
“Apa benar rasa dari kue-kue yang dikirim ke desa seberang sama persis dengan buatan anak itu?”
“Iya, Mom. Rasanya juga sangat sangat mirip.”
“Mungkin cuma kebetulan,” sanggah wanita paruh baya dengan dress gaya retro yang berkesan glamour berwarna hijau tua.
Walaupun menggunakan dress dengan gaya retro yang diadaptasi dari tahun 70-an sampai 90-an, penampilan wanita itu tetap enak dipandang, karena pandai memadupadankan busana. Salah satu tangannya memegang cangkir keramik bermotif bunga lotus terisi oleh cairan teh merah Cheonil yang bermanfaat untuk menenangkan hati.
Di seberang meja, ada sang putri yang tampak anggun dengan dress keluaran terbaru dari salah satu rumah mode terkenal di London, Inggris. Salah satu tangannya sedang digunakan untuk menyangga benda canggih bernama iPad yang tengah menampilkan beberapa gambar kudapan manis.
“Ini sudah satu minggu berlalu, tetapi belum ada informasi tambahan soal dari mana datangnya kue-kue yang dibagikan secara cuma-cuma itu.”
“Mungkin itu cuma buatan salah satu pelanggan setia La Vie En Rosé. Kue-kue itu bisa saja dibagikan untuk mengenang anak itu, sweetheart.”
“Tetap saja aku masih kepikiran,” sahut sang putri, Gwen. Pemilik La Vie En Rosé yang sekarang.
“Lebih baik kamu memikirkan hidangan yang akan disajikan untuk jamuan keluarga kerajaan, sweetheart.”
“Mommy benar,” setuju Gwen. Semenjak saudari tirinya menghilang dari muka bumi, ia benar-benar mendapatkan jakpot. Selain berhasil memiliki La Vie En Rosé, namanya juga kian meroket karena simpati publik. Alhasil belakang namanya dibicarakan dimana-mana.
Semenjak namanya naik daun, Gwen kerap diundang ke berbagai stasiun televisi. Puncaknya saat beberapa hari yang lalu salah satu staff dapur kerajaan memberinya undangan kehormatan untuk memasak di dapur istana.
“Satu lagi, Mom.”
“Ada apa?”
“Pria rupawan yang waktu itu datang dan bertanya soal Lucciane. Boleh aku tahu namanya?” walaupun enggan, akhirnya Gwen kembali menyebut nama itu. Nama saudari tirinya.
“Untuk apa?” tanya Madam Gie sebelum menyeruput teh nya yang mulai dingin.
Gwen tanpa sungkan menjawab. “Aku tertarik pada pria rupawan itu.” Ia memang selalu blak-blakan pada sang ibu.
“Padahal Mommy ingin mengenalkan putra college Mommy yang bekerja sebagai staf administrasi kerajaan.”
“Siapa?” Gwen tampak tak berminat. “Aku lebih tertarik untuk mengenal pria yang terlihat tertarik pada adik tiriku.”
Alih-alih kaget, Madam Gie malah tersenyum bangga mendengarnya. “Namanya Lynn Asrahan, jika itu yang kamu mau tahu, sweetheart.”
Gwen dengan cepat menatap sang ibu. Kali ini dengan bola mata berbinar-binar. “Lynn?”
“Hmm. Mommy sempat mencaritahu identitasnya karena tiba-tiba dia mencari Lucciane. Dan hasilnya cukup memuaskan.”
“Maksud Mommy?”
“Dia pemilik perusahaan jasa professional. Namanya cukup terkenal, dia juga pria muda yang dermawan.” Madam Gie meletakkan cangkir keramiknya di atas meja dengan gerakan anggun. Salah satu daya pikatnya sejak muda adalah keanggunan. Sehingga pria sekelas Chef Gustaff saja yang setia tidak bisa move on darinya. “Kamu boleh mendekati pria muda itu untuk sekedar bersenang-senang. Dia lumayan menjanjikan.”
🦋🦋🦋
Sementara itu di belahan bumi lain, ada seorang gadis cantik yang tampak kesepian di antara keindahan alam yang terhampar di depan mata.
“Aku ingin pulang,” lirihnya sedih.
Angin kembali berhembus dengan lembut, seolah-olah anemoi—para dewa angin—Zefiros (angin barat musim semi) siap menghiburnya kapan pun.
“Sebenarnya aku ada di mana?” bingung Lucciane. Ya, gadis cantik yang tampak kesepian itu adalah Lucciane.
Semenjak ditinggalkan begitu saja oleh Luccane, ia hanya bisa meratapi nasib seraya sesekali menangis. Ia tentu saja sedih ditinggalkan begitu saja di tempat yang terpencil. Bahkan tidak ada satu pun mahluk hidup yang bisa menjadi temannya di sana. Di tambah lagi Lucciane masih kepikiran soal Lynn dan saudara-saudaranya. Belum lagi Lucy.
“Apa meraka baik-baik saja?” terka nya.
