Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 76. Pengorbanan


“Kau sudah bangun rupanya.”


Gadis cantik yang baru saja turun dari tempat tidur itu tersenyum. “Dari mana saja?” tanyanya kemudian dengan suara lembut.


“Ruang arsip,” jawab pemilik ruangan tersebut. “Apa kegiatan mu hari ini?” ia bertanya seraya mendekati belahan jiwanya itu. Langkah lebarnya dengan cepat membawa mereka bertemu.


“Hanya kegiatan harian seperti biasa.” Lucciane menjawab seraya menyambut kehadiran pemilik ruangan tersebut.


Ketika terbangun di pagi hari, ia tidak menemukan vampir rupawan itu. Hanya ada ruang kosong yang tersisa di atas pembaringan. Padahal ia telah berjanji akan menemani hingga pagi.


“Kegiatan mu sangat membosankan,” komentar Luccane ketika berhasil mencuri satu kecupan di pucuk kepala belahan jiwanya. Gadis itu tampak cantik seperti biasa, walaupun tanpa riasan wajah.


“Memang,” setuju Lucciane. “Sangat membosankan.”


Luccane tersenyum tipis saat melihat pemilik iris biru laut itu tampak cemberut. Ia tahu jika kegiatan belahan jiwanya itu sangat membosankan. Apalagi pasca insiden tumbuhnya bunga anconitum secara misterius di Luccane The Palace, Luccane semakin membatasi ruang gerak belahan jiwanya. Ia tidak mau mengambil resiko, jika gadis itu banyak beraktivitas di luar ruangan seperti biasa.


“Segera lah bersiap. Ada tamu yang menunggu kehadiran mu.”


“Tamu?” kening Lucciane bertaut mendengarnya.


“Hm. Mereka jauh-jauh datang dari wilayah Selatan demi dirimu, little mate.”


“Benarkah? Memangnya siapa mereka?” tanya Lucciane seraya menyentuh rahang tegas milik Luccane. Interaksi mereka sekarang jauh lebih lugas ketimbang masa ketika awal-awal mereka baru bertemu. Lucciane sudah tidak ragu lagi ketika hendak memulai interaksi skin to skin.


“Para penjaga mu,” jawab Luccane. Singkat, padat, serta jelas. Ia bahkan tak memberi banyak belahan jiwanya itu berpikir, karena detik selanjutnya ia membawa tubuh mungil itu ke dalam rengkuhan.


Luccane suka memeluk tubuh Lucciane yang hangat. Rasanya sangat menakjubkan ketika tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukan tubuhnya. Hangat yang tidak pernah ia dapatkan dari mahluk lain, kecuali belahan jiwanya.


“Siapa yang kamu maksud sebagai para penjaga itu?” bingung Lucciane dengan kedua tangan membalas pelukan raja vampir tersebut.


“Mereka yang rela melawan malaikat maut berulang kali demi dirimu,” kata Luccane dengan pelukan yang semakin mengerat. “Padahal mereka tidak ada apa-apanya dibanding diriku yang selalu siap menjaga keselamatan mu.” Luccane melerai pelukan mereka.


Wajah tampannya kemudian menyeruk ke bagian perpotongan antara bahu dan leher sang belahan jiwa. Menghirup aroma candu yang setiap waktu bisa membuatnya out of control. Untung saja, ia punya pengendalian diri yang patu diapresiasi. Walaupun punya kesabaran yang tipis sekali.


“Boleh?”


“Boleh untuk?” tanya Lucciane, keheranan. Tiba-tiba raja vampir meminta izin untuk sesuatu yang belum ia ketahui.


Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Luccane malah memberikan sebuah pernyataan. “Aku kehausan.”


“Haus?”


“Hm.” Luccane merespon singkat dengan wajah yang terus mengendus di area tersebut.


Ah, Lucciane tahu. Setelah berpikir keras, ia baru sadar maksud dari kata “haus” yang diucapkan oleh Lucciane. Sepertinya raja vampir itu butuh beberapa tetes cairan kehidupan karena merasa kehausan.


“Terima kasih karena sudah meminta izin terlebih dahulu,” kata Lucciane kemudian. Satu tangannya terangkat naik, lantas bermukim di rambut hitam legam milik sang raja vampir. “Hisap lah. Aku milik kamu.”


Luccane menyeringai kecil di balik tempat persembunyiannya. “Yes. You are mine,” katanya menyetujui. Walaupun tahu darah suci milik titisan The Goddess adalah miliknya, ia tetap meminta izin guna menghargai keputusan sang belahan jiwa. Luccane tak pernah belajar egois jika menyangkut soal wanita. Walaupun ia bisa dibilang tidak berpengalaman soal wanita, ada Sebastian yang siap memberinya pencerahan. Kendati demikian, vampir berusia 1.500 tahun itu juga belum punya pengalaman soal wanita. Ia hanya belajar lewat logika dan menelaah banyak kata soal wanita dan cinta.


Bola mata Luccane menggelap, diselimuti kabut merah tipis saat taringnya memperlihatkan eksistensi. Waktunya mengisi energi lagi, setelah sekian lama menahan diri. Dulu mungkin ia bisa menahan diri lebih lama untuk tidak menghisap darah manusia. Namun, semenjak tinggal satu atap dengan belahan jiwanya, Luccane kerap kesulitan menahan diri. Kendati demikian, ia tetap bisa mengontrol semua itu.


“Ahk.”


