
“Leon, jangan tutup matamu!”
Seruan serta tepukan di pipi sebelah kanan itu berhasil membuat si empunya nama kembali membuka mata. Ia hampir saja menutup mata, padahal ia tidak berniat tidur sama sekali.
“Jangan berani-berani kau menutup mata, atau ketika kembali membuka mata, kau bukan lagi berada di dunia, melainkan di Underworld.” Kali ini ancaman datang dari orang yang sama, yaitu Lomon.
Pria berambut pirang itu tampak meringis sesekali saat bicara. Sudut bibirnya pecah lumayan parah, sehingga ia kesulitan ketika bicara. Ia kalah telak saat melawan dua orang vampir baru mengisi “energi” menggunakan darah segar. Vampir-vampir itu sangat kuat, mungkin karena mereka baru selesai minum darah. Pantas saja jika mereka ditempatkan pada gebang Luccane The Palace, mengingat Lord vampir sekelas Lomon juga kalah.
“Kakak juga lebih baik diam,” sahut si bungsu yang mendapat luka paling parah. Pantas saja ia terluka parah, mengingat lawan duel mautnya adalah Sebastian Saunders. Vampir yang punya skill jauh di atas para Lord vampir. Ia bisa saja meregang nyawa jika lawan duel nya tidak berbaik hati.
“Kalian berdua lebih baik diam supaya bisa cepat pulih,” sela satu Lord vampir lagi yang mengambil posisi duduk paling mentok dengan tembok. “Jika kekuatan kita sudah kembali, kita harus segera keluar dari tempat ini.”
Lomon dan Leon setuju dengan perkataan saudaranya itu. Namun, saat ini mereka sama-sama terluka cukup parah, bahkan sangat parah. Jika Lomon dikalahkan oleh dua vampir penjaga, serta Leon kalah duel dari Sebastian, lain lagi dengan Luke. Vampir yang memiliki darah ras werewolf itu dikalahkan oleh 4 vampir wanita yang tidak tertandingi. Dua vampir wanita yang sepertinya baru menjadi vampir, namun sedang berada dalam masa full power. Sedangkan dua vampir wanita lagi adalah vampir murni dan Dhampir yang sulit dikalahkan.
Guna melawan mereka berempat, Luke bahkan tak segan-segan memperlihatkan wujud aslinya ketika sinar rembulan cukup membantunya berubah. Kendati demikian, Luke yang mendapat titel sebagai salah satu Lord vampir terkuat harus mengaku kalah saat Sebastian datang dan menyelesaikan pertarungan dalam waktu kurang dari lima menit. Butler Luccane The Palace itu bahkan membawa Luke ke dimensi lain untuk bertarung, yaitu dimensi di mana para werewolf kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka.
Mungkin jika hanya melawan 4 vampir wanita saja, Luke akan unggul. Namun, melawan Sebastian tentu saja ia bukan apa-apa. Ditambah lagi fakta jika selain jago bertarung dengan tangan kosong, Sebastian juga bisa melakukan teleportasi antar dimensi. Vampir berusia 1.500 tahun yang seharusnya sudah sangat tua itu bahkan bisa menggunakan bayangannya untuk menyerang lawan. Gila. Luke tidak tahu apa saja yang dimakan dan dilakukan vampir tua itu selama 1.500 tahun.
“Kak, kamu yakin bisa segera pulih?” tanya Leon. “Di antara kita bertiga, mungkin luka fisik paling parah terdapat pada tubuhku. Tapi, luka dalam Kakak …”
“Aku hanya butuh sedikit waktu untuk segera pulih,” potong Luke. “Selagi memulihkan kekuatan, aku juga akan mencoba menghubungi Kak Lynn lewat telepati.”
“Lebih baik Kakak istirahat saja dulu,” sahut Lomon. “Kita semua tahu jika kondisi kita ini bisa dibilang … hampir sekarat.”
“Jaga bicaramu,” timpal Luke tak suka. “Aku hanya akan mati di Castil Vamfield. Kalian juga, ingat itu.”
“Ternyata kalian semua masih hidup?”
Tiga Lord vampir yang mirip burung dalam sangkar itu serempak menoleh ke arah datangnya sumber suara. Objek dari pembicaraan mereka baru saja muncul. Siapa lagi jika bukan Sebastian Saunders. Butler Luccane The Palace yang tidak ada tandingannya. Salah satu vampir berusia ‘tua’ namun menolak arti dari kata ‘tua’ itu sendiri.
Banyak hal yang tersembunyi dari karakter Sebastian Saunders. Bahkan sekelas Luccane saja belum tahu seberapa banyak hal yang disembunyikan Sebastian. Vampir yang telah hidup pada masa kepemimpinan Luciano, ayahnya Luccane itu selalu tampak sama. Muda dan perkasa. Petarung handal yang tak terkalahkan.
“Mungkin kalian masih bisa bertahan hidup, karena lawan kalian hanya seorang butler.”
Sebastian berucap seraya berjalan mendekat. Walaupun telah melakukan dua kali pertarungan, penampilan pria itu tetap perfect. Pakaiannya masih bersih, rapih, licin, bahkan tidak ada noda debu sedikitpun yang menempel.
“Namun, entah bagaimana dengan nasib pemimpin kalian yang sedang bertarung melawan seorang raja vampir, sekaligus sword master legendaris yang sudah lama tidak menarik pedang dari sarungnya.”
🦋🦋🦋
TBC
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 13-02-23