
TRV 59. Kekuatan Telekinesis
“Terima kasih sudah membantu aku merapihkan semua barang-barang ini, La’ti. Sekarang kamu bisa pergi untuk beristirahat.”
Pemilik nama itu mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia baru benar-benar pergi setelah menyalakan beberapa buah lilin aroma terapi three fragranced layers. Lilin yang mengandung tiga aroma berbeda pada setiap lapisannya, yaitu aroma sugared lime, passion pear dan blueberry. Biasanya lilin-lilin itu dinyalakan di kamar yang ditempati Lucciane, namun karena sekarang kamar Lucciane berpindah ke kamar Luccane, maka La’ti menyalakan lilin-lilin tersebut di sana. Membuat ruangan yang disinari cahaya remang itu diselimuti oleh aroma harum khas sugared lime, passion pear dan blueberry.
Aroma yang sangat berbanding terbalik dengan nuansa kamar Luccane yang terasa begitu suram karena memilih warna-warna gelap untuk furniture dan perabotan, mulai dari pintu masuk hingga ruang kerja pribadi di dalam ruangan. Namun, kini sedikit demi sedikit interior di dalam ruangan tersebut mulai hidup, berkat adanya barang-barang milik Lucciane. Gadis bersurai merah itu baru saja selesai berbenah saat matahari tenggelam. Sekarang langit sudah benar-benar gelap, dan kamar Luccane sudah kembali tertata rapih. Ia tinggal menunggu kepulangan si pemilik kamar.
Menurut penuturan La’ti, pria rupawan itu tidak memiliki jam tentu untuk pulang kerja. Kadang pulang menjelang malam, terkadang juga pulang menjelang dini hari. Jadi, Lucciane disarankan untuk menunggu di dalam kamar saja, ketimbang menunggu di ruang utama.
“Kapan Luccane pulang?” gumam Lucciane yang kini berada di tepi jendela.
Guna membunuh rasa sepi, ia sudah membaca beberapa buku. Sudah pula merangkai beberapa tangkai bunga yang sore tadi ia petik di taman samping. Coba saja ada Lucy, mungkin Lucciane tidak terlalu merasa kesepian. Hewan berbulu fluffy itu sangat menghibur kesendiriannya. Sayang, Lucy telah menghilang semenjak peristiwa besar yang terjadi di Luccane The Palace.
Entah apa yang sebenarnya terjadi pada mahluk menggemaskan tersebut sebelum menghilang. Tidak mungkin bukan jika Luccane yang menjadi penyebab hilangnya Lucy?
“Lebih baik aku menunggu sambil membaca buku,” ujar Lucciane ketika melangkah menuju sebuah kursi yang dilengkapi bantal-bantal empuk. Ada beberapa buku yang belum selesai ia baca. Ia harap dari salah satu buku tersebut ada petunjuk soal peristiwa kelam di masa lalu.
Satu halaman, dua halaman, tiga puluh halaman, sampai menyentuh ratusan halaman, Luccane masih belum juga pulang. Di bawah temaramnya cahaya lilin, Lucciane sudah sangat kesulitan menahan kantuk. Alhasil pada sepersekian detik berikutnya ia jatuh dalam pelukan alam bawah sadar. Meninggalkan raganya, siap menjelajah dengan jiwa yang dipenuhi dengan berbagai tanda tanya. Dalam perjalanan tersebut ia sempat melihat keberadaan Lynn.
Lord vampir yang menggunakan pakaian serba putih itu tampak kewalahan menghadapi mahluk bertubuh besar yang terus menyemburkan api dari mulutnya. Ketika dilihat lebih seksama lagi, ternyata bukan cuma Lynn yang ada di sana. Ada pula Luke, Lomon, dan Leon.
“Lynn!” panggil Lucciane.
Bukan sekali ia mencoba memanggil Lord vampir tersebut, namun berulang kali. Akan tetapi, Lynn dan saudara-saudaranya abai, seolah-olah tidak dapat mendengar panggilannya. Lucciane sampai merasa putus asa sendiri menyaksikan bagaimana Lynn dan saudara-saudaranya bertarung mati-matian, sedangkan ia tidak bisa menolong sama sekali.
