
“Luciano.”
Wanita cantik dalam balutan vintage night dress dengan model ruffles di ujung lengan serta bagian bawah rok nya itu memanggil sang suami yang sedang asik menikmati wajah duplikatnya versi mungil. Mahluk mungil itu sedang terlelap dalam ayunan kayu di dekat pintu.
“Luccane kita sedang tidur. Kenapa kamu terus menatapnya seperti itu?”
“Karena dia begitu rupawan,” jawab sang suami.
Pria tampan yang memiliki bola mata berwarna abu-abu itu kemudian menyudahi kegiatannya, walaupun agak malas. Mungkin bergabung bersama sang istri di atas ranjang akan menjadi kegiatan selanjutnya yang menyenangkan. Setelah seharian bekerja di atas singgasana, pulang ke rumah, bertemu anak serta istri adalah obat yang mujarab untuk menghilangkan rasa letih.
“Apa kamu masih sakit, Iness?”
“Seperti yang kamu lihat, aku sudah sehat,” jawab sang istri. Surai keemasannya tampak cantik saat tertimpa cahaya rembulan yang menembus masuk lewat celah jendela. “Bagaimana hari ini? apa pekerjaan kamu melelahkan, King?”
“Seperti biasa,” jawab Luciano. Raja vampir itu tampak lelah, namun selalu terlihat baik-baik saja di depan istri tercintanya. Inessa Serenety. Wanita cantik pemilik iris kebiruan itu adalah belahan jiwanya. “Apa hari ini Luccane membuatmu kerepotan?”
“Sama sekali tidak. Luccane banyak bermain dengan Sebastian. Sepertinya anak muda itu menyukai putra kita.”
“Harus,” jawab Luciano seraya memeluk istri cantiknya dari samping. Satu kecupan lantas ia jatuhkan pada permukaan leher sang istri yang dibubuhi tanda kepemilikan. “Karena kelak Sebastian akan menjadi tangan kanan putra kita.”
“Kamu yakin?”
“Hm. Sebastian lebih dari meyakinkan untuk menjalankan tugas tersebut. Lagipula dia juga masih mewarisi darah Saunders.”
Saunders adalah nama keluarga yang familiar di telinga keluarga kerajaan vampir. Kepala keluarga tersebut merupakan abdi setia raja vampir pertama. Maka tak heran jika dari generasi ke generasi, salah satu keturunan Saunders pasti akan menjadi abdi setia orang penting dari keluarga kerajaan. Contohnya saja Samuel Saunders—ayah Sebastian Saunders—yang menjadi tangan kanan Luciano, raja vampir yang saat ini sedang bertahta.
Untuk generasi berikutnya, sudah ada penerus marga Saunders bernama Sebastian yang siap menjadi abdi setia raja vampir berikutnya. Walaupun pada dasarnya kelahiran anak berbakat bernama Sebastian itu tidak pernah diinginkan. Sebastian bahkan sempat ingin dibunuh, namun Luciano membawanya pergi dari kediaman Saunders.
“Kenapa kamu menjadi sangat lemah semenjak melahirkan putra kita?”
Pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan itu berhasil membuat gerakan tangan Iness yang sedang membelai surai hitam pekat sang suami berhenti. Jika menurut ramalan kuno, kondisi titisan The Goddess bisa dengan mudah memburuk pasca melahirkan bayi hasil perkawinan dengan rasa vampir, karena sebagian sumber kehidupannya diserap oleh si bayi. Maka kelak bayi itu akan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Namun, ia tentu saja tidak akan menjawab seperti itu. Yang ada suaminya malah semakin risau.
“Seorang ibu butuh waktu untuk pulih, Luciano.”
Iness tersenyum tipis. “Aku akan segera pulih.”
“Aku akan selalu barada di sisimu, sampai kamu benar-benar pulih.”
“Lusa kamu harus pergi, Duke of Aragon mengirimkan undangan bukan?”
