
“Apa kau menemukan sesuatu di sana, La’ti?”
Wanita dengan pakaian khas pelayan, namun dibuat dengan bahan terbaik itu menggelengkan kepala. “Saya belum menemukan sesuatu yang menarik di sini, lady.”
“Baiklah,” jawan sang lady yang sedang duduk di depan tumpukkan buku serta sebuah lilin menyala yang digunakan sebagai penerangan. Sudah beberapa jam berlalu, namun mereka belum menemukan petunjuk lain mengenai apa yang mereka cari. Padahal sudah banyak buku yang mereka kumpulkan.
“Apa tidak sebaiknya dicari besok saja, lady? Sekarang sudah larut malam.” La’ti datang mendekat dengan sebuah buku using di tangan.
“Aku akan mencarinya sebentar lagi. Jika kamu sudah lelah mencari, biar aku saja,” kekeuh Lucciane. Semangatnya tak putus sekalipun apa yang ia cari sejak tadi belum ditemukan.
“Saya tidak merasa kelelahan,” bantah La’ti. Ia pun menyimpan buku yang dibawanya ke atas meja, kemudian bergerak menjauh dari tempat duduk sang lady. Ada satu tempat yang belum ia jelajahi.
Lucciane sendiri memilih untuk kembali melanjutkan bacaannya, padahal ia sudah sangat mengantuk. Jika saat ini ia berada di dapur La Vie En Rosé, tengah berkutat dengan adonan kue atau pastry untuk esok pagi, pasti ada segelas kopi yang menemani supaya kantuk tak berani menganggu. Biasanya Lana juga menemani lemburnya pada beberapa malam. Bicara soal Lana, bagaimana kabar karyawan serta teman dekat satu-satunya itu? apa ia baik-baik saja? Lucciane harap tidak ada kejadian buruk yang menimpa Lana ataupun kekasihnya, Thomas, yang sudah cukup banyak membantu Lucciane.
Entah pada halaman ke berapa ratus, kantuk yang menyerang sudah tidak dapat dibendung lagi. Alhasil netra biru yang jernih bak genangan air laut itu tertutup. Wajah cantiknya menelungkup di antara kedua tangan, ditutupi oleh sebagian surai merah keemasannya.
“Lady, saya menemukan satu buku …” La’ti tidak lagi melanjutkan kalimatnya kala mendekati Lucciane. Bukan saja karena gadis cantik yang memiliki aroma darah begitu menggoda itu tengah terlelap, namun ada juga sang lord yang entah sejak kapan muncul di perpustakaan.
“Sedang apa little mate ku di tempat gelap semalam ini?” tanyanya dengan tangan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik belahan jiwanya.
“Maafkan saya, my Lord.” La’ti menunduk hormat. “Lady bersikeras mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.”
Luccane mendengarkan, namun ia tidak memberikan respon apapun. Bola mata abu-abu kebiruannya tampak meneliti beberapa buku yang terbuka di sekitar belahan jiwanya. Sepertinya perkataan sang maid benar, belahan jiwanya itu bersikeras untuk mencari tahu sesuatu yang terjadi di masa lalu. Sesuatu yang berkaitan dengan kedua orang tuanya.
“Kembali lah,” perintah Luccane.
“Bagaimana dengan lady …” La’ti menggantungkan kalimat, sadar jika ia terlalu mencemaskan sesuatu secara berlebihan.
“Aku akan membawanya ke ruangan ku.”
La’ti mengangguk paham. “Baik, my Lord.” La’ti kemudian pamit undur diri, seperti perintah Luccane. Meninggalkan Lucciane yang tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran pria itu.
Sepeninggalan La’ti, Luccane dengan mudah membawa belahan jiwanya ke dalam gendongan ala bridal style. Kali ini ia tidak menggunakan kemampuan teleportasi untuk membawa sang pujaan hati, melainkan membawanya dengan cara konvensional. Ada jalan rahasia yang menjadi penghubung antara perpustakaan dengan ruang pribadi miliknya. Jadi, ia bisa menggunakan jalan tersebut serta menikmati lebih banyak waktu kebersamaan dengan sang belahan jiwa.
“Keras kepala sekali,” kata Luccane saat berhasil membaringkan belahan jiwanya di atas bantal yang dilapisi kain lembut seperti kapas.
Luccane pun beranjak, bukan pergi. Melainkan ikut merebahkan diri di samping belahan jiwanya itu. Merengkuh tubuh gadis mungil itu agar masuk ke dalam pelukan. Walaupun tidak dapat memberikan kehangatan, setidaknya ia dapat memberikan perlindungan.
“Walaupun mungil, tubuh mu terasa hangat sekali.”
“Apa alasan yang mendasari tekad mu untuk mencari tahu?” tanya Luccane dengan suara beratnya. Ia sudah memastikan jika sang belahan jiwa benar-benar lelap dalam buaian pulau kapuk kala ia buka suara. Mungkin belahan jiwanya itu kelelahan.