“Lynn, bertahan lah,” do’a Lucciane, harap-harap cemas. Dari tempatnya berada, ia bisa melihat bagaimana Lynn, Luke, Lomon dan Leon mulai kepayahan menghadapi serangan demi serangan dari mahluk yang tubuhnya berkali-kali lipat lebih besar dari mereka.
Walaupun berjuang sekuat tenaga agar di-notice oleh Lynn dan saudara-saudaranya, namun hasilnya tetap nihil. Yang Lucciane dapatkan berikutnya adalah rasa sakit yang menjalar di area dada, merambat ke area leher, kemudian tembus ke area tengkuk di bagian belakang. Rasa sakit itu sangat dashyat, sampai-sampai Lucciane merasa jika kulitnya terbakar oleh api yang tak kasat mata. Rasa panas dan tersayat menyiksa titisan The Goddess itu untuk beberapa waktu. Sampai pada akhirnya ia tidak mampu lagi menopang berat badan, jatuh tergeletak pasca kesadarannya direnggut secara maksimal.
🦋🦋🦋
“Kalian mendengarnya?” Luke buka suara, menatap ke arah saudaranya satu per satu.
“Mendengar apa?” sahut si bungsu, Leon. Ia menjawab seraya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. “Aku hanya mendengar suara mengerikan dari mahluk raksasa yang sedang kita hadapi.”
“Bukan, samar-samar aku mendengar suara seseorang yang memanggil.” Luke bicara serius. Ia samar-samar mendengar ada suara familiar yang memanggil mereka. Lebih tepatnya memanggil nama saudara tertua mereka, yaitu Lynn.
Luke yakin dengan apa yang ia dengar. Di sini ia punya kepekaan paling tajam soal menangkap suara dengan intensitas sangat rendah sekalipun. Mengingat ada jiwa serigala juga yang bersemayam di tubuhnya. Kendati demikian, pantas jika yang lain tidak bisa mendengar, karena memang di sekitar mereka cuma terdengar suara-suara dari monster-monster mengerikan yang masih tersisa.
Tersisa Typhon, setelah mereka berhasil menumbangkan Cerberus, Talos dan Centaur. Cerberus—seekor anjing berkepala tiga—itu telah kehilangan dua kepala sebelum akhirnya tumbang. Sedangkan Talos, raksasa terbuat dari perunggu yang memiliki tenaga dari ichor—cairan kehidupan dari para dewa—itu juga berhasil dikalahkan setelah mengkombinasikan antara kemampuan fisik serta kemampuan attraction ability milik Leon. Centaur juga telah ditumbangkan. Mahluk mitologi yang memiliki tubuh kuda dengan kepala dan badan manusia ditumbangkan setelah melawan serangan gabungan Lynn dan Luke.
Tinggal tersisa Typhon, ayah dari para mahluk menyeramkan yang berwujud naga raksasa berkepala seratus, memiliki sayap yang berukuran sangat besar. Typhon juga dapat menyemburkan api seperti Cerberus. Selain menyeramkan, Typhon juga sangat sulit dikalahkan. Seperti menurut legenda Yunani kuno, hanya Zeus satu-satunya dewa Olimpus yang berani menghadapi Typhon. Itu pun pada awalnya Zeus harus mendapati kekalahan. Zeus baru bisa mengalahkan Typhon dengan bantuan Hermes, putranya. Kemudian mereka mengurung monster raksasa ini di bawah gunung Etna di pulau Sisilia. Sekarang, para Lord vampir sedang berusaha sekuat tenaga menggabungkan kekuatan untuk mengalahkan kloningan Typhon.
Mahluk mitologi dengan kepala status itu sudah kehilangan sebagian kepalanya, namun masih memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan.
“Kita harus bisa mengecoh Typhon, kemudian biarkan Kak Lynn yang menyerang pusat kehidupannya,” ujar Lomon, memberi saran.
