Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 63. Bangkit


TRV 63. Bangkit


“Ada apa, Kak?” Luke bertanya pada sang Kakak yang tiba-tiba berhenti. Sedangkan yang ditanya hanya terdiam. “Kak Lynn?”


“Ya. Ada apa?”


Refleks, Lynn menoleh ke arah Luke yang berjalan di sampingnya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju jalan keluar dari tempat tandus tersebut.


“Kakak seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.”


“Tidak ada yang sedang aku khawatirkan,” ucap Lynn. “Hanya saja aku merasa jika mereka telah melakukan sumpah pertukaran darah secara sempurna.”


“Sumpah pertukaran darah? Mereka siapa?” bingung Luke.


“Lucciane dan raja vampir.”


Luke tentu saja terkejut mendengarnya. “Bagaimana Kakak bisa begitu yakin?”


“Aku hanya tiba-tiba merasakannya,” ujar Lynn dengan pandangan jauh ke depan.


Mereka sedang dalam perjalanan menuju jalan keluar. Di depan, ada Lomon dan Leon yang menjadi pemandu. Sedangkan di belakang ada Luke dan Lynn.


“Kakak ingat kata-kata ku saat kita hendak melawan para monster itu?”


Lynn kembali menatap ke arah Luke. Ia kemudian mengingat-ingat kembali apa yang diucapkan adiknya sebelum melawan para monster yang dikirim Luccane.


“Jika memang kita gagal untuk menyelamatkan titisan The Goddess, setidaknya kita tidak gagal untuk saling melindungi satu sama lain.”


“Hm,” respon Lynn. “Takdir memang sulit di ubah,” lanjutnya dengan pandangan gamang. “Jika dia ditakdirkan untuk menjadi mate raja vampir, kita tidak bisa menghalangi mereka untuk bersatu.”


“Benar.” Luke meng-iyakan seraya mengayunkan tangan. Siap kembali melawan Cerberus yang telah ia tebas satu kepalanya. “Namun, setidaknya kita telah menjalankan tugas yang diberikan kepada kita.” Ia kemudian menoleh pada sang kakak. Senyum terulas di bibirnya, tipis. Namun, Lynn masih bisa melihat dengan jelas. “Setelah semua ini berakhir, mari tinggal di suatu tempat dan mengabdikan diri pada Tuhan. Sepertinya kita cocok menjadi pastur.”


Benar, jika mereka gagal, menyelamatkan Luccane, itu bukan berarti mereka telah hidup mereka berakhir. Takdir tetap lah takdir. Bersifat mutlak dan sukar untuk ditebak apalagi diubah. Berbeda dengan nasib yang masih bisa diubah jika mau bekerja keras. Di sini ada perbedaan yang sangat kentara dari kedua makna dari kata-kata tersebut.


Selama ini ternyata yang mereka kira nasib adalah takdir. Apa yang coba mereka hentikan dan ubah adalah ketentuan Tuhan yang sangat impossible alias mustahil untuk diubah. Apapun yang telah ditakdirkan untuk bersatu, pasti akan menemukan jalannya untuk bersatu. Sekalipun ada banyak halangan dan rintangan yang menghadang jalan mereka yang membentang begitu panjang.


“Takdir adalah sesuatu yang bersifat mutlak. Setidaknya itu yang kita pelajari dari Guru Besar. Dan sifat takdir adalah mutlak,” ujar Luke. “Jika mereka telah bersatu lewat sumpah pertukaran darah secara sempurna, itu berarti takdir telah menunjukkan kekuatannya. Salah kita saja yang sudah berani menentang takdir sejauh ini.”


Lynn tersenyum congkak. “Kau benar. Kita ini lucu sekali.”


“Kita tidak lucu, Kak. Tapi, malang,” imbuh Luke. “Kita ini punya potensi yang mumpuni sebagai para penjaga titisan The Goddess, sehingga kita dipilih secara langsung oleh The God dan The Goddess. Namun, kita terlalu payah sampai dipengaruhi oleh pemikiran yang salah sejak lama.”