Selama berada di sini, Lucciane hanya bisa menerka-nerka dengan pandangan tertuju pada bentangan keindahan alam yang nyata di depan mata.
Saat ini Lucciane sedang duduk seraya memeluk lututnya sendiri di dekat danau yang airnya mengalir langsung dari sumber mata air pegunungan. Airnya jernih dan terasa sangat dingin, segar ketika mengenai kulit. Di sekitar Lucciane duduk juga tumbuh rumput-rumput liar yang begitu hijau, serta bunga-bunga liar. Salah satunya adalah aster. Walaupun tempat itu sangat un-real, saking indahnya dipandang mata, tak lantas menghibur Lucciane yang ingin segera pulang ke Luccane The Palace. Pasti ada banyak hal yang terjadi selama ia berada di sini.
Lucciane langsung terjaga saat mendengar ada suara lain yang menyapa. Ketika menoleh ke samping, betapa terkejutnya ia kala menemukan mahluk berparas cantik yang tidak menginjakkan kaki sama sekali pada tanah. Mahluk cantik yang memiliki rambut berwarna putih pirang itu terbang menggunakan sayap transparan berwarna putih kehijauan yang tumbuh di punggungnya.
“S-iapa kamu?” tanya Lucciane, takut-takut. Seumur hidup ia baru melihat mahluk yang mirip sekali dengan gambaran … fairies.
Di Inggris, peri berasal dari kata Elf yang menggambarkan mahluk mistis yang punya kekuatan gaib. Pada tahun 1500-an, peri dan Elf merupakan dua nama berbeda untuk penggambaran mahluk yang sama.
Elf dipercaya sebagai peri yang tugasnya membantu Sinterklas mempersiapkan hadiah natal. Dalam film The Lord Of The Rings yang sangat popular, ada kaum Elf yang menjadi ras langka. Mereka terkenal dengan ciri khas telinga yang runcing. Sedangkan dalam karya tulisan Tolkien, Elf dianggap sebagai mahluk abadi.
Peri sendiri atau disebut fairies biasanya digambarkan berwajah cantik dengan ciri khas rambut pirang. Mirip sekali dengan mahluk yang Lucciane temui sekarang.
“Seelie.”
“Apa?”
“Seelie, namaku. Nama kamu siapa?”
Lucciane tampak tertegun untuk beberapa saat. Sungguh, ia masih shock. “Lucciane.”
“Beautiful name,” jawab mahluk bersayap yang mengaku bernama Seelie tersebut. “Jangan takut. Seelie bukan peri jahat atau usil seperti yang lain. Seelie juga bagian dari Elves.”
“E-lves?” kebingungan Lucciane semakin bertambah.
“Pasukan peri,” jawab Seelie. “Elves dibagi menjadi dua, yaitu Seelie dan UnSeelie. Kebetulan nama Seelie diambil dari bagian pasukan peri.”
Lucciane tidak tahu harus memberikan respon apa. ini pertama kalinya ia bertemu dengan mahluk mitologi selain Luccane dan para penghuni Luccane The Palace yang merupakan vampir.
“Jangan takut, nona cantik. Seelie adalah utusan Raja. Seelie akan menemani kamu selama di sini. Mau berkeliling?” tawar Seelie, ramah dan ceria.
Lucciane menggeleng samar. “Raja yang kamu maksud … apakah Luccane?”
Seelie mengangguk seraya terbang lebih dekat, kemudian menginjakkan kakinya di atas permukaan tanah. “Raja vampir adalah penguasa yang hebat. Di sini dia sangat disegani, karena Raja vampir pernah menyelamatkan kaum kami ratusan tahun lalu.”
“Apa Luccane sering datang kesini?”
“Tidak,” jawab Seelie seraya menggelengkan kepala. “Mungkin sesekali datang bersama Sebastian,” lanjutnya. “Kamu tahu pria tua bernama Sebastian, ‘kan?”
Lucciane mengangguk sebagai jawaban.
“Walaupun tampan, dia itu sebenarnya sudah sangat tua. Mau tahu berapa usianya?”
Lucciane mengangguk, lantas menggeleng saat menyadari kekonyolannya.
“Akan aku beri tahu,” ujar Seelie seraya mengambil posisi duduk di samping Lucciane. Tubuh mungilnya terbalut mini dress berwarna hijau, sekilas terlihat mirip seperti kostum Tinkerbell. “Usia Sebastian itu sekitar … seribu lima ratus tahun.”
Lucciane terpaku mendengarnya. “Seribu lima ratus … tahun?”
“Iya.” Seelie mengangguk seraya tersenyum tipis. “Izinkan Seelie menemani kamu di sini, sampai Raja Vampir kembali untuk menjemput. Seelie bisa jadi teman bercerita dan pendengar yang baik.”
Dengan ragu Lucciane mengangguk. Mungkin, Seelie dapat dipercaya dan bisa menjadi temannya selama tertahan di tempat ini.
🦋🦋🦋
TBC
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 07-02-23