Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 83. Investigasi


“Kalian sudah memeriksa keseluruhan dasar dari lubang ini?”


“Sudah,” jawab tiga Lord Vampir yang baru saja berkumpul di titik yang menjadi pusat pertemuan mereka. Sesuai kesepakatan yang dibuat di awal, mereka akan bertemu di titik itu.


“Apa yang kalian temukan? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?”


“Tidak ada.”


Salah satu Lord Vampir mewakili. Ia adalah pencetus ide untuk menyelidiki lubang lubang raksasa atau sinkhole yang tampak mencurigakan di wilayah barat, masih bagian dari hutan kegelapan. Sebelum melakukan penyelidikan, mereka juga sudah izin terlebih dahulu para Regent atau pemimpin wilayah dalam bagian-bagian dari hutan kegelapan. Setelah mengantongi izin, baru lah mereka melakukan penyelidikan.


“Tempat ini benar-benar terisolir,” ucap Luke. Ia sudah mencari ke segala penjuru, tetapi tidak menemukan satupun kejanggalan. Namun, ia tetap merasa ada yang “mencurigakan” dari tempat itu. “Ada satu lagi yang belum kita periksa.”


“Apa?”


“Sumber mata air,” kata Luke seraya menggunakan jari telunjuk untuk mengarah ke sebuah genangan air yang tercipta dari air terjun berukuran kecil. Tingginya pun tak sampai sepuluh meter dari permukaan tanah. “Seharusnya tadi kita membawa Lush ikut serta.”


“Siapa Lush?”


Satu-satunya vampir yang sejak tadi bungkam, akhirnya angkat suara. Ia tampak awam dengan nama “Lush” yang baru saja diucapkan oleh Luke.


“Lucy,” jawab Lynn, mewakili. “Nama asli dari Lucy adalah Lush.”


“Ah, siluman rubah itu.” Sebastian mengangguk paham. Ia baru tahu jika siluman rubah yang sangat disayangi oleh little mate sang Lord itu punya nama asli. “Tidak ada tanda-tanda ditemukannya sesuatu yang mencurigakan di tempat ini,” katanya kemudian. “Seperti dugaan awal, isi dari lubang raksasa ini hanyalah tumbuhan dan hewan langka yang belum pernah dijelaskan oleh ilmuan manapun.”


Lynn serta saudara-saudaranya setuju dengan pernyataan tersebut. Namun, Luke tetap bersikeras jika Lake—jiwa serigala di dalam tubuhnya—bisa merasakan kejanggalan yang berasal dari lubang raksasa itu. Entah dari mana asalnya, namun ia juga yakin ada sesuatu. Mungkin sesuatu itu bersifat tak kasat mata, sehingga mereka tidak bisa melihatnya.


“Karena kita tidak menemukan apa-apa, sebaiknya kita lekas kembali,” usul Lynn. “Mungkin benar, tidak apa-apa di tempat ini.”


“Tapi, Kak …”


“Luke, aku bukan meragukan kepekaan mu. Tetapi, saat ini prioritas utama kita adalah menjaga Lucciane. Jika kita tidak menemukan apa-apa di sini, sebaiknya kita lekas kembali.”


Luke tidak bisa membantah lagi jika Lynn yang sudah angkat suara. Sedangkan Sebastian lebih banyak diam, karena tugasnya adalah mengawal mereka. Untuk urusan investigasi, biarlah mereka melakukannya sesuka hati. Namun, ketika mereka hendak pergi, Lomon secara tiba-tiba mengambil sebuah batu berukuran kecil, lantas melemparkannya ke arah air terjun. And then, kejutan mereka dapatkan.


Batu itu seperti membentur suatu permukaan yang keras, sampai menciptakan bunyi yang nyaring.


“Sepertinya ada sesuatu di balik air terjun itu,” opini Lomon. “Sejak tadi aku rasa dari arah sanalah kecurigaan Luke berasal.”


“Lalu sekarang bagaimana? Kita akan menyelidikinya?” Leon kembali bertanya.


“Jangan!” cegah Luke.


“Kenapa?” Lynn bertanya karena ia heran dengan penolakan Luke yang tiba-tiba. Padahal tadi Luke yang ngotot ingin mencaritahu.


“Sekarang lebih baik kita kembali ke Luccane The Palace.” Luke berkata dengan raut wajah tegas.


“Ada apa, Luke?” tanya Lynn, menuntut penjelasan. Kenapa tiba-tiba Luke menyuruh mereka kembali di saat mereka telah menemukan sumber dari kejanggalan yang mereka cari.


“Beautiful lady keluar dari bangunan utama.” Sebastian buka suara. “Ada bahaya yang mengancam nyawanya,” tambahnya lagi.


Para Lord vampir tentu saja langsung dibuat terkesiap, tentunya kecuali Luke. Ia sudah merasakan ada marabahaya yang mengintai titisan The Goddess, karena ia punya kepekaan yang sangat luar biasa. Ternyata Sebastian juga telah merasakannya.


“Berpegangan tangan lah kalian,” titah Sebastian. “Kita harus kembali dengan cepat.” setelah berkata demikian, para Lord vampir pun mengikuti instruksi tersebut. Berpegangan tangan satu sama lain.


Sebastian kemudian membawa tangannya pada bahu Lynn. Membiarkan telapak tangan vampir 1.500 tahun itu bermukim di sana, lalu meminta mereka menutup mata. Tak butuh waktu lama bagi Sebastian untuk melewati perjalanan antar dimensi dengan kekuatan istimewa yang ia miliki.


Mereka harus bergegas pergi, dikarenakan titisan The Goddess sekaligus belahan jiwa raja vampir harus mereka lindungi. Ada bahaya yang mengancam nyawanya.


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 21-03-23