Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 89. Persiapan Proses Blood Feeding


TRV 89. Persiapan Proses Blood Feeding


Gadis dengan surai merah keemasan yang menggunakan vintage dress motif bunga-bunga kecil itu tampak tidak bernafsu menatap makanan yang terhidang di atas meja. Ada plester demam instan yang menghiasi dahinya. Manik birunya tampak menatap bosan ke arah hidangan yang terhidang. Jika bukan karena lidahnya yang terasa pahit, ia pasti sudah menikmati semua makanan itu dnegan senang hati.


“Apa makanannya tidak sesuai selera Anda, Lady?” tanya La’ti yang sejak tadi setia menemani.


“Jika ada makanan yang ingin Lady nikmati, silahkan katakan saja pada saya,” sahut Marry kemudian. Kepala koki itu juga sigap berdiri di samping La’ti.


Lucciane tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. “Semua makanan ini sudah cukup. Lagipula aku tidak makan bukan karena tidak menyukainya, melainkan karena semua makanan yang masuk ke mulut ku rasanya pahit.”


“Itu karena saat ini Lady sedang sakit,” jawab La’ti.


Lucciane mengangguk lesu. Padahal baru beberapa hari yang lalu ia masih beraktivitas seperti biasa, sampai ketika ia tiba-tiba terserang demam tinggi. Padahal dua hari yang lalu Luccane berkata jika sekarang tubuhnya akan lebih kuat, namun nyatanya ia tetap lemah dan mudah sakit. Kondisinya yang seperti ini tentu saja merepotkan orang lain.


Ingin mengisi perut saja ia tidak bisa, sekalipun perutnya keroncongan. Sedangkan rasa pahit terasa menggerogoti mulutnya. Jika tidak merasa pahit, ia pasti sudah mengisi perut sejak tadi. Tidak ada juga makanan yang berhasil menarik perhatiannya, kecuali aroma aroma salted butter yang berpadu dengan vanili yang tiba-tiba tercium sangat harum dan wangi. Mengingatkan ia pada Dutch Boterkoek buatan tangan sang ibu. Cake kuno asal Holland itu sudah lama sekali tidak ia nikmati. Kudapan yang sangat cocok dijadikan teman minum teh pada acara afternoon tea party itu memang sangat harum. Harumnya pun khas dan lekat dalam ingatan Lucciane, karena dulu ibunya kerap membuat Dutch Boterkoek.


“Makanlah. Sebastian membawanya dari London.”


Satu paper bag berwarna coklat berukuran sedang tiba-tiba diserahkan pada Lucciane. kontan ia menatap para pria rupawan yang baru saja menyodorkan paper bag tersebut.


“Apa ini?”


“Dutch Boterkoek.”


“Dutch Boterkoek?” ulang Lucciane. Ia pikir telinganya salah dengar.


“Itu cake kuno kesukaan mu. Makan lah, isi perutmu supaya bertenaga,” ujar Luccane seraya mengambil posisi duduk di samping sang kekasih yang masih kebingungan. “Apa demam mu sudah turun?” ia kemudian mengecek suhu tubuh kekasihnya dengan tangan sendiri. Memastikan jika suhu tubuh gadis bersurai merah keemasan itu sudah turun atau belum.


“Darimana Sebastian tahu aku suka Dutch Boterkoek?”


“Aku,” jawab Luccane. “Suhu tubuh mu sudah turun. Setelah ini lekas kembali ke kamar, kemudian minum obat yang telah Sebastian siapkan. Setelah itu …”


“… tidur?” celetuk Lucciane.


Luccane tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala sang kekasih. “Good girls.”


Lucciane pun ikut tersenyum, kemudian mengeluarkan Dutch Boterkoek yang dibawa oleh Luccane. Sekarang di tempat itu hanya ada mereka berdua, karena La’ti dan Marry sudah Luccane perintahkan untuk segera pergi. Meninggalkan sepasang kekasih itu berdua.


“Setelah ini kamu mau pergi kemana?”


“Aku tidak akan pergi kemana-mana.” Luccane belakangan ini memang tampak sibuk. Namun, pria itu jarang ke luar rumah. Ia paling mengurung diri di dalam ruang kerjanya seharian. “Kenapa? Kau kesepian? Hari ini aku punya waktu luang.”


Lucciane tampak kebingungan. “Aku tidak …”


“Ada tempat yang ingin kau kunjungi? Aku akan mengantar mu kesana.”


Lucciane terdiam. Jika ditanya soal tempat mana yang ia kunjungi, jawabannya sudah pasti La Vie En Rosé, toko pastry miliknya yang sudah lama ditinggalkan. Sekarang tempat itu malah sudah berganti kepemilikan.


“La Vie En Rosé?” seolah-olah mengerti keinginan terbesar sang kekasih hati, Luccane bisa menebak dalam sekali tebak.


“Tidak.”


Lucciane akhirnya berbohong. Ia tahu belakangan ini sedang ada “mahluk” yang mereka—Luccane, Sebastian, Lynn, serta saudara-saudaranya—awasi. Kejadian-kejadian di luar nalar yang belakangan meneror Luccane The Palace juga pasti berkaitan dengan “mahluk” tersebut. Lucciane tidak mau bertingkah gegabah lagi. Ia tidak mau egois, kemudian malah berakhir merepotkan semua orang. Jadi, untuk kali ini biar ia memendam keinginannya dalam-dalam sampai waktu yang memungkinkan.


