Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TVR 82. Laelaps


“Anda datang sendiri, Tuan Luccane?”


Seorang valet parking yang cukup familiar menyapa ketika Luccane hendak memasuki bangunan megah yang sudah seperti rumah keduanya di London.


“Hm.”


Respon singkat Luccane berikan pada manusia yang bertugas memarkirkan kendaraan dan selalu ramah pada setiap petinggi House of Lords atau siapa pun yang hilir-mudik di bangunan tersebut.


Sebagai salah satu pemilik gelar kebangsawanan seumur hidup atau life peers, pun berasal dari partai politik yang kuat membuat nama Luccane jelas disegani. Selain muda, ia juga punya banyak pengalaman yang memadai.


“Lord Luccane.”


Ketika baru saja masuk, beberapa langkah pasca melewati pintu utama, sapaan kembali menyapa. Namun, kali ini sapaan itu dilontarkan oleh suara lembut milik seorang wanita cantik yang tengah berjalan anggun menuju ke arahnya. Semenjak Life Peerages Act atau UU Gelar Kebangsawanan Seumur Hidup disahkan pada tahun 1958, mendorong kerajaan untuk menciptakan gelar kebangsawanan untuk pria dan wanita (pertama kalinya). Kemudian mereka berhak duduk dan bersuara di House of Lords dan gelar itu akan berakhir ketika mereka meninggal dunia (tidak dapat diberikan ke keturunannya). Para bangsawan juga diizinkan untuk melepas gelar tersebut jika mereka ingin dipilih menjadi Dewan Rakyat (Commons).


“Sudah lama saya tidak melihat Anda,” kata wanita cantik itu dengan nada bicara yang terdengar sopan. Jelas sekali jika ia dididik dengan sengat baik mengenai sopan santun dan tata krama.


“Saya selalu datang jika ada pertemuan, mungkin Anda yang tidak melihatnya.”


Secukupnya. Luccane selalu menjawab dengan secukupnya. Sekalipun lawan bicaranya saat ini adalah putri dari Wakil Ketua Senior, Baron Kennedy.


“Sore ini Ayahku akan mengadakan jamuan minum teh. Apa Anda bisa ikut bergabung?”


Luccane dengan tegas menggelengkan kepala. “Setelah urusan parlemen selesai, saya akan kembali ke Bristol.”


“Tumben sekali Anda buru-buru pulang. Apa ada sesuatu yang sangat menarik di rumah Anda?”


Luccane menarik garis tipis di bibirnya. “Itu bukan urusan Anda,” ucapnya kemudian.


Luccane sungguh tidak ingin waktunya terbuang hanya untuk meladeni omong kosong wanita yang menyimpan ketertarikan fisik padanya itu. Ia lebih memilih pamit undur diri, supaya bisa bergegas menuju tempat tujuan. Jika ada Sebastian, ia tak perlu merasa risau untuk urusan basa-basi. Masalahnya, sekarang ia datang sendiri. Mau tidak mau ia sendiri yang harus membalas sapaan orang-orang yang ditujukan padanya.


Ketika berhasil sampai di ruangan yang menjadi tujuan, langkah Luccane langsung disambut dengan aura gelap yang begitu pekat.


“Ternyata sudah ada di dalam,” kata dengan suara kecil. Mahluk penghisap jiwa kegelapan itu ternyata sudah ada di tempat perkumpulan para anggota House of Lords. Itu berarti ia adalah salah satu anggota House of Lords.


“Anda sudah datang.”


Sapaan ketiga kembali menyapa Luccane ketika melangkah masuk. Sapaan itu datang dari seorang pria paruh baya bernama Robert Spencer. Seorang anggota House of Lords dari Afiliasi Konservatif, bangsawan turun-temurun yang dipilih oleh dewan.


“Kami kebetulan sedang membicarakan Anda. Ada putra saya juga yang baru bergabung dengan dewan kehormatan.”


Tanpa dikenalkan pun, sebenarnya Luccane sudah tahu. Toh, hanya ada satu mahluk yang mengeluarkan energi negatif sangat pekat di ruangan ini. Mahluk itu lah yang diperkenalkan Robert Spencer sebagai putranya, Lucheren Khayansar Spencer. Anggota baru House of Lords, sekaligus mahluk penghisap jiwa kegelapan yang berhasil bertahan hidup selama kurang lebih 2.000 tahun.


“Kita bertemu lagi, young King,” katanya dengan leluasa.


Luccane tak bodoh. Massa (waktu) di sekitarnya telah dihentikan dengan kemampuan manipulasi waktu yang dimiliki oleh mahluk itu. Oleh karena itu, ia bisa dengan gamblang berkata demikian.


“Tidak perlu basa-basi, Laelaps.”


Mendengar Luccane menyebutnya dengan nama “Laelaps”, Lucheren tampak tidak senang. Nama itu diambil dari mahluk mitologi berwujud seekor anjing yang selalu berhasil menangkap buruannya. Dulu, dulu sekali … ketika Lucheren belum mengenal manfaat dari menghisap jiwa kegelapan, ia hanya vampir buangan yang dijuluki Laelaps karena selalu berhasil menangkap manusia yang diburu olehnya. Setelah sekian ratus tahun berlalu, ia kembali mendengar panggilan sial*n itu ditujukkan kepadanya.


Padahal sekarang ia bukan lagi anjing yang berada di bawah perintah, melainkan pemimpin pasukan Proscris Vampire.


“Jangan menyebut nama itu di depan ku lagi,” geram Lucheren dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh.


“Hm?” Luccane menyeringai kecil mendengarnya. “Kenapa? Bukannya julukan itu sangat cocok disematkan kepada mu?”


“Diam, sial*n!”


“Kau marah?” Luccane mengistirahatkan kedua tangannya di dalam satu celana seraya berjalan mendekat. “Bukan kah Ayah ku sudah berbaik hati memberi mu nama Laelaps?”


🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 21-03-23