Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 88. Hukuman bagi para penghianat


TRV 88. Hukuman bagi para penghianat


“Sekarang kalian mengerti?”


Empat dari lima Regent—pemimpin wilayah bagian Hutan kegelapan—yang tersisa mengangguk patuh, tanpa bantahan sedikitpun setelah melihat salah satu rekan mereka berubah menjadi abu dalam hitungan detik. Jika ada yang berani membantah, mungkin nasib mereka juga akan berakhir sama. Berubah menjadi abu, kemudian menghilang dari earth.


“Kerjakan tugas kalian dengan benar. Jangan sampai masalah seperti ini terulang kembali.” Suara deep bass milik Raja Vampir kembali terdengar. Memberikan perintah yang tidak bisa dibantah.


“Yes, my Lord.”


Mereka yang mengambil wujud beraneka ragam, serempak menjawab. Sebelum menghilang begitu saja di depan mata sang Raja Vampir beserta antek-anteknya; Sebastian—selaku tangan kanan, serta Lynn—selaku anggota baru di Luccane The Palace yang telah membuat ikrar akan setia bekerjasama dengan keturunan de Khayat terakhir.


Sekarang hanya tersisa mereka bertiga, Luccane, Sebastian dan Lynn di ruangan dengan pencahayaan minim tersebut. Tempat yang menjadi penyimpanan ratusan guci berwarna putih yang berisi abu dari para pengkhianat. Mereka yang gugur karena kedapatan membelot, lalai menjalankan tugas, akan berubah menjadi abu dalam sekejap. Itu adalah salah satu kelebihan serta kekejaman seorang Luccane de Khayat.


Luccane tak akan segan-segan membunuh para penghianat dalam sekejap, setelah memberikan mereka rasa sakit yang tak tertandingi. Agar sebelum mereka pergi, mereka merasakan akibat dari perbuatan mereka.


“Sebastian.”


“Yes, my Lord.”


“Kira-kira berapa lama lagi Laelaps itu menjalankan rencananya?”


Pria rupawan yang tampil dengan setelan formalnya—tailcoat suit hitam tampak berpikir untuk sejenak. “Kemungkinan besar dalam waktu dekat ini, mengingat kekuatan Laelaps akan meningkat ketika earth menjadi gelap gulita,” katanya kemudian. “Namun, jika rencana utamanya berkaitan dengan beautiful lady, saya yakin Laelaps itu akan menjalankan rencana saat bulan purnama.”


Luccane satu pikiran dengan Sebastian. Jika tujuan Laelaps adalah kekuatan individual, maka puncak dari rangkaian rencana yang telah ia susun matang adalah ketika terjadinya gerhana matahari total—kondisi ketika posisi matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis lurus, sehingga cahaya matahari tertutup sepenuhnya oleh bayangan bulan. Namun, jika target utamanya masih titisan The Goddess, maka Laelaps pasti akan menjalankan puncak rencananya pada saat terjadi gerhana bulan—kondisi dimana sebagian atau keseluruhan bayangan umbra bumi menutupi bulan, sehingga matahari, bumi, dan bulan berada tepat di satu garis yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan.


Hingga saat ini dua kemungkinan tersebut masih dipertimbangkan. Oleh karena itu, selagi mempersiapkan diri, mereka memutuskan untuk membuat jadwal jaga. Bagaimana pun juga belakangan ini kondisi kemanan hutan kegelapan butuh penjagaan ekstra.


“Kembali jalankan tugas kalian masing-masing,” kata Luccane. “Selagi aku tidak ada di Luccane The Palace, maka dia yang akan menjaga mate ku.”


Luccane menunjuk Lynn lewat tatapannya. Di samping tempatnya berdiri, Sebastian tampak tersenyum tipis ketika melihat keterkejutan di wajah Lynn.


“Kau adalah pelindung titisan The Goddess yang telah dipilih Moon Goddess. Jaga mate ku selagi aku tidak ada di tempat ini.”


Lynn maju satu langkah. “Aku pasti akan menjaga Lucciane dengan seluruh kekuatanku.”


“Hm. Itu memang sudah menjadi kewajiban mu,” sahut Luccane sebelum membalik badan, siap meninggalkan ruangan. “Sebastian.”


“Yes, my Lord.”


“Minta pelayan untuk menyimpan semua kebutuhan little mate ku di depan pintu. Jangan berani-berani membangunkan tidurnya,” pesan sang Lord.


“Baik, my Lord.”


“Satu lagi, siapkan ramuan yang waktu itu kau pelajari. Sebentar lagi ramuan itu akan dibutuhkan little mate ku.”


