
Rasa sakit yang sempat berada dalam bayang-bayang kini telah datang secara nyata. Lucciane bisa merasakannya. Rasa sakit saat taring- taring tajam menusuk permukaan kulitnya. Membuat permukaan tersebut mengeluarkan darah segar yang menjadi tujuan utama raja vampir menggigit lehernya.
Dengan segenap rasa dan hasrat yang menggila, vampir rupawan itu menghisap rakus setiap tetes darah suci yang keluar dari leher gadisnya. Aroma yang berasal dari darah suci memang mampu membuat mahluk penghisap darah sepertinya menggila. Sudah sekian lama ia menunggu kesempatan ini. Bertemu dengan dengan soulmate-nya, kemudian melakukan ritual blood feeding (menghisap darah) untuk mengesahkan ikatan mereka.
Setelah ini, ikatan yang ada di antara mereka akan semakin kuat. Tidak siapapun yang bisa memisahkan, kecuali maut. Sebenarnya Luccane bisa saja melakukan blood feeding sejak pertama kali bertemu sang mate, namun ia tidak mau terburu-buru. Ia tidak mau penantiannya selama ratusan tahun sia-sia. Lagipula jika sang mate tidak mau menjadi soulmate-nya, maka sudah semestinya jika Luccane tidak bisa memaksa. Namun, ia juga bisa gila jika sang mate menolak.
“My little mate,” geram Luccane di sela-sela kegiatannya.
Bak mabuk kepayang, vampir rupawan itu menghisap darah sang mate dengan kuat dan penuh semangat. Ia bahkan mengesampingkan fakta jika mate-nya juga manusia biasa, selain memiliki identitas sebagai titisan The Goddess. Ia juga lupa jika ini pertama kalinya bagi sang mate.
“Luccane,” lirih Lucciane dengan suara lemah.
Luccane langsung sadar jika ia sudah menghisap terlalu banyak. Gadis kecilnya pasti akan jatuh pingsang jika ia terlalu berlebihan menghisap darahnya.
Si*l, ia out of control saking menggiurkannya darah suci milik sang gadis. Ia pun menarik diri, menjauhkan bibirnya dari permukaan leher sang mate yang masih mengeluarkan darah segar. Ah, Luccane bisa gila jika hanya melihat tanpa melakukan apapun saat darah suci yang sangat berharga itu terbuang sia-sia. Maka sebelum benar-benar menjauh, Luccane kembali menjulurkan lidahnya untuk menyapu darah berharga itu hingga bersih.
“Buka matamu, little mate.” Luccane kemudian buka suara saat berhasil menekan hasratnya untuk kembali menghisap darah Lucciane. Ia kemudian membawa wajahnya mendekat, menyatukan kening mereka supaya bisa melihat lebih jelas wajah sang mate. Wajah cantik nan mungil dalam tangkupan telapak tangannya itu tampak pucat pasi. Berbanding terbalik dengannya yang kini sudah full energi.
“Perlihatkan netra biru itu kepadaku,” bisik Luccane, tepat di depan bibir Lucciane.
Lucciane bisa merasakan terpaan napas Luccane di sekitar wajahnya. Lengkap dengan sentuhan lembut di arena rahang. Anehnya lagi, berangsur-angsur rasa sakit yang tercipta di bagian leher—bekas gigitan taring Luccane—mulai tidak terasa. Ia pun memberanikan diri untuk membuka mata. Menatap langsung wajah Adonis pria yang kini tidak lagi berada dalam pembaringan di atas pangkuan.
“You have beautiful blue eyes, little mate.” Pujian itu Luccane berikan saat Lucciane sudah berani menatapnya terang-terangan. Walaupun gadis itu tetap saja ingin menunduk, jika Luccane tidak menyimpan jemarinya di rahang sang gadis, untuk kemudian menahannya. “You are mine, I’am yours.”
Sekali lagi, Luccane mengucapkan kalimat ‘klaim’ yang sama untuk kedua kalinya. Pertama kali ia mengucapkan kalimat tersebut saat hendak menghisap darah sang mate untuk pertama kali. Kalimat penegasan itu seolah-olah jargon bagi hubungan yang telah terjalin di antara mereka.
“Sekarang kau benar-benar resmi menjadi milikku,” ucap Luccane dengan satu tangan menyentuh leher Lucciane yang telah dihiasi oleh mark darinya. “Ketika kita kembali ke Luccane The Palace, persiapkan dirimu untuk menjadi milikku seutuhnya, little mate.”
Mendengar kalimat tersebut, Lucciane tentu saja gelagapan. Hatinya berdebar tak karuan. Apa maksud dari kalimat “menjadi milik Luccane seutuhnya” berarti Lucciane harus menyerahkan segalanya pada vampir rupawan tersebut? Tiba-tiba isi kepala Lucciane jadi bercabang kemana-mana hanya karena memikirkan makna dari kalimat tersebut. Guna mengusir kecanggungan, Lucciane pun bertanya dengan nada suara kecil dan kikuk.
“Kondisi kamu … apa sudah lebih baik?”
