
TRV 62. Proses Blood Feeding Terakhir
“Kamu sudah bangun, little mate?”
Bola mata biru yang baru saja terbebas itu mengerjakan mata beberapa kali. Objek pertama yang masuk ke retina matanya adalah wajah rupawan pemilih tempat yang sekarang ia tinggali, yaitu Luccane The Palace. Pria rupawan itu sedang duduk di samping tempat tidur yang menjadi tempatnya berbaring, memegang sebuah kain waslap yang tampak basah.
“Apa yang terjadi dengan ku?” bingung gadis cantik tersebut saat berupaya untuk mengambil posisi bangun, bersandar pada kepala tempat tidur. Namun, pening tiba-tiba menyerang.
“Hati-hati.”
Luccane kemudian dengan telaten membantu belahan jiwanya untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidur. “Kau demam,” ucapnya. “Sudah dua hari ini demam mu tidak turun.”
“Dua hari?” kaget Lucciane. “Aku tidak sadarkan diri selama dua hari?”
“Hm,” respon Luccane seraya memastikan bantalan yang menjadi sandaran bagian belakang tubuh—mulai dari punggung hingga kepala sang belahan jiwa dalam posisi pas. “Sekarang kondisi kamu sudah lebih baik,” katanya seraya menyentuh dahi belahan jiwanya itu. “Sudah tidak panas lagi.”
“T-unggu, Luccane.” Lucciane menarik tangan kekar milik pria rupawan itu, membawanya ke depan tubuh. “Kenapa tiba-tiba aku demam? Seingat aku, aku tertidur di atas kursi saat membaca buku. Kala itu aku sedang menunggu kamu. Lalu aku tertidur dan …” bermimpi bertemu dengan Lynn dan saudara-saudaranya, lanjut Lucciane di dalam hati.
“Selanjutnya kau pasti tidak ingat, karena kau kehilangan kesadaran.” Luccane angkat bicara seraya merubah tautan tangan mereka menjadi sebuah genggaman. “Untuk kedepannya, jangan pernah menunggu kepulangan ku yang tidak menentu.”
“Apa? tidak bisa begitu,” tolak Lucciane. “Aku demam bukan karena menunggu kamu, tapi karena … flu. Aku yakin karena itu.”
Luccane tersenyum tipis mendengar kalimat yang diucapkan belahan jiwanya itu. Keras kepala, pikirnya. Padahal ia tidak punya jadwal menentu soal pulang kerja. Apalagi jika sudah bekerja dengan urusan dewan kehormatan.
“Yang terpenting sekarang kamu sudah siuman.”
Lucciane tersenyum lirih. Ia memang merasakan sakit yang teramat, namun tidak punya banyak kekuatan untuk membuka mata. Ia juga bisa merasakan bahwa ada tangan dengan sensasi dingin yang terus memeluknya sepanjang waktu. Ketika berbalik, ia kemudian bisa merasakan permukaan bidang yang begitu dingin dan menyejukkan bagi tubuhnya yang terasa panas terbakar. Rasa dingin dan sejuk itu lah yang menjadi satu-satunya rasa nyaman bagi Lucciane saat tubuhnya terasa begitu terbakar.
“Selama aku demam, apa kamu memeluk aku sepanjang waktu?”
“…”
“Aku … bisa merasa sejuk karena tubuh kamu, ‘kan?” tanya Lucciane lagi, tatapannya masih tertuju pada Luccane yang pagi itu terlihat sangat rupawan seperti biasa. Apalagi saat tertimpa cahaya matahari pagi. Kulit putihnya akan tampak berkilauan.
“Hanya itu yang bisa aku lakukan untu mu,” jawab Luccane. Ia kemudian membawa tautan tangan mereka ke depan mulut untuk dikecup. Lalu, berpindah ke dahi sang belahan jiwa yang sekarang suhunya sudah berangsur-angsur kembali normal. “Istirahat lah. Aku akan memanggil pelayan untuk membantu kau berganti pakaian.”
“Kamu mau pergi kemana?” tahan Lucciane, saat Luccane beranjak.
“Ada yang harus aku bicarakan dengan Sebastian.”
“Setelah itu?”
“Aku akan kembali kepada mu,” jawab Luccane dengan senyum kecil, sangat kecil, terpatri di bibir.
“Baik lah.” Lucciane pun melepaskan pria rupawan itu, membiarkannya pergi melewati pintu. Ketika pintu terbuka lebar, sudah ada La’ti dan Marry yang menunggu.
“Masuk lah kalian,” ujar Lucciane dengan senyum yang tersungging di bibir pucatnya.
