
“Luccane?”
Panggilan dari suara lembut itu terdengar untuk kesekian kalinya. Ketimbang dipanggil dengan embel-embel formal seperti gelar kebangsawanan yang menjadi nama depannya, Luccane lebih suka namanya dipanggil demikian. Just Luccane. Asalkan dipanggil oleh suara lembut gadis pemilik surai merah keemasan yang sudah mencuri etensi semenjak pertama kali lahir ke dunia. Luccane sudah menandai cintanya pada gadis pemilik iris biru itu semenjak Newborn.
Luccane sudah merasakan ikatan benang merah yang terjalin di antara mereka semenjak gadis itu lahir. Mungkin jika dalam ras werewolf, disebut Mate bond. Perasaan yang dirasakan setiap werewolf ketika bertemu dengan soulmate-nya. Disebut Mate bond karena ikatan suci ini hanya dirasakan oleh pasangan soulmate saja.
“Apakah terasa sakit sekali?”
Luccane menggeleng lemah seraya meraih telapak tangan Lucciane. Ia bawa telapak tangan mungil itu ke depan mulut, untuk kemudian dikecup.
“Apa kau tahu? Berapa lama aku menunggu saat-saat seperti ini denganmu?”
Lucciane menggelengkan kepala dengan raut cemas yang masih tercipta. Sebastian baru saja memindahkan Lynn entah kemana. Namun, yang pasti Lord vampir itu masih bisa bertahan hidup, jika mendapat penganan yang tepat. Itu saja pesan yang Sebastian tinggalkan. Untuk saat ini Lucciane hanya bisa fokus pada Luccane, walaupun sebenarnya ia juga cemas akan kondisi Lynn. Bagaimana pun juga mereka terlibat pertarungan karena dirinya.
“Seumur hidup,” tambah Luccane. “Si*lnya sekarang aku berada dalam kondisi sekarat. Mungkin sebentar lagi …”
“Jangan bicara sembarangan,” potong Lucciane. Ia tidak suka jika ada yang bermain-main dengan maut. “Sebastian pasti tahu cara untuk menyembuhkan kamu.”
“Ada satu cara,” ucap Luccane. “Namun, cara itu bisa membuat siapapun yang melakukannya kehilangan kebebasan untuk hidup layaknya manusia biasa.”
Lucciane terdiam mendengar ucapan Luccane. Ia masih mencoba mencerna maksud dari ucapan Luccane. Memang cara apa yang dapat digunakan untuk menolong Luccane? Dengan konsekuensi harus kehilangan kebebasan hidup layaknya manusia biasa. Lucciane tidak mengerti.
“Bagaimana kondisi Anda, My Lord?”
“Sebastian,” respon Lucciane, lega. Vampir berusia 1.500 tahun itu baru kembali setelah cukup lama pergi. “Kondisi Luccane semakin memburuk,” ujar Lucciane mewakili. Ia bisa melihat kulit Luccane semakin pucat dan dingin seperti bongkahan es.
“Para Lord vampir memang biasa mengoleskan racun khusus pada senjata mereka.” Sebastian mendekat, lalu berlutut di samping tubuh Luccane yang berada dalam dekapan Lucciane. Untuk sejenak ia hanya bisa terdiam memandang luka-luka yang menghiasi tubuh sang Lord. Bayang-bayang kondisi yang sama terjadi pada ayah serta tuannya yang pertama, yaitu Luciano de Khayat, berhasil membuat tangannya terkepal. “Tidak ada penawar yang mampu mengobati luka jenis ini,” imbuhnya.
Nada bicara Sebastian yang biasa, cenderung terdengar bersahabat dan lebih ‘hangat’, kali ini telah sirna. Ada muram yang menghiasi nada bicaranya.
“Aku tidak butuh penawar, Sebastian.” Luccane buka suara sebelum membawa wajah rupawannya menghadap bagian perut Lucciane. “Aku akan segera pergi ke Valinóë.”
Baik Sebastian maupun Lucciane terdiam mendengarnya. Mereka, sebagai orang-orang “terdekat” Luccane tentu saja tidak terima dengan pernyataan tersebut. Mereka tidak rela Luccane kembali begitu saja ke Valinóë.
