Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 70. Queen of Poisons


TRV 70. Queen of Poisons


“Hari ini cerah sekali,” gumam Lucciane saat membuka jendela kamarnya lebar-lebar.


Pagi itu ia baru saja kembali ke kamar lamanya untuk mengambil beberapa barang yang tersisa. Saat bangun di pagi hari, ia masih tidur di atas tempat tidur seorang diri. Entah kemana perginya Luccane pagi-pagi buta. Ia tidak menemukan jejak pria itu dimana pun. Alhasil Lucciane harus kembali memulai aktivitas seperti biasa, tanpa kehadiran vampir rupawan tersebut. Setelah mandi dan bersiap dibantu oleh La’ti, ia bergegas menuju kamar lamanya untuk mengambil beberapa barang.


“Apa itu?”


Lucciane berkata dengan pandangan terlempar jauh ke luar jendela. Sesekali rok vintage dress yang ia gunakan bergerak ke satu arah ketika tertiup angin yang masuk dari jendela.


“Lady mau kemana?” La’ti yang sedang memasukkan beberapa benda pada sebuah wadah agar mudah diangkut bertanya ketika melihat Lucciane bergerak. Gadis cantik itu memutari tempat tidur bergaya kanopi sebelum berjalan menuju pintu.


“Lady,” panggil La’tlagi.


“Aku ingin ke luar sebentar. Adai yang ingin aku pastikan,” jawab gadis pemilik rambut merah keemasan yang pagi itu tampak cantik dengan vintage dress model klasik berwarna lembut. Kakinya juga dibalut alas yang tidak berhak, sehingga ia bebas bergerak kesana dan kemari.


Di Luccane The Palace, Lucciane itu sudah seperti anak kecil yang tidak bisa diam. Walaupun ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, perpustakaan dan dapur, namun tak sedikit perubahan yang telah ia bawa pada Luccane The Palace. Selain La’ti dan Marry, ia juga sudah dekat dengan Elar serta pekerja yang lain. Semenjak menjadi soulmate Luccane, mereka bahkan semakin menghormati Lucciane. Justru karena hal tersebut, Lucciane yang sering merasa segan.


“Hati-hati, Lady.”


Senyum Lucciane berkembang saat ia bertemu Elar di depan pintu keluar. Ia hampir saja terjerembab jika Elar tidak menahan tangannya.


“Maaf, saya telah lancang menyentuh Lady.”


Lucciane menggelengkan kepala saat melihat Elar menunduk hormat dan meminta maaf hanya karena tidak sengaja .


“Saya akan menerima hukuman apapun yang diberikan my Lord, karena telah lancang menyentuh Lady Lucciane.”


“Tidak, tidak,” jawab Lucciane. “Luccane tidak akan menghukum kamu, karena menolongku.” Ia kemudian merendahkan tubuh, kemudian melakukan gerakan penghormatan ala gadis aristokrat. “Justru aku yang seharusnya berterima kasih.”


Setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Elar, Lucciane bergegas keluar dari area halaman di depan Luccane The Palace. Sesuatu yang ia lihat dari balik jendela berasal dari sebuah sudut di kebun bagian belakang. Entah hamparan apa, namun Lucciane dengan jelas melihat warna ungu. Padahal sebelumnya tidak ada hamparan biota atau abiota yang menimbulkan warta tersebut.


“Bunga?” lirih Lucciane ketika kakinya berhasil membawa ia ke tempat yang dimaksud.


Ternyata hamparan berwarna ungu yang ia lihat dari balik jendela kamar adalah hamparan bunga dengan kelopak berwarna ungu. Hamparan itu terdiri dari jenis tumbuhan berbentuk rumput-rumputan. Daunnya berbentuk menjari dengan tiap daun terdiri dari 5-7 bagian yang setiap bagian terdiri ladi dari 3 bagian kasar yang memiliki duri tajam. Ada pula lima daun yang berada di bagian belakang, membentuk helm berbentuk silinder.



.



Terdapat 2-10 daun bunga pada setiap tumbuhan berbentuk rumput-rumputan itu, dua di bagian atas berbentuk besar. Bunga-bunga itu terletak dalam satu kelompok yang ditopang oleh sebuah tangkai yang sangat panjang. Bunga-bunganya berwarna ungu, sangat cantik karena warnanya begitu pekat di antara daun-daun yang berwarna hijau.


“Cantik sekali,” puji Lucciane seraya merendahkan tubuh. Ia memutuskan untuk berjongkok, supaya bisa melihat bunga-bunga itu dengan benar.


Bunga-bunga tersebut tumbuh di area dekat dinding beton yang melindungi Luccane The Palace. Baru kali ini Lucciane melihat bunga-bunga tersebut bermekaran. Mungkin bunga-bunga itu bijinya dibawa oleh burung, kemudian jatuh lalu tumbuh di sana.


“Apa aku boleh memetik bunga-bunga ini?”


Lucciane gundah sendiri. Tangannya suka gatal jika melihat bunga-bunga cantik yang tumbuh liar. Ingin sekali memetik, kemudian merangkai nya menjadi rangkaian bunga yang cantik untuk menghiasi ruangan di dalam rumah.