“Lady sudah siuman?” sapa La’ti yang datang dengan membawa beberapa kebutuhan Lucciane.
Anggukan kepala diberikan sebagai jawaban.
“Saya senang lady sudah siuman. Kami semua sangat cemas saat lady demam tinggi, apalagi my Lord.”
“Benar, lady. My Lord terlihat sangat mencemaskan lady,” timpal La’ti.
“Terima kasih telah mencemaskan aku,” jawab Lucciane dengan senyum tulus yang mengembang di bibir. “Sekarang aku sudah sembuh. Maaf telah membuat kalian cemas.”
Dua hari bukan lah jangka waktu yang sebentar bagi durasi orang yang tidak sadarkan diri karena demam. Selama itu pula, La’ti dan Marry berani bersumpah jika Luccane tak pernah pergi jauh dari sisi Lucciane. Pria itu paling pergi ke ruang kerja, atau ketika La’ti dan Marry menggantikan baju Lucciane yang basah karena keringat. Selebihnya pria itu akan selalu berada di samping Lucciane.
Pada hari kedua Lucciane tak sadarkan diri saja, Luccane kukuh memerintahkan Sebastian untuk membawa seorang dokter dari ras manusia. Dokter yang sangat professional dan jam terbangnya tinggi. Apakah Sebastian berhasil? Tentu saja. Namun, setelah dokter itu mengerjakan tugasnya, ingatan soal Luccane The Palace dan orang-orang yang ditemui di dalamnya terhapus dari ingatan dokter tersebut. Jika bertanya bagaimana bisa? Jawabannya tentu saja bisa, karena Sebastian itu butler Luccane The Palace yang serba bisa.
“Makan lah yang banyak, lady. Pasti lady membutuhkan banyak tenaga setelah jatuh sakit dua hari ke belakang.”
Marry dengan telaten menyajikan lokshyna z shynka. Salah satu menu sarapan enak yang mirip pasta Italia, namun ini bukan berasal dari Itali, melainkan berasal dari Ukraina. Biasa disebut juga pasta local khas Ukraina. Lokshyna z shynka berbahan dasar mie dengan tambahan daging jam. Mie yang digunakan juga memiliki ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan pasta. Soal cita rasa, lokshyna z shynka punya rasa yang tidak kalah lezat dari pasta Italia.
Di sini Marry membuat sedikit modifikasi, sehingga bahan baku mie yang digunakan untuk membuat lokshyna z shynka lebih sehat. Selain disajikan dengan daging jam, Marry juga menambahkan kacang polong. Tentu saja bukan cuma lokshyna z shynka yang menjadi menu sarapan Lucciane, ada juga soup yang bagus bagi metabolisme tubuh manusia seperti Lucciane. Serta jenis makanan lain, ditambah potongan buah segar serta beberapa butir kudapan manis sebagai penutup.
“Kenapa Luccane belum kembali? apa dia pergi?” Lucciane bertanya setelah menelan satu suap lokshyna z shynka yang telah ia kunyah.
“His Lord sedang bicara dengan Sebastian, lady. Saya melihatnya di dekat ruang arsip.”
Tinggal La’ti yang kini menemani. Sedangkan Marry sudah pergi, kembali ke dapur. Jadi, La’ti lah yang menjawab pertanyaan Lucciane. “Ada lagi yang lady butuhkan?”
“Tidak ada.” Gadis cantik bersurai merah keemasan dengan iris biru jernih itu menjawab setelah sesi sarapannya usai. Ia sudah merasa lebih segar berkat bantuan La’ti dan Marry.
Saat ini ia sedang menunggu pemilik Luccane The Palace yang belum juga kembali. Padahal pria itu berjanji akan segera kembali. Namun, sampai Lucciane hampir mati kebosanan, pria itu tak kunjung kembali ke kamar. Ketika berada di dalam lingkup rasa bosan, ada sesuatu yang menarik perhatian Lucciane, yaitu rasa sakit yang kemarin menjalar di area dada, merambat ke area leher, kemudian tembus ke area tengkuk di bagian belakang. Rasa sakit itu sangat dashyat, sampai-sampai Lucciane merasa jika kulitnya terbakar oleh api yang tak kasat mata. Sekarang yang tersisa adalah rasa sakit pada satu titik, yaitu bagian tengkuk.
