
“Kemari, duduklah disini.”
Wanita cantik bak dewi Aphrodite dalam kepercayaan Mitologi Yunani itu menjadi objek pertama yang Lucciane lihat saat membuka mata. Entah dimana sekarang ia berada. Mungkin Luccane kembali memindahkannya pada suatu tempat. Yang jelas tempat yang ia kunjungi saat ini sangat indah.
Banyak bunga segar yang tumbuh di sekitar. Rumput hijau, serta pagar yang dibuat dari tanaman juga terpangkas dengan rapih. Pada salah satu sudut tertata empat buah kursi yang mengelilingi sebuah meja. Tempat dimana tersaji beberapa jenis kudapan manis serta makanan penutup favorit masyarakat Inggris, seperti eton mess—dessert dari campuran selai stoberi, potongan meringue, dan whipped cream yang konon katanya sudah ada sejak tahun 1893 silam, ada juga Muffin, jaffa cake, welsh cake yang berasal dari Wales, Victoria sponge cake sampai apple rhuharb crumble yang sering dijadikan menu pelengkap pada acara afternoon tea. Satu kursi telah terisi oleh wanita cantik itu. Wanita yang memiliki iris kebiruan seperti miliknya.
“Di mana ini?” bingung Lucciane.
Ia ingat betul tengah berada di Castil Vamfield. Ia mengalami kesulitan pasca melakukan proses blood feeding untuk menyelamatkan Luccane. Tubuhnya lemas, dibarengi rasa sakit yang menyebar dari area leher ke area lainnya. Kemudian ia diminta istirahat di atas lantai marmer yang tiba-tiba menjadi altar pembaringan. Lalu, tidak ada yang ia ingat lagi selain rasa sakit serta suara pertempuran.
“Kamu cantik sekali,” puji wanita cantik itu.
Dipuji demikian, Lucciane tentu saja sungkan. Toh, wanita yang usianya pasti setara dengan ibunya—jika masih hidup—itu juga sangat cantik. Iris biru, dipadukan dengan surai brunette ikal yang tampak sehat nan terawat. Berbanding terbalik dengan milik Lucciane yang berwarna merah keemasan, walaupun sama-sama ikal alami. Terkadang Lucciane marasa insecure, karena warna rambutnya berbeda. Namun, belakangan rasa insecure itu berubah jadi rasa syukur. Ia berbeda, itu berarti istimewa. Itu saja keyakinannya.
Wanita cantik itu juga punya kulit yang putih, bersih, serta terlihat sehat. Ia juga murah senyum sekali, terlihat dari semenjak Lucciane bertemu pandang dengannya.
“Anda juga sangat cantik, Milady.”
Wanita cantik yang menggunakan bodice Victoria vintage dress warna merah dengan aksen warna putih cream pada bagian ruffles yang menghiasi ujung lengan itu tersenyum ramah. Penampilan anggunnya ditambah manis dengan perhiasan berupa kalung mutiara yang melingkari bagian leher.
Dilihat dari gaya berpakaian serta attitude and manner-nya, wanita cantik itu pasti seorang bangsawan pada era kerjaan Inggris terdahulu. Bisa jadi juga bagian dari keluarga kerajaan.
“Panggil saja ibu.”
“Ibu?” ulang Lucciane, kebingungan.
“Iya,” ujar wanita cantik tadi, membenarkan. “Namaku Inessa Serenety, kamu boleh memanggil aku dengan panggilan Ibu.”
“Ibu …” lirih Lucciane. Sudah lama sekali ia tidak menyebut panggilan yang biasa disematkan untuk ibu kandungnya. Seketika ia jadi rindu sang ibu yang sudah berpulang ke sisi Tuhan.
“Apa kamu hidup dengan baik selama ini?”
Wanita cantik yang memperkenalkan diri sebagai Inessa Serenety itu kembali bertanya. Lucciane yang mendapat pertanyaan demikian tampak terdiam untuk sejenak. Jika dipikir-pikir, untuk menjawab pertanyaan itu ia harus diberi keterangan yang lebih spesifik. Terkait pertanyaan tersebut, ada tempo ‘selama ini’ yang berarti keseluruhan masa yang Lucciane lewati selama tinggal di muka bumi.
Lucciane hidup dengan baik selama lahir dan dibesarkan di bawah pengawasan kedua orang tuanya. Ia tidak pernah kekurangan apapun, walaupun lahir di tengah keluarga dengan kondisi ekonomi sedanya. Namun, semua itu berubah semenjak sang ibu tiada, serta sang ayah yang berani memasukkan wanita asing ke keluarga mereka. Hidup Lucciane tidak baik-baik saja semenjak hari itu. Hidupnya diperbudak, dikucilkan, dijauhkan dari kenyamanan yang dulu ia miliki. Kemahiran Lucciane dalam bidang pastry juga dianggap sebagai ancaman bagi Gwen yang disiapkan untuk mengikuti jejak ayah mereka, Chef Gustaff. Perlahan namun pasti, Lucciane terasingkan di rumah sendiri.
Lucciane kemudian memilih keluar dari rumah tersebut. Tinggal di La Vie En Rosé yang menjadi satu-satunya tempatnya pulang. Di sana lah Lucciane menghabiskan waktu untuk mengenang sang ibu, serta mengubur dalam-dalam kenangan pahit yang ditorehkan bersama sang ayah. Bagaimana pun juga sekarang kedua orang tuanya telah kembali ke sisi Tuhan, Lucciane harus bisa berjuang untuk kehidupannya sendiri, tanpa menghakimi pada takdir sang Ilahi. Ia berada dalam kondisi seperti saat ini bukan karena keinginannya, namun karena telah digariskan oleh takdir.