“Kamu bilang ada satu cara. Katakan kepadaku, bagaimana caranya?” desak Lucciane. “Kamu sudah menunggu kelahiranku selama ini. Lalu kamu akan pergi begitu saja saat aku berada dalam jangkauanmu?”
Luccane tidak menjawab. Ia memilih menikmati rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya seraya menghirup aroma khas gadisnya.
“Luccane.” Lucciane memanggil lagi.
“Hm.”
“Katakan, bagaimana caranya?” desak Lucciane seraya menyentuh sisi-sisi wajah rupawan raja vampir tersebut, agar menatap ke arahnya. Betapa terkejutnya Lucciane saat melihat bias pucat yang semakin menjadi. “Jika kamu tidak mau mengatakannya …” Lucciane memotong kalimat. “Kamu pasti tahu apa cara yang Luccane maksud bukan?” kali ini pertanyaan tersebut ditujukan pada Sebastian.
Sebastian mengangguk tanpa kebohongan. Ia juga tidak mau sang Lord mati sia-sia. Toh, hanya ada satu cara yang bisa dilakukan untuk saat ini. “Cara yang bisa digunakan hanya …”
“Lucciane!”
Kalimat Luccane terpotong oleh suara lain yang terdengar familiar di telinga Lucciane. Mereka pun kompak menoleh ke arah sumber datangnya suara tersebut.
“Lynn?” gadis cantik itu menyipitkan mata saat melihat siluet seseorang berpakaian serba putih, khas era Victorian sedang berjalan mendekat.
“Lucciane, aku datang untuk menjemput kamu.”
Suara itu kembali terdengar. Kali ini berhasil membuat Lucciane yakin seratus persen. “Itu … benar-benar kamu, Lynn?” tanya Lucciane.
Sekarang bukan lagi siluet yang tampak di mata mereka, namun jelas-jelas wajah Lynn, sang leader dari Lord vampir yang tersisa di muka bumi. Ia tampak sehat dan bugar, tidak lemah dan sekarat seperti saat Sebastian memindahkannya ke suatu tempat.
“Kau … bagaimana bisa?” kali ini Luccane yang angkat bicara. Ia sadar betul jika Lord vampir satu itu juga berada dalam kondisi sekarat pasca mendapat luka dari pedang legendaris milik sang ayah. Namun, bagaimana bisa sekarang kondisi Lord vampir itu terlihat baik-baik saja.
“Maaf membuatmu kecewa, namun aku adalah vampir murni yang mendapatkan berkat dari para Elder vampir. Mereka memilihku sebagai pasangan titisan The Goddess berikutnya. Jadi, aku dibekali kekuatan untuk bertahan hidup dua kali lebih kuat dari ras vampir lainnya.”
Lynn baik-baik saja. Kondisinya sangat bugar. Tidak ada yang berubah darinya, hanya pakaian yang kini berganti menjadi serba putih. Layaknya seorang pangeran dari negeri yang suci.
“Jadi kau menggunakan tipu muslihat untuk bertarung dengan My Lord,” ujar Sebastian tiba-tiba. Ikut angkat suara. “Aku pernah mendengar jika ada seorang Lord vampir yang bisa menggunakan dua raga dengan satu jiwa. Jadi desas-desus itu benar?”
Lynn tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. “Tebakan itu kurang tepat.” Lynn kembali berjalan, lebih dekat pada mereka. Kondisi Luccane yang tidak berdaya akan ia manfaatkan untuk membawa Lucciane pergi. “Lucciane, ayo kita pergi. Aku datang untuk menyelamatkan kamu.”
Lucciane menatap Lynn dengan sorot mata tidak terbaca. Kedua tangannya masih merengkuh Luccane yang sesekali mengeram kesakitan. “Kamu … melakukan sejauh ini demi aku, Lynn?”
“Ya. Tentu saja. Ini semua aku lakukan agar kamu bisa keluar dari cengkraman raja vampir,” balas Lynn. “Ada kehidupan yang bebas di luar sana. Aku akan membawa kamu menuju kehidupan itu. Tempat di mana kamu bisa hidup bebas, serta mengambil alih La Vie En Rosé dan apapun yang telah diperuntukkan untuk menjadi milik kamu.”
