
“Masih belum selesai!” teriak Leon. Pukulan kembali ia layangkan secara brutal. Bunyi kepalan tangan bertemu dengan tangan lain terdengar nyaring di telinga.
Semenjak pertarungan dimulai, sepertinya Leon lah yang paling antusias melawan Sebastian. Pria yang memiliki semangat seperti raja rimba ketika berburu itu berulang kali melayangkan pukulan serta kecohan sebagai serangan kombinasi.
“Jaga emosimu, Leon.”
Lynn yang sejak tadi ikut melayangkan serangan, namun kalah speed dengan Leon yang menyerang secara brutal dan bertubi-tubi. Leon benar-benar full speed.
“Serahkan dia kepadaku, Kak. Kalian lanjutkan perjalanan saja!” seru Leon yang sedang bertarung melawan Sebastian. One by one.
Luke menoleh pada Lynn yang sepertinya tengah mempertimbangkan ide tersebut. Bagaimana pun juga dari segi skill, Leon beda jauh dengan Sebastian yang notabene lebih OP alias over power. Bahkan mereka juga punya pengalaman yang berbanding sangat jauh.
“Kalian pikir bisa semudah itu melewati pintu masuk Luccane The Palace?” Sebastian dengan tampang datar tiba-tiba berucap.
Ia masih bisa terlihat santai, sekali pun sedang melakukan pertarungan one by one. Jika dipikir-pikir, jangankan pertarungan one by one, pertarungan satu lawan segerombol manusia saja ia sanggup. Walaupun lawannya adalah Lord vampir, rasa takut seolah-olah sudah tidak ada di dalam dirinya. Toh, ia disimpan pada garda terdepan karena ada maksud dan tujuannya.
“Cepat masuk!” seru Leon seraya menangkis beberapa pukulan yang Sebastian layangkan.
Bugh
Bugh
Bugh
Masih dalam posisi di depan pintu masuk Luccane The Palace, suara pertarungan sudah sangat nyaring terdengar. Ada untungnya Luccane The Palace berada di tengah hutan kegelapan, karena pertarungan brutal seperti jadi tidak menganggu dan menarik perhatian orang lain. Yang ada hanya lolongan predator malam serta hewan nocturnal.
“Kita harus menggunakan kesempatan ini dengan baik,” ucap Lomon dengan tangan menyentuh bahu Lynn.
“Benar, Kak. Kita serahkan saja Sebastian pada Leon,” timpal Luke. “Kita harus masuk ke dalam, sebelum terlambat.”
Lynn menatap kedua saudaranya untuk sekejap. Lalu beralih pada Leon yang masih berduel one by one. Tak berselang lama, ia menghela napas kecil seraya mengeratkan pegangan pada pedang yang ada di balik jubahnya.
“Kita percayakan butler The Palace pada Leon,” putusnya. “Kita masuk.”
Setelah memberikan komando, Lynn memandu jalan untuk masuk ke dalam Luccane The Palace. Diikuti oleh Luke dan Lomon, mereka berdua bergerak dengan gesit, menyelinap masuk. Meninggalkan Sebastian yang masih sibuk dengan Leon.
Tanpa mereka ketahui, butler Luccane The Palace menyeringai evil dari tempatnya berada. Seraya melawan Leon, ia memang secara tidak langsung membiarkan mereka “masuk” ke dalam Luccane The Palace. Padahal ia sendiri mampu untuk menghadang mereka berempat dalam waktu bersamaan. Yah, itu memang sudah bagian dari rencana.
Bugh!
“Saya serahkan sisanya pada Anda, My Lord,” gumam Sebastian setelah berhasil mengalahkan Leon.
Lord vampir muda itu terpental cukup jauh saat menerima pukulan Sebastian yang mengarah pada bagian perut. Untung saja ia bukan manusia, jika manusia biasa, maka organ-organ di dalam perutnya bisa saja hancur terkena pukulan Sebastian yang sangat keras. Ditambah lagi Sebastian juga menggunakan tenaga dalam—dimana tenaga yang ia miliki berkumpul pada satu titik tumpu, sebelum dilepaskan dalam bentuk sebuah pukulan.
“Tergesa-gesa dan ceroboh,” komentar Sebastian saat Leon muntah darah dalam posisi duduk setengah berbaring di lantai.
Sebastian adalah petarung yang handal. Ia belajar langsung dari berbagai petarung yang ahli dalam beberapa jenis beladiri. Karakteristik Sebastian yang selalu terlihat tenang dalam keadaan apapun, selalu berhasil membuat lawan kesulitan saat mencoba untuk membaca gerak-geriknya. Di tambah lagi Sebastian lebih sering mengambil posisi bertahan daripada menyerang. Itu dilakukan guna Sebastian punya waktu untuk membaca gerak-gerik serta taktik yang lawannya gunakan.
