Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 66. Lucheren Khayansar


TRV 66. Lucheren Khayansar


“Berapa totalnya?”


“Hanya beberapa juta pounds, my Lord.” Pria dengan setelan jas rapih bernuansa hijau turquoise itu menjawab dengan gamblang. Seolah-olah jutaan pounds atau poundsterling adalah nominal kecil yang gampang untuk diucapkan. Apalagi jika lawan bicaranya sudah pria di depan sana.


“Berikan ini, Sebastian.”


Pemilik nama tersebut mengangguk. Ia kemudian meletakkan beberapa kantong belanjaan yang terbuat dari kertas di atas sofa berwarna bergundy yang dijadikan sebagai tempat tunggu, sebelum menerima kartu yang baru saja disodorkan tuannya.


Pria rupawan yang duduk pada sofa single itu mengeluarkan sebuah dompet kulit dari dalam saku. Walaupun seorang ras vampir yang notabene berdarah dingin, ia telah hidup selama ratusan tahun lebih. Kini ia sudah bisa beradaptasi dengan moderenisasi. Kemudian dari dompet kulit itu ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam, dari antara koleksi kartu yang ia miliki. Tiga kartu terlihat paling mencolok di mata Sebastian, karena sering digunakan guna membayar kebutuhan sehari-hari sebagaimana normalnya manusia adalah kartu berwarna hitam—yang baru saja dikeluarkan, lalu ada kartu berwarna perak dan hitam keemasan. Kali ini ia menggunakan kartu berwarna hitam yang memiliki nama American Express Centurion atau black card.


Sedangkan dua kartu lain yang kerap dipakai ialah J.P Morgan Reserve (palladium card), serta Bank of Dubai First Royale Master Card.


“Selesaikan pembayarannya segera, Mr. Bryc. My Lord tidak punya banyak waktu untuk menunggu,” ujar Sebastian saat diperintahkan untuk menyelesaikan pembayaran dengan pria dengan setelan jas rapih bernuansa hijau turquoise bernama Bryc tersebut.


“Tentu saja, Sebastian. His Lord adalah pelanggan tetap di sini, bahkan memiliki kartu keanggotaan. Pasti saya akan memprioritaskan beliau.”


“Bagus,” timpal Sebastian seraya tersenyum tipis.


Di store pakaian ternama ini lah ia biasa mengambil pakaian sang Lady. Biasanya Sebastian datang sendiri, bermodal black card dan kartu keanggotaan milik sang Lord, ia bisa dengan mudah segera membayar berapa setel pun pakaian, serta kebutuhan lain bagi sang Lady, mulai dari sepatu, sandal, serta pernak-pernik lain sebagai pemanis. Sebastian cukup mendatangi satu departemen store, karena pengelola tempat tersebut sudah meng-handle semua kebutuhan sang Lady.


“Ada satu barang lagi yang masih dikemas, bisa menunggu sebentar lagi?”


Sebastian mengangguk kecil saat menerima kembali black card sang tuan.


Bryc tampak puas setiap kali pembayaran dengan black card diselesaikan. Apalagi jika pelanggannya macam Sebastian dan Luccane yang tidak banyak protes. Apapun yang telah mereka pilih dan disiapkan oleh pihak departemen store, pasti langsung dibayar cash.


“Ale, mana wedges Jimmy Choo atas nama nona Lucciane?” tanya Bryc pada salah satu pegawai, dirasa waktu yang dibutuhkan untuk packing barang tersebut terlalu lama. “Punya nona Lucciane yang ukuran 35, jangan lupa.”


Bryc kembali menatap ke arah Sebastian. Supaya tidak membuat itu tidak merasa jenuh menunggu, sebisa mungkin ia menyelingi dengan obrolan ringan. Jika bersama Sebastian, Bryc masih berani buka suara terlebih dahulu. Berbeda dengan Luccane yang terlalu datar dan dingin, sehingga orang lain pun kesulitan saat hendak memulai obrolan.


“Bulan depan akan ada baju-baju keluaran terbaru yang launching, apa His Lord tidak tertarik untuk memesan beberapa model baru?”


Sebastian tersenyum kecil. “Sepertinya tidak,” jawabnya. “Beliau lebih suka wanitanya menggunakan pakaian dengan model lama,” tambahnya kemudian. “Nona Lucciane memang sudah cantik, jadi baju model lama pun terlihat sangat cocok saat digunakan olehnya.”


“Beruntung sekali nona Lucciane,” respon Bryc. “Aku jadi penasaran dengan wajah cantik pemilik kaki mungil tersebut.”