“Mungkin jika aku memetik beberapa tangkai tidak akan jadi masalah,” pikir Lucciane. “Kalau begitu ….”


“Jangan berani-berani menyentuh bunga itu, little mate.”


Lucciane tidak sampai selesai mengucapkan kalimatnya, karena dipotong oleh suara berat milik seorang yang begitu familiar di indra pendengaran. Ketika ia berbalik, secara cepat tubuhnya bergerak masuk ke dalam rengkuhan pria rupawan yang tubuhnya mengeluarkan aroma segar wood dan citrus.


“Kau tidak apa-apa?” alih-alih menjawab, pemilik nama tersebut langsung meneliti tubuh belahan jiwanya dari atas sampai bawah ketika pelukan mereka melonggar.


“Aku baik-baik saja,” jawab Lucciane dengan raut bingung. “Memangnya ada apa?”


Luccane lagi-lagi tidak menjawab, namun ia kembali menunjukkan love language lewat physical touch. Berupa kecupan singkat yang jatuhkan di pucuk kepala little mate-nya.


Lucciane malah semakin dibuat kebingungan dengan perilaku Luccane. Tak berselang lama, Lucciane menyadari sosok lain, selain Luccane tentunya. Ada La’ti, Marry, bahkan Sebastian juga. Ada apa sebenarnya?


“Beautiful lady tidak apa-apa, my Lord. Selama kandungan toksin di dalam bunga itu tidak masuk ke tubuhnya.”


Sebastian suara setelah mengambil langkah maju. Mendekat ke arah hamparan bunga cantik berwarna ungu yang tadi mencuri perhatian Lucciane.


“Tetap saja tumbuhan itu berbahaya,” balas Luccane. “Segera musnahkan. Jangan sampai tersisa satu pun.”


“Tunggu, tunggu.” Lucciane bergerak, menatap Luccane, kemudian Sebastian. “Kenapa … bunganya harus dimusnahkan?”


“Karena bunga-bunga ini berbahaya, lady,” jawab Sebastian.


“Dengarkan perkataannya,” dukung Luccane. “Bunga itu beracun,” tambahnya seraya membawa pinggang ramping sang belahan jiwa supaya pemiliknya tidaknya sebuah berada jauh darinya.


“Berbahaya? Beracun?” kebingungan Lucciane semakin berlipat. “Bunga secantik itu … berbahaya?”


Sebastian tersenyum seraya mengangguk kecil. “Don’t judge a book by its cover,” balasnya. “Bunga cantik ini bernama anconitum. Dikenal juga dengan julukan queen of poisons, monkshood, wolf’s bane, leopard’s bane, devil’s helmet dan masih banyak lagi. Nama-nama itu diberikan bukan tanpa alasan, melainkan karena bunga cantik ini mengandung sejumlah besar racun mematikan bernama alkaloid pseudaconitine.”


Raut keterkejutan tergambar jelas di wajah Lucciane yang kini semakin merapatkan tubuh pada Luccane. “Jadi begitu …”


“Benar, beautiful lady. Bunga ini juga menjadi lambang kebencian dan ungkapan untuk berhati-hati.”


Lucciane benar-benar baru tahu jika bunga cantik bernama anconitum itu berbahaya. Bunga berwarna ungu itu dijuluki queen of poisons atau ratu beracun. Bahkan bunga cantik tersebut juga menjadi lambang kebencian dan ungkapan untuk berhati-hati. Setelah mendengarkan penuturan Sebastian, bunga cantik satu itu masuk ke dalam daftar bunga berbahaya, bersama Oleander, Wisteria, dan Lily of the Valley. Tanaman asli dari kawasan Eropa Barat dan Eropa Tengah itu bahkan dijuluki sebagai wolf’s bane, karena tanaman ini dahulu digunakan sebagai racun untuk membunuh rubah.


“Kenapa bunga berbahaya itu tiba-tiba ada di Luccane The Palace?” gumam Lucciane, masih terheran-heran.


Ia langsung dibawa masuk ke Luccane The Palace pasca Luccane memerintahkan Sebastian untuk segera memusnahkan bunga-bunga anconitum tadi. Sampai sekarang ia masih penasaran, kenap tiba-tiba bunga anconitum itu ada di Luccane The Palace. Apa mungkin bunga itu sengaja dikirim oleh seseorang?


“Tidak perlu terlalu dipikirkan.”


Saking larutnya dalam perang batin, Lucciane sampai lupa jika sekarang ia sedang bersama siapa. Bahkan ia sudah tidak duduk di atas permukaan empuk, melainkan duduk di atas pengakuan vampir berwajah rupawan.


“Kau aman selama berada di dalam Luccane The Palace,” imbuh vampir rupawan itu seraya membawa tubuh mungil Lucciane ke dalam rengkuhan.


Dengan perbedaan tinggi badan yang sangat kentara, membuat vampir rupawan itu mudah merengkuh sang belahan jiwa. Ditambah lagi dengan tubuh sekecil itu, ia jadi semakin berambisi untuk bisa melindungi.


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



...


Tanggerang 06-03-23