Leon mengangguk setuju. Lynn juga menganggukkan kepala di tempatnya berdiri dengan dua pedang yang sudah berlumuran darah berwarna gelap tersedia di tangan. Sedangkan Luke, ia memilih mengangguk kecil, mengesampingkan pendengaran yang sempat ia dapatkan beberapa saat yang lalu. Saat ini fokus utama mereka adalah Typhon yang harus segara ditumbangkan, supaya mereka bisa segera meninggalkan tempat ini.
Luke sudah hampir tewas dua kali, jika saja Lynn tidak sigap menolong saudara tertuanya itu. Sekarang ia tidak boleh lengah hanya karena menjadi satu-satunya pendengar suara familiar yang memanggil mereka.
“Lomon, hati-hati!” seruan itu kembali menyadarkan Luke. Saat menoleh, ia melihat Armor bagian tangan kanan saudaranya telah terbakar.
“Luke, fokus!” seru Lynn. “Ini bukan waktunya memikirkan hal lain.”
“B-aik, Kak.” Lynn kemudian beranjak, kembali bersiap untuk menyerang. Ia sudah tidak bisa kembali ke wujud werewolf, karena di sini tidak ada cahaya bulan yang dapat membantu menyempurnakan kekuatannya. Jadi, Luke hanya bisa mengandalkan kemampuannya dalam memainkan pedang. Satu per satu ia akan tebas kepala Typhon yang masih tersisa cukup banyak.
“Si*l!” umpat Luke saat ia tidak berhasil menumpas kepala Typhon yang sudah bergerak terlalu gesit.
Incaran Luke berikutnya saat yang lain sibuk menyerang kepala Typhon adalah bagian kepala utama. Ia ingin membantu Lynn yang bertugas menyerang pusat kehidupan Typhon. Namun sayang, gerakan Luke kalah gesit dengan kejelian mata Typhon dari kepala yang lain. Saat hendak mengayunkan pedang, salah satu kepala Typhon yang berada di balik tubuhnya menyemburkan api dengan kekuatan dashyat. Alhasil Lomon dan Leon yang melihat itu ikut langsung berseru memanggil nama Luke.
Posisi Lomon dan Leon kebetulan cukup jauh dari Luke, hanya Lynn yang paling dekat. Maka dengan gesit Lord vampir tertua itu menolong adiknya dari lalapan si jago merah yang keluar dari mulut salah satu kepala Typhon. Telat sedikit saja, tamat riwayat mereka.
“Kau tidak apa-apa, Lynn?” tanya Lynn saat tubuh mereka berdua terhempas, jatuh ke tanah yang tandus.
“Tidak, Kak. Aku baik-baik saja,” lirih Luke yang tengah menahan rasa sakit pada tubuhnya. Ia sempat terkena api yang keluar dari mulut Typhon. Namun, luka itu masih tak seberapa.
“Jangan lengah, Luke. Apa ada sesuatu yang menganggu? Sejak tadi kamu tidak fokus,” tanya Lynn yang sedang mencari satu pedangnya. Benda itu ternyata terlempar begitu jauh.
“Kak …” panggil Luke.
Lynn sadar arti dari panggilan tersebut karena ia bisa merasakan napas panas yang cukup dekat dari posisi mereka. Ketika berbalik, sudah ada dua kepala Typhon yang siap menyemburkan api sangat panas dari mulut mereka kapan saja.
“Tenang,” gumam Lynn. Kali ini hanya tersisa satu pedang di tangan. Satu tangannya yang tidak memegang pedang tampak terulur ke arah pedangnya terlempar, jemarinya bergerak beberapa kali. Seolah-olah bisa menggerakkan pedangnya dari jarak yang cukup terbentang di antara mereka.
Luke yang melihat itu sempat tertegun. Selain punya kemampuan ambidextrous alias memiliki keluwesan dalam menggunakan tangan kanan dan tangan kiri, apa mungkin saudaranya itu menguasai kekuatan telekinesis?
Kekuatan telekinesis sendiri adalah kemampuan batin yang mampu menggerakkan objek fisik (bisa benda ataupun mahluk hidup) dari jarak jauh tanpa menyentuhnya. Kekuatan ini menggunakan kekuatan alam bawah sadar sebagai perantara. Para Lord vampir pernah mempelajari kemampuan tersebut, namun tidak pernah berhasil. Telekinesis sendiri termasuk bentuk gejala paranormal yang dikaji dalam parapsikologi.
