Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 73. Serangan


“Mulai sekarang jangan pergi keluar tanpa pengawasan.”


Perintah itu dilayangkan oleh Luccane ketika belahan jiwanya baru saja berbaring di atas tempat tidur. Bukan tanpa alasan ia menyerukan perintah demikian, namun setelah ratusan tahun ayahnya meninggal, perisai tak kasat mata yang melindungi Luccane The Palace semakin melemah. Belakangan ini bermunculan mahluk berbahaya yang datang karena tertarik pada aroma titisan The Goddess yang semakin menguat. Maka tidak ada cara lain, selain lebih membatasi gerak-gerik sang belahan jiwa.


Luccane juga tahu bahwa belahan jiwanya itu akan merasa semakin terbatasi. Namun, ia melakukan semua ini demi keselamatan belahan jiwanya. Luccane berjanji, jika kondisi sudah jauh lebih kondusif, ia akan memberikan kebebasan untuk belahan jiwanya.


“Tidur lah. Aku akan menemani tidurmu.”


Lucciane mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia kemudian berbaring di samping pria rupawan itu, kemudian menarik selimut hingga sebatas perut. “Apa boleh aku bertanya sesuatu?”


“Hm. Tanyakanlah. Tidak ada yang melarang kau jika ingin bertanya.”


Lucciane tersenyum. “Hari ketika kamu pergi ke La Vie En Rosé. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?” Lucciane bertanya setelah mengubah posisinya menjadi berbaring menyamping. Menatap wajah rupawan pemilik Luccane The Palace.


“Tidak.”


Lucciane mengangguk kecil, kemudian lanjut bertanya. “Apa kamu bertemu gadis bernama Lana? Dia temanku.”


Sekali lagi, Luccane menjawab dengan singkat seraya mengangkat tangan. Tangan itu kemudian bermukim di pucuk kepala sang belahan jiwa. “Tidak.”


Kening Lucciane berkerut. “Lalu kamu dan Sebastian bertemu siapa di La Vie En Rosé?”


“Wanita yang mengenalkan diri sebagai saudari mu.”


Lucciane tertegun mendengarnya. “Gwen,” gumamnya. “Dia adalah putri Ayah bersama Madam Gie. Hasil dari hubungan gelap Ayah di belakang Ibu.”


Tangan Luccane bergerak turun, lalu meraih rahang kecil sang belahan jiwa supaya mendongkrak ke arahnya. “Tidak perlu bercerita tentang sesuatu yang dapat menyakiti dirimu,” ucapnya dengan ibu jari menelusuri bibir merah alami milik sang belahan jiwa. “Ceritakan saja sesuatu yang membuatmu bahagia.”


Lucciane mengangguk seraya tersenyum tipis. “Dulu aku sering berkunjung ke Vauxhall gardens bersama Ibu,” cerita Lucciane. Mengiyakan permintaan Luccane tentang momen yang membuatnya bahagia ketika bercerita. “Ibu suka sekali duduk di sana seraya menikmati pemandangan sungai Thames,” lanjutnya. “Jika merasa lapar, kami akan mengunjungi restoran yang berada di tepian sungai Thames.”


Luccane bisa menjadi pendengar yang baik. Apalagi jika sang belahan jiwa yang tengah bercerita. Gadis cantik itu sepertinya kerap bepergian bersama mendiang ibunya. Luccane tak merasa heran, karena pada masa kejayaan Chief Gustaff, keluarga belahan jiwanya sempat menikmati hidup dengan bergelimang harta. Namun, semua tidak bertahan lama semenjak Chef Gustaff memasukkan mistress—wanita simpanan—nya sendiri ke kediaman mereka.


Dari banyaknya tempat di London, ternyata Vauxhall gardens yang awalnya dikenal sebagai new spring gardens, merupakan tempat yang paling Lucciane kenang. Taman umum di Kennington, London Borough of Lambeth, Inggris, itu terletak di tepi selatan sungai Thames. Sebuah taman kesenangan dan salah satu tempat terkemuka untuk umum hiburan dari pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19. Vauxhall gardens sendiri terdiri dari beberapa hektar pohon dan semak dengan jalur pejalan kaki yang menarik.


“Kau ingin ke sana?”


“Kemana?” tanya Lucciane ketika tengah mencari posisi berbaring paling nyaman.


“Vauxhall gardens.”


“Tentu saja.” Lucciane menjawab tanpa berpikir dua kali. “Akan tetapi, aku lebih ingin mengunjungi La Vie En Rosé. Tempat itu lebih banyak menyimpan kenangan bersama Ayah dan Ibuku.”


