Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 74. Real The Flash


TRV 74. Real The Flash


“Jadi kita akan kembali ke Bristol?” pria muda yang baru saja menyuapkan satu sendok beef burguignon itu bertanya.


Beef burguignon sendiri adalah sejenis daging yang diolah dengan banyak rempah, bisa dibilang masih satu jenis dengan olahan rendang dari Sumatera Barat, Indonesia. Bedanya, beef burguignon yang direbus dengan anggur merah, sehingga menciptakan cita rasa lebih khas dan mewah. Sampai-sampai makanan satu ini disebut-sebut sebagai makanan paling lezat di kota Mode. Walaupun sekarang mereka berada di wilayah selatan, bukan di kota Mode, tempat yang sedang mereka kunjungi kebetulan menyajikan beef burguignon.


“Kita harus pergi ketika matahari tenggelam,” sahut pria rupawan yang duduk di seberang.


Posisi duduk mereka kebetulan melingkar sebuah meja berdiameter bulat yang menjadi tempat disajikannya beberapa jenis makanan manusia dari negara Prancis.


“Kita membutuhkan tiga hari dua malam perjalanan jika kembali ke Bristol,” ucap pria muda lain yang sedang menusuk setumpuk Ratatouille dengan garpu. Kuliner yang berasal drai daerah Nice itu terbuat dari bermacam-macam sayuran, mulai dari courgette atau zucchini (sejenis mentimun), tomat, bawang putih, cabai merah, cabai hijau, bay leave, thyme dan dedaunan lainnya. Ratatouille juga merupakan salah satu makanan populer dari Prancis.


“Kita harus bisa mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke Bristol.”


“Bagaimana caranya, Kak?”


“Kita akan bicarakan ini lagi nanti. Sekarang habiskan makanan kalian, sebelum tuan rumah menghampiri.”


Ketiga saudaranya mengangguk.


Lynn, Luke, Lomon, serta Leon saat ini memang sedang menghadiri sebuah undangan jamuan makan malam. Di wilayah Selatan kebetulan ada salah satu rekan kerja Lynn dalam lingkup dunia bisnis. Ketika mereka tidak sengaja bertemu, rekannya yang merupakan orang Prancis itu mengundang untuk datang ke kediamannya. Rekan kerjanya itu ingin menjamu Lynn bersama saudara-saudaranya dengan makanan dari Negara asalnya sebagai bentuk keakraban.


Walaupun pada dasarnya mereka berempat tidak makan makanan manusia, namun sesekali mereka masih bisa mentolelir. Toh, mereka juga tidak akan merasakan apa-apa jika makan makanan manusia. Semua makanan itu tidak akan diserap oleh metabolisme tubuh mereka, karena mereka hanya memperoleh energi bukan dari makanan dan minuman yang mereka makan, melainkan dari darah segar yang mereka hisap.


Lynn dan saudara-saudaranya sudah sepakat untuk kembali ke Bristol. Terkait ucapan dokter yang tempo hari mengobati luka Luke ada benarnya juga. Mereka adalah para Lord vampir terpilih yang ditakdirkan menjadi “guardian” titisan The Goddess. Seharusnya mereka tidak egois dengan pergi meninggalkan titisan The Goddess yang seharusnya mereka jaga. Jika begini, secara tidak langsung mereka telah mengabaikan tugas yang telah diamanatkan oleh para Elders vampir, para Lord vampir terdahulu, bahkan kemungkinan besarnya garis takdir dari The God.


“Apa kita akan melakukan teleportasi lagi agar mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke Bristol?” tanya Leon kala mereka baru saja keluar dari kediaman kenalan bisnis Lynn.


“Melakukan teleportasi terlalu beresiko. Cara itu memang bisa memindahkan objek dengan cepat ke suatu tempat,” jawab Lynn. “Namun, teleportasi membutuhkan banyak energi,” lanjutnya seraya berjalan terlebih dahulu menyusuri jalanan di jantung kota di wilayah Selatan. “Lagipula kita membutuhkan energi sihir yang kemudian dipadukan dengan kekuatan pikiran. Sedangkan tidak ada satu pun di antara kita yang menguasai energi sihir.”


“Benar kata Kak Lynn,” ujar Lomon, mendukung. “Jika memungkinkan, kita hanya bisa melakukan distorsi ruang yang lebih menghemat energi ketimbang menghentikan waktu.”


“Distorsi ruang?”


Kini giliran Leon dan Luke yang merespon dengan raut bingung. Mereka seolah-olah baru mendengar kata tersebut.


“Distorsi ruang dan waktu merupakan kemampuan individu mengalami waktu lebih lama atau lebih singkat dari lama waktu yang sesungguh,” tutur Lomon. “Kemampuan ini dianggap sebagai persepsi jam pikir seorang individu yang berbeda dengan waktu sesungguhnya.”


“Aku tidak paham.” Leon berujar dengan gamblang dengan tangan menepuk bahu Luke. “Bagaimana denganmu?”


