Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 56. Seperti Pasangan Normal


“Apa yang kau cari semalam di perpustakaan?”


“Tidak ada,” jawab gadis cantik yang sedang membantu pemilik Luccane The Palace itu menggunakan pakaian formal nya. Kancing demi kancing telah ia bantu pasangkan, sesuai keinginan pria rupawan itu.


Ketika bangun di pagi bukan berada di ruangan yang menjadi kamarnya, Lucciane tidak merasa kaget lagi. Ini kali kedua ia bangun di tempat tidur Luccane. Masih dengan si pemilik ruangan yang ada di sampingnya. Tak seperti biasa—Lucciane langsung kembali ke kamarnya pasca bangun tidur atau sarapan—kali ini ia bahkan mandi di kamar mandi yang tersedia di kamar pria itu. Hampir semua kebutuhannya juga telah tersedia di sana.


“Omong-omong, kenapa semua barang-barang pribadiku bisa ada di sini?” tanyanya setelah memastikan pria rupawan pemilik mata abu-abu kebiruan itu selesai memakai mantel hitam yang melindungi pakaian formal-nya.


“Pelayan yang memindahkan.”


“Atas izin siapa?”


“Aku yang menyuruh mereka,” jawab Luccane dengan pandangan kini tertuju pada pantulan cermin yang mencetak bayangan mereka berdua. “Mulai sekarang kita berbagi ruangan, termasuk berbagi ranjang,” tambahnya dengan nada bicara yang tidak dapat diganggu gugat.


Lucciane yang pagi itu menggunakan vintage dress berwarna kombinasi, antara putih dan hijau lumut hanya bisa menurut. Surai merah keemasannya sudah kepang panjang dengan bantuan La’ti, kemudian diberi hiasan pita berwarna senada. Lucciane jadi penasaran, siapa yang mempersiapkan semua kebutuhannya selama tinggai di sini? Bahkan ketika baru tinggal di Luccane The Palace pun sudah ada pakaian yang ukurannya sesuai dengan ukuran pakaian yang biasa ia gunakan.


“Luccane.”


Pemilik nama yang baru saja dipanggil merespon singkat di balik tubuh mungil yang ia peluk dari belakang. “Ada apa?”


“Apa semua kebutuhanku kamu yang menyiapkan?”


Tanpa dusta pria rupawan itu menjawab, “tentu saja.”


“Tapi, bagaimana bisa semua ukuranya …” Lucciane menggantungkan kalimat dengan semburat merah yang mulai melingkupi wajah. “ …pas?”


“Apa yang tidak aku ketahui soal dirimu?”


Lucciane menghela napas kecil menyadari kebenaran dari perkataan tersebut. Luccane hidup lebih lama darinya. Pria itu sudah menunggu kelahirannya sejak ratusan tahun silam. Pantas saja jika Sekar ia bisa dengan mudah menyiapkan segala kebutuhan Lucciane.


“Lebih baik sekarang segera habiskan sarapan mu.” Luccane membalikkan tubuh belahan jiwanya, kemudian mengarahkan pemilik surai kemerahan itu pada meja kayu rosewood yang menjadi tempat disajikannya satu porsi sarapan pagi untuk Lucciane.


Kali ini Marry tidak menyiapkan sarapan pagi dengan menu terlalu berat bagi Lucciane. Wanita itu hanya menyajikan granola parfait—salah satu menu sarapan enak dari Eropa, lebih tepatnya Negara Swiss, serta Clatita dari Romania. Granola parfait sendiri adalah menu alternatif untuk sarapan yang tidak hanya enak, tetapi juga sehat. Menu sarapan sehat ini terbuat dari campuran buah segar, oat, serta kacang-kacangan.



Sedangkan Clatita adalah menu sarapan dari Romania yang sekilas mirip dengan pancake atau crepes yang biasa ditemukan di negara-negara Eropa. Clatita menjadi menu sarapan yang popular di Romania, karena bukan saja memiliki citarasa lezat, tetapi cukup mengenyangkan untuk dinikmati sebagai sarapan pagi. Clatita dari Romania biasa disajikan dengan berbagai jenis topping, mulai dari selai, potongan buah segar, madu, hingga kacang-kacangan. Sekarang bahkan topping Clatita lebih beragam, mulai dari keju, coklat, dan topping popular lainnya.



“Enak?”


