
TRV 67. Fruitcake & jealous
“Sebaiknya Lady beristirahat jika masih lemas,” ujar wanita yang baru saja datang dengan sebotol rum serta sebotol whiskey di tangan yang lain.
Kalimat tersebut kemudian dijawab oleh lawan bicaranya. Seorang gadis cantik yang sedang sibuk berkutat dengan beberapa bahan baku untuk membuat cake. “Aku sudah merasa jauh lebih baik,” katanya dengan riang. “Lagipula aku bosan jika terus berada di dalam kamar.”
“Lebih banyak istirahat malah lebih baik buat nona,” timpal suara lain.
“Terima kasih, Marry,” ujar Lucciane saat wanita yang baru buka suara itu menyodorkan satu jar buah-buahan kering.
“Memangnya apa yang ingin lady buat?” tanya Marry kemudian. Ia mulai berinisiatif menyiapkan beberapa wadah dan peralatan yang sekiranya dibutuhkan.
“Fruit Cake,” sahut Lucciane.
Gadis cantik pemilik rambut merah keemasan itu mengangguk. Ia memang hendak membuat Fruit Cake. Cake yang sudah menjadi pilihan keluarga Kerajaan Inggris selama berabad-abad lamanya. Fruit Cake sendiri merupakan wedding cake Pangeran William dan Kate Middleton—yang waktu itu mencuri perhatian dunia, karena dibuat delapan tingkat dengan hiasan ratusan bunga gula yang harganya diperkirakan mencapai 80 ribu dollar Amerika atau sekitar 1 miliar jika rupiahkan.
Selain Pangeran William dan Kate Middleton, Fruit Cake juga menjadi wedding cake pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana, Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip, hingga Ratu Victoria.
Menurut Chris Dodd, seorang chef pastry asal Inggris, Fruit Cake tradisonal di pernikahan-pernikahan Royal Family atau keluarga Kerajaan Inggris biasanya berisi campuran buah kering yang dicelupkan ke minuman beralkohol seperti rum atau whiskey. Fruit Cake itu kemudian dilapisi oleh marzipan dan icing.
“Wedding cake royal family juga terbuat dari Fruit Cake bukan?” La’ti yang tengah berkutat dengan tepung dan ayakan tepung angkat bicara. Hidup ratusan tahun lamanya, setidaknya ia tahu apa yang sudah menjadi kebiasaan royal family yang berkuasa di tempat yang ia tinggali.
“Benar.” Lucciane menjawab. “Contohnya saja wedding cake Duke dan Duchess of Cambridge. Wedding cake yang terbuat dari Fruit Cake setinggi delapan tingkat yang dihiasi oleh banyak bunga gula. Tentunya selain enak, Fruit Cake itu membutuhkan banyak keahlian khusus saat membuatnya.”
La’ti dan Marry mengangguk paham. Sudah bukan rahasia lagi jika Wedding cake yang terbuat dari Fruitcake setinggi delapan tingkat yang dihiasi oleh banyak bunga gula pada pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton menjadi salah satu pusat perhatian dunia kala itu. Selain cantik, wedding cake tersebut juga punya detail yang rumit.
“Aku juga ingin membuat flower butter cookies. Apa bunga-bunga yang bisa di makan masih mekar di halaman?”
“Tentu saja ada, lady. Biar saya ambilkan sebentar,” sahut La’ti, antusias.
Berhasil membuat Lucciane dan Marry tersenyum kecil. Flower butter cookies membutuhkan bunga asli dalam proses pembuatannya. Untung saja di taman dan halaman Luccane The Palace ada spot khusus yang ditumbuhi oleh berbagai jenis bunga dan tanaman hias. Dari banyaknya bunga dan tanaman hias di taman, ada beberapa jenis yang bisa diolah dimakan oleh manusia.
Lucciane berencana untuk meminta bantuan Sebastian atau Elar untuk memberikan beberapa Flower butter cookies ke desa di seberang sungai yang memisahkan wilayah hutan kegelapan dengan wilayah di seberang. Sedangkan untuk Fruit Cake ingin membuat satu berukuran 20 centimeter berdiameter bulat untuk dikirimkan pada Lana. Lucciane akan menamai Fruit cake cake tersebut Verry Happy Birth Day Cake. Mengingat sebentar lagi Lana melangsungkan hari jadinya. Walaupun tak ada di sisinya, Lucciane ingin menjadi orang yang memberikan birth day cake untuk satu-satunya pekerja di La Vie En Rosé.
“Lady, ada apa?” La’ti bertanya saat menyadari sesuatu telah mempengaruhi mood sang Lady. Gadis cantik bersurai merah keemasan itu bahkan sempat terdiam saat mengaduk adonan cake.
“Mau saya bantu?” La’ti kemudian menawarkan diri. Namun, Lucciane menolak bantuan tersebut dengan halus.
“Tidak perlu. Kamu bisa bantu aku dengan cara yang lain, misalnya oles Loyang dengan carlo--olesan loyang. Kemudian lapisi dengan baking paper.”
