
“Apa Luccane pernah membawa perempuan lain ke tempat ini?” pertanyaan itu dilontarkan Lucciane setelah menerima satu gelas air minum yang tersimpan dalam sebuah cawan kayu.
Seelie, teman baru Lucciane tampak menggelengkan kepala seraya mengepakkan sayap kesan-kemari. Mahluk bersayap itu memang sedang mengambil beberapa buah mangga dari pohonnya yang sangat tinggi.
“Raja vampir tidak pernah datang dengan siapapun, kecuali Sebastian.”
“Begitu kah?”
Anggukan Seelie berikan sebagai jawaban. “Kamu adalah orang pertama yang dibawa kesini.”
Lucciane yang baru saja menerima dua buah mangga yang berwarna kuning kemerahan serta berbau harum tampak tertegun. “Kamu yakin?”
“Iya,” jawab Seelie. “Kalau kamu tidak percaya pada Seelie, tanyakan saja pada Sebastian. Pria tua itu yang paling tahu tentang Raja vampir.”
Lucciane mengangguk kecil. Benar juga perkataan Seelie, seharusnya ia bertanya pada Sebastian yang sudah bersama Luccane sejak kecil. Namun, hubungannya dengan Sebastian juga sedang renggang. Lebih tepatnya Lucciane yang menciptakan jarak di antara mereka.
“Apa kamu tahu, Seelie cukup terkejut saat Raja vampir tiba-tiba datang dan menghadap pemimpin Elves setelah sekian lama.”
“Memangnya kenapa?”
“Raja vampir belakangan ini jarang datang. Jika datang secara tiba-tiba, itu berarti Raja vampir sedang berada dalam bahaya,” tutur Seelie yang baru saja terbang mendekat kea rah Lucciane. “Pemimpin Elves punya hutang nyawa pada Raja vampir. Jadi, pemimpin Elves berkata pada Raja vampir jika para Elves selalu siap membantu jika Raja vampir membutuhkan pasukan.”
“Lalu … waktu itu untuk apa Luccane datang?”
“Untuk menyampaikan jika miliknya akan berada di sini untuk sementara waktu,” sahut Seelie dengan senyum hangat tercipta di bibir.
“Miliknya?” Lucciane semakin kebingungan mendengarnya.
“Kamu.” Seelie menunjuk Lucciane dengan telunjuknya. “Kamu milik Raja vampir.”
“Aku?” Lucciane menunjuk dirinya sendiri dengan tampang innocent. “Aku … bukan milik siapa pun.”
“Ohoo~” Seelie mengeluarkan suara cute yang menjadi ciri khas nya. “Lalu tanda kepemilikan itu apa?”
Lucciane kontan menyentuh lehernya sendiri. Ia langsung tahu maksud dari perkataan Seelie. Padahal tanda kemerahan itu sudah menghilang. Apa masih terlihat?
“Raja vampir tidak akan sembarangan menandai manusia. Kecuali, jika manusia itu telah bersumpah setia untuk menjadi pengikutnya, alasan lainnya, manusia itu istimewa.”
“Aku tidak mengerti.”
“Kamu itu istimewa,” ujar Seelie menjelaskan. Ia gemas sendiri melihat reaksi Lucciane.
Sebagai ras Fairies, Seelie termasuk ke dalam golongan Fairies yang cerdas dan cepat membaca situasi. Saat mendengar Raja vampir datang dan meminta pemimpin Elves untuk menjaga ‘miliknya’, Seelie langsung berpikir jika kepemilikan yang Raja vampir itu tunjukkan memiliki arti jika apa yang akan ditinggalkan olehnya sangat berharga.
Saat Luccane datang membawa Lucciane ke Land of Dawn—nama tempat tinggal Seelie serta ras mistis lainnya—para penghuni Land of Dawn langsung dibuat penasaran dengan jenis mahluk yang dibawa Raja vampir. Mereka penasaran karena Lucciane memancarkan aura yang luar biasa, sehingga menarik perhatian para ras lain yang punya kepekaan lebih.
Setelah ditelusuri, ternyata Raja vampir membawa titisan The Goddess yang kedudukannya sangat tinggi jika dibandingkan dengan kedudukan mereka di alam semesta.
