Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 39. Castil Vamfield


“Beautiful Lady?”


Mengerjapkan mata. Itu lah respon yang Lucciane lakukan saat pertama kali mendengar suara Sebastian setelah sekian lama.


“Sebastian,” panggilnya. Mencoba untuk memastikan pendengaran. “Apa itu kamu?”


“Yes, My Lady,” jawab pria dengan rupa muda, namun sudah berusia senja itu. Raut tak biasa tampak menghiasi wajah tampannya. “Kenapa Anda tiba-tiba bisa muncul di sini?” ia terheran-heran melihat gadis yang digadang-gadang sebagai soulmate Lord nya itu tiba-tiba muncul di depan mata.


Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Lucciane malah balik bertanya. “Apa aku ada di Luccane The Palace?”


“Tentu saja, beautiful Lady.”


“Syukurlah, aku berhasil.” Hembusan nafas lega terdengar dari arah Lucciane. Ketika berhasil beradaptasi, pandangannya langsung bisa melihat ke sekeliling. Ternyata ia mendarat dengan selamat di ruang pribadi milik Luccane setelah melewati ruang kegelapan yang hampa udara.


“Dimana His Lord?” tanya Lucciane, saat sadar tujuannya susah payah datang ke Luccane The Palace.


“Sebelum itu, Anda harus menjawab pertanyaan saya dulu. Kenapa Anda bisa sampai sini? Bukannya Anda ada di Land of dawn.”


“Kamu tahu aku dikirim kesana ternyata,” gumam Lucciane. “Itu tidak penting. Sekarang jawab pertanyaanku, di mana His Lord?” tuntut Lucciane seraya bergerak menuju Sebastian. Namun, baru saja satu langkah, kakinya teras begitu lemas.


Dengan sigap Sebastian langsung bergerak menahan tubuh sang Lady yang bisa tumbang kapan saja. “Sekalipun Anda tahu, Anda tidak akan bisa menemui My Lord.”


“Bisa atau tidak, itu tergantung jawaban kamu, Sebastian.” Lucciane menjawab dengan mantap.


Sebastian menghela napas saat melihat percikan tekad yang tergambar di iris biru milik sang Lady. Sebenarnya ini sudah sangat mengejutkan, karena tiba-tiba Lucciane muncul di Luccane The Palace. Padahal gadis itu telah diasingkan ke tempat yang sangat jauh, yaitu Land of dawn. Entah bagaimana ceritanya, sampai-sampai Lucciane bisa kembali dengan begitu cepat. Satu nama pun tiba-tiba muncul dalam ingatan.


“Anda bertemu peri tua itu, My Lady?”


“Siapa maksud kamu? Seelie?”


Sebastian mengangguk dengan perlahan membiarkan sang Lady berdiri sendiri. Sepertinya perjalanan melewati antara dimensi berhasil menguras banyak energi. Sehingga gadis pemilik surai merah itu menjadi lemas.


“Hm. Peri kecil yang suka banyak bicara omong kosong,” komentar Sebastian. “Jangan tertipu dengan wajahnya yang baby face itu. Usia nya sudah lima ratus tahun.”


Lucciane terpekur mendengarnya. Ternyata Seelie juga termasuk mahluk yang memiliki umur panjang. Apa mungkin Fairies juga termasuk ke dalam golongan mahluk immortal atau mahluk abadi?


“Jangan mengalihkan pembicaraan, Sebastian.” Hampir saja Lucciane terkecoh. Sedikit banyak ia sudah tahu jika Sebastian itu sangat pandai mengalihkan perhatian lawan bicaranya. Padahal topik pertama yang ia bahas adalah Luccane.


Tujuan Lucciane pulang lebih cepat dari Land of dawn adalah memastikan kondisi Luccane dan Lynn. Entah bagaimana kondisi mereka berdua jika Lucciane sampai terlambat datang. Setibanya di Luccane The Palace pun, ia belum bisa menangkap keberadaan keduanya.


“Dimana Luccane dan Lynn?”


Lucciane sudah melupakan tanda kehormatan yang biasa tersemat pada nama belakang Luccane. Ia benar-benar tidak bisa berpikir positif lagi, jika mengingat perkataan Seelie. Takut kalau semua perkataan itu menjadi nyata.