Luke menggeleng dengan jujur. “Aku hanya bisa menangkap sedikit.”


Lomon menghembuskan napas kasar seraya menatap saudara paling tua. “Lagipula kita juga tidak akan bisa melakukan distorsi ruang dan waktu. Cara paling cepat untuk kembali ke Bristol adalah dengan berlari,” ucapnya.


Sudah bukan rahasia umum lagi jika ras mereka memang diberkahi kecepatan. Mereka bisa berlari dengan kecepatan super seperti Th Flash agar dapat menghemat waktu, tanpa merasa lelah. Toh, jarak dari wilayah Selatan ke Bristol bisa ditempuh dalam waktu 3 hari 2 malam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat berkecepatan sedang. Sedangkan mereka bisa saja menggunakan kecepatan dua kali lipat, jika tengah berada dalam kondisi sangat prima.


“Darah apa, bukan darah siapa,” koreksi Luke. “Kata apa bisa ditunjukkan pada objek apapun. Sedangkan kata siapa lebih cenderung ditunjukkan pada manusia.” Ia menambahkan lebih rinci. “Ingat, kita tidak bisa sembarangan menghisap darah manusia.”


Leon berdecak seraya mengistirahatkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Hm, aku tau.” Ia kemudian menyusul Lynn dan Lomon yang sudah berada dua langkah lebih jauh. “Jadi hewan apa yang akan kita mangsa malam ini?” kali ini bertanya pada sang kakak.


“Kita lihat saja nanti,” jawab Lynn dengan singkat. “Apa yang kita temukan dalam perjalanan ke Bristol,” tambahnya.


Mereka memang bisa dibilang punya “jadwal” cukup teratur untuk menghisap darah. Walaupun bukan darah manusia, setidaknya mereka masih membutuhkan darah hewan untuk mendapatkan energi. Selama ini mereka hanya menghisap darah satu kali dalam beberapa bulan, namun belakangan ini mereka lebih banyak menghabiskan energi untuk bertarung. Jadi, mereka lebih banyak membutuhkan darah, supaya memiliki energi yang full stok.


Ketika langit wilayah di Selatan semakin gelap di tengah malam, para Lord vampir itu bergerak meninggalkan tempat tersebut. Mereka juga sudah berpamitan dan sudah mengucapkan terima kasih pada saudara-saudara mereka yang menerima kedatangan para Lord vampir dengan tangan terbuka.


Di tengah gelapnya malam, Lynn, Luke, Lomon, serta Leon berlari dengan kecepatan di atas rata-rata. Menyusuri hutan yang gelap dan menyeramkan dengan kecepatan cahaya guna menuju wilayah Bristol. Mereka sudah terlihat seperti real The Flash yang bisa berlari dengan kecepatan cahaya. Bahkan saking cepatnya, setiap kali kaki mereka berpijak pada dahan pohon, tak ada suara yang tertinggal dari gerakan tersebut. Para hewan nokturnal—hewan yang aktif di malam hari pun—sekalipun sepertinya tidak menyadari kehadiran mereka yang lewat dengan begitu cepat.


“Apa itu?” Leon mengurangi kecepatan larinya. Disusul oleh Lomon dan Luke. Sedangkan Lynn yang menempatkan diri paling belakang jadi yang terakhir mengurangi kecepatan.


Mereka terpaku beberapa saat ketika melihat “kejanggalan” di depan sana.


“Bagaimana bisa mereka semua masuk ke hutan kegelapan?” tanya Lomon, kebingungan. “Bukan kah pertahanan hutan kegelapan sangat sulit ditembus?”


“Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi,” timpal Luke. “Tidak mudah membobol pertahanan hutan kegelapan, jika bukan karena mahluk itu memiliki kekuatan dan kecerdasan di atas rata-rata.”


Mereka yang sekelas Lord vampir saja butuh planning matang untuk bisa masuk ke hutan kegelapan, sampai bisa mencapai area Luccane The Palace.


“Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu.”


Luke, Lomon, serta Leon menoleh pada Lynn yang baru saja buka suara. Pria itu tampak sudah siap dan siaga dengan dua bilah pedang di tangan.


Setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup dipersingkat, mereka langsung disambut dengan gerombolan Proscris Vampire berkerumun di sekitar pagar Luccane The Palace. Kondisi ini teras sangat “janggal” karena hutan kegelapan punya pertahanan yang tidak mudah untuk ditembus oleh kekuatan biasa saja dari mahluk immortal kelas Proscris Vampire. Pasti ada yang telah mereka lewatkan selama berada di wilayah Selatan.


"Biar aku saja yang melawan mereka, Kak," ujar Like seraya mengeluarkan sebuah botol berukuran sedang serta Rosario dari balik jubah yang ia gunakan. "Pemberian Uskup Agung lebih dapat diandalkan untuk menghabiskan mereka yang hanya ... Proscris Vampire."


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 10-03-23