Tawaran itu terdengar menggiurkan. Sama seperti tawaran yang pertama kali Lynn sodorkan. Namun, Lucciane marasa berat guna meraih tawaran tersebut. Saat menunduk, ia menemukan Luccane. Pria yang menunggu kelahirannya sejak lama. Mahluk immortal yang katanya telah terikat benang takdir dengannya.
“Aku … tidak bisa ikut,” lirih Lucciane. “Aku akan pulang ke Luccane The Palace,” tambahnya dengan keyakinan. “Tempat dimana seseorang yang telah menunggu kelahiranku tinggal.”
Lynn terkejut. Tentu saja. Mendapati penolakan Lucciane benar-benar bukan bagian dari rencana yang telah ia susun. Di sisi lain, Sebastian bisa menghela napas sedikit lega. Setidaknya benang merah yang menjerat sang Lord dengan gadis itu telah bekerja dengan semestinya.
“Aku tidak akan pergi tanpa dia,” gumam Lucciane seraya merengkuh tubuh Luccane. “Aku mohon, bertahanlah.”
Melihat interaksi tersebut, Lynn semakin merasakan “penolakan” yang ia dapatkan. Walaupun begitu, ia juga tidak bisa membawa Lucciane dengan paksa. Lucciane punya hak untuk memutuskan.
“Packlink?”
Seperti Lucciane yang baru saja buka suara dengan raut bingung, Lynn juga tampak terhenyak mendengar kata tersebut keluar dari mulut Sebastian. Seolah-olah kata itu sangat “haram” diucapkan, apalagi sampai didengar oleh Lucciane.
“Tidak,” cegah Lynn. “Kamu tidak bisa melakukan packlink dengan raja vampir, Lucciane.”
“Tidak ada yang membutuhkan pendapatmu di sini,” sahut Luccane seraya beranjak. Dalam sekejap mata, ia menciptakan bola-bola api dari kedua tangan kosongnya. “Enyah dari hadapanku, Lord vampir sial*n.”
Setelah berkata demikian, Sebastian melancarkan serangan. Menyerang Lynn yang juga sudah memasang kuda-kuda. Lucciane tentu terkejut. Apalagi ia baru melihat Sebastian dalam kondisi seperti itu. Maksudnya, baru pertama kali ia melihat Sebastian terpancing. Sampai-sampai mengeluarkan kata-kata kasar.
Pertarungan kembali terjadi. Kali ini di antara Sebastian, vampir tertua yang masih tersisa di bumi. Melawan Lynn, satu-satunya leader Lord vampir yang masih tersisa. Sedangkan Lucciane hanya bisa menonton keduanya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Di sisi lain, ia merasa menyesal karena kelahirannya benar-benar membawa kepelikan antara sesama ras.
“Kumohon berhentilah, Sebastian. Katakan dulu apa yang harus aku lakukan,” panggil Lucciane dengan air mata yang kembali berderai.
Sebastian yang punya pendengaran sangat peka, menolehkan kepala. Ketika Lynn lengah, ia melayangkan pukulan yang berhasil memukul mundur Lord vampir muda itu untuk sementara waktu.
“Packlink adalah proses pertukaran darah yang biasa dilakukan ketika upacara penerimaan anggota baru dalam sebuah pack werewolf. Caranya adalah menukar darah antara anggota baru dengan sang Alpa.” Sebastian menjelaskan dengan segera.
Pack* : kelompok serigala.
Lucciane mengangguk mendengarnya.
“Sedangkan packlink dalam ras Vampir disebut bloody Feeding, pertukaran darah antara sepasang soulmate yang sudah mengklaim dengan mark. Caranya adalah membiarkan My Lord menghisap darah Anda yang telah ditandai dengan mark.”
“A-pa itu mark?”
“Mark adalah tanda yang telah ditinggalkan seorang vampir pada soulmate-nya.” Sebastian sudah dalam posisi siap saat Lynn telah kembali. “Leher Anda, waktu itu My Lord telah meninggalkan mark dalam bentuk k*ssmark. Mark itu meninggalkan simbol tak kasat mata yang membuat Anda bisa dikenali sebagai milik My Lord.”
Lucciane kontan menyentuh lehernya sendiri. Ternyata hisapan yang meninggalkan k*ssmark waktu itu bukan sembarang tanda ciuman. Melainkan ada maknanya bagi rasa vampir atau werewolf. Lewat tanda tersebut, ternyata tanda dibubuhkan untuk mengkalim belahan jiwa.