“Itu bukan urusan Anda, beautiful Lady. Lebih baik Anda segera pergi ke ruangan pribadi Anda untuk beristirahat. Sepuluh menit lagi La’ti akan membawakan roast turkey serta sage and onion stuffing untuk makan malam. Hari ini Marry menyiapkan menu istimewa untuk Thanksgiving.”


Lucciane menghela napas mendengarnya. Walaupun ia hanya meminum beberapa teguk nectar semenjak berada di Land of dawn, tetapi perutnya tidak terasa lapar. Roast turkey serta sage and onion stuffing yang Sebastian tawarkan benar-benar makanan istimewa yang biasanya selalu ada dalam acara Natal keluarga kerajaan Inggris, namun kali ini Lucciane tidak tertarik. Selain natal, Roast turkey atau kalkun panggang serta sage and onion stuffing—makanan yang terdiri dari kubis Brussels, daging asap, rosemary, kastnut, mustard, minyak ikan, serata paprika panggang, kemudian disiram madu—juga menjadi salah satu menu wajib di perayaan Thanksgiving.


Thanksgiving sendiri adalah hari pengucapan syukur dan termasuk hari libur di Amerika utara. Acara ini dibuat sebagai bentuk ucapan terima kasih dan rasa syukur di akhir musim panen. Biasanya Thanksgiving akan diadakan pada kamis, pekan keempat di bulan November setiap tahunnya. Ketika perayaan Thanksgiving berlangsung, setiap keluarga akan berkumpul dan mengadakan acara makan bersama.


Kalkun panggang adalah salah satu menu wajib dan paling popular dalam aneka ragam menu yang sering diolah saat perayaan Thanksgiving.



“Tunjukkan dimana Luccane dan Lynn berada!” pungkas Lucciane final. Tujuannya hanya satu, yaitu keberadaan Luccane dan Lynn. Ia sama sekali tidak peduli dengan mengisi perut. “Aku … harus memastikan jika mereka baik-baik saja, Sebastian.”


“Mereka tidak ada disini, seperti yang Anda lihat,” jawab Sebastian. “His Lord dan leader Lord vampir itu ada di … Castil Vamfield.”


“Castil Vamfield? Di mana tempat itu?”


“Di tempat yang tidak dapat dikunjungi menggunakan transportasi apapun.” Sebastian menjawab dengan nada bicara yang masih tenang dan terkontrol. “Tempat tersebut adalah tempat kelahiran para Lord vampir. Sekaligus tempat yang dianggap suci, karena di sana lah para Lord vampir terdahulu disemayamkan.”


“Bawa aku ke sana,” ujar Lucciane, tanpa banyak pertimbangan. “Bawa aku ke Castil Vamfield, Sebastian.”


“Untuk apa? disana berbahaya, beautiful Lady.”


“Untuk memastikan mereka berdua baik-baik saja,” sahut Lucciane. Baru saja hendak melangkah maju, tiba-tiba ia memekik tertahan. Salah satu tangannya refleks menyentuh bagian leher.


“Beautiful Lady, ada apa?”


“Sakit,” lirih Lucciane. “Ini … tiba-tiba terasa sakit,” tambahnya dengan tangan masih berada di perpotongan leher dan bahu. Letak di mana tanda kepemilikan Luccane tertinggal.


Untuk beberapa saat Sebastian terdiam. Seperti ada yang sedang dipikirkan serta dipertimbangkan oleh Vampir satu itu. Sekilas Lucciane bisa menebak dari raut wajah Sebastian. Pasti ada yang tengah terjadi pada pembuat petanda tersebut.


“Ada apa Sebastian?”


“…”


“Katakanlah sesuatu, Sebastian. Kenapa kamu diam saja?” tanya Lucciane lagi. Kali ini seraya menggoyang-goyangkan lengan Sebastian.


“Saya harus pergi.” Sebastian kembali buka suara.


“Kemana? Apakah ke Castil Vamfield?”


Sebastian tidak menjawab. Ia kemudian perlahan namun pasti, melepaskan genggaman Lucciane. “Tunggu lah disini, Lady. Saya …”


“Bawa aku!” seru Lucciane dengan iris biru yang sudah berlinang air mata. “Bawa aku menemuinya, Sebastian. Aku mohon.”


“…”


“Bawa aku. Pertemukan kami, jika memang aku titisan The Goddess yang ditakdirkan untuk membersamai dia.”


🦋🦋🦋


TBC


NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 😘


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 15-03-23