Lynn membenarkan ucapan adiknya itu di dalam hati. Benar memang, mereka selama ini dipilih dan dilatih karena punya potensi untuk melanjutkan gerakan “pemberontakan” dengan dalih menjaga titisan The Goddess. Padahal cara mereka saja sudah sangat salah. Didikan mereka salah. Panutan mereka juga salah, bukan benar seperti apa yang telah mereka pikirkan.


“Jika kita keluar dari sini, sebaiknya kita memulai hidup baru sesuai kesepakatan.”


Lynn mengangguk. luke memang selalu bisa menjadi penasehat juga pendengar yang baik. Walaupun terkadang Luke itu mudah terpancing emosi seperti si bungsu, Leon.


“Aku ingin menemuinya untuk terakhir kali,” lirih Luke.


“Siapa? Lucciane?”


“Hm,” jawab Lynn. Ia masih ingat betul pertemuan pertama mereka saat di kebul apel milik Luccane The Palace. Setelah sekian lama, akhirnya Lynn punya kesempatan untuk bertemu dengan calon jodohnya.


“Aku Lynn, pemilik rubah merah itu.”


“Kamu ….pemilik Lucy?”


“Ya,” jawab Lynn. Walaupun tidak sepenuhnya benar. Lucy sebenarnya ras siluman yang mengambil bentuk rubah yang telah terikat perjanjian dengan Lynn. “Rupanya di berada di sini selama ini.”


Lynn tersenyum tipis mendengarnya. Aura titisan The Goddess memang berbeda. Kuat, menggoda, layaknya rayuan indah yang melambai-lambai di pelupuk mata. Padahal ia tak melakukan apa-apa, namun mahluk yang peka seperti Lynn bisa dengan mudah dibuat tergila-gila. Ditambah lagi dengan aroma harum yang tercium. Aroma darah suci yang sangat menggoda hasrat para mahluk penghisap darah.


Namun, Lynn mendapati sesuatu di leher gadis itu. Sebuah segel kepemilikan. Itu berarti titisan The Goddess sudah ditandai oleh Raja vampire. Namun, belum sepenuhnya dijadikan kepemilikan. Karena jika sudah dijadikan kepemilikan, maka aka nada tanda gigitan di leher Lucciane, bukan lagi segel kepemilikan berlambang sebuah kediaman. Lynn masih … belum terlalu terlambat.


“Bisa kah saya membawa hewan peliharaan saya pergi? Dia tidak terbiasa hidup dalam sangkar.”


“Sangkar?”


“Tempat itu,” kata Lynn seraya menunjuk area Luccane The Palace dengan dagu. “Ibarat sangkar yang mengurung apapun di dalamnya.”


“….”


“Jadi, saya ingin membawa hewan peliharaan saya keluar dari sangkar tersebut. Dia terbiasa hidup di tempat terbuka.”


Lucciane tertegun mendengarnya. Saat ini Lucy sudah berada dalam jangkauannya. Kalimat yang diucapkan oleh pria yang ada di seberang itu, terdengar seperti sebuah solusi.


“Jika Anda ingin mengecap kebebasan yang sama di tempat terbuka, saya bisa membantu mengeluarkan Anda dari dalam sana.”


“Benar kah?” Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan bagi Lucciane. Mungkin kah ini solusi baginya?


Lynn mengangguk dengan sorot mata yang tak lepas dari lawan bicaranya. “Saya hanya butuh persetujuan. Jika Anda setuju, maka saya akan mengeluarkan Anda dari dalam sana.”


Waktu itu Lynn sudah menawarkan sebuah penawaran yang menggiurkan, namun pada dasarnya takdir lebih kuat bekerja ketimbang tekadnya yang telah bulat.


“Jika saja aku tidak datang terlambat, mungkin saat ini keadaanya telah sedikit berbeda.”