“Semua penghuni Land of dawn ingin bertemu dengan kamu dan ingin meminta berkat. Tetapi, mereka khawatir kamu akan ketakutan.”
“Kenapa aku harus takut?”
“Karena penghuni Land of dawn bukan cuma ras Elf dan Fairies. Ada ras lain yang tersebar di seluruh penjuru tempat ini.”
Land of dawn adalah adalah nama tempat indah yang Lucciane singgahi setelah Luccane melakukan teleportasi. Tempat yang indah dan menyejukkan itu sepertinya masih menjadi bagian dari bumi, namun entah dimana lokasinya. Penghuni Land of dawn pun ‘katanya’ sangat beragam. Bukan cuma ras Elf atau Fairies, melainkan terdiri dari banyak ras. Seperti layaknya fairytale—dongeng atau cerita rakyat yang diceritakan kembali dari generasi ke generasi, biasanya mengisahkan tentang mahluk mistis seperti Elf, peri, dan sebagainya—tempat ini sangat indah dan tampak tidak nyata dengan segala keajaibannya.
“Ini contoh kecilnya saja, di Land of dawn itu tinggal para siren, goblin, troll, griffin, orge, Cyclops, unicorn, sampai phoenix. Sisanya Seelie juga kurang tahu.” Seelie menjelaskan dengan sabar. “Dan mereka semua ingin bertemu kamu, tetapi pemimpin Elves sudah memberikan perintah. Demi kenyamanan kamu, cuma Seelie yang diizinkan untuk mendekat.”
“Sampai seperi itu?”
“Tentu saja, karena kamu adalah milik Raja vampir.”
“Aku bukan milik siapapun,” bantah Lucciane. Wajahnya tiba-tiba muram. “Lagipula tanda ini … adalah bentuk dari hukuman yang dia berikan.”
“Ohoo~” Seelie tersenyum jenaka. “Bagaimana Raja vampir bisa menghukum kamu? titisan The Goddess.”
“Apa?” bingung Lucciane. “Titisan The Goddess?”
“Upss. Apa Seelie telah membocorkan rahasia?” Seelie tampak kelimpungan. Ia keceplosan bicara.
“Tolong jelaskan apa yang barusan kamu maksud,” pinta Lucciane dengan tangan meraih satu punggung tangan Seelie.
“Uhm, Seelie … harus jaga rahasia.”
“Aku berjanji tidak akan memberitahukan ini pada Luccane.”
“Baiklah,” jawab Seelie, pasrah. “Seelie jelaskan dari garis besar ras vampir dulu. Pertama, ada The God and The Goddess. Kedudukan The God and Goddess sudah tahu, ‘kan?”
Lucciane mengangguk. “Aku tahu.”
“Baik. Selanjutnya, aka keluarga kerajaan vampir kuno. Mereka adalah sekumpulan vampir murni dari golongan pertama. Mereka juga dianggap sebagai ras vampir suci yang berwenang untuk mengurus kerajaan. Berikutnya ada Elder vampir. Mereka adalah vampir yang sudah hidup sangat lama di dunia. Seperti Elf yang bisa menjadi lelah karena hidup yang abadi, serta ada beban dari keabadian itu sendiri. Para Elf akan pergi ke Valinóë atau tanah yang diberkati. Jika mereka tetap berada di earth, tubuh para Elf akan terdegradasi sehingga mereka akan menjadi roh tak kasat mata dan tetap tinggal di earth tanpa ikut serta di dalamnya.”
“Para Elder vampir juga akan kembali ke tanah yang diberkati, atau menjadi roh tidak terlihat jika memilih tetap tinggal di earth.”
Sejauh ini Lucciane masih paham dengan penjelasan Seelie. Mengingat ia juga kerap kali menonton film fantasi saat masih kecil.
“Kemudian ada Lord vampir. Mereka terlahir sebagai ras vampir murni yang ditugaskan untuk mengabdi pada keluarga kerjaan. Namun, karena sebuah insiden, para Lord vampir malah melawan arah, membelot pada keluarga kerajaan. Mereka juga punya tugas penting lain dari para Elder vampir, yaitu menjaga titisan The Goddess.”
“Para Lord vampir? Penjaga titisan The Goddess?” gumam Lucciane.
