Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 60. Simbol Moon Goddess


TRV 60. Simbol Moon Goddess


“Little mate,” panggil pria rupawan yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


Pagi tadi saat hendak pergi, gadisnya berkata jika ia akan menunggu sampai pulang kerja. Ia harap perkataan itu tidak benar-benar direalisasikan, karena waktu sudah hampir tengah malah ketika pria rupawan itu kembali ke Luccane The Palace.


Ketika tidak menemukan sosok bersurai merah itu di tempat tidur, iris abu-abu kebiruannya langsung mengintai ke keseluruhan ruangan. Kemudian pandangannya jatuh pada sebuah kursi yang dilengkapi bantal-bantal empuk. Ternyata gadis kecilnya tertidur dalam posisi duduk di kursi tersebut. Ada beberapa buku yang terbuka di sekitarnya, mungkin ia tertidur kala membaca buku-buku tersebut.


Sebelum mendekat, Luccane lebih dulu melepaskan mantel yang ia gunakan, lalu menyimpannya di hanger. Ruangan pribadi miliknya terasa berbeda—mungkin karena ada beberapa perabotan baru yang dibawa oleh gadisnya. Ruangan yang didominasi oleh warna gelap itu jadi lebih berwarna dan hidup. Luccane bukan tidak suka, ia hanya merasa belum terbiasa.


“Mungkin lain kali kau harus diberitahu, jangan menunggu kepulanganku yang tidak menentu.”


Luccane kembali buka suara saat sudah berada di depan Lucciane. Gadis bersurai merah keemasan itu tidur dalam posisi duduk dengan sebuah buku di berada di atas pangkuan. Sepertinya ia ketiduran saat menunggu kepulangan Luccane, terbukti dari pakaiannya yang sudah berganti menjadi vintage night dress warna cream dengan aksen lace berbahan sangat soft yang sangat cocok di tubuh mungilnya. Kali ini sepertinya La’ti menyiapkan vintage night dress dengan jenis kerah yang bulan model V berpotongan rendah. Mungkin soulmate Luccane itu merasa kurang nyaman menggunakan vintage night dress dengan model V yang memiliki potongan dada rendah.


Jika tidak nyaman digunakan oleh Lucciane, Luccane tidak akan memaksakan kehendak. Toh, ia punya banyak stok pakaian untuk gadisnya itu. Walaupun semua model klasik, namun sangat cocok bagi Lucciane. Model klasik yang dipilih justru menonjolkan kesan anggun dalam kesederhanaan. Saking perhatiannya Luccane pada sang belahan jiwa, ia bahkan punya kenalan tailor yang bekerja sebagai garment cutter di sebuah store pakaian ternama asal London yang dipekerjakan khusus untuk membuat baju-baju Lucciane. Maka tak heran jika baju yang dikenakan Lucciane tidak ada merk, tidak pula ada yang menyamai di dunia ini.


Namun, tiba-tiba ada yang menarik perhatian Luccane saat ia merendahkan tubuh. Salah satu tangannya kemudian terangkat, jatuh bermukim di kening sang belahan jiwa. Alangkah terkejutnya Luccane saat menyadari jika suhu tubuh gadis itu terasa begitu menyengat. Padahal biasanya suhu tubuhnya hangat, untuk ukuran Luccane yang tidak pernah merasakan kehangatan pada suhu tubuh manusia. Jika suhu tubuh manusia terasa panas menyengat, itu berarti suhunya sudah berada di atas batas normal.


“Simbol Moon Goddess?” gumam Luccane tiba-tiba, saat melihat seberkas cahaya yang tampak dari bagian tengkuk belakang belahan jiwanya. Saat surai merah keemasan yang menutupi bagian tersebut disibak, ternyata benar dugaannya.


Simbol Moon Goddess telah muncul secara sempurna ke permukaan. Simbol berbentuk bulan sabit itu masih tampak bercahaya, itu berarti simbol tersebut baru selesai muncul secara sempurna. Simbol Moon Goddess sendiri adalah simbol yang akan muncul pada titisan The Goddess ketika mencapai usia dewasa, dalam artian ketika ia sudah mulai mengenal rasa cinta. Sebelum mencapai usia dewasa, simbol tersebut tidak akan muncul ke permukaan. Namun, aroma pemilik darah suci tetap bisa dikenali.