“Bukan Anda saja yang penasaran pada wajah cantik calon Nyonya kami, Bryc.” Sebastian tersenyum tipis setelahnya. Semua orang yang mengenal Luccane juga pasti penasaran, siapa kah gerangan wanita yang akan menjadi pendamping pria yang mereka sebut “sempurna” sebagai manusia itu.


Tampan, mapan, royal. Tiga kata itu dapat menggambarkan Luccane ketika seorang wanita pertama kali bertemu dengannya. Luccane tak segan-segan menguras isi kantong demi sang belahan jiwa. Saking perhatiannya Luccane pada sang belahan jiwa, ia bahkan punya kenalan tailor yang bekerja sebagai garment cutter di sebuah store pakaian ternama asal London yang dipekerjakan khusus untuk membuat baju-baju Lucciane. Kenalan Luccane itu merupakan pekerja di departemen store ini. Bahkan Luccane juga punya akses pada pemilik departemen store yang merupakan putri salah seorang anggota House of Commons atau dewan rakyat Britania Raya.


“Apa kemungkinan besar tahun ini His Lord akan segera menikahi kekasihnya?” tanya Bryc, sedikit berbisik.


Sebastian tersenyum tipis bersama dengan datangnya seorang wanita dengan name tage akrilik bertulis nama Ale di dadanya. “Mereka sudah menikah.” Jawaban yang ia berikan berikutnya berhasil membungkam mulut Bryc juga Ale, salah satu pekerja di departemen store tersebut. “Mungkin hanya butuh pemberkatan ulang dan mendaftarkan pernikahan di catatan sipil,” tambah Sebastian. “My Lord pasti akan segera melakukannya. Jadi, siap-siap saja menerima pesanan gaun pengantin model vintage, Bryc.”


“Tentu saja!” seru Bryc heboh. “Kami akan sangat merasa terhormat jika mendapatkan kesempatan tersebut.”


Satu paper bag lagi disodorkan di depan Sebastian. Kali ini ada brand alas kaki yang sangat popular, yaitu Jimmy Choo di atasnya. Di dalam paper bag itu tersimpan satu pasang wedges berukuran 35. Dikarenakan wedges yang biasa dipesan untuk Lucciane masih dalam proses pembuatan, jadi Luccane setuju untuk membungkus satu wedges dari Jimy Choo.


Ketika baru saja hendak meninggalkan tempat yang dikuasai oleh Bryc, Sebastian tidak sengaja bersenggolan dengan seorang pria yang datang dengan menggandeng saudara tiri dari calon nyonya di Luccane The Palace.


“Tolong gunakan penglihatan Anda dengan baik, tuan … Sebastian.” Ada raut keterkejutan di wajah wanita yang menggunakan dress kasual berwarna soft pink yang modelnya diadaptasi dari salah satu koleksi dress milik Duchess of Cambridge, yaitu Kate Middleton. Salah satu role model busana di tanah Inggris.


Sedangkan pria di sampingnya yang memiliki warna rambut coklat tembaga tampak menyunggingkan sedikit smirk. Ia tampak tertarik dengan pertemuannya bersama Sebastian. Salah satu ras vampire yang terlahir istimewa.


“Kamu mengenalnya?” pria itu buka suara. Namun, tatapannya tetap tidak dialihkan pada vampir yang mewarisi darah Wizard di hadapannya.


“Ya. Dia, tuan Sebastian.”


“Jadi begitu,” ucap pria itu lagi. Ia kemudian memasang senyum miring seraya mengulurkan tangan ke arah Sebastian. “Jika kau mengenal calon tunangan ku, berarti kita juga harus berkenalan.”


“Kenalan?” bingung Sebastian. “Kita tidak sedekat itu untuk sekedar beramah-tamah,” timpalnya kemudian, tanpa basa-basi.


“Lucheren Khayansar,” ucap pria pemilik rambut coklat tembaga tersebut. Sekali pun Luccane tampak tidak berminat mengetahui namanya. “Kau pasti akan mendengar nama itu lagi nanti.”


Sebastian tidak bodoh. Ia adalah vampir yang telah hidup selam 1.500 tahun dan telah berjumpa dengan banyak mahluk. Namun, baru kali ini ia bertemu dengan mahluk yang memiliki aura gelap yang begitu pekat. Seolah-olah semua kegelapan yang ada di dunia berkumpul pada tubuhnya.


Di sisi lain, Luccane yang sempat menyamarkan keberadaannya sebagai ras vampir, diam-diam menyaksikan semua kejadian tersebut. Sepertinya Sebastian tidak sempat menyamarkan identitasnya sebagai vampire, jadi mudah dikenali. Termasuk dikenali olah pria pemilik rambut coklat tembaga tersebut. Seorang …. “Proscris Vampire,” batin Luccane.


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 03-03-23