Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 21. Tuan Rumah Yang Ramah


“Mereka sudah datang.”


“Kau gentar hanya karena meraka datang, Sebastian?” tanya sang Lord yang sedang mengulurkan tangan guna menyentuh permukaan lukisan kuda yang sedang berjingkrak. Dua kuda berwarna putih dengan beberapa bagian berwarna perak itu dilukis oleh seorang pelukis beraliran naturalisme yang sangat popular pada tahun 1762. Lukisan kuda tersebut bahkan dibuat dengan ukuran kuda aslinya. Jadi bisa terbayang seberapa besar ukuran lukisan tersebut?


Lukisan yang serupa tapi tak sama juga dipajang di National Gallery, London. Whistlejacket namanya. Lukisan kuda yang sedang berjingkrak yang dibuat sama dengan ukuran kuda aslinya. Dibuat oleh George Stubbs. Pelukis beraliran naturalisme yang pernah sang Lord beli mahakarya nya.


“Tentu saja tidak, My Lord.”


Luccane beralih, menatap ke arah tangan kananya itu. “Mereka sudah ada di luar sana.”


“Yes, My Lord.” Sebastian menunduk hormat. Dalam sejarah ras vampir, ia mungkin bisa dikategorikan sebagai bawahan paling setia pada tuannya.


“Wait and see,” kata Luccane. “Mereka datang dengan sendiri. Mereka juga akan masuk dengan sendirinya.”


“Lalu Anda akan diam saja melihat mereka masuk ke Luccane The Palace?”


Luccane menyeringai kala mengambil posisi duduk pada singasana kebanggaannya. “Penyusup tetaplah penyusup. Tidak ada tuan rumah yang akan menyambut mereka dengan ramah.”


Luccane mungkin terlihat tenang dan biasa saja, namun ia telah mempersiapkan diri dengan baik. Begitu pula dengan kedatangan para Lord vampir yang tiba-tiba. Luccane telah bersiap, begitu juga dengan Luccane The Palace.


“Tempat ini dibuat ayahku dengan kekuatannya sendiri, Sebastian. Tidak mungkin aku membiarkan mereka membuat kekacauan begitu saja.”


“Lalu apa rencana Anda, My Lord.”


“Kau akan segera mengetahuinya,” sahut Luccane dari singgasananya. Kedatangan Lord vampir yang berusia lebih muda darinya bukanlah apa-apa. Ia bahkan pernah berada dalam posisi lebih mengkhawatirkan dari ini.


Peristiwa itu terjadi saat Luccane sendiri masih sangat kecil dan naif. Ia belum tahu apa-apa saat kediamannya tiba-tiba diserang oleh para Elder vampir. Alhasil sang ayah mati-matian memepertahankan keamanan Luccane The Palace. Hasil dari peristiwa hari itu, ayah Luccane terbunuh. Sedangkan para Elder vampir sebagian besar juga terbunuh, sisanya terluka parah. Begitu pula dengan Luccane The Palace yang sempat rusak parah. Sebelum terbunuh ayah Luccane sempat membuat perisai raksana guna melindungi Luccane The Palace.


Ayah Luccane yang merupakan raja vampir yang disegani juga memerintahkan para penghuni hutan kegelapan untuk menjaga Luccane The Palace yang menaungi putranya. Oleh karena itu, hutan kegelapan jadi sangat berbahaya karena efek dari perintah sang Raja. Para penghuni yang setia pada tuannya selama ini menjalankan perintah dengan baik. Mereka menjaga Luccane The Palace serta pangeran di dalamnya.


“Tugasmu hanya satu, Sebastian.”


“Apakah itu, My Lord?”


“Menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan para Lord vampir.”


🦋🦋🦋



“Jadi Lady sudah tahu?”


Gadis yang menggunakan vintage dress warna merah muda dengan motif ruffle di bagian bawah rok serta bagian ujung lengan yang panjangnya ¼ itu menoleh dari atas tangga kayu yang ia gunakan untuk menggapai rak-rak buku. Sudah ada beberapa gunung buku yang tersusun di atas lantai, dan gadis itu masih sibuk mencari buku baru.


“Tahu tentang apa?” alih-alih menjawab, Lucciane malah balik bertanya. Padahal ia tahu maksud dari ucapan La’ti.


“Some thing about identity of My Lord.”


Lucciane tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, karena saat La’ti bertanya, ia menemukan sebuah buku yang cukup menarik. Ditulis oleh sastrawan yang terkenal pada tahun 1990-an. “Aku menemukannya.”