“Ini hanya permulaan. Meraka yang telah masuk ke dalam sana,” ucapan Sebastian terjeda, karena ia mengambil jeda saat menoleh guna menatap pintu utama Luccane The Palace yang sudah kembali tertutup rapat. “Tidak akan bisa kembali hidup-hidup.”
“A-pa?!” Leon tampak shock mendengarnya. “Jangan asal bicara, Pak Tua. Saudara-saudara ku adalah Lord vampir yang terkemuka. Mereka pasti bisa keluar dari sana dengan selamat serta akan membawa The Goddess.”
Sebastian tersenyum miring. Kemudian ia kembali pada posisi berdiri. “Tujuan kalian datang kesini adalah titisan The Goddess?” satu langkah kemudian ia ambil. Mulai meninggalkan Leon yang masih berada dalam posisi sama. “Asal kau tahu, My Lord sudah membawa titisan The Goddess ke suatu tempat yang tidak akan bisa kalian jangkau.”
Leon tentu saja terdiam mendengarnya. Apa kata Sebastian barusan? Raja vampir telah membawa titisan The Goddess ke tempat yang tidak dapat mereka jangkau? Apa mungkin raja vampir telah membawa titisan The Goddess ke underworld?
Bukan kah hanya itu satu-satunya tempat yang tidak dapat mereka jangkau? Tempat dewa Hades berkuasa—salah satu dewa dalam mitologi Yunani yang berkuasa di dunia bawah.
Sementara itu di dalam bangunan utama Luccane The Palace, Lynn, Luke dan Lomo sedang bergegas mencari keberadaan Lucciane. Alasan kenapa mereka datang ke Luccane The Palace malam ini. Namun, sebelum berhasil menemukan Lucciane, mereka sudah terlebih dahulu dihadang oleh dua orang vampir yang sempat mereka lihat menjaga gerbang.
Dilihat dari aura yang mereka pancarkan, sepertinya mereka baru mengisi “energi” menggunakan darah segar. Sehingga aura mereka begitu membara juga pekat. Berbeda dengan aura yang dipancarkan oleh vampir murni seperti Lynn dan saudara-saudaranya. Walaupun begitu, biasanya vampir seperti mereka punya kesetiaan yang patut diacungi jempol pada sang tuan.
“Mereka urusanku,” ucap Lomon.
Lord vampir yang memiliki rambut berwarna pirang itu langsung memasang kuda-kuda. Tak berselang lama, ia melesat dengan cepat ke arah keduanya. Secepat kilat menyambar dua vampir yang biasa menjaga gerbang Luccane The Palace itu, tepat pada bagian leher. Salah satu titik vital yang dapat mematikan lawan lewat satu gerakan.
“Cepat jalan!” katanya. Memberi komando.
Luke mengangguk, kemudian menoleh pada Lynn. “Ayo, Kak.”
Lynn mengangguk. Sebenarnya ia berat meninggalkan adik-adiknya. Namun, tugas tetap lah tugas. Sebagai Lord vampir tugas mereka yang ditinggalkan para Elder vampir di dalam sebuah perkamen adalah keharusan untuk dipertanggungjawabkan.
Walaupun begitu, ereka adalah Lord vampir yang tersisa. Jadi, sebisa mungkin mereka harus bisa saling menjaga agar tetap bertahan hidup.
“Jangan ragu, Kak. Kita tidak akan mati semudah itu,” ujar Luke meyakinkan. “Kakak punya liontin kehidupan. Sebagian jiwa kita tersimpan di dalamnya,” tambah Luke.
Liontin kehidupan yang dimaksud Luke adalah sebuah benda magis yang selalu Lynn bawa kemana-mana. Bentuknya kalung dengan bandul seperti salib, mirip Rosario, namun bukan Rosario.
Mungkin jika dilihat sekilas, orang-orang akan mengira jika Lynn adalah umat yang begitu agamis karena selalu menggunakan Rosario. Padahal itu adalah liontin kehidupan yang punya empat permata. Setiap permata punya warna berbeda, tergantung si pemilik kehidupan yang menyimpan sebagian jiwanya di dalam permata tersebut.
Permata-permata itu akan terus berwarna terang jika pemilik jiwa kehidupan masih terikat dengan dunia. Kemudian akan meredup saat pemilik jiwa kehidupan sedang berada dalam kondisi kritis. Lalu akan benar-benar kehilangan warna ketika pemilik jiwa kehidupan telah terputus dengan urusan di dunia, atau kata lainnya telah meninggal.
“Jangan khawatir, Kak. Kita tidak akan mati di sini,” tambah Luke penuh keyakinan. “Kita akan mati di Castil Vamfield, tanah kelahiran kita.”
🦋🦋
TBC
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 06-02-23