Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 86. Intuition Soulmate


TRV 86. Intuition Soulmate


“Kau marah?” Luccane mengistirahatkan kedua tangannya di dalam satu celana seraya berjalan mendekat. “Bukan kah Ayah ku sudah berbaik hati memberi mu nama Laelaps?”


Mahluk penghisap jiwa kegelapan yang berhasil bertahan hidup selama kurang lebih 2.000 tahun itu menggeram lirih. Dengan kemampuan manipulasi waktu, ia bisa dengan mudah berekspresi, tanpa takut orang-orang akan mengetahui identitas aslinya. Termasuk Robert Spencer, manusia yang sekarang berstatus sebagai ayahnya. Padahal Lucheren Spencer sudah meninggal dunia sejak lama. Nama Lucheren Khayansar Spencer sendiri digunakan oleh si “Laelaps” yang telah mencuri kehidupan serta identitas Lucheren Spencer.


Sejauh ini tidak ada yang tahu nama asli si “Laelaps”. Namun, ia kerap menyematkan nama “Khayansar" di tengah identitas barunya. Ia hanya vampir buangan yang dijuluki Laelaps karena selalu berhasil menangkap manusia yang diburu olehnya. Tidak ada yang tahu asal-usulnya sebelum menjadi vampir.


“Keturunan Luciano de Khayat tidak lagi berhak menyematkan julukan sial*n itu kepadaku.”


“Hanya aku yang bisa memutuskan berhak atau tidaknya,” kata Luccane. “Aku adalah satu-satunya penerus kerajaan vampir kuno yang tersisa.”


“Ya, benar sekali,” sahut Lucheren. Ada seringai evil tercipta di bibirnya. “Akan ku pastikan jika kau adalah satu-satunya penerus kerajaan vampir kuno yang tersisa.”


Luccane menautkan kening mendengar ucapan lawan bicaranya. Lucheren juga menyadari kebingungan Luccane terkait kalimat yang baru saja ia ucapkan.


“Akan ku pastikan tidak ada lagi penerus yang lahir dari garis keturunan mu.”


Alih-alih takut dengan gertakan tersebut, Luccane malah tersenyum miring. “Lakukanlah jika kau bisa.”


Lucheren melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya masih menyiratkan rasa percaya diri serta sebuah ambisi. Ia juga telah mengucapkan sumpah, ia akan memastikan jika tidak ada lagi penerus yang lahir dari garis keturunan de Khayat. Namun, untuk memastikan itu tidak akan mudah, karena Luccane juga pasti tidak akan tinggal diam.


“Pertama-tama, aku akan menyapa titisan The Goddess terlebih dahulu,” ucapannya tiba-tiba. “Wadah bagi penerus mu, sebelum lahir ke dunia.”


Terkejut. Itulah reaksi yang ditunjukkan oleh Luccane, namun ia pandai menutupinya. Over reaction bisa menjadi peluang bagi si “Laelaps” untuk mencari kelemahannya. Sekarang si “Laelaps” sudah mulai membawa-bawa titisan The Goddess alias Lucciane dalam obrolan meraka. Mahluk itu pasti sudah menebak jika Lucciane adalah kelemahan Luccane.


“Berani kau mendekatinya, akan ku pastikan kau benar-benar kembali ke Valinóë.”


Lucheren tertawa devil. “Aku tidak takut kembali ke Valinóë,” katanya dengan penuh keyakinan. “Kau lupa jika aku adalah mahluk yang abadi?”


“Aku akan hidup abadi jika berhasil merebut titisan The Goddess dari mu.”


Luccane tersenyum miring mendengarnya. “Kau pikir aku akan diam saja ketika belahan jiwaku diusik?”


“Kau tidak punya pilihan selain diam dan menonton,” sahut Lucheren.


“Seperti saat ini. Kau tidak bisa melakukan apa-apa ketika aku mengirim hadiah kecil untuk belahan jiwa mu.”


Luccane langsung terdiam mendengarnya. Apa “hadiah kecil” yang dimaksud oleh Lucheren ada kaitannya dengan koneksi intuitif yang ia rasakan barusan?


Sepasang soulmate atau belahan jiwa dapat saling terhubung. Ada koneksi intuitif yang dapat dirasakan ketika telah menemukan belahan jiwa. Sulit dideskripsikan memang. Kendati demikian, hal ini dapat dirasakan impact-nya, misak seperti Luccane yang dapat merasakan energi Lucciane, meski mereka tidak bersama. Intuition Soulmate ini termasuk salah satu tanda yang muncul jika berhasil menemukan belahan jiwa.


Luccane merasakannya. Energi sang belahan jiwa yang sempat tidak stabil. Begitu pula dengan perasaan tak nyaman yang pasti dirasakan oleh sang belahan jiwa harus. Entah apa yang terjadi, namun ia sepertinya segera menghubungi Sebastian lewat komunikasi telepati. Apa semua baik-baik saja di Luccane The Palace?


“Sampai terjadi sesuatu pada belahan jiwa ku,” kata Luccane ketika berjalan semakin ke depan, ke arah Lucheren. “Akan ku pastikan kau kembali ke Valinóë detik itu juga.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 28-03-23