Lucciane pun turun dari tempat tidur. Dengan langkah gontai berjalan ke arah cermin, membelakangi benda tersebut dengan harapan dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi pada titik yang masih meninggalkan rasa nyeri tersebut. Setelah menyibak rambut merah keemasannya ke satu arah, yaitu ke sebelah samping, kemudian dibawa ke depan, Lucciane dengan teliti mencoba mencaritahu sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ia tidak menemukan apa-apa selain sebuah simbol. Simbol berbentuk bulan sabit yang mirip dengan tanda lahir. Namun, kenapa ia barus melihatnya sekarang? Padahal sejak dulu tidak ada tanda seperti itu.
“Sedang apa?” tanya Luccane yang tiba-tiba ikut bergabung. Bayangannya muncul di dalam cermin, tepat di belakang tubuh Lucciane.
Alih-alih menjawab, Luccane malah menarik tubuh Lucciane mendekat, kemudian membalikkan posisinya. Membuat Lucciane menghadap ke cermin, sedangkan Luccane di belakangnya.
“Itu adalah simbol Moon Goddess,” ucap Luccane seraya mengarahkan bibirnya pada permukaan kulit tengkuk belakang Lucciane yang kini dihiasi simbol Moon Goddess. “Simbol itu muncul ketika seorang titisan The Goddess sudah dewasa dan mulai mengenal cinta.”
Lucciane tertegun mendengarnya. Selama ini ia memang tidak pernah mengenal apa itu cinta. Jangankan cinta, dekat dengan seorang pria saja tidak pernah. Ia hanya sibuk menyelesaikan studi seraya mengejar cita-cita dan mengembangkan hobby. Baru ketika ia bertemu Luccane, ia mengenal apa yang dimaksud dengan ketertarikan terhadap lawan jenis.
“Simbol itu tanda jika kau telah dewasa dan siapa menjadi soulmate raja vampir sepenuhnya.”
Suara berat itu kembali mengalun, tepat di belakang tumbuh Lucciane. Membuat si empunya merinding kaget. Ia kadang masih belum terbiasa dnegan keintiman yang tercipta di antara mereka.
“Apa kau sudah siap memberikan dirimu sepenuhnya?” pertanyaan itu datang lagi. Waktu itu Luccane juga pernah berkata jika Lucciane harus menyiapkan diri untuk menyerahkan diri sepenuhnya. Apakah hari ini waktunya?
“Aku tidak akan pernah memaksa,” tambah Luccane. “Ini bukan soal kita yang harus segera melakukan hubungan fisik, namun soal proses blood feeding terakhir.”
“Maksud kamu?”
Lucciane pikir, menyerahkan diri sepenuhnya berarti mereka akan melakukan hubungan fisik yang akan merenggut kesucian yang selama ini Lucciane jaga. Ternyata bukan.
“Proses blood feeding akan sempurna jika sepasang soulmate telah meminum darah masing-masing. Sedangkan kau belum melakukan itu.”
“I-tu …”
“Aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap,” kata Luccane seraya membalikkan tubuh Lucciane supaya mereka berhadap-hadapan. “Pada proses terakhir akan melibatkan rasa sakit. Oleh karena itu, aku tidak akan memaksa.”
Lucciane mengangguk paham. “Tapi, tolong jawab satu pertanyaan ku.”
Luccane menautkan kening mendengarnya. “Apa pertanyaan itu?”
“Apa setelah proses itu berhasil dilaksanakan, artinya kita resmi menjadi sepasang belahan jiwa?”
Senyum miring tercipta di bibir Luccane. “Ya. Aku akan terikat seumur hidup dengan mu, begitu pula sebaliknya. Hanya maut yang dapat memisahkan kita.” Luccane menatap Lucciane dalam. “Rasa sakit pun akan sama-sama kita rasakan, sebagai bentuk dari definisi belahan jiwa yang sesungguhnya.”
Lucciane juga menatap Luccane dengan tatapan yang sama. Ada banyak tanda tanya di kepalanya. Namun, tidak ada keraguan lagi yang tersisa. Jika memang ia adalah titisan The Goddess yang dipilih untuk menjadi belahan jiwa Luccane, maka tak ada alasan untuk menolak melakukan proses blood feeding yang terakhir.
“Do it (lakukan lah).”
“Jangan bermain-main, little mate.”
“Aku bersungguh-sungguh,” ucap Lucciane penuh keyakinan. Kedua tangannya kemudian terangkat, guna menjadi penopang yang berpegangan pada bahu kokoh milik raja vampir di hadapannya. “Aku ingin menjadi milik kamu sepenuhnya.”
Bola mata abu-abu kebiruan milik Luccane berkilat. Warnanya kian menggelap saat kedua tangan kokohnya melingkari pinggang ramping milik belahan jiwanya. “Pikir kan lagi baik-baik, little lady. Karena rasa sakitnya tidak seperti yang kau bayangkan.”