Sebenarnya After blood feeding effect masih bekerja hingga saat ini, namun tidak terlalu menimbulkan efek yang signifikan. Lagipula ia juga tinggal memberikan beberapa tetes darah pada sang belahan jiwa untuk menyempurnakan proses blood feeding. Kendati demikian, Luccane tak lantas melakukannya karena tidak mau belahan jiwanya kembali merasakan rasa sakit yang lebih menyakitkan.
Di sisi lain, Luccane sepenuhnya sadar jika rasa peduli dan simpati yang dimiliki Lucciane, berhasil membuat gadis itu kesulitan menerima kenyataan jika para Lord vampir akan terbunuh secara tragis di Land of Dawn. Lucciane secara tidak langsung menyalahkan dirinya sendiri, karena ia merasa menjadi alasan terbunuhnya para Lord vampir. Padahal Luccane berencana memusnahkan mereka karena murni didasari oleh rasa muak.
Perlu diketahui bahwa pada setiap generasi akan ada penerus yang mengulang jejak leluhurnya. Pada masa pemerintahan Luciano de Khayat, ayahnya, Luccane tahu jika ada satu Lord vampir yang menjadi dalang utama bagi keruntuhan kerajaan vampir kuno. Para Elders vampir serta Lord vampir terdahulu memang terbagi menjadi dua kubu. Ada kubu yang pro, ada juga kubu yang kontra dengan hubungan Luciano dan Iness. Mereka menganggap jika seharusnya Iness tetap menjadi titisan The Goddess yang menjaga kesuciannya, agar tidak menimbulkan kekacauan pada kaum Adam. Namun, takdir telah mengikat Iness dengan Luciano yang saat itu muncul untuk pertama kali di acara debutante.
Mereka—Luciano dan Iness—saling tertarik, karena memang mereka telah ditakdirkan untuk bersama. Sedangkan di sisi lain, ada banyak bujangan dari kalangan bangsawan hingga kalangan biasa yang menginginkan Iness. Bahkan dari berbagai golongan ras vampir pun banyak yang menginginkan Iness, karena Iness merupakan titisan The Goddess yang sangat rupawan. Kendati demikian, Luciano dan Iness tetap melangsungkan pernikahan setelah melakukan proses blood feeding secara sempurna.
Adanya pernikahan tak lantas membuat hubungan mereka direstui. Dari pihak kerajaan, ada salah seorang bangsawan bergelar grand Duke yang sangat menginginkan Iness. Sedangkan dari ras vampire, ada salah seorang Lord vampire yang merasa dirinya lebih pantas menjadi pendamping titisan The Goddess yang suci, ketimbang raja vampir yang bukan ras murni.
Kehadiran Luccane di perut Iness—beberapa bulan setelah mereka resmi menjadi suami-istri dan kepala pemimpin di kerajaan Vampir kuno—malah menjadi pemantik kebencian, rasa iri, serta dendam yang tak beralasan. Sebagian Elders vampir juga tidak menginginkan bayi di dalam perut Iness lahir, karena itu akan membahayakan kehidupan Iness. Mereka sudah mencoba membujuk Iness, namun Iness bersikeras untuk melahirkan bayinya. Iness bahkan menutup rapat fakta tersebut dari suaminya sendiri.
Pasca melahirkan, kondisi Iness semakin melemah. Luciano yang tidak tahu apa-apa kemudian jadi sasaran empuk para pengadu domba di luara istana. Mereka menganggap Luciano memanfaatkan Iness agar dapat hidup kekal dan abadi. Padahal pada kenyatannya ada segelintir Elders vampir yang mengetahui penyebab dari lemahnya kondisi Iness. Namun, mereka sepakat untuk memilih bungkam.
“Ibu … berkorban untukku, dan ayah … tewas saat melindungi ku.”
Iness meninggal di usia muda. Alasan Iness meninggal tentu saja karena kondisi tubuhnya yang kian lemah setelah melahirkan bayi hasil perkawinan dua ras yang berbeda. Calon pemimpin yang tak terkalahkan di masa depan. Beberapa tahun kemudian, Luciano ikut meregang nyawa pasca kewalahan menghalau para pemberontak. Raja vampir itu tewas setelah melindungi putra satu-satunya. Sebelum ajal menjemput, Luciano sempat membuat perisai raksasa yang tidak mudah ditembus untuk melindungi Luccane The Palace. Membuatnya tak kasat mata, agar keselamatan sang putra terjaga.
“Aku juga akan melakukan hal yang sama, jika mereka mengincar dirimu, little mate.”
Luccane tidak akan tinggal diam jika mereka—ras vampire—yang tersisa di luar sana bersatu dan mengincar belahan jiwanya. Di sisi lain, Luccane juga tidak akan membiarkan belahan jiwanya tahu soal rahasia titisan The Goddess. Rahasia yang mengacu pada sebuah ramalan kuno, dimana kondisi titisan The Goddess bisa dengan mudah memburuk pasca melahirkan bayi hasil perkawinan dengan rasa vampir, karena sebagian sumber kehidupannya diserap oleh si bayi. Karena kelak bayi itu akan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa.
“Aku tidak membutuhkan keturunan, selama kau ada bersamaku,” gumam Luccane dengan bibir yang bersarang di kening little mate-nya. “Jangan pernah tinggalkan aku, little mate.”
🦋🦋🦋
TBC
Note : Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 26-02-23