Luciano mendengus mendengar ucapan sang istri. Melebihi dirinya, sang istri memang punya daya ingat yang lebih kuat. Titisan The Goddess yang lahir di Cardiff, Wales, Inggris itu memang istimewa. Ia terlahir sebagai putri dari seorang viscount. Dalam urutan Peerage Inggris Raya atau sistem hukum yang secara historis tersusun dari beberapa gelar kebangsawanan di Inggris Raya (biasanya turun-temurun). Viscount berada di peringkat ke-empat. Posisi pertama diisi oleh gelar duke, dilanjut oleh marquess, earl, baru viscount, kemudian baron. Sedangkan ibunya adalah pembuat roti asal Prancis.
Tidak mudah bagi Luciano menemukan soulmate nya itu. Ia menghabiskan ratusan tahun lamanya untuk berkelana. Hingga detik ini pun, hubungan mereka masih mendapatkan tentangan. Mereka yang katanya menentang hubungan Luciano dan Iness beranggapan bahwa Iness akan membuat Luciano berada di bawah kendali. Ada juga yang menganggap jika Iness akan membuat kerajaan vampir runtuh pada masa kepemimpinan Luciano, atau malah sebaliknya. Luciano yang memanfaatkan Iness agar dapat hidup hidup kekal dan abadi. Semua gunjingan itu silih berganti datang, walaupun sudah mulai terbiasa, tetap saja manusia seperti Iness terkadang merasa lelah.
Sampai akhir hayat nya pun, Iness selalu berusaha untuk tidak membebani siapa pun. Ia tidak mau kematiannya menjadi beban, terutama bagi suami serta putranya. Namun, kematian Iness yang sangat mendadak di usia muda malah memicu perang saudara di antara keluarga kerajaan dan para Lord vampir. Mereka—para Lord vampir—yang sejatinya punya tugas untuk menjaga titisan The Goddess, merasa banyak kejanggalan pada kematian Iness. Ketika diusut, mereka meyakini jika Luciano adalah penyebab kematian Iness.
Luciano yang saat itu sedang berada dalam titik terendah pasca kehilangan istri tercintanya tentu saja murka. Him out of control. Dipancing sedikit saja, Luciano akan membalas dengan sangat agresif. Kesalahpahaman itu semakin meluas, saat beberapa pihak yang membenci hubungan Luciano dan Iness turun tangan. Mereka gencar merencanakan taktik guna menggulingkan Luciano. Bahkan sampai ada salah satu pelayan yang membuat pengakuan palsu, mengatakan bahwa Luciano lah yang membunuh Iness. Istri tercintanya sendiri. Sebuah pengakuan yang terdengar sangat mustahil.
Ketika kondisi kerajaan semakin tidak terkendali, Luciano mengutus Sebastian yang sudah lebih besar untuk pindah ke Luccane The Palace bersama Luccane kecil. Tempat yang diperuntukkan untuk putranya itu telah dipersiapkan dengan baik, karena Luciano tahu para pemberontak juga akan mengincar putranya. Benar saja, sebagian dari mereka berhasil mengejar sampai ke Luccane The Palace. Namun, sebelum ajal menjemput, Luciano sempat membuat perisai raksasa yang tidak mudah ditembus untuk melindungi Luccane The Palace. Tempat itu bahkan menjadi tak kasat mata. Luccane The Palace menghilang dari peradaban selama beberapa ratus tahun.
“Jangan pernah ragu untuk menjaga apa yang sudah ditakdirkan untuk menjadi milikmu, Luccane.” Pesan Luciano pada putranya. “Ibumu dilahirkan untuk menjadi pasangan ayah. Milik ayah. Jika suatu saat nanti kamu berada dalam posisi yang sama, jangan ragu untuk mempertahankan apa yang sudah ditakdirkan untukmu.”
“…”
“Ingatlah satu hal,” ujar Luciano yang kala itu sudah terluka sangat parah. Ditatapnya sang putra yang tidak memberikan reaksi apapun, selain diam mematung di samping Sebastian. “Apapun yang ditakdirkan menjadi milikku, pasti akan menemukan jalan untuk datang ke arahmu.”
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 😘
Tanggerang 16-02-23