Sebastian tampak terdiam untuk sejenak. Ramuan “waktu itu” yang dimaksud oleh Luccane adalah ramuan kuno yang sempat ia pelajari. Ramuan kuno itu bermanfaat untuk menetralisir efek dari timbulnya kekuatan titisan reinkarnasi The Goddess. Dikarenakan buku yang mencatat bahan-bahan serta step by step pembuatan ramuan itu sudah hangus terbakar, Sebastian pun belajar membuatnya ulang bermodalkan ingatan. Dulu ia sempat membaca buku yang mencatat soal ramuan tersebut.


Jika Luccane berkata demikian, itu sebentar lagi kekuatan Lucciane akan kembali. Jika kekuatan reinkarnasi titisan The Goddess sudah kembali, maka gadis yang sempat dianggap “beban” itu tidak perlu lagi perlindungan dari orang lain. Karena ia sendiri lebih dari mampu untuk melindungi dirinya sendiri serta orang lain yang ia cintai.


“Sudah bangun, hm?”


Dengan gerakan halus jemari kekar milik Luccane menyentuh sisi-sisi wajah mungil mate-nya yang baru saja membuka mata. Ketika gadis cantik bernetra biru itu menatap ke arah jendela, ia bisa melihat matahari yang telah meninggi.


“Jam berapa ini? kenapa La’ti tidak membangunkan aku? Tumben sekali,” celotehnya seraya beranjak dari tempat tidur. Karena gerakan yang spontan, surai merah keemasan miliknya sampai terguncang kesana-kemari.


“Aku yang meminta mereka untuk tidak menganggu tidur mu,” jawab si empunya ruangan.


“Kenapa?” tanya Lucciane seraya mengumpulkan surai merah keemasannya jadi satu. Setelah berhasil, ia pun mengambil ikat rambut yang ada di meja dekat tempat tidur untuk mengikatnya. Namun, gerakan tersebut ditahan oleh Luccane. “Ada apa?” tanyanya, bingung.


“Jangan ikat rambut mu,” perintah Luccane.


“Kenapa? aku harus segera mandi. Jika tidak diikat, rambutku akan basah.” Rambut merah keemasan Lucciane itu sehat dan lebat. Panjangnya sekarang sudah menyentuh pinggang. Jika tidak diikat atau dicempol, maka rambutnya akan basah jika dibawa mandi.


“Ikat saja ketika hendak mandi, kemudian gerai lagi.” Luccane berkata seraya menyentuh sisi kanan leher sang mate.


Bukan tanpa alasan ia meminta demikian, takutnya sang mate akan shock atau malu ketika melihat beberapa mark yang ia tinggalkan di tempat terbuka. Gadis cantik itu pasti belum menyadarinya.


“Di sini, sini, sini, dan sisi ini, ada mark yang aku tinggalkan sebagai hukuman,” ujar pria rupawan tersebut dengan santi.


Kontan, dalam waktu beberapa detik wajah cantik Lucciane langsung bersemu merah. Ia hampir saja melupakan “hukuman” yang diberikan oleh Luccane. Buru-buru ia melepaskan rambutnya yang telah dikumpulkan menjadi satu, agar mark itu tersamarkan.


Melihat tingkah tersebut, Luccane dibuat tersenyum. Tingkah little mate-nya memang sangat menggemaskan. Tangannya kemudian turun, hendak meraih punggung tangan sang mate. Namun, ketika jemari mereka bersentuhan tanpa penghalang, ada sengatan yang tiba-tiba tercipta. Membuat keduanya terperanjat kecil dengan raut wajah keheranan.


“Apa … kamu merasakannya?” tanya Lucciane. “Kita baru saja … tersengat listrik?”


“Bukan,” jawab Luccane seraya tersenyum tipis. “Itu adalah reaksi yang umum terjadi, ketika pasangan soulmate saling mengenali.”


“Saling mengenali? Bukannya kita sudah saling mengenal sejak lama?” kebingungan Lucciane semakin bertambah akibat perkataan Luccane.


“Saling mengenali energi yang kita miliki,” jelas Luccane. “Rasa tersengat itu akan muncul jika salah satu di antara sepasang soulmate ada yang baru saja menemukan kekuatan murni dalam dirinya.”


Lucciane tampak berusaha keras mencerna ucapan Luccane, sampai keningnya berlipat-lipat. Melihat itu Luccane tersenyum tipis, kemudian memberikan satu kecupan singkat di tempat tersebut.


“Tubuh mu juga baru menemukan kekuatan murni itu, little mate.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa mampir ke cerita Author yang sedang on going satu ini 👇



Tanggerang 16-05-23