“Siap, lady!” sahut La’ti, semangat 45.
Lucciane diam-diam mengulum senyum tipis melihatnya. La’ti dan Marry memang dua teman paling berpengaruh bagi Lucciane selama tinggal di Luccane The Palace. Bagaimana tidak, karena mereka lah yang kerap membantu Lucciane mengatasi rasa bosan di kala senggang. Entah sudah berapa lama semenjak Lucciane tinggal di Luccane The Palace, namun sekarang tempat itu sudah seperti rumahnya sendiri. Apalagi setelah ia resmi menjadi soulmate atau belahan jiwa Luccane.
Lambat-laun Lucciane sudah merasa nyaman tinggal di Luccane The Palace, walaupun ia harus terisolasi dari dunia yang telah maju karena moderenisasi. Namun, ia tahu jika semua ini demi kebaikannya. Toh, selama tinggal di Luccane The Palace ia tidak pernah kekurangan apapun. Mulai dari sandang, pangan, serta kebutuhan lain tercukupi dengan sangat baik. Belakangan ini Sebastian juga kerap “menyelundupkan” beberapa surat kabar, majalah, serta buku-buku baru untuk menghibur sang Lady. Vampir berusia 1.500 tahun itu bahkan sempat mengajari trick rock balancing pada Lucciane.
Rock balancing sendiri adalah seni menyusun batu. Biasanya seni yang satu ini kerap dilakukan di tempat-tempat yang banyak bebatuan, mulai dari sungai, dan tempat-tempat lain yang berpotensi besar menjadi tempat terkumpulnya bebatuan yang merupakan material utama rock balancing.
“Makan lah selagi hangat.”
“Apa ini?” Lucciane bertanya kala menyambut belahan jiwanya yang baru saja kembali sepulang kerja.
Kali ini pria rupawan itu tidak tadang dengan tangan kosong, melainkan datang dengan kantong-kantong belanja yang begitu banyak. Sampai-sampai Sebastian dan Elar kewalahan membawanya.
“Salted egg yok lava custards buns,” jawab Luccane. “Sebastian bilang kau merindukan makanan ini.”
Lucciane speechless. Ia sempat terdiam beberapa saat kala mendengar kalimat tersebut. Ketika kembali mendapatkan kesadaran, ia tertawa kecil.
“Kenapa? Apa bukan ini makanan yang kau inginkan?” Luccane bertanya dengan raut wajah yang sedikit … kesal. Mungkin ia merasa dibohongi.
Lucciane menggelengkan kepala.
“Jadi benar bukan ini yang kau inginkan.” Luccane hampir saja membuang paper bag dengan logo sebuah toko Salted egg popular di dekat La Vie En Rosé. Untung saja Lucciane buru-buru menahan.
“Aku akan memakannya,” ujarnya seraya mengambil alih paper bag berisi Salted egg yok lava custards buns tersebut.
“Tidak perlu kau makan jika tidak ingin.”
Gelengan kepala Lucciane berikan. “Aku memang menginginkan Salted egg yok lava custards buns, tapi bukan merindukannya.”
“Lalu siapa yang kau rindukan?” tanya Luccane dengan suara beratnya yang kian terdengar dalam.
“Pemiliknya.” Lucciane dengan polos menjawab. Ia memang merindukan pemilik toko Salted egg yok lava custards buns tersebut. Seorang wanita tua yang …
“Jadi kau merindukan pria muda itu?” potong Luccane.
Kening lucciane bertaut mendengarnya. “Pria muda?” bingungnya.
“Bukan kah pemilik toko itu seorang pria muda berdarah Asia?” timpal Luccane seraya mendekat ke arah belahan jiwanya. “Jadi, kau merindukan pria muda berdarah Asia itu?”
Lucciane tertawa kecil, membuat Luccane keheranan. Padahal saat ini gadis itu sedang ia curigai.
“Itu putra pemilik toko, Luccane. Namanya Luhan bukan?”
“Aku tidak pernah mengingat nama orang lain, selain nama mu dan orang-orang ku,” jawab Luccane santai.
Melihat respon tersebut Lucciane malah semakin tergelitik. Apa barusan vampir rupawan itu baru saja cemburu padanya?
“Jangan marah. Aku benar-benar tidak merindukan Luhan, melainkan bibi Kim. Pemilik toko itu adalah bibi Kim yang selalu baik kepada ku.” Lucciane mendekat, berdiri di depan kaki Luccane yang agak terbuka.
“Hm.”
“Kamu tidak marah, ‘kan?”
Luccane mendongkrak, kemudian tangan kanannya terulur untuk meraih tangan belahan jiwanya. “Tidak. Selagi kau tidak memikirkan pria lain, selain aku.”
Lucciane membalasnya dengan senyum lebar sehangat sinar mentari pagi. “Kalau kamu tidak marah, ayo kita makan fruit cake bersama. Aku baru selesai membuatnya.”
“Ambilah. Aku akan memakannya jika itu buatan mu.”
🦋🦋🦋
TBC
Semoga suka 😘
Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗
Tanggerang 04-03-23