Lucciane mengangguk dengan senang hati. Di sini masakan Marry memang tidak ada duanya. Lucciane juga bisa memasak, namun semenjak tinggal di Luccane The Palace ia jadi terbiasa dilayani. Ia bahkan tidak diizinkan menyentuh peralatan dapur, jika bukan untuk membuat cake atau pastry.


“Kamu akan pergi ke luar hari ini?”


“Hm.”


“Untuk pekerjaan?” tanya Lucciane, penasaran. Ia memang gadis yang sukar membendung rasa penasarannya. “Apa tujuan kamu adalah London?”


Luccane yang sedang berjalan menuju hanger—tempat dimana ia menyimpan beberapa scarf yang memiliki ukiran inisial namanya di bagian ujung—menoleh. “Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan anggota House of Lords,” katanya. Padahal ia tidak suka basa-basi, namun lagi-lagi Lucciane adalah pengecualian. “Ada sesuatu yang kamu inginkan?”


“Bisa kah kamu … mengunjungi La Vie En Rosé untukku?” pinta Lucciane. “Tolong pastikan jika tempat itu … tidak banyak berubah semenjak berganti kepemilikan.”


Luccane tidak langsung menjawab. Melihat itu, Lucciane jadi menundukkan wajah. Menyembunyikan muram yang menghiasi rupa cantik nya. “Jika kamu keberatan, tidak perlu …”


“Akan aku lakukan,” potong Luccane.


Lucciane langsung mendongkrak kan wajah mendengarnya. “Kamu bersungguh-sungguh?”


“Hm.”


“Terima kasih,” ucapnya gembira. Sirna sudah muram di wajah cantik nya. “Satu lagi. Bisa kah kamu mencari seorang gadis bernama Lana? Dia adalah teman ku.”


“Aku tidak menawarkan bantuan secara cuma-cuma.”


Lucciane tertegun mendengarnya. “Kamu … mau upah? Tapi, seperti yang kamu lihat sekarang, aku tidak punya apa-apa.”


Luccane mengulum senyumnya mendengar kalimat tersebut. Sang belahan jiwa memang benar-benar gadis yang sangat polos. Padahal ini sudah abad 21. Entah apa saja yang gadis cantik itu lakukan selama ini. Mungkin hari-harinya hanya diisi oleh kegiatan yang menurutnya menyenangkan, seperti baking.


“Cukup sambut aku ketika pulang bekerja.”


Hanya itu permintaan Luccane. Simple sekali bagi Lucciane. Maka tanpa pikir panjang, gadis cantik itu mengangguk dengan senyum sumringah.


“Aku juga akan mengantarkan kepergian kamu setiap pagi,” kata Lucciane. “Dan akan menyiapkan kebutuhan kamu,” lanjutnya.


Mendapatkan tambahan tersebut, Luccane merespon dengan senyum tipis yang tersungging di bibir. Salah satu tangannya kemudian terangkat guna membelai permukaan wajah cantik belahan jiwanya.


“Lakukan sesukamu.”


Selama ini Luccane hanya hidup berdua dengan Sebastian. Tahun demi tahun berlalu, mereka mulai kedatangan para pembantu yang setia. Mulai dari Marry, La’ti, Elard dan James—dua orang penjaga gerbang, serta para pekerja lain yang telah bersumpah akan setia mengabdi pada tuan mereka, yaitu Luccane. Walaupun selama ini ia tidak pernah kekurangan apapun, namun rasanya tetap berbeda ketika ada seseorang yang secara sukarela akan mengurus semua kebutuhannya. Apalagi orang itu adalah belahan jiwa yang selama ini ia tunggu-tunggu.


“Hati-hati di jalan.”


Lucciane buka suara saat mobil yang dibawa Sebastian tiba di depan Luccane The Palace. Seperti janjinya pagi tadi, Lucciane akan mengantarkan kepergian Luccane. Rutinitasnya akan bertambah mulai hari ini. Ia akan menyiapkan kebutuhan Luccane, kemudian mengantarkan kepergian Luccane di pagi hari. Ketika sore menjelang, ia akan menyambut kepulangan pria rupawan tersebut dengar seberkas senyum hangat.


“My Lord dan Lady Anne sudah seperti pasangan normal,” cetus La’ti yang berdiri tepat di depan pintu, di samping Marry. Agak jauh dari tempat Lucciane berdiri seraya melambaikan tangan. Mengantarkan kepergian mobil hitam yang baru saja membawa Sebastian dan Luccane.


“Benar,” sahut Merry. “Aku harap hubungan mereka semakin berkembang.”


🦋🦋🦋


TBC


Note : Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 26-02-23