
“Bawa aku. Pertemukan kami, jika memang aku titisan The Goddess yang ditakdirkan untuk membersamai dia.”
Helaan napas terdengar kasar dari arah Sebastian. Namun, sepersekian detik berikutnya ia mengulurkan tangan. Membuat gadis cantik di hadapannya yang tengah berderai air mata tertegun untuk beberapa saat. Apa maksud dari uluran tangan itu?
“Mari, beautiful Lady. Kita tidak punya banyak waktu lagi,” ucapnya dengan senyum tipis yang tersungging di akhir kalimat.
“Terima kasih, Sebastian.”
Tanpa berpikir dua kali, Lucciane pun menerima uluran tangan tersebut. Ia harus melihat kondisi Luccane dan Lynn dengan mata kepalanya sendiri. Sebelum benar-benar pergi dengan cara melakukan teleportasi, Sebastian terlebih dahulu mengambil mantel hitam milik sang Lord yang tersampir di kepala kursi. Ia paham betul letak geografis serta strategis Castil Vamfield. Bangunan suci yang sudah lama ditinggalkan itu akan sangat berbahaya jika malam tiba.
“Jangan memikirkan apapun selain pegang tangan saya, beautiful Lady.”
Lucciane kembali memusatkan perhatian pada Sebastian, setelah menerima mantel milik Luccane untuk digunakan. Anggukan kepala ia berikan sebagai jawaban. Sedetik kemudian Lucciane menjawab uluran tangan Sebastian, lalu memejamkan mata sesuai instruksi. Dalam genggaman tangan Sebastian, Lucciane bisa merasakan hawa yang begitu dingin. Apa memang semua mahluk berdarah dingin tidak memiliki kehangatan sedikitpun pada tubuhnya?
Lucciane rasa jawabannya tidak. Buktinya Luccane masih bisa memberikan kehangatan lewat tindakan yang kadang tidak bisa diprediksi. Semenjak pertama kali bertemu, pria itu memang tampak dingin seperti es, juga datar. Namun, dibalik semua itu, Luccane juga sangat perhatian. Walaupun cara pria itu menunjukkan perhatiannya berbeda dengan orang lain.
Tanpa dikomando, tiba-tiba Lucciane membuka mata saat merasakan terpaan angin yang cukup kencang. Membuat sebagian surai kemerahannya bergerak satu arah. Bulu kuduk nya sampai meremang.
Hal pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah sebuah kompleks bangunan megah bergaya gothic yang didominasi oleh warna putih. Jadi itu yang dinamakan Castil Vamfield? tempat kelahiran para Lord vampir.
Bangunan megah itu tampak indah saat dibanjiri sinar rembulan. Dilengkapi dengan sebuah katedral, rupanya Sebastian tidak main-main jika Castil Vamfield dinamakan sebagai tempat suci. Kendati demikian, kental sekali aura mencekam dan menyedihkan dari bangunan megah serta mewah tersebut. Berdiri di area luas di tengah-tengah rimbunnya pepohonan, membuat tempat tersebut bak Luccane The Palace yang terisolir dari dunia luar.
“Jangan jauh-jauh dari saya, beautiful Lady.”
Sebastian berhasil mengembalikan kesadaran Lucciane yang sempat larut dalam pesona Castil Vamfield. Castil dengan gaya arsitektur yang terkenal di Eropa sejak abad ke-12 itu memang mudah dikenali, serta mudah memikat hati. Berbeda dengan arsitektur Victorian, arsitektur gothic mudah dikenali dari bentuk bangunan yang memiliki banyak lengkungan runcing, jendela yang besar, dan bentuk bangunan yang megah.
Jenis arsitektur gothic biasanya punya lima elemen khas di dalamnya, seperti jendela kaca patri yang besar, lengkungan runcing, flying buttresses, kubah dengan garis-garis, serta dekorasi yang penuh dengan ornamen.
“Ayo.”
Lucciane mengangguk. Kali ini Sebastian kembali memimpin jalan, namun mereka masih tetap berjalan berdampingan. Karena tidak berpenghuni, mereka bisa langsung masuk ke dalam Castil Vamfield. Pintu bangunan megah itu bisa dibuka dengan mudah oleh Sebastian, tanpa menyentuhkan tangan pada permukaan pintu.
Suram. Itulah yang menyambut kedatangan Sebastian dan Luccianne saat pertama kali pintu terbuka dengan lebar. Mereka pun melangkah masuk tanpa segan. Toh, Castil Vamfield tidak berpenghuni.
“Tempat suci ini menyambut kedatangan titisan The Goddess setelah seribu tahun lebih ditinggalkan,” jawab Sebastian. “Bisa dikatakan bahwa tempat ini adalah markas para penjaga Anda, beautiful Lady.”
Lucciane tidak tahu harus merespon apa. Namun, mendapat sambutan seperti itu ia masih belum terbiasa. Fakta jika ia dilahirkan sebagai titisan The Goddess saja masih belum bisa sepenuhnya diterima oleh nalar dan logika. Namun, di dunia yang luas ini, ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar serta logika.
Ternyata, tidak sampai disitu sambutan yang Lucciane dapatkan. Pasca memasuki lorong-lorong yang begitu menakjubkan dalam keheningan, gerombolan mahluk bersayap yang berukuran mungil datang dari arah berlawanan, menyerbu ke arah Lucciane.
“Ini apa lagi, Sebastian?”
Sebastian tersenyum tipis melihat bagaimana kebingungan tercetak di wajah cantik sang Lady. “Di Britania Raya, mereka disebut The glasswinged butterfly.”
“The glasswinged butterfly?” ulang Lucciane dengan tatapan tertuju pada mahluk cantik dengan sayap tembus pandang tersebut.
Sebastian mengangguk. “Nama ilmiahnya Greta oto.” Ia kemudian kembali berjalan mendekati sang Lady yang disambut oleh mahluk dengan tulang-tulang yang menghiasi sayap tembus pandang, ditambah cantik dengan warna hitam, putih, serta sedikit warna coklat yang menghiasi ujung sayapnya. “Dalam bahasa Spanyol, nama mereka adalah Espejitos. Tetapi di sini, nama mereka adalah … The Goddess pet’s.”
“The Goddess pet’s? kalau boleh tahu, kenapa dinamai seperti itu?”
“Karena menurut kepercayaan bangsa kami, The glasswinged butterfly adalah hewan peliharaan titisan The Goddess pertama yang berhubungan dengan ras Vampir.”
Lucciane menganggukkan kepala mendengarnya. “Lalu kenapa mereka mengerumuni aku?"
“Tentu saja karena beautiful lady adalah titisan The Goddess berikutnya,” jawab Sebastian dengan gamblang. “Mereka menyambut kedatangan majikan barunya setelah sekian lama."
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 😘
Tanggerang 16-02-23