Lucciane merintih kecil saat taring itu berhasil merobek permukaan kulitnya. Tak butuh waktu lama sampai Lucciane merasakan permukaan kulitnya dihisap kuat-kuat. Lucciane hanya bisa merintih kecil saat hisapan itu tesa semakin kuat. Sesekali tangannya mengelus permukaan rambut vampir rupawan itu seraya berbisik supaya tidak terlalu terburu-buru. Sudah seperti seorang ibu yang memperingati anaknya supaya makan pelan-pelan, karena tidak akan ada yang meminta.


“Sudah?”


Luccane tersenyum tipis seraya mengangguk. Bibirnya yang kissable tampak merah akibat sisa darah yang belum ia bersihkan dengan lidah. Jemari Lucciane kemudian dengan telaten menyeka sisa darah yang tertinggal. Namun, kala hendak menarik jemarinya, Luccane malah membawa jemari itu ke dalam mulut seraya mengucapkan satu kata yang membuat Lucciane terperangah.


“Sayang.”


“Darah mu sangat berharga, little mate. Sayang jika terbuang sia-sia,” kata Luccane kemudian.


Lucciane membeku dengan jemari masih berada di dalam mulut raja vampir itu. hatinya berdesir tak karuan. Sungguh, ia merasa begitu lemah jika dihadapkan dengan kombinasi physical touch dan word of affirmation digabungkan dalam satu waktu. Kedua jenis love language itu benar-benar kerap jadi andalan Luccane.


“Lekas lah bersiap, kemudian temui para tamu untuk mu. Aku akan berada di ruang kerja.”


Lucciane mengangguk ketika Luccane berkata demikian, setelah melepaskan jemari Lucciane dari dalam mulutnya. Lucciane juga sudah penasaran dengan “para penjaga” yang dikatakan oleh Luccane. Apa mereka adalah … para Lord vampir? Tapi, bukannya mereka ada di Land of dawn?


Tidak mau terlalu lama bertanya-tanya, Lucciane pun bergegas menuju ruang utama ketika selesai bersiap, dibantu oleh La’ti. Pagi itu ia tampak cantik dengan daily vintage dress warna maroon yang selaras dengan warna rambutnya. Rambut merah keemasan itu juga sudah ditata dengan sedemikian rupa, sehingga tampak cantik dengan hiasan pita.


“Dimana mereka?” tanya Lucciane ketika tidak menemukan para “tamu” yang dimaksud oleh Luccane.


“Mereka tadi dipersilahkan menunggu di ruang tamu.”


Lucciane mengangguk paham. Ia pun segera menuju ke tempat tersebut. Ketika berhasil melewati pintu yang menjadi partisi antara ruang tamu dan ruang lainnya, Lucciane menemukan empat orang pria rupawan dengan karakter khasnya masing-masing tengah berada dalam posisi yang berbeda. Jangan lupakan pula keberadaan mahluk berbulu fluffy berwarna merah yang langsung berlari ke arah Lucciane.


“Kalian … masih hidup?”


🦋🦋🦋


“Apa yang harus saya lakukan pada wanita itu?”


“Biarkan saja. Aku masih membutuhkannya,” jawab sang lawan bicara yang tengah menikmati satu sloki minuman keras dengan kadar alkohol yang sangat tinggi. Namun, baginya minuman itu tidak ada bedanya sama sekali dengan air putih yang tawar.


Pandangannya kemudian teralihkan dari permukaan ranjang yang dihuni seonggok tubuh manusia tanpa busana, ke arah sebuah lukisan yang ada di atas kepala ranjang. Lukisan seorang wanita cantik dalam balutan ball gown vintage. Wanita itu tampak tersenyum lebar ke arah mereka.


“Kita butuh persembahan,” katanya kemudian. “Dia bisa dijadikan sebagai alat untuk memancing titisan The Goddess keluar dari sangkar.”


“Apa … Anda yakin jika wanita itu cocok dengan posisi yang dibutuhkan?”


Lucheren Khayansar. Vampir dengan energi negatif yang sangat pekat itu menyeringai iblis. “Tentu saja. Apalagi ibu dari wanita itu sangat mampu melakukan apa saja demi melindungi putrinya.”


“Sebenarnya apa rencana Anda, my King?”


“Tentu saja Lucciane Garcia,” jawab Lucheren. “Dari jarak sejauh ini saja, aku bisa menghirup aroma darahnya yang memabukkan.”


Eiser, pria berkacamata itu hanya bisa bungkam. Semenjak tuannya itu bangkit kembali, tujuan mereka hanya satu, yaitu titisan The Goddess. Pemilik darah suci yang sangat disegani oleh ras immortal seperti mereka. Konon katanya, satu tetes darah suci milik titisan The Goddess dapat melipatgandakan kemungkinan hidup mahluk immortal. Bahkan keistimewaan darah suci tidak berhenti sampai di situ, banyak lagi keistimewaan yang didapatkan jika bisa menghisap darah suci milik titisan The Goddess. Apalagi jika sampai beruntung bisa menjadi soulmate titisan The Goddess. Sudah, tidak perlu risau lagi untuk hidup di dunia.


“Pasukan ku berhasil memasuki wilayah hutan kegelapan. Itu berarti pertahanan di tempat tersebut sudah tidak seperti dulu.”


“Akan tetapi, kita harus tetap waspada, my King. Salah satu informan kita mengatakan bahwa para Lord vampir terakhir yang sempat menjadi vampir hunter di wilayah Selatan telah kembali.”


“Tidak ada yang perlu ditakuti,” respon Lucheren. “Lagipula mereka tidak pernah akrab dengan raja vampir.”


Vampir dengan aura gelap itu beranjak. Berjalan dengan tangan kanan masih memegang sloki minuman keras. “Sejak dulu para Lord vampir mudah sekali dipengaruhi. Mereka terlalu buta pada ketentuan.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 12-03-23