmi. Lewat proses tersebut mereka telah dipersatukan, menjadi satu jiwa yang bisa merasakan kesakitan satu sama lain. Sedangkan proses yang melibatkan fisik ibarat pengesahan.


“Jangan terburu-buru,” ucap Lucciane ketika membawa dirinya ke hadapan Luccane. “Aku …merasa sedikit gugup.”


Luccane tersenyum hangat. Tolong dicatat, tersenyum hangat. Jenis senyuman yang hanya diperuntukkan bagi Lucciane. “Aku tidak akan menyakiti mu sedikit pun. Percayalah, Little mate.”


“Baik.” Lucciane menyetujui. “Tapi, aku juga … malu,” lirihnya di akhir kalimat.


“Tidak ada yang memalukan dari dirimu, Little mate,” sanggah Luccane. “Kamu cantik. Teramat cantik, sehingga berhasil membuat siapapun menggila.”


“Omong kosong.”


Luccane menggeleng ringan seraya menarik satu lengan sang kekasih. Membawanya kian mendekat. “Malam ini akan aku buktikan sendiri, jika kamu sangat cantik, dan berhasil membuatku menggila.”


“…”


“Semua yang ada pada dirimu, cantik,” bisik Luccane dengan sura berat miliknya yang terdengar sangat menggoda di telinga Lucciane.


Benar kata Marry, juga La’ti. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Luccane memperlakukan Lucciane dengan baik. Pria rupawan itu menunjukkan love language-nya lewat berbagai cara, mulai dari sentuhan pisik atau physical touch, mengapresiasi dengan kata-kata penegasan; seperti sayang, dan sebagainnya. Selalu mengupayakan waktu untuk dihabiskan bersama, memberikan pelayanan yang totalitas agar Lucciane merasa senang, bahkan kerap memberikan hadiah guna menunjukkan rasa sayang.


Total, lima points love language; mulai dari physical touch, words of affirmation, quality time, giving gifts, sampai acts of service diborong semua oleh Luccane. Nikmat mana lagi yang Lucciane dustakan? Belahan jiwa seperti Luccane memang sudah paket lengkap.


“Maaf telah menyakiti mu,” bisik Luccane ketika bibirnya bekerja guna mengecup masing-masing sudut mata sang belahan jiwa yang dibasahi oleh air mata. Ia berusaha bekerja selembut mungkin, agar sang belahan jiwa tidak tersakiti. Namun, usahanya mendapat sedikit kegagalan. “Tahan sebentar lagi, Little mate. Aku janji, rasa sakitnya akan segera menghilang.”


Risau sempat melanda. Namun, gadis cantik yang berada di bawahnya masih sanggup tersenyum seraya mengucapkan kalimat penenang. “Do it,” perintahnya. “I'am fine.”


🦋🦋🦋


TBC


Note : cerita ini mengambil setting budaya barat, TIDAK UNTUK DICONTOH bagi kita yang masih menjunjung tinggi budaya timur.


Semoga suka 😘 Jangan lupa like, vote, komentar, share, dan mampir ke cerita Author yang sedang on going satu ini 👇



Tanggerang 28-05-23