Apa mungkin, diam-diam saudaranya itu telah mempelajari kekuatan telekinesis? Jika ya, maka sekarang objek yang menjadi target Lynn adalah pedangnya yang terlempar cukup jauh. Maka Luke mengalihkan pandangan ke arah pedang tersebut, apakah benar bisa bergerak atau tidak. Satu detik, dua detik, lima detik, sepuluh detik, Luke menunggu dalam kurun waktu tersebut dan ternyata benar. Benda itu bergerak cepat ke arah tangan Lynn. Luke sampai dibuat takjub dengan apa yang baru saja ia lihat. Namun, action berikutnya malah lebih membuat Luke takjub dan tercengang.
Entah bagaimana ceritanya, tubuh besar Typhon tiba-tiba mundur dalam satu tarikan. Seolah-olah ada yang memukul mundur monster besar tersebut. Bersamaan dengan itu, Lynn bergerak dengan gesit, melemparkan pedang di tangan kanannya menuju salah satu mata pada kepala utama Typhon. Sedangkan satu pedang di tangan kiri ia arahkan pada pusat kehidupan Typhon yang diyakini terletak pada bagian jantungnya.
“Foarte perfect (sangat empurna)!” seru Leon dalam bahasa Rumania, pasca ia sadar dari keterkejutannya.
Typhon yang sempat dipukul mundur berkat serangan bertubi-tubi Lynn, langsung dihadapkan dengan tebasan pedang Lomon yang tak kalah gesit. Alhasil tubuh monster itu tumbang pasca semua kepalanya berhasil di tebas, serta pusat kehidupannya berhasil dihancurkan.
Lynn menghela napas lega saat melihat monster terakhir akhirnya tumbang. Luke juga melakukan hal yang sama. Kerja keras mereka terbayar setelah berhasil menumbangkan monster Typhon menjadi sangat mengenaskan. Sudah tidak ada lagi seratus kepala yang menyemburkan api, serta kepakan sayap yang begitu lebar. Mahluk itu sudah tamat di tangan para Lord vampire terakhir.
“Kita berhasil!” seru si bungsu Leon sekali lagi. Ia teramat gembira karena sekarang nyawanya tidak terancam lagi. Sekarang mereka bisa menghela napas lega untuk beberapa saat.
“Berkat kerja sama, akhirnya kita bisa mengalahkan mereka,” kata Lynn dengan tangan yang bergerak kecil. Sepersekian berikutnya, dua pedang miliknya bergerak cepat ke arahnya. action tersebut tentu tidak luput dari pengamatan saudara-saudaranya.
“Kakak punya kekuatan telekinesis?” tanya Leon.
Lynn tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. “Baru bisa menguasainya, setelah simbol penjaga titisan The Goddess muncul.”
“Simbol penjaga titisan The Goddess?” ulang saudara-saudaranya, kebingungan.
Lynn mengangguk seraya memperlihatkan permukaan tangan kanannya. “Lihat lah pada telapak tangan kalian masing-masing, apakah simbol penjaga titisan The Goddess sudah muncul?”
Luke, Lomon, serta Leon melakukan hal yang sama. Mereka membuka kepalan tangan, membiarkan permukaan telapak tangan itu menengadah ke langit. Ternyata perkataan Lynn benar, ada simbol yang baru saja terbentuk di sana. Simbol di telapak tangan mereka pun berbeda-beda, mulai dari bentuk gulungan tornado, dua bilah pedang, tiga cakaran, sampai simbol api yang bergelora.
“Kekuatan titisan The Goddess sudah mulai kembali. Oleh karena itu, sebagian kekuatannya ditransfer kepada kita melalui simbol penjaga titisan The Goddess,” ujar Lynn memberitahu. Ia sangat yakin jika sekarang simbol Luna (bulan) atau simbol bulan sabit yang biasa ada pada tubuh titisan The Goddess telah muncul di tubuh Lucciane.
“Kita harus segera kembali dan memastikannya sendiri.”
🦋🦋🦋
TBC
Note : Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 28-02-23