“Berbeda apanya, Kak?” Luke menyahut. Mereka masih terus berjalan beriringan, sedangkan di depan sama Lomon dan Leon juga tampak berdiskusi sesekali. “Takdir itu bersifat mutlak,” kata Luke, mengingatkan lagi dan lagi. “Jika kita memang terlahir untuk menjaga titisan The Goddess, maka biarlah tugas kita hanya berpatok pada tujuan dari tugas tersebut.”


Lynn menoleh, kemudian menepuk bahu saudara paling tuanya. “Mungkin tidak ada salahnya jika kita kembali ke Selatan untuk memburu para Proscris Vampire.”


“Mereka malah akan menyambut kita dengan penuh suka cita!” seru Luke. “Di selatan juga membutuhkan banyak bala bantuan. Lagipula kita juga bisa mencari banyak berkat dari Uskup agung jika tinggal di sana.”


Luke memang Lord vampir yang paling agamis. Lynn tahu itu. Maka ia hanya bisa tersenyum saat saudara tertuanya itu lagi-lagi membawa masalah peribadatan.


🦋🦋


“Ayo buat ini lebih menyenangkan, little mate.”


Setelah berkata demikian, Luccane kian mengikis jarak di antara mereka. Lucciane sempat dibuat kebingungan dengan degup jantung yang sudah berantakan. Kedua bola mata meraka saling terkunci pada satu sama lain. Hanya ada suara hembusan napas yang terdengar di antara mereka yang yang hanya dipisahkan jarak beberapa senti. Jarak itu pun itu tidak bertahan lama, karena Luccane kian mempersempit jarak sampai dua bibir itu bertemu. Tanpa sekat, saling menyapa penuh rindu.


Awalnya hanya gerakan bertemu rindu antara dua permukaan lembut itu, kemudian melibatkan sesapan dan hisapan yang kian intens pada setiap detik yang terlewatkan. Luccane bergerak sebagai dominan yang memimpin permainan dnegan lembut dan beraturan. Sampai pada batas kemampuan ia menunggu dengan gerakan lembut, dirasa belahan jiwanya sudah mulai terbiasa, ia menggunakan banyak cara untuk menyusup masuk. Menghantarkan lidahnya masuk guna memberikan secara langsung darahnya pada sang belahan jiwa.


Lewat cara yang tidak biasa, Luccane ingin menyempurnakan proses blood feeding yang akan menjadi jembatan bagi ikatan mereka berdua sebagai sepasang belahan jiwa.


Di satu sisi, dunia immortal telah menyambut haru penantian raja vampir yang telah ratusan tahu menunggu kelahiran belahan jiwanya. Di sisi lain, mereka tidak tahu bahwa ada mahluk lain yang terbangun dari tidur panjangnya pasca ikatan yang baru disahkan itu terjalin. Pemilik rambut coklat tembaga itu itu tampak tersenyum lebar saat melihat pantulan cahaya rembulan yang menyinari sekitar kolam.


“Ternyata mereka sudah menjadi belahan jiwa yang resmi saat aku tidur begitu lama,” ucapnya ketika melangkahkan kaki masuk ke dalam kolam yang airnya cukup dangkal. “Tapi, itu bukan alasan yang bisa menghalangi niatku untuk merebut titisan The Goddess. Aku hanya butuh beberapa tetes darahnya untuk meraih kehidupan yang abadi.”


Kecipak air terdengar saat kaki yang dibalut celana kain itu berjalan dengan santai di permukaan air kolam yang memantulkan pemandangan langit malam. Di sekita tempatnya tidur memang ada kolam air tanpa biota dan abiota. Hanya ada air, air, dan air yang terasa begitu dingin menusuk kulit. Untung saja ia bukan manusia yang bia merasakan hawa dingin. Ia adalah vampir yang … tidak akan mudah ditumbangkan jika sudah dibangunkan.


🦋🦋🦋


TBC


Note : Semoga suka 😘


Tanggerang 28-02-23