“Berjanji lah untuk terus hidup dengan baik di sisi Luccane,” ucap Iris, tiba-tiba. Salah satu tangannya meraih punggung tangan Lucciane untuk digenggam.
“Milady … maksud saya Ibu, mengenal Luccane?”
“Tentu saja,” jawab Iness. Wanita cantik yang murah senyum itu tampak selalu bertutur kata dengan kelembutan. “Apa Luccane memperlakukan kamu dengan baik?”
Lucciane mengangguk kecil. Sejauh ia mengenal Luccane, selama tinggal di Luccane The Palace, pria itu tidak pernah berbuah jahat pada Lucciane. Hanya terkadang iris abu-abu kebiruannya itu yanga terlihat mengintimidasi. Selebihnya, sebagai tuan rumah, Luccane cukup ramah. Walaupun pada akhirnya ia menjadi sangat diktator, semenjak Lucciane mengatahui identitas aslinya sebagai raja vampir, apalagi semenjak Lucciane mengenal Lucy dan Lynn. Luccane bukan lagi diktator, melainkan posesif dan protektif terhadapat apapun yang bersangkutan dengan Lucciane.
“Luccane baik.”
“Lalu Sebastian? Bagaimana sikapnya kepada kamu?”
Jika dilihat dari setting atau latar belakang, saat ini mereka ada di sebuah kebun bunga yang sangat luas. Lucciane rasa ia seperti sedang menghadiri acara afternoon tea party, karena ada meja kecil penuh makanan manis yang dikelilingi oleh 4 kursi. Dua telah tersisi, tinggal 2 kursi lagi yang masih kosong. Biasanya para bangsawan Inggris terdahulu suka mengadakan afternoon tea party di kebun rumah mereka.
“Masih di Inggris,” jawab Iness. “Tidak penting kita berada di mana, yang terpenting adalah dengan siapa kita berada.”
Lucciane mengangguk kecil. Ia sebebarnya masih ‘agak’ canggung saat dihadapatkan dengan obrolan bersifat cukup pribadi dengan orang yang baru saja ia temui. Apalagi lawan bicaranya bahkan mengenal Luccane juga Sebastian.
“Mengenai Luccane, aku minta maaf jika sikap anak itu cenderung keras kepala. Sebastian pasti kesulitan mendidiknya.”
Tebakan Lucciane sepertinya benar. Wanita bernama Iness ini kenal dekat dengan Luccane dan Sebastian. Ia bahkan meminta maaf untuk sesuatu yang bukan seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
“Ibu … tidak perlu meminta maaf. Justru aku merasa sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan Sebastian dan Luccane, disaat aku berada dalam kesulitan.”
“Syukurlah jika kamu diperlakukan dengan baik.” Iness terdengar lega mendengarnya. “Walaupun seorang vampire, Sebastian juga punya darah Wizard yang mengalir di tubuhnya. Namun, dia punya sifat yang bersahabat.”
“Wizard?” ulang Lucciane, seolah-olah sangsi akan pendengarannya sendiri.
Iness tersenyum tipis melihatnya. “Kamu akan tahu lebih banyak jika bertanya secara langsung pada Sebastian,” jawabanya. “Tentang Luccane, dia mungkin sedikit keras kepala. Namun, sifat dan karakter nya mirip sekali dengan ayahnya.”
“Ibu … tahu ayah Luccane?”
Iness mengangguk. “Namanya Luciano de Khayat. Raja vampir yang sangat berwibawa dan bijaksana.”
Lucciane tampak tidak berkedip mendengarnya. Ternyata Iness juga mengenal ayah Luccane.
“Jika kamu adalah belahan jiwa yang telah disiapkan The God untuk Luccane, maka dia akan mencintai kamu sebesar ayah Luccane mencintai istrinya.”
“S-ebesar apakah cinta itu?”
“Lebih besar dari cintanya pada diri sendiri,” jawab Iness dengan senyum lembut yang tidak pernah luntur sekalipun. Lucciane bisa melihat ketentraman setiap kali menatap bola matanya yang berwarna biru. “Sepertinya kamu harus segera pulang.”
“Pulang?” itu adalah bentuk dari respon Lucciane yang tengah kebingungan. Kenapa tiba-tiba ia disuruh pulang.
“Suamiku juga sudah menjemput.”
“Ibu juga … mau pulang?” Lucciane bertanya saat Iriss melepaskan genggaman tangannya.
“Rumah Ibu di sini. Sedangkan rumah kamu, ada bersama Luccane.”
Lucciane tidak mengerti dengan kalimat yang dimaksud oleh Iness. Namun, belum sempat ia bertanya, datang seorang pria berusia sekitar 40 tahunan menghampiri Iness. Tubuhnya tinggi dan tegap, dibingkai oleh pakaian kerajaan Inggris yang dipenuhi epolet-epolet keemasan pada beberapa titik. Jika dilihat lebih seksama, wajah pria itu … mirip dengan Luccane. Tapi, kenapa bisa muka mereka mirip? Bahkan … hampir sama persis.
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 🤲
Semoga suka 😘
Tanggerang 20-02-23