“Sebastian,” panggil Luccane ketika berhasil memindahkan tubuh belahan jiwanya ke atas tempat tidur.


Tidak berselang lama, pemilik nama lengkap Sebastian Saunders itu muncul dari balik pintu penghubung yang menghubungkan kamar pribadi Luccane dan perpustakaan. Padahal Luccane yakin jika pria itu pasti baru saja datang dari tempat lain. Namun, sebagai bentuk tata karma, Sebastian memang selalu masuk lewat pintu. Ia juga kerap menyempatkan diri untuk mengetuk pintu.


“Yes, my Lord,” jawab Sebastian dengan penuh hormat.


“Periksa kondisi little mate-ku,” perintah Luccane.


Sebastian tersenyum sopan seraya berjalan lebih dekat dengan tempat tidur. “Maaf, tapi saya bukan dokter, my Lord. Saya hanya lah butler Luccane The Palace.”


Luccane mendengus mendengar omong kosong butler nya itu. “Jangan lupakan identitas mu yang lain, Sebastian.”


“Maksud Anda identitas sebagai Wizard?” tanya Sebastian dengan tampang datar. “Saya tidak pernah masuk akademi sihir dan tidak pernah mempelajari ilmu sihir. Jadi, bagaimana bisa saya memiliki identitas sebagai Wizard?”


“Berani kau membalas ucapan tuan mu?”


Sebastian tersenyum tipis sebelum memberikan penghormatan secara otomatis. “Maafkan saya, my Lord. Saya hanya bicara apa adanya,” kanta setelah membungkukkan badan 90 derajat. “Memangnya apa yang terjadi pada beautiful lady? Apakah kondisi tubuhnya menurun lagi?”


Luccane yang berdiri di samping tempat Lucciane berbaring menoleh, menatap cemas ke arah belahan jiwanya itu. “Simbol Moon Goddess telah muncul.”


“Rupanya simbol Moon Goddess,” tukas Sebastian. “Anda tidak perlu cemas, my Lord. Ini adalah suatu kewajaran.”


“Wajar bagaimana? Kenapa tiba-tiba suhu tubuhnya tinggi?”


“Itu salah satu efek samping dari munculnya simbol Moon Goddess.” Sebastian dengan telaten menjelaskan. Mengingat ia adalah vampir old berusia 1.500 tahun yang telah banyak memiliki wawasan soal ras vampire. Jika diibaratkan dengan benda, Sebastian itu sama seperti sebuah buku yang tidak akan pernah habis dibaca dalam sekali duduk.


Jika ada yang Luccane ketahui soal tragedy di masa lalu, ia tidak perlu membaca berpuluh-puluh buku. Kenapa? Karena ada Sebastian. Saksi hidup yang sampai saat ini masih berada dalam kondisi sehat dengan ingatan yang masih sama tajam seperti dulu.


Dengan gerakan santai, Sebastian menurunkan selimut yang ada di atas permukaan tempat tidur. Tanpa menyentuh, benda lembut itu sudah terjatuh. Sebastian adalah keturunan Wizard, pantas jika ia memiliki kekuatan telekinesis. Sekali pun ia tidak pernah masuk ke akademi sihir ataupun belajar sihir seperti perkataannya. Kekuatan telekinesis sendiri termasuk bentuk gejala paranormal yang dikaji dalam parapsikologi. Sedangkan dalam kasus Sebastian, ia lahir sebagai vampir istimewa yang menuruni bakat alami dari golongan Wizard.


Sebastian tidak perlu belajar sihir dengan cara masuk ke akademi sihir. Toh, ia bisa mempelajarinya sendiri jika punya keinginan. Ia bisa belajar otodidak seperti kekuatan telekinesis yang ia dapatkan secara otodidak. Walaupun tidak pernah terlihat suka membaca buku, pada dasarnya Sebastian muda cukup gemar membaca. Apalagi Sebastian remaja tumbuh, tinggal dan besar di keluarga pustakawan bangsa vampir. Tempat di mana sekumpulan ras vampir yang bertanggung jawab soal buku-buku penting dan bersejarah, serta perkamen-perkamen yang sangat dilindungi. Ada banyak buku yang telah ia baca, kemudian isinya ia copy kedalam memori.