“Keputusanku sudah bulat,” jawab Lucciane mantap. “Sekarang, ayo lakukan!”
Luccane tersenyum tipis seraya menatap sang belahan jiwa. Dari jarak sedekat ini, ia bisa dengan puas menikmati wajah cantik yang sempat menjadi rebutan dan perdebatan ini. Untung saja banyak ras manusia di luar sana telah ia buat tidak dapat melihat kecantikan sang belahan jiwa yang punya pesona luar biasa.
“Jika itu keinginan mu, maka akan aku kabulkan.” Luccane membawa tubuh mungil itu ke dalam gendongan ala bridal style. “Namun, ingat satu hal. Setelah ini kamu akan benar-benar menjadi tawanan raja vampir,” lanjutnya saat ia berjalan menuju tempat tidur dengan membawa Lucciane.
Lucciane mengangguk paham. “Akan aku ingat baik-baik.”
Luccane tersenyum misterius. Namun, bola mata abu-abu kebiruannya tidak dapat berbohong jika ia tengah mati-matian menahan euphoria yang meletup-letup di dalam dada. Proses blood feeding adalah proses yang sangat sakral bagi ras mereka. Maka jika telah selesai melakukannya, sepasang belahan jiwa tidak akan lagi terpisahkan oleh apapun.
“Proses ini akan melibatkan rasa sakit,” ucap Luccane, mengingatkan kembali saat ia membaringkan tubuh belahan jiwanya di atas tempat tidur. Ruangan yang tadinya dibanjiri sinar bulan itu akan menjadi saksi selesainya proses blood feeding di antara mereka sebentar lagi.
“Aku akan menahan rasa sakitnya.”
“Tidak,” tolak Luccane. “Aku yang akan berusaha membuat rasa sakitnya lebih tidak terasa.”
Lucciane tersenyum. Satu tangannya kemudian terangkat guna membelai rahang tegas milik raja vampir yang ditakdirkan menjadi belahan jiwanya. “Aku percaya kepada kamu.” tidak keraguan sedikitpun di matanya. “Aku serahkan semuanya kepada kamu.”
Kilat di mata Luccane semakin bersinar. Kali ini benar-benar menyelimuti. Tanda bahwa hasrat untuk meng-klaim belahan jiwanya semakin menggelora. Maka dengan segera Luccane menundukkan wajah, menyapa belahan jiwanya dengan jarak begitu dekat.
“Aku akan membuatnya terasa begitu menyenangkan, walaupun menyakitkan.” Setelah berkata demikian, Luccane menggigit bibirnya.
Di mata Lucciane pria itu terlihat sangat sensual dan berkali-kali lipat terlihat lebih tampan. Namun, ia sempat risau saat pria itu menggigit bibirnya sendiri sampai mengeluarkan darah.
“Tidak perlu risau,” halau Luccane kala tangan mungil belahan jiwanya hendak menghentikan. Namun, ia sudah terlebih dahulu menahan gerakan tangan mungil tersebut. “Ayo buat ini lebih menyenangkan, little mate.”
Setelah berkata demikian, Luccane kian mengikis jarak di antara mereka. Lucciane sempat dibuat kebingungan dengan degup jantung yang sudah berantakan. Kedua bola mata meraka saling terkunci pada satu sama lain. Hanya ada suara hembusan napas yang terdengar di antara mereka yang yang hanya dipisahkan jarak beberapa senti. Jarak itu pun itu tidak bertahan lama, karena Luccane kian mempersempit jarak sampai dua bibir itu bertemu. Tanpa sekat, saling menyapa penuh rindu.
Awalnya hanya gerakan bertemu rindu antara dua permukaan lembut itu, kemudian melibatkan sesapan dan hisapan yang kian intens pada setiap detik yang terlewatkan. Luccane bergerak sebagai dominan yang memimpin permainan dengan lembut dan beraturan. Sampai pada batas kemampuan ia menunggu dengan gerakan lembut, dirasa belahan jiwanya sudah mulai terbiasa, ia menggunakan banyak cara untuk menyusup masuk. Menghantarkan lidahnya masuk guna memberikan secara langsung darahnya pada sang belahan jiwa.
Lewat cara yang tidak biasa, Luccane ingin menyempurnakan proses blood feeding yang akan menjadi jembatan bagi ikatan mereka berdua sebagai sepasang belahan jiwa.
🦋🦋🦋
TBC
Note : Semoga suka 😘
Tanggerang 28-02-23