“Menemukan apa, Lady?”


Lucciane menoleh pada La’ti yang masih setia memegangi tangga yang ia gunakan. “Buku yang aku cari.” Dengan satu tangan berpegangan pada tepian tangga, Lucciane pun perlahan-lahan turun. Sedangkan satu tangannya lagi memeluk buku.


“Hati-hati, Lady,” kata La’ti, memperingati. Ia sudah menanggung beban untuk menjaga dan mengawasi sang Lady. Jika sang Lady sampai terluka sedikit saja, sang Lord pasti akan memberikan introgasi tiada henti.


“Tadi kamu bertanya soal sesuatu?” Lucciane menatap La’ti setelah berhasil menjejakkan kaki di lantai. Lucy yang sejak tadi asik dengan gulungan benang wol juga langsung mendekati. “Kamu bertanya soal aku tahu atau tidak tentang identitas His Lord?”


La’ti mengangguk samar. Ia tampak ragu saat hendak bertanya balik.


“Aku tahu,” jawab Lucciane santai. Salah satu tangannya bergerak guna menyentuh bulu-bulu fluffy milik Lucy. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika His Lord adalah mahluk penghisap darah.”


“Apanya yang bagaimana?” Lucciane menatap La’ti yang wajahnya tampak mengeras. “Aku tahu dan dia menawanku.”


“…”


“Aku tidak bisa pergi kemana-mana karena His Lord telah menandai aku,” ucap Lucciane seraya menyentuh lehernya.


La’ti bisa melihat betapa pasrah sang Lady saat berkata demikian. Seolah-olah ia memang tidak punya cara lain, selain menjadi tawanan raja vampir.


“Aku sudah berjanji tidak akan bicara kepada siapa pun, tapi His Lord tetap tidak bergeming.”


La’ti berjalan mendekat ke arah Lucciane yang sedang duduk lesehan di atas lantai. “My Lord memang seperti itu, Lady. Beliau sangat teguh pada pendiriannya.”


Lucciane mengangguk lemah seraya menghembuskan napas. “Karena sekarang aku sudah tahu identitas His Lord, dan kemungkinan besar semua penghuni Luccane The Palace juga …”


Anggukan kepala La’ti yang tiba-tiba berhasil memotong kalimat Lucciane. Jadi benar, hanya ia yang merupakan manusia di tempat ini.


“La’ti.”


“Yes, My Lady.”


“Aku ingin sendiri. Bisa kah kamu pergi?”


“Setelah saya memastikan Anda kembali ke kamar,” sahut La’ti. Wanita dengan rambut berwarna brunette itu belakangan terlihat lebih banyak berekspresi. Ketimbang saat awal-awal Lucciane datang.


Lucciane pun memenuhi permintaan La’ti. Ia kembali ke kamar bersama La’ti yang membantu membawakan beberapa buku. Sedangkan Lucy asik mengekor di belakang mereka. Seharian ini Lucciane lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Ia masih menjaga jarak dengan para penghuni Luccane The Palace. Hanya La’ti dan Marry yang mau ia sapa dengan bersahabat.


Hari sudah gelap ketika Lucciane kembali ke kamar. Namun, belum sempat masuk ke dalam kamar, tiba-tiba terdengar bunyi dentuman yang sangat keras dari arah luar.


“Suara apa itu?”


“Sebaiknya Lady segera masuk,” kata La’ti seraya mendorong Lucciane agar segera masuk bersama Lucy. “Saya akan memeriksa dari mana asal suara itu.”


Lucciane mengangguk kecil, kemudian masuk ke dalam tanpa banyak kata. Walaupun ia cukup penasaran dengan suara dentuman keras yang baru saja terdengar. Entah apa yang terjadi di luar sana.


“Lucciane.”


Merasa namanya dipanggil, Lucciane langsung menoleh. Mencari dari mana arah datangnya suara tersebut. Kemudian tatapannya tertuju pada Lucy.


“Apa itu kamu, Lynn?”


“Iya, ini aku.”


“Bukan, maksud dari perkataanku adalah bunyi dentuman barusan?” Lucciane menatap Lucy—perantara di antara mereka—dengan lekat. Ia sempat beberapa kali berkomunikasi dengan Lynn, dan pria itu berjanji akan membuat suara dentuman yang cukup besar bila datang untuk menjemput Lucciane.


“Iya. Kami sudah berada di dalam Luccane The Palace. Jadi bersiaplah.”


“…”


“Kami akan segera menjemput kamu, Lucciane.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 04-02-23