Luccane tahu jika perasaan mahluk bernama perempuan memang sulit dimengerti. Bahkan bagi dirinya yang terbukti sebagai raja vampir yang tidak memiliki cela dari segi kecerdasan. Tetap saja, terkadang ia kesulitan memahami sang belahan jiwa. Misalnya seperti saat ini. Belahan jiwanya itu terlihat sekali ingin mengunjungi La Vie En Rosé. Tempat yang interior bangunannya didominasi oleh warna merah muda itu seperti menyimpan banyak kenangan baginya. Padahal di sana jelas-jelas masih ada sumber dari kehancuran yang menimpa keluarganya.


“Tunggu lah sebentar lagi,” kata Luccane ketika wajahnya merunduk. Mendekat ke arah sang belahan jiwa. “Ketika sudah tiba waktunya, aku sendiri yang akan membawa mu keluar dari Luccane The Palace.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Luccane meraup bibir kemerahan sang belahan jiwa yang tampak menggoda.


Sebagai mahluk yang memiliki hasrat, benda lunak itu menjadi spot favorit urutan kedua setelah bagian leher. Luccane bisa menggila hanya karena dua spot favorit yang ada di tubuh belahan jiwanya itu. Jika saja ia tidak menghargai keputusan sang belahan jiwa, ia pasti sudah melakukan “itu” sejak lama untuk mengklaim belahan jiwanya secara penuh. Namun, Luccane bukan lah hewan liar yang tidak bisa mengendalikan diri. Lebih baik ia menunggu, ketimbang harus memaksa sang belahan jiwa. Luccane tidak mau belahan jiwanya itu berakhir tersakiti.


“Biarkan aku bernapas,” jawab Lucciane disela-sela kegiatannya meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Luccane yang melihat itu baru sadar jika durasi ciuman mereka sudah terlalu lama. Sampai-sampai sang belahan jiwa kehabisan napas. Senyum tipis tersungging di bibir kala melihat bagaimana cara sang belahan jiwa mengatur napas, pasca meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


“Aku bahkan belum menggunakan lidah, tapi kau …”


“Stop it!” potong Lucciane dengan wajah merah padam. Bisa-bisanya, Luccane berkata vulgar seperti demikian dengan gamblang. Walaupun tidak ada siapa-siapa di sana, tetap saja Lucciane merasa malu.


“Kenapa harus malu?” Luccane bertanya seraya tersenyum lebih jelas. Di mata Lucciane, itu adalah sebuah kemajuan.


Luccane itu sangat minim ekspresi. Ia hanya kerap menunjukkan ekspresi “suka” dan “tidak suka” sebagai bentuk sebuah respon. Selebihnya Luccane hanya akan menunjukkan ekspresi datar, dingin, berkesan verry untouchable.


“Ini milikku,” katanya seraya menyentuh bibir kemarahan Lucciane yang warnanya semakin kentara berwarna merah. “Mine,” tekannya lagi seraya menarik jarak di antara mereka. Melabuhkan satu ciuman lagi. “Mine too,” tambahnya lagi ketika ia berpindah ke bagian leher. Menciptakan satu mark lewat hisapan kuat.


Setelahnya ia baru menarik diri. Memperlihatkan senyum bangga atas apa yang telah ia klaim. “You look so pretty with my mark.”


Lucciane menggerutu kecil seraya memukul ringan dada bidang Luccane. “Mesum,” katanya seraya memeluk dada bidang vampir rupawan itu. Bukannya menjauh, ia malah kian menenggelamkan wajahnya dalam pelukan tersebut.


“Yeah, it’s me,” sahut Luccane seraya membalas pelukan tersebut. “Good night. Sweet dream, little mate,” tambahnya seraya mengelus punggung mungil little mate-nya.


Gadis cantik itu akan lebih mudah tertidur jika diperlakukan demikian.


“Aku akan segera kembali,” bisik Luccane ketika little mate-nya sudah benar-benar terlelap dalam damai. Ia tidak bisa segera memenuhi janjinya untuk menemani gadis itu tidur sampai terbangun lagi. Ada urusan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.


“Sebastian,” panggilnya ketika sudah berada di luar ruangan.


“Yes, my Lord.” Sang pemilik nama menjawab. Ia tampak sedang mengamati sesuatu dari tempatnya berdiri.


“Bagaimana kondisi di luar?”


“Sedikit mengkhawatirkan,” jawab Sebastian.


Luccane bisa paham dengan mudah hanya dengan dua kata tersebut. Toh, matanya masih berfungsi dengan baik. Ia bisa melihat bagaimana para Proscris Vampire berkerumun di sekitar pagar Luccane The Palace.


“Bereskan tikus-tikus itu sebelum mate-ku terbangun.”


“Yes, my Lord.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author Kaka Shan. IG Karisma022 😘


Tanggerang 09-03-23