“Apa yang harus kulakukan?”


“Tidak ada,” jawab Sebastian apa adanya. “Untuk saat ini tidak dapat yang Anda lakukan, my Lord. Karena bagaimana pun juga tubuh beautiful lady punya pertahanan sendiri. Jiwa serta raga setiap titisan The Goddess telah didesain supaya bisa beradaptasi dengan simbol Moon Goddess.”


“Aku tidak bisa jika hanya tinggal diam,” ujar Luccane dengan satu tangan menyentuh kening belahan jiwanya.


“Tidak perlu cemas, my Lord.” Sekali Sebastian tegaskan supaya sang Lord tidak perlu cemas. Titisan The Goddess adalah mahluk yang istimewa. Mereka juga mendapatkan simbol istimewa ketika beranjak dewasa berupa simbol Moon Goddess. Namun, bukan dalam bentuk full moon, melainkan Crescent moon atau bulan sabit. Kendati demikian, terkadang proses munculnya simbol ini dianggap sebuah keistimewaan tersendiri bagi seorang titisan Goddess. Mereka yang terpilih sebagai titisan Goddess pun masih diberi ujian pada tiap tahap penting dalam kehidupan.


“Tidak ada efek samping yang paling membahayakan kecuali keadaan vegetatif,” lanjut Sebastian. Keadaan vegetatif sendiri adalah kondisi seorang manusia yang tidak menunjukkan kesadaran terhadap sekitar. Seseorang yang berada dalam kondisi vegetatif biasanya masih dapat membuka mata, membuat suara, atau bergerak, namun tidak ada kontak dengan sekitar.


Sedangkan pada saat ini Lucciane hanya mengalami demam. Walaupun pada beberapa kasus, demam tinggi juga dapat membahayakan. Efek samping dari demam tinggi yang berkisar 39,4 sampai 41,1 derajat celcius bisa menyebabkan halusinasi, disorientasi, gelisah, hingga kejang-kejang.


“Suhu terlalu tinggi juga tidak baik bagi mate ku, Sebastian.”


“Yes, my Lord.”


“Kalau begitu panggil dokter!” perintah Luccane. “Dokter manusia,” tambahnya.


Sebastian mengangguk, namun tak langsung merespon lewat jawaban. Selama ini Luccane The Palace tidak pernah dikunjungi oleh manusia, dan sekarang sang Lord meminta dibawakan dokter manusia. Di tengah malam seperti ini. Apa tuannya itu lupa jika lokasi Luccane The Palace tepat berada di jantung hutan kegelapan alias tepat berada di tengah-tengah hutan kegelapan.


“Akan sulit jika memanggil dokter manusia pada jam ini, my Lord. Apalagi ini adalah hutan kegelapan.”


“Kalau begitu panggil dokter Vincent.”


Dokter Vincent adalah seorang dokter yang kebetulan merupakan ras vampir. Walaupun seorang vampir, di dunia nyata pun dokter Vincent punya jam terbang yang tinggi sebagai dokter. Toh, ia mendapatkan gelar tersebut hasil dari kerja kerasnya mengenyam pendidikan dokter di dunia manusia.


“Dokter Vincent saat ini sedang berada di Roma, Itali, jika my Lord lupa.”


Luccane mendengus kasar mendengar penuturan tangan kananya itu. “Cepat bawakan saja dokter yang bisa menangani mate ku. Walaupun terlahir sebagai titisan The Goddess, dia tetap lah seorang manusia yang bisa merasa sakit karena demam.”


“Baik, my Lord.” Sebastian mengangguk hormat. Saat ini yang dibutuhkan adalah seorang dokter, bukan masukan. Jadi, lebih baik Sebastian segera membawa dokter untuk menangani mate sang Lord.


Bagaimana pun juga perkataan sang Lord benar mengenai Lucciane. Walaupun seorang titisan The Goddess, gadis mungil bersurai merah keemasan itu tetap lah manusia biasa yang bisa merasa sakit karena demam tinggi.


🦋🦋🦋


TBC


Note : Semoga suka 😘


Tanggerang 28-02-23