“Jika Anda sudah mengerti, Anda pasti tahu apa yang harus dilakukan, beautiful Lady.” Setelah berkata demikian, Sebastian kembali terlibat perkelahian dengan Lynn.
“Luccane,” panggil Lucciane. Ia sebisa mungkin fokus pada Luccane, bukan pada hal lain. “Luccane,” panggilnya lagi seraya mengusap rahang tegas pemilik wajah Adonis tersebut.
Geraman lirih tak lama kemudian terdengar, menjadi respon satu-satunya yang Lucciane lihat. Dengan respon itu saja, Lucciane bisa merasa sedikit lega. Setidaknya pria itu masih bisa merespon.
“Buka mata kamu, Luccane.” Lucciane menyentuh rahang pria itu perlahan, seraya mendekatkan wajahnya. “Kenapa kamu tidak memberitahu aku jika … penawar itu adalah darahku?”
Luccane membuka mata. Iris abu-abu kebiruannya menatap lekat wajah cantik sang gadis. “Jika kau melakukan packlink, kehidupan bebas mu akan sirna.”
“…”
“Kau akan terikat selamanya denganku,” tambah Luccane.
Lucciane meresapi kata-kata itu dengan baik. Ia sekarang tahu kenapa Luccane sempat tidak mau memberitahu satu-satunya ‘cara’ yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Itu karena pria itu … peduli akan kehidupan normalnya sebagai manusia. Namun, jika lewat packlink atau bisa disebut juga blood feeding (dalam ras Vampir) bisa menyelamatkan Luccane, Lucciane tidak akan keberatan. Setidaknya ia bisa menyelamatkan seseorang yang sudah menunggu kelahirannya sejak lama.
“Aku akan melepaskan kesempatan untuk hidup bebas seperti yang kamu maksud,” ucap Lucciane penuh dengan keyakinan. Kontak mata masih terjalin di antara mereka. “Asalkan kamu bisa selamat,” tambahnya penuh keyakinan.
“Do it,” titah Lucciane. “Kamu sudah meninggalkan Mark. Sekarang, lakukan lah.”
Luccane tampak menyunggingkan senyum tipis. Walaupun kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan, ia terbilang tenang untuk ukuran mahluk yang bisa kapan saja kembali ke Valinóë.
“You sure, little mate?” panggilan Luccane pada Lucciane berubah. Bola mata abu-abu kebiruan pria itu juga berubah. Kini diselimuti pigmen berwarna merah.
Lucciane mengangguk dengan mata yang terpejam. Degup jantungnya tiba-tiba menggila. Bersamaan dengan datangnya rasa tersengat listrik dari ujung jemari Luccane yang menyentuh kulitnya. Tubuhnya bereaksi berlebihan terhadap sentuhan pria rupawan itu.
“Setelah ini, kau benar-benar tidak akan bisa pergi dari sisiku. Kecuali jika mau telah bertindak.”
Lucciane tahu jika menjadi belahan jiwa atau soulmate mahluk immortal memiliki resiko yang sangat besar. Namun, sekali lagi ia katakan, ia siap menerima semua resiko tersebut asalkan Luccane selamat.
Luccane menggeram lirih ketika sudah begitu dekat dengan posisi di mana ia meninggalkan mark. Tanda itu tampak menyala dengan aroma kuat yang tercipta. Menggoda indra penciumannya, membuat hasrat untuk segera meneguk darah suci dari sumbernya kian melonjak pesat. Tinggal beberapa senti lagi jarak di antara kulit dengan bibirnya, taring Luccane sudah tampak siap untuk merobek permukaan kulit mulus tersebut.
Sadar jika tubuh gadisnya menegang, Luccane mengarahkan satu tangannya untuk melingkupi punggung mungil Lucciane. Memberikan sentuhan lembut yang menenangkan. Saat tubuh mungil itu sudah lebih rileks, Luccane telah sepenuhnya mendaratkan bibirnya di permukaan kulit mulus tersebut. Taringnya siap mengoyak, menciptakan celah guna darah suci sang mate bisa ia hisap untuk pertama kalinya.
“You are mine, I'am yours.”
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 😘
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 17-02-23