“Setelah itu, ada Proscris vampire atau vampir buangan. Mereka ini vampir yang sangat berbahaya bagi manusia, karena tidak bisa mengendalikan hawa nafsu untuk menghisap darah.”
Lucciane mengangguk paham seraya sesekali membenahi surai merahnya yang melambai-lambai karena tertiup angin.
“Terakhir ada Dhampir. Mereka adalah golongan vampir yang lahir dari hasil perkawinan antara ras manusia dan ras vampir.” Seelie kembali bergerak. Menggunakan sayapnya untuk terbang, kemudian meraih sebuah ranting pohon untuk digunakan sebagai alat bantu menulis di atas permukaan tanah. “Kemudian ada yang namanya titisan The Goddess. Biasanya titisan The Goddess lahir dari ras manusia. Kelahirannya tidak dapat diprediksi, bisa muncul seratus tahun sekali atau bahkan sampai seribu tahun sekali.”
“Apa hubungan titisan The Goddess dengan para … vampir?” tanya Lucciane, ragu-ragu.
“Dulu, titisan The Goddess dianggap suci dan dihormati. Sampai suatu ketika, putra mahkota kerajaan vampir jatuh hati pada The Goddess yang merupakan manusia biasa, namun punya anugrah istimewa, yaitu dapat mengendalikan sampai membinasakan ras vampir terkuat sekalipun. Mereka saling mencintai, kemudian lahir seorang anak dari hasil hubungan tersebut. Anak yang kelak menjadi Raja vampir yang tidak terkalahkan karena terlahir sebagai vampir dari ras campuran.”
Seelie menginjak tanah lagi. Kali ini ia berjalan ringan ke arah Lucciane. “Kemudian bencana datang. Rumor mengatakan jika putra mahkota kerajaan vampir yang telah menjadi Raja tega membunuh titisan The Goddess demi hidup abadi. Semenjak hari itu, para Elder vampir menunjuk Lord vampir untuk menjadi penjaga bagi titisan The Goddess berikutnya. Mereka percaya jika kejadian serupa akan terjadi jika titisan The Goddess sampai jatuh hati pada Raja vampir yang lahir dari ras campuran.”
Lucciane rasa ada sedikit keganjilan sampai pada bagian ini. Entah pada poin yang mana, Lucciane sendiri belum bisa memastikannya.
“Lalu … kenapa kamu bisa berkata dengan yakin jika aku adalah titisan The Goddess?”
“Karena aura kamu,” jawab Seelie. “Aroma kamu,” lanjutnya. “Aura serta aroma kamu tidak dapat disembunyikan dari kami—para ras yang peka akan dua hal tersebut. Apalagi dari Raja vampir yang sudah jelas-jelas terikat benang merah dengan kamu. Oleh karena itu, para Lord vampir yang tersisa di luar sana pasti berlomba-lomba untuk menjauhkan kamu dari Raja vampir. Karena itu memang tugas mereka.”
Seelie tersenyum tipis seraya berkacak pinggang. “Sepertinya aku terlalu banyak bicara, sampai-sampai wajah kamu pucat begitu.”
Luccian menggeleng. “Bukan itu masalahnya.”
“Lalu?”
“Lynn,” gumam Lucciane. “Aku rasa … aku mengetahui keberadaan para Lord vampir.”
“Benarkah? Itu berarti mereka telah berhasil menemukan kamu. Lagipula mereka memang ras vampir yang diutus untuk menjaga kamu.”
Lucciane tiba-tiba memejamkan mata. Sekelebat bayangan dan suara-suara milik Lynn tiba-tiba memenuhi kepala.
“Kami adalah penjagamu, Lucciane.”
“Kami akan segera menyelamatkan kamu, Lucciane.”
Apa mungkin jika Lynn dan saudara-saudaranya adalah Lord vampir? Para penjaga yang diutus Elder vampir untuk menjaga titisan The Goddess … yaitu dirinya?
“T-idak mungkin,” gumam Lucciane. “Tidak mungkin jika alasan Luccane membawa aku ke sini hanya karena Lynn … datang untuk membawaku pergi dari Luccane The Palace.”
🦋🦋🦋
TBC
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 08-02-23