Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 80. Berbagi Tugas


“Izin?”


Luccane yang sedang menggunakan klip dasi yang terbuat dari emas asli itu tampak menautkan kening seraya mengambil alih jas yang disodorkan oleh tangan kanannya.


“Para Lord vampir ingin pergi ke wilayah barat, my Lord. Mereka ingin memeriksa lubang raksasa yang beberapa tahun kebelakang ditemukan disana.”


“Sinkhole?”


“Benar, my Lord. Dalam perjalanan kemari, para Lord vampir melewati wilayah barat dan menemukan sinkhole yang terisolir disana. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ada yang aneh dari tempat tersebut.” Sebastian menjelaskan dengan detail.


Pembicaraan kemarin harus ditunda begitu saja, karena Luccane tak keluar sampai dini hari. Sepertinya raja vampir itu enggan keluar setelah memastikan belahan jiwanya terlelap dengan nyenyak. Sebastian sendiri sudah cukup hafal dengan tabiat para pria bermarga de Khayat.


“Apa Lord vampir yang memiliki darah ras manusia serigala yang mengatakannya?”


Sebastian mengangguk. Ia kemudian memberikan beberapa lencana serta tanda kehormatan yang biasa digunakan sang Lord sebelum pergi ke pertemuan umum. Memang benar Luke yang menaruh kecurigaan. Ternyata sang Lord juga sudah bisa menebak, karena Luke adalah Lord Vampir yang sangat peka. Sama seperti Luccane dan Sebastian.


“Kawal mereka,” titah sang Lord kemudian. “Aku harus pergi ke London.”


“Yes, my Lord.” Sebastian dengan patuh menjawab.


“Ingat, ada Regent yang berkuasa di sana. Berhati-hati lah, jangan sampai membuat mereka terganggu.”


“Tentu, my Lord.”


Sebastian mengangguk paham. Regent yang dimaksud Luccane adalah mahluk yang ditunjuk sebagai pemimpin sebuah wilayah—hutan kegelapan yang luas memang dibagi menjadi beberapa wilayah di bawah kekuasan Luccane. Gelar ini sebenarnya diambil dari gelar seseorang yang ditunjuk untuk memimpin sebuah Negara karena pewaris tahta masih di bawah umur, tidak ada pewaris, atau pewaris tidak mampu menjalankan tugas. Sedangkan Regent yang ditunjuk langsung oleh Luccane adalah pemimpin wilayah dalam hutan kegelapan. Mereka telah disumpah setia ketika ditunjuk sebagai Regent.


“Lalu bagaimana dengan Anda, my Lord? apa Anda akan pergi sendiri ke London?”


Luccane tampak berdiam sebentar ketika melirik pintu kamar sang belahan jiwa. “Aku akan bertemu dengan mahluk itu.”


“Harus kah saya ikut?” tanya Sebastian. Di sini tidak ada yang lebih tahu mengenai mahluk tersebut, kecuali dirinya yang sudah hidup selama 1.500 tahun.


“Kau ikut bersama mereka ke wilayah barat, daripada harus ikut ke London. Jarak wilayah barat ke Luccane The Palace lebih dekat.”


Sebastian paham maksud sang Lord. Itu berarti ia secara tidak langsung diminta menjaga titisan The Goddess selama raja vampir itu berada di London. Toh, belakangan ini kondisi di sekitar memang kurang kondusif. Maka tak heran jika sang Lord sangat protektif. Ditambah lagi jika para Lord Vampir dan Sebastian pergi, tinggal beberapa orang vampir yang berada di Luccane The Palace. Sejauh ini mereka tidak bisa memprediksi marabahaya apa yang akan datang dan menyerang.


“Mahluk itu sangat picik dan pandai memanipulasi keadaan, my Lord.”


“Hm. Aku sudah mengetahuinya,” jawab Luccane. Di sisinya Sebastian dengan setia mengantarkan sang tuan seraya menjelaskan beberapa informasi terkait Lucheren Khayansar, mahluk penghisap jiwa kegelapan. “Aku akan mengetes kemampuannya secara langsung.”


“My Lord,” kaget Sebastian. Ia tidak menyangka jika sang Lord akan bergerak secepat ini.


“Mahluk itu sudah berani memasuki wilayah kekuasaan ku.”


“Saya paham maksud Anda, my Lord. Tetapi, bukan kah lebih baik jika kita menunggu sebentar lagi? setidaknya sampai … Anda dan beautiful lady saling memiliki secara utuh.”


“Ekhem.”