Luccane tampak menunggu kelanjutan kalimat tersebut dengan sabar.


“… bersama kamu seharian ini,” lanjut Lucciane seraya tersenyum tipis. “La’ti bilang di luar banyak buah yang siap panen. Aku ingin memetiknya bersama kamu.”


“Hanya itu?”


Anggukan Lucciane berikan sebagai jawaban. Untuk saat ini hanya itu yang ia inginkan; menghabiskan lebih banyak waktu bersama Luccane. Melakukan hal-hal kecil bersama, mulai dari jalan-jalan di sekitar Luccane The Palace, memetik hasil perkebunan, berkuda, dan sebagainya. Sederhana, namun berarti bagi Lucciana.


“Luccane The Palace terasa damai jika His Lord dan beautiful lady bahagia,” kata Sebastian yang tengah berdiri di dekat sebuah jendela. Memandang ke luar, lebih tepatnya ke arah di mana Luccane dan Lucciane terlihat tengah berjalan bersama.


Di sampingnya, berdiri Lynn dan Luke yang juga ikut menatap ke arah sama. “Mereka tampak … serasi,” ungkap Luke, tanpa sadar. Sepersekian detik berikutnya, ia pun menoleh pada sang kakak. “Kak, aku …”


“Aku paham maksudmu,” potong Lynn. “Mereka memang terlihat serasi, karena meraka telah ditakdirkan untuk bersama.”


Luke terdiam. Begitu juga dengan Sebastian yang tampak tersenyum tipis dalam diamnya. “Setiap mahluk memiliki jalan hidup dan kisah cintanya masing-masing. Kalian tidak perlu risau, anak muda. Karena The God tidak pernah membiarkan makhluknya lahir tanpa pasangan.”


Setelah berkata demikian, Sebastian mengalihkan pandangan agar sepenuhnya menatap ke arah Lynn dan Luke. “Kalian mungkin masih tidak bisa menerima my Lord sepenuh hati. Namun, my Lord lah pasangan sejati bagi titisan The Goddess yang kalian jaga dengan hati-hati.”


“…”


“Lagipula tujuan kita semua sama, yaitu melindungi titisan The Goddess,” lanjut Sebastian. “Sekarang kalian bisa beristirahat dengan tenang. Kepala koki telah menyiapkan pasokan darah segar untuk kalian. Mengingat nanti malam kita harus berjaga, jadi jangan lupa untuk mengisi tenaga.”


Luke mengangguk paham, begitu pula dengan Lynn. Namun, mengingat alasan apa yang membuat dirinya harus “berjaga” nanti malam, membuat hati kecilnya merasa sedikit … tidak ikhlas. Dikarenakan nanti malam Luccane akan menyempurnakan proses blood feeding dengan cara melakukan penyatuan bersama Lucciane. Jika sudah sampai pada tahap tersebut, setelahnya mereka akan menjadi satu. Ikatan batin yang terjalin akan semakin kuat mengikat keduanya.


“Jangan sedih, Kak. Masih ada banyak wanita dari berbagai ras di luar sana,” hibur si kecil, Leon, yang dapat memahami kegundahan sang kakak. “Jika Kakak masih tidak dapat melupakannya, itu berarti Kakak belum bisa berdamai dengan kenyataan yang ada.”


“Aku baik-baik saja,” sahut Lynn. Dengan senyum kecil ia kemudian mengusap pucuk kepala Leon. “Kau sudah besar rupanya. Sudah bisa memberikan nasihat,” godanya.


“Tentu saja!” seru Leon dengan kedua tangan terlipat di dada. “Sebentar lagi aku juga pasti akan bertemu dengan mate-ku. Dan aku berharap jika mate-ku bukan berasal dari ras manusia.”


“Kenapa begitu?” kini giliran Lomon yang buka suara. Tampak penasaran.


“Karena ras manusia itu makanan kita,” seloroh Leon, polos. “Akan sulit bagiku menahan keinginan untuk menghisap darahnya, jika sendang lepas kendali. Lalu, bagaimana jika pada akhirnya aku menyakitinya? Ras manusia itu mahluk yang tergolong lemah.”


“Melankolis sekali,” komentar Luke. “Moon Goddess telah memilihkan mate yang sesuai dengan kita. Soulmate itu bukan diciptakan untuk menjadi kelemahan, melainkan untuk saling mengisi kekurangan yang kemudian disempurnakan.”


“…”


“Seorang vampir atau werewolf tanpa mate bisa apa?” tanya Luke, ketika saudaranya memilih untuk diam dan mendengarkan. “Tetap bisa melakukan segalanya. Namun, pasti ada yang kurang dalam hidup mereka. Bahkan tak jarang salah satu dari mereka mati, karena tidak bisa hidup tanpa mate. Mengingat ras kita dan ras werewolf sama. Diciptakan untuk setia pada satu mate seumur hidup.”


Pada dasarnya mereka memang sama. Baik ras vampire ataupun werewolf, mereka adalah mahluk yang setia pada pasangannya masing-masing.


“Jadi, bukan kah kita seharusnya senang karena nanti malam akan ada salah satu dari ras kita yang melakukan perkawinan setelah sekian ratus tahun?” celetuk Leon dengan senyum jenaka yang terpatri di bibirnya. “Mungkin … beberapa bulan kemudian, ras kita yang hampir punah juga akan kedatangan anggota baru.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa mampir ke cerita Author yang sedang on going satu ini 👇


Tanggerang 16-05-23