Luccane tersenyum sangat tipis mendengar pertanyaan tersebut. “Hm. Berkat kau, aku pulih lebih cepat.”
“Syukurlah.”
“Kau senang aku pulih?” tanya Luccane, tiba-tiba.
Lucciane mengangguk dengan kikuk. “T-entu saja.” Ia kemudian kembali menunduk. Tindakan tersebut berhasil membuat Luccane makin gemar berlama-lama bertahan dalam posisi tersebut. Dunia terasa berporos kepada mereka berdua saja. Luccane tidak mau memikirkan yang lain, jika saja telinganya yang sensitif sejak tadi tidak menangkap suara-suara pertempuran.
“Tetap di sini,” titah Luccane seraya membenarkan jubah yang digunakan sang mate. Jubah itu miliknya. Berukuran sangat besar jika digunakan oleh Lucciane. Namun, malah bagus. Karena dengan ukuran itu, tubuh mungil sang mate tenggelam dalam balutan jubah beraroma dirinya. Manfaat lain dari jas tersebut adalah dapat mengkamuflase aroma darah suci, karena terlindungi oleh aroma Luccane.
“Kamu mau kemana?”
“Ada yang harus aku selesaikan.” Luccane menjawab saat ia menarik wajahnya. Namun, sebelum benar-benar menjauhkan wajah, ia mengikis jarak dengan cepat untuk menjatuhkan satu kecupan intens di kening sang mate. “Tunggu disini,” pesannya. “Aku akan segera kembali.”
“After blood feeding effect sedang bekerja.” Luccane memberitahu.
Ada efek yang akan timbul pasca melakukan blood feeding. Walaupun itu belum sempurna, karena Luccane belum memberikan darahnya kepada Lucciane. Jika hal itu sudah dilakukan, Luccane yakin jika little mate-nya akan merasakan sakit yang lebih kuat dari ini. “Berbaring lah dulu di sini,” tambah Luccane. Membantu belahan jiwanya itu untuk merebahkan tubuh.
Luccane kemudian menyentuh permukaan lantai yang menjadi tempat pembaringan sang belahan jiwa. Tak lama, permukaan lantai itu meninggi beberapa meter. Membentuk sebuah altar pembaringan yang pas dan nyaman untuk belahan jiwanya.
“Rasa sakitnya akan bertahan cukup lama. Tahan lah sebentar, little lady.”
Lucciane hanya mampu mengangguk dengan bibir tertutup rapat. Giginya bergemeletuk, menahan rasa sakit yang timbul.
“Aku akan segera kembali dan membawa mu pulang.”
Setelah berkata demikian, Luccane berbalik badan. Meninggalkan Lucciane sorang diri untuk bergabung dengan Sebastian dan Lynn. Sebelum bergabung, Luccane terlebih dahulu menukar pakaian serba hitamnya dengan armor yang selama ini ia simpan baik-baik, tanpa digunakan pada pertarungan. Armor Luccane yang didominasi warna hitam serta gold hanya digunakan pada pertarungan tertentu. Lagipula armor Luccane bukan berbentuk jirah besi, melainkan armor yang lebih fleksibel serta menonjolkan kesan wibawa sebagai sorang raja.
“Menyingkir lah, Sebastian. Dia adalah lawanku,” ucap Luccane dengan pose santai. Lengkap dengan pedang legendaris sang ayah di tangan.
“Kekuatannya sudah pulih,” batin Lynn di dalam hati saat melihat Luccane. “Kekuatan darah suci benar-benar luar biasa,” lanjutnya.
“Majulah, kau. Coba bunuh raja mu sekali lagi,” tantang Luccane. “The God sepertinya menitipkan banyak berkat pada raja mu ini, sehingga aku diberkahi dengan belahan jiwa seorang titisan The Goddess. Dan kau …”
Luccane mengeluarkan smirk evil. “… berusaha untuk merebutnya? Lucu sekali.”
Lynn tentu saja tak tinggal diam mendengarnya. Menurutnya pribadi, apa yang ia lakukan hingga saat ini sudah lah benar dan tepat. Ia diberi tugas untuk menjaga dan mendampingi titisan The Goddess supaya tragedi di masa lalu tidak terulang kembali.
“Lucciane akan kesulitan jika hidup dengan mu,” ucap Lynn. “Lebih baik dia bersamaku.”
Luccane tersenyum miring seraya memutarkan pedang sang ayah. Sebastian sendiri sudah menyingkir, memberikan sang Lord space untuk bertarung dengan rival sejatinya semenjak zaman dahulu.
“Sudah menjadi tabiat turun-temurun jika golongan kalian merasa paling suci.” Luccane berjalan ke arah depan. Pandangannya tetap tertuju pada satu-satunya Lord vampir yang ada di sana. “Padahal yang hitam belum tentu buruk. Putih, belum tentu bersih.”
Tidak sampai dua detik, Luccane langsung menyerang setelah berkata demikian. Kali ini setiap serangan yang ia layangkan begitu tegas, tepat, tanpa jeda, tak asa-asa. Sepertinya ia tidak lagi punya niatan untuk menunda pengiriman Lynn ke Valinóë.
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 😘
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 18-02-23