Karena tiba-tiba sang Lord berdeham dengan tekanan cukup kuat, Sebastian yang tadi fokus bicara, langsung mengalihkan pandangan. Dari arah berlawanan ia mendengar derap langkap teratur yang pasti menjadi penyebab kenapa tuannya sekarang menyunggingkan senyum secara terang-terangan.


“Luccane!”


Pemilik suara itu lah penyebabnya. Penyebab Luccane menyunggingkan senyum.


“Tadi aku pergi ke dapur,” jawab pemilik panggilan tersebut ketika sudah berdiri di hadapan Luccane dan Sebastian. Aroma morning tonic yang memadukan aroma harum serta segar dari mandarin essential oil serta lemongrass extract tercium bersama dengan kehadirannya. “Perutku terasa keram. Jadi, aku meminta air hangat dalam …”


“Kau sakit?” itu adalah kalimat dengan nada risau yang coba disembunyikan, namun gagal. Sebastian dan Lucciane masih bisa mendengar nada risau tersebut.


“Perut ku … terasa sedikit keram di pagi hari. Mungkin karena …”


“Sebastian,” panggil Luccane.


“Yes, my Lord?”


“Panggil dokter waktu itu. Kenapa kau diam saja setelah mendengar little mate-ku merasa sakit?”


Sebastian yang masih terkejut dengan perintah tersebut hanya bisa mengangguk kecil. Sedangkan Lucciane yang melihat fast respon Luccane sempat terdiam, baru kemudian tertawa kecil seraya menyentuh lengah pria rupawan tersebut.


“Aku sedang mendapatkan periode bulanan, Luccane. Rasa keram itu wajar,” katanya kemudian.


“Periode … bulanan?” Luccane menatap Lucciane dengan wajah keruh. Kemudian ia menatap ke arah Sebastian yang tampak terpekur di tempat. Bagi Luccane, Sebastian itu adalah penerjemah dalam segala hal.


“Ekhem, maksud beautiful lady adalah tamu bulanan, my Lord,” tuturnya kemudian. “Women have menstrual periods every month. It’s the privilege of women that differentiates the from men. They wew spesially created by The God,” jelasnya lebih detail.


(Setiap wanita mengalami menstruasi setiap bulan. Itu lah keistimewaan yang membuat mereka berbeda dari pria. Mereka diciptakan spesial oleh Tuhan).


Lucciane bahkan sampai takjub mendengar penuturan Sebastian soal sudut pandangannya mengenai perempuan. Pada ras manusia saja, terkadang jarang menemukan pria berpikiran terbuka. Namun, Sebastian seolah-olah mematahkan opini tersebut.


Setelah mendengarkan penjelasan Sebastian, Luccane bisa langsung paham. Ia memang masih kurang pemahaman soal mahluk bernama wanita. Untung saja ada Sebastian yang serba tahu.


“Perbanyak lah istirahat jika perut mu masih terasa tidak nyaman,” kata Luccane ketika Lucciane tetap bersikukuh untuk mengantar kepergiannya.


“Aku tidak apa-apa.” Senyum tipis gadis cantik sunggingkan. Ia tidak mau Luccane merasa khawatir. Toh, ini bukan pertama kalinya ia merasakan keram di perut ketika datang bulan. “Hati-hati di jalan,” katanya kemudian ketika raja vampir itu telah memberikan kecupan singkat di kening sebagai salam perpisahan.


“Hm. Bergegas lah masuk,” kata Luccane yang sudah berada di samping mobil yang akan membawanya pergi.


Lucciane pun mengangguk. Setelah mengantarkan kepergian Luccane, para Lord vampir dan Sebastian muncul secara bersamaan. Mereka sepertinya akan pergi. Lucciane pun memutuskan untuk mengantarkan kepergian mereka, walaupun ia tidak tahu mereka hendak pergi kemana dan melakukan apa.


“Hati-hati di jalan, semoga Tuhan selalu melindungi kalian,” doanya ketika para Lord vampir berdiri di hadapannya.


Ajaib, karena bagi mereka berempat, Lucciane seperti The Goddess yang telah memberikan berkat bagi para pengikutnya. Mereka pun mengangguk, lalu memberikan penghormatan secara bersamaan.


Semua itu tak luput dari pantauan Sebastian yang sejak tadi menyunggingkan senyum segaris. Ia merasa lega karena pembagian tugas hari ini menandai kerjasama perdana mereka—pihak Luccane The Palace dengan pihak Lord Vampir. Toh, tujuan mereka satu, yaitu melindungi titisan The Goddess yang diincar oleh mahluk penghisap jiwa kegelapan yang mengaku bernama Lucheren Khayansar. Padahal Sebastian tahu betul jika mahluk itu punya lebih dari sepuluh nama sebagai identitas.


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 19-03-22