Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 34. She is Mine


Plassss~


Sabetan pedang dengan super power itu bisa saja menebas apa saja yang terkena oleh matanya yang sangat tajam. Untung saja gerakan mengelak dilakukan dengan gesit oleh Luccane. Berbeda dengan Shadow Sword miliknya, milik sang lawan memang didesain untuk menjadi senjata pembunuh. Luccane yang tidak berniat membunuh pun jadi harus berpikir ulang. Oleh karena itu, pada pertengahan pertarungan ia memanggil pedang legendaris milik sang ayah. Pedang yang dulu sangat sulit ia kuasai.


Konon katanya, pedang itu dibuat dari taring monster raksasa yang ayahnya temui di underworld atau dunia bawah. Setelah ditelusuri lebih dalam, Sebastian mengatakan jika pedang itu berasal dari taring seorang siluman yang bertemu dengan ayah Luccane saat berkelana di underworld. Dikarenakan memiliki kekuatan magis yang sangat istimewa, ayah Luccane kemudian memerintahkan seorang pembuat pedang yang sangat ahli untuk membuat taring tersebut sebagai pedang yang mematikan.


“Rupanya kau sangat menginginkan milikku, sampai-sampai berani bertarung seperti ini.”


Luccane berkata saat Lynn mengambil cukup jarak di antara mereka.


“Lucciane bukan milikmu. Dia adalah calon pengantin wanitaku.”


“Siapa kau berani men-klaim milikku?” tantang Luccane. Sudah jelas-jelas ia menunggu kelahiran titisan The Goddess selama 1.000 tahun lebih. Enak saja Lord vampir muda yang baru hidup ratusan tahun itu meng-klaim miliknya.


“Jika bersamamu, Lucciane tidak akan bahagia.”


“Kau bukan The God yang berhak memutuskan,” timpal Luccane.


Pertarungan sengit di antara mereka masih berlangsung. Sejauh ini mereka masih sama-sama imbang. Bahkan sampai pada luka pun, mereka seimbang. Masing-masing sudah terkena satu sayatan pada bagian yang berbeda. Entah sampai kapan pertarungan itu selesai. Mungkin sampai ada salah satu di antara mereka ada yang tumbang dan meregang nyawa.


“Berhentilah menjadi generasi dari para vampir yang merasa paling benar. Kau lupa siapa penyebab runtuhnya kerajaan vampir kuno?”


Disindir demikian, Lynn tentu saja tidak mau tinggal diam dan menerima. Memang benar Lord vampire terdahulu ada kaitannya dengan runtuhnya kerajaan vampir kuno. Namun, sudah jelas-jelas bahwa penyebab utama runtuhnya kerajaan vampir kuno adalah ketamakan raja vampir terdahulu, yaitu ayah Luccane.


“Jangan melemparkan kesalahan yang jelas-jelas dibuat oleh bagian dari keluarga kerajaan vampir sediri. Para Lord vampir terdahulu hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya.”


“Menjalankan tugas? Cih.” Luccane berdecih. Ia tahu betul perseteruan apa yang dulu terjadi dan melibatkan kedua orang tuanya. Selama seribu tahun lebih ia hidup di muka bumi, Lynn mungkin tidak tahu jika Luccane telah mengumpulkan banyak bukti. Bukti terkait para Lord vampir terdahulu yang suka ikut campur dan suka main hakim sendiri.


Lynn pikir Luccane akan percaya dengan tuduhan yang dilayangkan pada ayahnya? Jawabannya tentu saja tidak. Ayah Luccane sangat mencintai istrinya, yaitu ibu Luccane. Tidak mungkin ayah Luccane membunuh istrinya begitu saja, hanya karena menginginkan keabadian. Padahal vampir sendiri adalah mahluk yang memang bisa hidup abadi. Ditambah lagi fakta jika vampir mengenal istilah soulmate atau belahan jiwa.


Sama seperti werewolf yang sangat mencintai bahkan menghormati mate-nya, vampir juga demikian pada pasangannya. Jika pasangan seekor werewolf mati, maka werewolf yang menjadi pasangannya akan menggila bahkan bisa berakhir bunuh diri. Vampir juga bisa demikian, karena mereka sebelumnya telah terikat hubungan darah lewat sebuah ritual yang menjadi simbol ketika mereka hendak disahkan sebagai soulmate.


“Manusia bisa buta karena cinta. Mereka juga mengenal kata tega,” ucap Lynn tiba-tiba. Ia sudah berada dalam posisi siap menyerang. “Kau juga mewarisi darah ras manusia. Suatu saat kau akan buta dan tega menyakiti Lucciane hanya karena ambisi …”


“Tutup mulutmu!” potong Luccane. “She is mine,” tambahnya. “Gadis itu terlahir untukku. Tidak ada siapa pun yang boleh mengusik milikku. Apalagi mencoba untuk memilikinya,” tekan Luccane.


Luccane mengeram marah mendengarnya. Ia adalah seorang raja vampir. Vampir yang mewarisi darah keturunan kerajaan vampir kuno. Kasta tertinggi di golongan ras vampir. Tidak semudah itu menghabisi nyawanya.


“Seorang pesuruh mencoba membunuh tuannya?” sarkas Luccane. “Itu benar-benar sifat penghianat yang tidak tahu diri.”


“Jangan samakan kami dengan penghianat, karena kami hanya ingin membawa masa depan yang lebih baik untuk generasi selanjutnya.”


“Tidak akan ada generasi selanjutnya jika raja kalian mati,” ucap Luccane dengan tangan mengibaskan pedang legendaris milik sang ayah.


“Justru karena itu, raja seperti kau harus dimusnahkan!” seru Lynn ketika kembali bergerak gesit, melancarkan serangan.


“Kalian yang terlahir sebagai ras murni memang selalu sok suci.” Luccane juga bergerak setelah berkata demikian. Ia berkata demikian bukan tanpa sebab. Karena memang ras yang terlahir murni selalu beranggapan mereka adalah ras paling suci.


Sepersekian detik berikutnya, suara pedang yang beradu kembali memenuhi ruangan. Tempat yang dulunya suci itu kini menjadi arena yang akan menentukan hidup serta matinya sang raja serta seorang vampir dari golongan ras murni. Mereka tidak akan berhenti, seperti tertulis dalam perkamen kuno yang ditinggalkan para leluhur. Mereka akan terus bertarung, mengulang peristiwa yang sama. Karena kekuatan mereka seimbang, maka mereka hanya akan berhenti jika salah satu di antara mereka ada yang berhasil tumbang. Atau bahkan, dua-duanya tumbang.


Blasss~


Dua mata pedang yang sama-sama tajam itu berhasil menembus batas akhir sebuah perlindungan. Senjata yang dibuat sangat super power itu bisa langsung membuat manusia biasa tewas dalam sekali tebas. Namun, bagi mereka yang terlahir sebagai golongan istimewa dalam ras vampir, butuh cukup waktu untuk tumbang.


“Uhuk … uhuk …”


Langit yang sudah berubah menjadi gelap, lengkap dengan bulan yang masih dalam posisi bulat sempurna. Memancarkan cahaya yang begitu terang, menjadi saksi bisu ketika salah di antara mereka berhasil di tumbangkan. Sedangkan satu yang lain, masih sanggup berada dalam posisi berdiri. Namun, luka yang menganga tampak mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya.


“Pada akhirnya, kita akan binasa di tempat suci ini.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 12-02-23